Xiao Yi pernah menjadi pembunuh yang ditakuti dunia. Namun sebuah konspirasi merenggut nyawanya.
Ketika membuka mata kembali, ia justru terbangun di Benua Yanlong, dalam tubuh seorang tuan muda lemah yang baru saja dikhianati tunangannya dan dibunuh sepupunya sendiri.
Semua orang menganggapnya sampah.
Mereka tidak tahu bahwa Xiao Yi yang dahulu telah mati.
Kini, di tubuh itu hidup seorang petarung yang terbiasa berjalan di antara darah dan kematian. Lebih mengejutkan lagi, Pedang Bingluan yang ikut menyebabkan kematiannya muncul kembali sebagai Jiwa Bela Diri misterius.
Dengan kehidupan kedua dan kekuatan yang seharusnya tidak dimilikinya, Xiao Yi hanya memiliki satu jawaban bagi mereka yang ingin menginjaknya lagi:
Jika dunia ini menghormati yang kuat, maka ia akan berdiri di puncaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Seharusnya Aku Sudah Mati
Rasa sakit adalah hal pertama yang dirasakan Xiao Yi ketika membuka mata.
Langit-langit kayu berukir memenuhi pandangannya. Aroma obat samar tercium di udara, bercampur dengan bau dupa yang asing.
Xiao Yi terdiam beberapa detik.
"Aku... belum mati?"
Naluri yang ditempa oleh puluhan pertempuran membuat tangannya spontan menekan ranjang. Ia hendak bangkit, tetapi rasa sakit hebat langsung menjalar dari dada hingga ke seluruh tubuh.
Tenaganya lenyap.
Tubuhnya kembali terhempas ke atas ranjang.
Xiao Yi mengernyit.
"Apa-apaan ini?"
Tubuhnya terlalu lemah.
Bahkan mengangkat tubuh sendiri terasa sulit.
Ini jelas bukan kondisi fisik yang seharusnya dimiliki seorang ahli bela diri sepertinya.
Sebelum kehilangan kesadaran, Xiao Yi masih mengingat semuanya dengan jelas.
Di kehidupan sebelumnya, ia adalah seorang ahli Xingyiquan yang berhasil mengembangkan kekuatan batin. Namanya pernah mengguncang arena pertarungan bawah tanah setelah mencetak tiga ratus kemenangan berturut-turut.
Namun, dunia bawah mengenalnya karena identitas lain.
Pembunuh nomor satu.
Sejak menerima misi pertamanya, Xiao Yi tidak pernah gagal.
Meski hidup sebagai pembunuh, ia memiliki prinsip yang tidak pernah dilanggar. Ia tidak menerima pekerjaan yang merugikan tanah kelahirannya. Siapa pun yang mencoba menggunakan dirinya untuk tujuan semacam itu hanya akan mendapat penolakan.
Beberapa hari sebelum kematiannya, Xiao Yi menerima kabar bahwa sekelompok tentara bayaran asing menyamar sebagai arkeolog dan mencuri sebuah benda berharga dari reruntuhan kuno.
Peninggalan itu telah dibawa keluar dari Tiongkok.
Xiao Yi mengejar mereka.
Ia membunuh kelompok tersebut dan berhasil merebut kembali benda yang dicuri—sebilah pedang kuno bernama Pedang Bingluan.
Namun, semuanya ternyata jebakan.
Ratusan orang telah menunggunya.
Agen, tentara bayaran, pembunuh profesional...
Banyak kekuatan yang selama ini menginginkan kematiannya ternyata bekerja sama.
Xiao Yi bertarung.
Ia hampir berhasil menembus pengepungan ketika darah dari lukanya menetes ke Pedang Bingluan.
Saat itulah sesuatu yang aneh terjadi.
Tubuhnya mendadak mati rasa.
Tenaganya menghilang.
Musuh-musuh yang sebelumnya tak mampu mendekatinya mulai berjalan ke arahnya dengan senyum kemenangan.
Sayangnya bagi mereka, Xiao Yi selalu menyiapkan jalan terakhir.
Sebuah bom berdaya ledak tinggi tersembunyi di tubuhnya.
Jika ia harus mati, tidak ada alasan membiarkan musuh pulang sambil tertawa.
Ia meledakkannya.
Ledakan itu seharusnya menjadi akhir hidupnya.
Namun sekarang...
Xiao Yi memandang kedua tangannya.
Tangannya lebih kecil. Kulitnya lebih pucat. Bahkan bentuk jarinya berbeda.
Belum sempat ia memahami keadaan, rasa sakit menusuk kepalanya.
"Argh!"
Kenangan asing membanjiri pikirannya.
Nama.
Wajah.
Tempat.
Dunia yang sama sekali tidak pernah dikenalnya.
Setelah beberapa saat, Xiao Yi membuka mata dengan ekspresi aneh.
"Jadi... aku hidup kembali?"
Tempat ini bukan Bumi.
Dunia ini bernama Benua Yanlong, sebuah dunia tempat kekuatan menentukan kedudukan seseorang.
Dan pemilik asli tubuh yang ditempatinya juga bernama Xiao Yi.
Pemuda berusia enam belas tahun itu merupakan putra tunggal Patriak Klan Xiao, salah satu dari tiga klan besar di Kota Ziyun.
Sayangnya, kedudukannya hanya terdengar mengesankan.
Ibunya meninggal ketika ia masih kecil, sedangkan ayahnya menghilang secara misterius bertahun-tahun lalu.
Lebih buruk lagi, bakat kultivasinya sangat buruk.
Pada usia enam belas tahun, kultivasi Xiao Yi hanya berada di Alam Penempaan Tubuh Tingkat Satu.
Di antara generasi muda Klan Xiao, tingkat kultivasi seperti itu hampir menjadi bahan tertawaan.
Gelar Tuan Muda Klan yang disandangnya justru membuat penghinaan yang diterimanya semakin besar.
"Sama-sama bernama Xiao Yi, tetapi hidupmu jauh lebih menyedihkan dariku."
Xiao Yi menghela napas.
Namun, ketika ia membaca bagian terakhir ingatan pemilik tubuh ini, sorot matanya perlahan berubah dingin.
Beberapa hari lalu, tunangannya, Murong Jiaoer, mengajaknya bertemu di gunung belakang.
Pemilik tubuh ini datang dengan penuh kegembiraan.
Yang menunggunya ternyata bukan hanya Murong Jiaoer.
Ada Xiao Ruohan.
Sepupunya sendiri.
Di depan matanya, Murong Jiaoer dan Xiao Ruohan menunjukkan hubungan mereka tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Barulah ia memahami bahwa keduanya telah lama berselingkuh.
Xiao Ruohan kemudian menyerangnya.
Sebagai salah satu genius muda Keluarga Xiao, Xiao Ruohan telah mencapai Alam Penempaan Tubuh Tingkat Tujuh. Menghadapi seseorang yang baru berada di Tingkat Satu, hasilnya sudah dapat ditebak.
Satu telapak tangan menghancurkan jantungnya.
Setelah itu, Xiao Ruohan mendorongnya dari tebing.
Pemuda itu memang berhasil ditemukan dan dibawa kembali, tetapi lukanya terlalu parah. Selama tiga hari ia terbaring tanpa mampu berbicara maupun membuka mata.
Kemudian ia meninggal.
Dan Xiao Yi dari Bumi terbangun di tubuhnya.
"Murong Jiaoer. Xiao Ruohan."
Xiao Yi mengucapkan kedua nama itu perlahan.
Tatapannya sedingin es.
"Kalian membunuh pemilik tubuh ini dan mengira semuanya sudah selesai?"
Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Sayang sekali. Sekarang tubuh ini milikku."
Xiao Yi tidak suka berutang.
Ia mendapatkan kesempatan hidup kedua karena tubuh pemuda ini. Maka dendam yang belum terselesaikan juga menjadi urusannya.
"Aku akan menagihnya untukmu."
Setelah mengambil keputusan, Xiao Yi mulai memeriksa ingatan mengenai dunia ini.
Hal pertama yang menarik perhatiannya adalah Jiwa Bela Diri.
Setiap praktisi memiliki kesempatan membangkitkan Jiwa Bela Diri. Kekuatan inilah yang sangat menentukan bakat, kecepatan kultivasi, bahkan kemampuan bertarung seseorang.
Bentuknya bermacam-macam.
Ada Jiwa Bela Diri senjata seperti pedang, tombak, kapak, dan busur. Ada pula Jiwa Bela Diri binatang, tumbuhan, bahkan berbagai wujud aneh yang sulit dijelaskan.
Tingkatannya dibedakan berdasarkan warna.
Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, dan Ungu.
Semakin tinggi tingkatnya, semakin besar potensi pemiliknya.
Xiao Ruohan, misalnya, memiliki Jiwa Bela Diri Piton Awan Api Tingkat Kuning. Jiwa Bela Diri tersebut menjadi salah satu alasan ia dipandang sebagai genius keluarga.
Sementara Xiao Yi...
Ia memejamkan mata dan memusatkan kesadarannya ke sekitar dantian.
Beberapa detik kemudian, ekspresinya membeku.
Di sana terlihat seekor makhluk kecil berbentuk aneh yang memancarkan cahaya merah redup.
Binatang Pengendali Api.
Jiwa Bela Diri Tingkat Merah.
Dan bukan sekadar Tingkat Merah.
Itu terkenal sebagai salah satu Jiwa Bela Diri paling tidak berguna.
Meski namanya terdengar hebat, Binatang Pengendali Api hanyalah makhluk lemah yang bahkan kesulitan menghadapi binatang buas biasa.
Kemampuan yang diberikannya pun hanya mengendalikan api dalam kadar sangat terbatas.
Xiao Yi mengangkat telapak tangannya.
"Keluar."
Puuuf.
Nyala api kecil muncul.
Xiao Yi menatapnya lama.
Api itu begitu kecil hingga hampir menyedihkan.
"...Serius?"
Ia mencoba memperbesarnya.
Tidak berhasil.
Dengan api seperti ini, jangankan membakar musuh, menyalakan kayu basah pun mungkin membutuhkan waktu lama.
Kini Xiao Yi memahami mengapa pemilik tubuh sebelumnya begitu diremehkan.
Kultivasi rendah.
Jiwa Bela Diri terburuk.
Gelar Tuan Muda Klan yang seharusnya menjadi kehormatan justru berubah menjadi bahan ejekan.
Namun, Xiao Yi hanya kecewa sesaat.
Ia mengepalkan tangan.
"Kalau kekuatan dunia ini tidak bisa diandalkan, aku masih memiliki Xingyiquan."
Macan.
Bangau.
Ular.
Naga.
Berbagai bentuk dan teknik Xingyiquan telah tertanam dalam tubuh dan pikirannya sejak kehidupan sebelumnya.
Ia pernah berdiri di puncak dengan kemampuannya sendiri.
Tidak ada alasan ia tidak bisa melakukannya lagi.
Xiao Yi hendak menarik kesadarannya dari dantian ketika tiba-tiba merasakan sesuatu.
"Tunggu."
Ada yang tidak beres.
Di samping Binatang Pengendali Api ternyata masih terdapat sesuatu.
Xiao Yi segera memusatkan kesadarannya.
Detik berikutnya, napasnya tertahan.
Sebilah pedang berdiri diam di dekat dantiannya.
Bentuknya kuno dan anggun. Cahaya ungu pekat mengelilingi bilahnya, memancarkan tekanan yang sama sekali berbeda dari Jiwa Bela Diri Binatang Pengendali Api.
Xiao Yi mengenal pedang itu.
Mustahil baginya untuk tidak mengenalinya.
"Pedang... Bingluan?"
Matanya membelalak.
Itulah peninggalan kuno yang direbutnya kembali sebelum kematiannya.
Pedang yang terkena darahnya.
Pedang yang kemungkinan besar menjadi penyebab kejadian aneh sebelum ia tewas.
Namun sekarang, Pedang Bingluan telah menjadi Jiwa Bela Dirinya.
Dan cahaya yang dipancarkannya...
Ungu.
Tingkatan tertinggi yang diketahui di dunia ini.
Xiao Yi terdiam cukup lama.
Kemudian ia menoleh pada Binatang Pengendali Api yang masih memancarkan cahaya merah menyedihkan.
Lalu kembali menatap Pedang Bingluan.
Satu merah.
Satu ungu.
Dua Jiwa Bela Diri.
Senyuman perlahan muncul di wajah Xiao Yi.
Kekecewaan yang tadi sempat memenuhi hatinya lenyap tanpa bekas.
"Jiwa Bela Diri Kembar..."
Matanya berkilat.
"Dan salah satunya berada di Tingkat Ungu."
Xiao Yi mengepalkan tangannya.
Tampaknya kehidupan keduanya di Benua Yanlong tidak akan sesuram yang ia bayangkan.
Bahkan mungkin...
Jauh lebih menarik daripada kehidupan pertamanya.
......................
Bersambung...