Tit... Tit... Tit...
"Nih uang buat beli listrik. Dasar wanita benalu, bisanya cuma minta uang aja tapi dandan tidak bisa." teriak seorang laki-laki sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wajah istrinya.
Mempunyai mertua yang baik, tapi anaknya selalu menguji kesabarannya. Pelit, suka membandingkan dengan perempuan lain, dan selingkuh. Namun selalu menyalahkan istrinya yang selama ini sabar mendampinginya. Dia adalah Aruna Fatihah yang harus diuji kesabarannya selama 3 tahun belakang dengan perubahan suaminya.
Akankah Aruna masih akan bersabar jika suaminya menjalin kasih dengan perempuan lain? Apakah Aruna akan memilih diam atau membalas perlakuan dari suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gilanya Kafka
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini? Katanya cuma interview, kok pulangnya sampai sore." tanya Ibu Salma pada menantunya yang baru saja pulang dari kantor.
"Ternyata aku diminta untuk langsung bekerja hari ini, Bu. Walaupun cuma setengah hari saja, gajinya nggak dipotong." ucap Aruna sambil menghela nafasnya pelan.
"Dan aku bukan jadi karyawan atau manager kaya kemarin, Bu." lanjutnya.
"Terus jadi apa? Cleaning service atau tukang fotocopy perusahaan?" tanya Ibu Salma dengan pertanyaan beruntun karena sangat penasaran.
"Jadi asisten CEO, Bu." jawab Aruna dengan raut wajah antusiasnya.
Ibu Salma melongo tak percaya mendengar apa yang diucapkan oleh Aruna. Setelah sekian lama tidak bekerja dan dipanggil kembali, rasanya tak mungkin jika jabatannya langsung asisten CEO. Ibu Salma berpikir kalau jabatan Aruna pasti tak jauh dari karyawan biasa. Sedangkan Nasya yang tak paham pun hanya diam. Jujur saja, dia tidak tahu apa itu asisten CEO. Yang dirinya tahu, Ibunya bekerja di sebuah kantor.
"Yang benar kamu, Aruna? Kamu nggak lagi halusinasi kan? Apa jangan-jangan kamu stress karena kelamaan nggak kerja? Tenang, Aruna. Ibu masih ada sedikit simpanan kalau kamu butuh uang. Jangan stress dulu," ucap Ibu Salma sambil mengelus punggung Aruna.
"Enggak, Bu. Aku beneran ini. Aku nggak sedang halusinasi kok. Aku tadinya juga terkejut dan berpikiran yang sama dengan Ibu. Tapi Pak Arifin mengatakan kalau memang benar Aruna jadi asisten CEO," ucap Aruna dengan mata berkaca-kaca.
"Syukur lah, Aruna. Kamu sudah berada satu tingkat di atas Kafka dan selingkuhannya itu. Buktikan kamu bisa sukses dengan kemampuanmu itu," bisik Ibu Salma agar Nasya tidak mendengarnya.
"Iya, Bu. Aruna akan sukses untuk Nasya dan Ibu," ucap Aruna sambil memeluk Ibu Salma.
Apa ini ndak yang mau peluk Nasya?
Eh...
Hahaha...
Aruna dan Ibu Salma tertawa mendengar Nasya protes karena tak dipeluk. Ibu Salma juga terharu karena ternyata Aruna masih mengingatnya saat ini. Semoga saja Aruna tidak berubah menjadi jahat kepadanya walaupun nanti berpisah dengan Kafka. Dia tak ikut Aruna juga tidak masalah karena bukan kewajiban menantunya itu untuk membawanya. Yang penting, Aruna tidak lupa dengannya. Ketiganya pun berpelukan dengan erat. Saling menguatkan agar badai yang menerjang ke depannya, bisa mereka hadapi bersama.
"Ibu, tadi Nenek belanjakan Nasya banyak sekali alat tulis dan tas lho." ucap Nasya tiba-tiba setelah melepaskan pelukannya.
"Ibu..." Aruna langsung memelototkan matanya ke arah mertuanya saat melihat banyaknya peralatan sekolah yang dibeli oleh Nasya dan Ibu Salma.
"Buat stock, keburu tokonya tutup." ucap Ibu Salma memberi alasan.
"Ya kalau malam, tokonya tutup. Kan hari berikutnya masih buka," ucap Aruna sambil menghela nafasnya pelan.
"Udah terlanjur, Aruna. Lagian itu cuma habis 59 ribu kok," ucap Ibu Salma dengan santainya.
"Ibu, Aruna bukan anak kecil yang mudah dibohongi ya. Mana ada segini banyak harganya 59 ribu,"
Ibu Salma hanya tertawa mendengar ucapan dari Aruna. Sedangkan Aruna kesal karena mertuanya itu membeli banyak sekali barang. Seharusnya cukup membeli yang dibutuhkan saja. Buku tulis dan gambar saja sampai 10 pack. Padahal cukup beli 2 sampai 5 pcs saja. Namun semua sudah terlanjur, tak mungkin dapat dikembalikan lagi. Nanti biar dijadikan stock sampai Aruna masuk SD.
"Dijaga ya tas dan tempat pensilnya, Nasya. Jangan sampai cep..."
"Rusak nggak papa, nanti beli lagi." sela Ibu Salma membuat Aruna menghela nafasnya pelan.
"Jangan pelit-pelit sama anak, Aruna. Toh juga nggak setiap hari lho," lanjutnya.
"Aku nggak pelit, Bu. Hanya saja kalau kita bisa beli barang begini banyak, pasti Mas Kafka curiga. Aku kan belum gajian, masa iya bisa kasih uang untuk beli barang sebanyak ini." ucap Aruna menjelaskan.
"Benar juga ya, Ibu kok nggak kepikiran sih."
Brumm... Brumm...
Ibu Salma menepuk dahinya pelan. Dia lupa kalau bisa saja Kafka curiga darimana Ibunya mendapatkan uang untuk belanja Nasya. Sedangkan mereka saja di depan Kafka masih terlihat tidak punya uang. Mendengar suara mobil berhenti di depan rumah Aruna, Ibu Salma bergegas membantu Nasya menyembunyikan belanjaan mereka ke kamar. Sedangkan Aruna langsung keluar agar Kafka tak masuk rumah Ibu Salma. Jika tidak ada Aruna di rumah, sudah dipastikan Kafka akan ke tempat Ibu Salma.
"Darimana kamu?" tanya Kafka saat melihat Aruna akan masuk ke rumah.
"Rumah Ibu, cek Nasya udah mandi apa belum." jawab Aruna yang kemudian masuk ke dalam rumah.
"Makanya nggak usah kerja, jadi ngrepotin Ibuku kan." sindir Kafka membuat Aruna langsung menghentikan langkahnya.
"Nasya cuma numpang mandi doang, Ibu ngawasin. Ibu nggak mandiin Nasya," ucap Aruna dengan nada datarnya.
"Kalau aku nggak kerja, bisa busung lapar kami berdua di rumah ini. Nggak cuma itu, kami bisa gila karena tekanan dari kepala keluarga tidak bertanggungjawab seperti kamu." lanjutnya.
Kafka yang melihat keberanian Aruna pun langsung menarik tangannya agar masuk ke rumah. Pasalnya mereka tadi berdebat di depan rumah. Yang ada, nanti malah perdebatan itu menjadi tontonan warga sekitar. Aruna mencoba memberontak karena Kafka ingin membawanya ke kamar. Jika di kamar, teriakannya tidak akan terdengar sampai keluar rumah. Hal itu berbahaya kalau sampai Kafka macam-macam dan berbuat kekerasan kepadanya.
Bugh...
Argh...
"Kamu semakin lama makin berani ya sama aku, ngelunjak." seru Kafka yang kini memojokkan dan menekan badan dari Aruna di tembok. Walaupun hanya dipojokkan, badan Aruna terasa sakit karena seperti dibanting keras oleh Kafka. Pasalnya kamar mereka tadi pagi dikunci oleh Aruna sehingga Kafka tak bisa membukanya.
"Kamu semakin lama tidak bertanggungjawab dan adil pada anakmu sendiri. Kemana gajimu yang jutaan itu, Mas? Bahkan untuk membelikan kami nasi satu bungkus saja, tidak ada dalam pikiranmu itu." seru Aruna dengan mata memerah.
"Banyak komplain, tidak bersyukur jadi istri. Coba itu istri dari tetangga kita, mereka masih bisa makan kok walaupun kadang tidak diberi." ucap Kafka membuat Aruna menggelengkan kepalanya.
"Lepas, Mas. Kamu ingin menghabisiku ya?" teriak Aruna dengan sisa suara yang dirinya punya.
Leher Aruna dicekik oleh Kafka dengan erat membuat wajahnya memerah. Kedua tangannya digenggam erat oleh Kafka hingga tak bisa memberontak. Bahkan kakinya pun ditekan paksa oleh kedua kaki Kafka. Namun Kafka tampaknya sudah kerasukan setan sehingga bisa melakukan hal ini pada Ariska.
"Kamu harus memberikan rumah ini padaku, Aruna." seru Kafka tiba-tiba.
Lepas...
"Kafka, apa yang kamu lakukan pada Aruna?" teriak Ibu Salma saat masuk ke dalam rumah dan melihat Kafka mencekik leher Aruna.
Bugh...
Arghhh...
Tolong...
😁😁😁😁
Kafka mungkin ank kandung mu,,
tp jiwa ny bukan ,, dy cuma laki2 pengecut jelmaan Dari kodok sawah ,, 😒😒😒😒
smangat sehat sll up byk2🤭😄💪
makin seruu cerita ny
tq thor🙏😍
smangatttt up byk2🤭💪
smangattt hempasssss cpttttt😄💪