Indonesia
NovelToon NovelToon
When The Extra Writes The Rules

When The Extra Writes The Rules

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.

Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.

Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Bayangan Hitam di Balik Gerbang Es

Suara angin badai yang tadinya menderu liar di luar sana mendadak teredam, menyisakan dengung rendah bagaikan lolongan serigala kelaparan yang terkurung di dalam gua batu raksasa.

Evelyn membuka matanya perlahan. Penglihatannya masih kabur, dipenuhi kabut putih dan pendar cahaya kebiruan yang menyilaukan mata.

Aroma arang kayu pinus bakar bercampur wangi tembaga tua dan embun langsung menusuk hidungnya.

Tenggorokannya terasa kering, terbakar oleh rasa dingin yang sempat mencengkeram dadanya selama berjam-jam di dalam kereta yang terperosok.

Tubuhnya kini tenggelam di dalam tumpukan selimut, di atas sebuah ranjang kayu berukir kepala serigala bermata permata merah di sudut ruangan.

Evelyn mencoba menggerakkan jari tangannya, namun rasa nyeri yang tajam langsung menjalar di sekujur lengannya.

"Jangan banyak bergerak dulu, Nona."

Sebuah suara berat, datar, dan bernada dingin mengalir dari sudut ruangan yang agak gelap.

Evelyn menolehkan kepalanya pelan-pelan. Di dekat perapian batu besar yang menyala, seorang wanita paruh baya berambut kelabu diikat rapi dalam sanggul ketat sedang berdiri memegang mangkuk timah berisi air hangat.

"Dimana...?" suara Evelyn keluar serak, nyaris tak terdengar.

"Anda berada di Obsidian Keep, kediaman utama Duke Cassian von Obsidian," jawab wanita itu tanpa ekspresi, melangkah mendekati ranjang dengan gerakan kaku.

Hah... Rasanya malu sekali, aku udah bangga mau ketemu di ibu kota, ternyata malah sampai di kediaman Cassian, batin Evelyn menggeleng.

Wanita didepannya meletakkan mangkuk di atas meja kecil, lalu menatap Evelyn dengan mata menyelidik.

"Nama saya Marsha, kepala pelayan sayap timur benteng ini. Atas perintah langsung dari Lord Cassian, saya ditugaskan memastikan Anda tidak mati membeku di kamar tamu sebelum beliau sempat meminta pertanggungjawaban atas kekacauan yang timbul di perbatasan."

Evelyn mencoba tersenyum tipis, "Pertanggungjawaban... kata-kata yang luar biasa manis buat menyambut tamu yang hampir tewas di badai."

Marsha tidak membalas senyuman itu. Ia mengambil kain basah yang hangat, lalu dengan hati-hati menyeka sisa-sisa keringat dingin di dahi Evelyn.

"Benteng ini bukan tempat peristirahatan para bangsawan manja ibu kota, Nona Rosenberg. Di sini, udara bisa membunuhmu sebelum sempat memikirkan intrik politik."

Sebelum Evelyn sempat menjawab, suara derit engsel besi yang sangat berat dan panjang menggema dari luar pintu kamar.

Suara itu bergesekan memecah keheningan koridor, mengirimkan getaran merinding yang merambat lewat lantai.

Marsha langsung menarik tangannya, berdiri tegak, lalu membungkuk ke arah pintu.

Pintu kayu itu terdorong terbuka lebar.

Sosok seorang pria melangkah masuk ke dalam ruangan.

Cassian von Obsidian.

Pria itu mengenakan jubah mantel bulu serigala hitam panjang yang menyapu lantai.

Rambut hitamnya agak berantakan karena terpaan angin luar, dan sepasang matanya menatap tajam ke arah ranjang dengan sorot yang jauh lebih mematikan dibanding badai salju di luar sana.

Aura kehadiran Cassian begitu menekan.

Bau darah samar, mesiu dingin, dan aroma salju mengiringi setiap langkah kakinya yang berat dan teratur.

Cassian berhenti tepat di ujung ranjang. Kedua tangannya terlipat di depan dada, menatap Evelyn dari atas ke bawah dengan pandangan penuh selidik yang dingin.

"Jadi..." suara bariton Cassian merendah, berat dan bergetar.

"Putri kecil Rosenberg yang terkenal sakit-sakitan itu nekat menyeret tubuhnya sendiri ke tengah badai mematikan di perbatasan wilayah saya, hanya demi memancing pasukan saya untuk datang menyelamatkannya."

Evelyn mendongak, memaksa punggungnya bersandar. Meski napasnya masih memburu pendek, mata Evelyn menatap balik mata Cassian tanpa menunjukkan sedikit pun rasa gentar.

"Kalau saya tidak melakukan itu, Duke Obsidian..." jawab Evelyn, suaranya parau namun tertata jelas. "...surat penolakan kasar yang Anda kirimkan itu bakal terus mengubur peluang kita berdua buat bicara secara jantan."

Sudut bibir Cassian terangkat sebelah, membentuk senyuman sinis yang teramat dingin.

"Jantan? Anda datang ke sarang serigala dalam keadaan setengah mati, membawa ancaman pemutusan pasokan kristal, lalu menyebutnya sebagai obrolan jantan?"

"Saya datang membawa solusi, bukan ancaman," balas Evelyn tenang.

"Anda menolak mentah-mentah penawaran Asteria lewat surat karena Anda mengira kami hanya sekelompok pedagang licik yang mau mengeruk keuntungan di atas krisis wilayah utara. Tapi Anda lupa satu hal penting... rakyat utara tidak punya waktu sepuluh hari lagi buat menunggu musim dingin membekukan sumur air mereka."

Cassian menyipitkan matanya. Tatapannya makin tajam, siap menembus isi kepala gadis di depannya.

"Anda tahu banyak hal tentang kondisi wilayah saya, Nona Rosenberg," desis Cassian, melangkah maju satu langkah mendekati ranjang.

"Terlalu banyak untuk ukuran seorang putri bangsawan yang selama ini dikurung di kamar oleh keluarganya."

"Informasi adalah mata uang paling berharga di dunia ini, Duke," balas Evelyn tanpa berkedip, mempertahankan kontak mata yang intens dengan sang penguasa utara.

"Sama berharganya dengan setangkai bunga Frost-Blooded Amaryllis yang sekarang tersimpan rapat di rumah kaca sihir Anda."

Suasana di dalam kamar mendadak hening. Marsha, sang kepala pelayan, menahan napasnya di sudut ruangan.

Cassian terdiam sejenak. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, mengamati wajah Evelyn yang pucat pasi namun memancarkan binar tekad yang luar biasa kuat—sorot mata yang sama sekali tidak mirip dengan para bangsawan manja ibu kota yang gemetar ketakutan saat menginjakkan kaki di tanah utara.

"Bunga itu adalah satu-satunya tanaman purba yang menyerap intisari mana murni di pegunungan es ini," kata Cassian dengan suara rendah yang menekan.

"Tanaman itu bukan barang dagangan yang bisa dibeli dengan tumpukan kristal Luminite atau sekadar ancaman politik murahan."

"Kalau begitu, jadikan bunga itu sebagai bayaran atas nyawa saya yang nyaris melayang di perbatasan Anda," tawar Evelyn tajam, memanfaatkan situasi nekatnya sebaik mungkin.

"Atau... biarkan berita kematian putri Rosenberg tersebar di ibu kota akibat keteledoran pengamanan pos perbatasan Obsidian. Anda tahu sendiri apa yang bakal dilakukan ayah dan kakak saya kalau hal itu benar-benar terjadi, bukan?"

Sebuah tawa pendek yang begitu dingin lolos dari bibir Cassian.

Pria itu menggelengkan kepalanya perlahan, memancarkan kombinasi antara rasa kagum yang enggan diakui dan kemarahan yang tertahan rapat.

"Anda benar-benar nekat, atau sekadar kehilangan akal sehat, Evelyn von Rosenberg," ujar Cassian, menyebut nama gadis itu dengan penekanan yang dalam.

"Saya hanya orang yang tahu pasti apa yang saya inginkan," sahut Evelyn mantap.

Cassian berbalik memunggungi ranjang, melangkah pelan menuju jendela kaca besar yang memperlihatkan hamparan benteng batu hitam di bawah terpaan badai salju.

"Bersyukurlah, karena kita bertemu disini bukan di ibu kota. Istirahatlah malam ini," perintah Cassian tanpa menoleh ke belakang. "Badai di luar belum akan reda sampai besok pagi. Dan jangan berpikir untuk mencoba melarikan diri dari benteng ini... karena di luar dinding sana, tidak ada satu pun makhluk hidup yang bisa bertahan hidup tanpa izin saya."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Cassian melangkah keluar ruangan.

Evelyn mengembuskan napas panjang yang terasa berat di dadanya. Begitu bayangan pria itu menghilang, ketegangan yang sempat mencengkeram tubuhnya perlahan mengendur.

Ia menyandarkan kepalanya kembali ke bantal, merasakan sengatan hangat dari ramuan yang mulai bekerja di dalam tubuhnya.

Agak memalukan tapi langkah pertama di dalam Obsidian Keep berhasil, terimakasih untuk badai yang tiba-tiba datang... batin Evelyn lelah namun puas

1
Fazira
Cassian 😍😍
Fazira
padahal Rosalia di dunia novel ini protagonis, kenapa sifatnya jadi kaya antagonis gini yaa/Doubt/
Fazira
udah Rosalia 🤭
Fazira
Evelyn Evelyn pinter akting yaa🤣🤣
Fazira
Wah Duke Utara 😍
Fazira
Evelyn Evelyn udah badan penyakitan kenapa akting sakit 🤭
Fazira
kehidupan novel dalam novel ya😄
Fazira
wow transmigrasi kak👍
semangat nulisnya 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!