Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Tubuh Vivienne bergetar hebat. Sungguh dia tidak pernah menyangka, bahkan berpikir hal itu. Kalau semua keluarga Dominic tahu akan hubungan asmara antara Dominic dengan Giselle.
"Mereka tahu Dominic masih bersama Giselle. Mereka tahu hubungan itu. Tapi, tidak ada satu pun yang memberitahuku." Kalimat itu terasa begitu berat keluar dari bibir Vivienne.
Dalam sekejap, begitu banyak kenangan memenuhi kepalanya. Vivienne teringat saat usaha production house milik keluarga Ashcroft hampir bangkrut. Ia yang membantu melunasi utang mereka. Ia yang menyuntikkan modal agar usahanya kembali berjalan.
Vivienne yang berkali-kali membantu kebutuhan keluarga Dominic tanpa pernah meminta balasan. Setiap kali mereka mengucapkan terima kasih dan memanggilnya menantu terbaik. Ternyata mungkin semua itu hanya kepura-puraan.
Vivienne menundukkan kepala. Air matanya jatuh membasahi laporan yang ada di pangkuannya.
"Aku sudah menganggap mereka keluargaku. Aku membantu mereka saat tidak ada seorang pun yang mau menolong. Aku menjaga nama baik keluarga mereka. Aku berusaha mengangkat kembali perusahaan itu sampai bisa berdiri lagi."
Vivienne mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. "Tapi, ternyata hanya aku yang hidup dalam kebohongan."
Estelle langsung memeluk sahabatnya. "Menangislah, Vivi. Aku tahu ini sangat menyakitkan."
Vivienne menangis cukup lama di pelukan Estelle. Seluruh luka yang selama ini ia tahan seolah tumpah bersamaan.
Beberapa menit kemudian, Vivienne mengusap air matanya. Perlahan ia mengangkat wajah. Tatapannya sudah berubah. Kesedihan itu masih ada, namun kini terselip tekad yang begitu kuat.
"Aku tidak akan bertindak gegabah. Aku akan melangkah dengan kepala dingin. Aku akan memastikan setiap keputusan yang kuambil didasarkan pada bukti, bukan emosi," ucap Vivienne dengan suara tenang.
Estelle mengangguk pelan. "Lalu, apa langkah pertama yang akan kamu lakukan?"
Vivienne terdiam beberapa saat. Ia mengembuskan napas panjang.
"Selama ini seluruh kebutuhan keluarga Dominic hampir semuanya berasal dariku. Biaya hidup mereka, kucuran dana modal usaha, dan pembayaran utang. Bahkan biaya sekolah adiknya pun aku yang membayar."
Vivienne menatap lurus ke depan. "Mulai hari ini semuanya akan aku hentikan."
Estelle menatapnya lekat. "Kamu yakin?"
Vivienne mengangguk mantap. "Aku bukan sedang membalas dendam secara membabi buta. Aku hanya tidak ingin lagi membiayai orang-orang yang mungkin selama ini memilih diam ketika aku dikhianati."
Vivienne menutup map di tangannya, lalu berdiri. Tatapan Vivienne berubah dingin.
"Karena mereka memang ikut menutupi semua ini, maka mereka harus siap menerima akibat dari setiap pilihan yang mereka buat."
Estelle ikut berdiri dan menggenggam tangan sahabatnya. "Aku akan menemanimu sampai mereka mendapatkan balasan dan kamu mendapatkan keadilan."
Vivienne menoleh dan tersenyum tipis. Di balik luka yang masih menganga, perlahan mulai tumbuh keberanian untuk merebut kembali hidupnya dan menghancurkan kebohongan yang selama ini membelenggunya.
Sejak hari itu, Vivienne tidak lagi mengirimkan uang bulanan kepada keluarga Ashcroft. Ia tidak memberi kabar atau mengirim pesan. Tidak pula memberikan penjelasan apa pun.
Aliran uang yang selama ini rutin masuk ke rekening keluarga Ashcroft mendadak terputus begitu saja, seolah keran yang selama bertahun-tahun mengalir deras tiba-tiba ditutup rapat.
Tanpa sepengetahuan Vivienne, Killian justru bergerak lebih dulu. Sejak mengetahui bahwa ada dokter yang diduga terlibat dalam proses bayi tabung Vivienne, pria itu tidak bisa begitu saja duduk diam. Ia merasa ada bagian dari cerita yang belum terbongkar.
Killian duduk di ruang kerjanya. Beberapa berkas hasil penyelidikan tersusun di atas meja. Tatapannya berpindah dari satu dokumen ke dokumen lainnya.
Killian tidak pernah bertanya kepada Vivienne tentang proses bayi tabung yang dilakukan setahun yang lalu. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena saat itu ia sama sekali tidak menyangka akan ada kejahatan di baliknya. Kini, semuanya terasa berbeda.
Killian mengambil satu lembar laporan dan membacanya kembali. Nama dokter, riwayat rumah sakit, dan catatan perjalanan. Semuanya mulai mengarah pada satu orang.
Killian menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil mengembuskan napas panjang.
“Si Vivi itu benar-benar bodoh dan ceroboh,” gumam Killian sambil mengusap dagunya. “Apa tidak pernah terpikir olehnya bahwa dokter yang menangani proses itu bisa saja berbuat curang?”
Suara itu ternyata masih terdengar jelas oleh Alex yang sedang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Asisten tersebut mengangkat alis sebelum akhirnya tersenyum tipis.
“Bukannya kamu sendiri sering bilang Vivienne itu bodoh?” ujar Alex sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. “Katamu, karena terlalu bodoh, dia tidak bisa mencari laki-laki yang keren.”
Killian langsung mengangkat wajah. Tatapan tajam dilemparkannya kepada Alex.
“Diam kamu!” bentak Killian sambil menunjuk asistennya. “Hanya aku yang boleh mengata-ngatai dia.”
Alex terdiam. Ia kemudian berdeham kecil sambil menahan senyum.
“Baiklah,” jawab Alex singkat.
Killian kembali menundukkan kepala dan membaca laporan di hadapannya.
Hubungan antara Killian dan Vivienne memang tidak pernah sederhana. Sejak kecil, keduanya sudah terbiasa saling mengejek, bertengkar, dan melemparkan kata-kata tajam. Namun, anehnya, tidak seorang pun dari mereka benar-benar membiarkan orang lain melakukan hal yang sama.
Jika Killian boleh menyebut Vivienne bodoh, orang lain tidak boleh. Jika Vivienne boleh menyebut Killian menyebalkan, orang lain juga sebaiknya tidak ikut campur.
Alex sudah terbiasa dengan pola itu. Ia tahu, di balik pertengkaran mereka yang tidak pernah ada habisnya, keduanya memiliki cara sendiri untuk saling menjaga.
Di sisi lain, keluarga Ashcroft tetap menjalani kehidupan mereka seperti biasa. Tak seorang pun menyadari bahwa mulai hari itu, hidup mereka perlahan akan berubah.
Siang itu, Victoria Ashcroft sedang berbelanja di sebuah butik mewah yang berada di pusat perbelanjaan terbesar di kota. Di kedua tangannya sudah bergelantungan beberapa kantong berisi pakaian bermerek. Seorang pramuniaga tampak sibuk mengambil koleksi tas terbaru yang baru didatangkan langsung dari Paris.
"Madam, koleksi ini baru tiba kemarin. Jumlahnya sangat terbatas," ujar sang pramuniaga sambil memperlihatkan sebuah tas berwarna gading dengan aksen emas.
Victoria menerimanya dengan senyum puas. Ia mengamati tas itu dari berbagai sisi, lalu mengangguk pelan. "Cantik sekali," gumamnya. "Baiklah, aku ambil."
"Baik, Madam."
Tak lama kemudian, seluruh barang belanjaan dibawa ke meja kasir. Kasir tersenyum ramah sambil menghitung seluruh transaksi.
"Total pembayaran Anda empat puluh delapan ribu dolar, Madam."
Victoria mengangguk santai. Tanpa sedikit pun merasa khawatir, ia mengeluarkan kartu bank dari dalam dompetnya lalu menyerahkannya kepada kasir.
"Silakan."
"Baik, Madam."
Kasir menggesek kartu tersebut.
Beep...
Ia mengernyit pelan, lalu mencoba sekali lagi.
Beep...
Senyum di wajahnya perlahan memudar. "Maaf, Madam," ucapnya hati-hati.
Victoria mengangkat sebelah alis. "Kenapa?"
"Transaksi Anda ditolak."
Victoria terkekeh pelan sambil melipat kedua tangannya. "Mustahil. Mungkin mesin pembayaran kalian yang bermasalah. Coba sekali lagi."
"Baik."
Kasir kembali menggesek kartu itu. Namun, hasilnya tetap sama. Saldo tidak mencukupi.
Seketika wajah Victoria berubah pucat. "Itu tidak mungkin!" serunya dengan nada tinggi.
Kasir menelan ludah sebelum berkata pelan, "Maaf, Madam. Sistem kami menunjukkan saldo rekening Anda memang tidak mencukupi."
Ucapan itu membuat beberapa pelanggan yang sedang mengantre mulai melirik ke arah mereka. Bisik-bisik pelan terdengar di sana-sini.
Victoria merasakan wajahnya memanas karena malu. Ia buru-buru mengambil kembali kartunya.
"Pasti ada kesalahan."
Tanpa jadi membawa satu pun barang belanjaannya, Victoria berjalan cepat meninggalkan butik. Langkahnya semakin tergesa saat melihat mesin ATM di lantai bawah.
Dengan tangan yang mulai gemetar, ia memasukkan kartu bank ke dalam mesin. Jari-jarinya bergerak cepat menekan beberapa tombol. Beberapa detik kemudian, angka saldo muncul di layar.
Mata Victoria langsung membelalak.Ia mengucek matanya, lalu melihat layar itu sekali lagi. Saldo yang biasanya selalu terisi setiap awal bulan kini hampir habis.
Tidak ada transfer masuk dari Vivienne. "Kenapa belum masuk?" gumamnya panik.
Ara pasti sangat menggemaskan pakai baju princess