Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:945k
Nilai: 4.9
Nama Author: Raven Ayu

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, Laras dicampakkan dalam semalam setelah putri kandung mereka, Tiara, ditemukan lewat tes DNA. Ketika Tiara menolak menikahi “duda tua beranak tiga dari kampung”, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi menjaga nama baik.
Di desa asing itu, Laras menghadapi seorang lelaki dingin bernama Arya dan tiga anak yatim yang kurus serta waspada. Semua orang mengira ia telah menikah turun derajat dan hanya bisa pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu bahwa Arya sebenarnya adalah mantan perwira Kopassus yang disegani para jenderal sekaligus konglomerat yang menyamar sebagai peternak sapi. Pria yang katanya dingin itu justru memanjakan Laras setiap hari lewat tindakannya, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik hidupnya. Ia membesarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius, membuat orang-orang yang pernah meremehkannya menelan hinaan mereka sendiri, dan bangkit dari “ibu tiri kampungan” menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Namun Tiara belum menyerah merebut apa yang dianggap seharusnya menjadi miliknya. Di saat yang sama, rahasia asal-usul ketiga anak itu mulai terungkap: mereka membawa darah keluarga konglomerat Adiwangsa.
"Kamu menikahiku karena terpaksa," kata Arya. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14: Tamu Tak Diundang

Tiara datang tiga hari kemudian bersama Bimo dan Ratna.

Mobil hitam mereka berhenti di depan pagar menjelang siang, ketika aku sedang membantu Raka membungkus buku sekolah. Jagoan bangkit dari bawah pohon mangga dan menggeram. Beberapa tetangga yang sedang lewat ikut memperlambat langkah.

Ratna turun lebih dulu dengan kacamata hitam besar. Bimo membawa wajah seorang kepala keluarga yang datang untuk membereskan masalah, sedangkan Tiara menatap rumah dua lantai di belakangku seolah baru menyadari ukurannya.

“Kalian tidak memberi kabar,” kataku setelah membuka pagar sebagian.

“Apa seorang ibu harus membuat janji untuk menemui anak yang dibesarkannya?” Ratna menjawab.

“Kalau datang dari Jakarta dan membawa tiga koper, biasanya orang memberi kabar.”

Matanya bergerak ke arah koper di bagasi. “Kami akan tinggal sampai akad. Demi nama baik keluarga.”

Aku hampir tertawa. Setelah mengantarku ke desa tanpa melihat kamar tempatku tidur, kini mereka ingin tinggal untuk menjaga nama baik.

Arya keluar dari ruang kerja di lantai bawah. Dia tidak bertanya siapa yang datang. Tatapannya menyapu mereka sekali, lalu berhenti pada Bimo.

“Masuk,” katanya.

Kami duduk di ruang tamu. Raka dan Bayu tetap berada di tangga bersama Sasa. Aku meminta mereka masuk kamar, tetapi Raka menggeleng pelan. Jagoan berbaring di teras dengan telinga tegak. Di luar pagar, Bu Sumi dan dua tetangga pura-pura membicarakan harga cabai.

Bimo melihat ke arah lantai dua. “Siapkan tiga kamar. Sopir bisa tidur di tempat pegawai.”

“Tidak ada kamar tamu yang siap untuk menginap,” jawabku.

“Rumah sebesar ini tidak punya kamar?”

“Punya. Tapi orang yang tinggal di rumah orang lain seharusnya bertanya, bukan memerintah.”

Ratna mengerutkan kening. “Kamu sekarang berani sekali bicara kepada Papa.”

Arya duduk di kursi tunggal dekat jendela. “Hotel di kecamatan masih menerima tamu. Stafku bisa memesankan.”

Bimo memandangnya tidak senang. “Kami keluarga Laras.”

“Karena itu kalian diterima masuk,” kata Arya. “Bukan berarti kalian boleh mengatur rumahku.”

Raka menatap Arya, lalu perlahan bersandar di pagar tangga. Ketegangan di bahunya berkurang. Satu kalimat itu memastikan tak ada orang yang akan tiba-tiba merebut kamar atau menyeret kami keluar hanya karena mengaku keluarga.

Ratna menerima teh tanpa menyentuhnya. “Kami mendengar kalian mengubah semua persiapan.”

“Nama calon pengantinnya berubah,” jawabku. “Tentu dokumennya harus diubah.”

“Tidak perlu dibuat berlebihan. Orang-orang jadi membandingkan dengan Tiara.”

Tiara menyilangkan kaki. “Mereka bilang kamu mendapat emas tiga set dan uang berkali-kali lipat. Kamu sengaja ingin membuatku terlihat seperti tidak dihargai.”

“Aku tidak menentukan jumlahnya.”

“Tapi kamu menerimanya.”

“Haruskah aku menolak hanya supaya perasaanmu nyaman?”

Tiara mendengus. “Dasar tidak tahu diri. Kamu hidup dua puluh tahun dengan uang keluargaku. Begitu disuruh menggantikan satu pernikahan, kamu malah mengambil kesempatan untuk menguasai rumah dan harta lelaki desa.”

Bayu bergerak hendak turun, tetapi Raka memegang lengannya.

Aku meletakkan cangkir perlahan. “Mari kita luruskan. Keluarga Bimo membesarkanku karena rumah sakit menukar dua bayi, bukan karena aku mengetuk pintu kalian dan meminta diadopsi. Ketika Tiara kembali, kalian menerima uang lamaran dari pihak Arya. Lalu kalian memaksaku berangkat menggantikan calon pengantin tanpa mengembalikan uang itu dan tanpa memberitahu jumlah sebenarnya kepada orang tua kandungku.”

Wajah Ratna berubah. “Jaga ucapanmu.”

“Yang mana yang salah?”

Bimo akhirnya bicara. “Masalah keluarga tidak perlu dibuka di depan orang luar.”

Aku melirik tangga. “Orang luar yang mana? Lelaki yang akan menikahiku, atau anak-anak yang baru saja disebut hartanya hendak kukuasai?”

Arya tetap diam. Justru diamnya membuat suara napas orang-orang terdengar jelas.

Ratna merendahkan suaranya. “Kami datang untuk membantumu. Setelah akad, hubungan kita tetap akan dilihat orang. Tiara juga perlu dihormati sebagai putri keluarga. Sebaiknya beberapa kotak seserahan dibawa ke Jakarta agar tidak menjadi bahan pamer di desa.”

Jadi inilah tujuan mereka.

“Kotak mana?” tanyaku.

“Perhiasan bisa disimpan di rumah kami. Lebih aman.”

“Rumah yang membuat uang seserahan kehilangan lebih dari separuh sebelum sampai ke Tegalsari?”

Ratna berdiri begitu cepat hingga tehnya tumpah. “Kamu menuduh kami mencuri?”

“Aku menanyakan catatannya.”

“Semua uang itu dipakai untuk kebutuhan lamaran.”

“Lamaran yang tidak pernah kulihat pestanya, sementara orang tua kandungku hanya menerima sebagian kecil?”

Bimo memukul sandaran kursi. “Cukup! Kamu masih memakai nama yang kami berikan. Jangan mempermalukan orang tua yang membesarkanmu.”

Aku menatap wajah yang dulu membuatku diam hanya dengan satu kerutan. Anehnya, kali ini aku tidak merasa kecil.

“Aku tidak sedang mempermalukan siapa pun, Papa Bimo. Aku hanya menyebut apa yang terjadi. Kalian menerima lamaran untuk Tiara, Tiara menolak, lalu kalian mengirimku agar uang dan nama baik tetap aman. Sekarang ketika Arya memperlakukanku dengan layak, kalian datang menuntut bagian.”

Tiara bangkit. “Bagian? Semua yang kamu punya berasal dari kami!”

“Baju yang kubawa mungkin. Pendidikan yang kuterima juga akan selalu kuakui. Tapi pernikahan ini bukan milikmu.”

“Kalau bukan karena aku menolak, lelaki itu tidak akan melirikmu.”

“Benar,” kataku. “Dan kalau bukan karena kalian menganggapnya miskin serta tidak pantas, kalian juga tidak akan melemparkanku ke sini.”

Suara bisik di luar pagar makin ramai. Ratna menoleh dengan wajah panik, sadar percakapan kami bisa menyebar ke seluruh desa sebelum sore.

Dia mencoba mengubah nada. “Laras, Mama hanya takut kamu dimanfaatkan. Kamu belum tahu kehidupan rumah tangga. Menjadi ibu tiri tiga anak tidak mudah. Kalau ada sebagian harta dititipkan kepada keluarga, setidaknya kamu punya perlindungan.”

Raka berdiri di anak tangga paling bawah. “Mbak Laras melindungi kami. Bukan mengambil punya kami.”

Tiara menatapnya dari atas ke bawah. “Anak liar tidak perlu ikut bicara.”

Jagoan langsung bangkit di teras dan menggeram keras.

Arya yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat wajah.

“Minta maaf kepada Raka,” katanya.

Tiara tertawa pendek. “Aku tidak akan meminta maaf kepada anak yang bahkan bukan anak kandungmu. Kalian cocok sekali. Seorang janda tua gagal menikah dengan perempuan palsu yang sibuk bermain jadi ibu.”

“Aku bukan janda,” ujar Arya datar.

“Semua orang mengira begitu karena kamu membawa tiga anak. Apa bedanya? Dan dia tetap anak palsu. Seorang pengganti yang kebetulan dapat rumah besar.”

Arya berdiri. Dia tidak meninggikan suara atau melangkah mendekat. Namun Tiara berhenti tersenyum.

“Perbedaannya,” kata Arya, “Laras datang tanpa membawa apa pun dan sejak hari pertama memberi anak-anak rumah. Kamu datang setelah keluargamu menerima uangku, lalu masih ingin membawa pulang emas miliknya.”

Bimo menegang. Ratna memucat.

Arya menatap Tiara lurus-lurus. “Kalau kamu ingin bicara soal barang palsu, bawa dulu bukti ke mana sisa uang seserahan itu pergi.”

Wajah Tiara seketika putih.

1
Kukun Sabarno
bikin penasaran
Agnia Juyy Putri
bukannya bu fitri itu di penjara,
Erlinda Noviyani
merinding bgt episode ini, raka hebat 😍
Erlinda Noviyani
sebel bgt sama budaya gini, senioritas
Erlinda Noviyani
insecure ya bang 🤭
Erlinda Noviyani
🤭 panik² dikit itu
Marina Tarigan
kok vera serakah amat sih Arya dan laras tdk pernah membahas harta dia ga ya bertanggung jawab membesarkan ponakannya yv yg sfh yatim piatu demi adiknya Almira bkn mengincar harta mereka
Bakulgeblek
nhaaaa ini baru laki...
Marina Tarigan
mungkin yyg nulisnya piķun kali terlebih ibunya Vera kan sdh mencari ribut sm ayah nunda Raka menghina mereka sesuka hati apa vera takut harta warisan bebagi dgn raka ya mereka tdk perduli itu Arya juga orang kaya
Yayuk Yuhanah
👍😍
Yayuk Yuhanah
kok Aria gak tahu kelakuan pembantunya....... mirisss dech
Yayuk Yuhanah
baguslah laras sikapmu hrs tegas
🌹🪴eiv🪴🌹
ah so sweet 🥰
Erlinda Noviyani
gemesss bgt sm sasa 😍
🌹🪴eiv🪴🌹
lho konslet Tah otakmu tir.....tir.....😛
🌹🪴eiv🪴🌹
babu kurang ajar 👊
🌹🪴eiv🪴🌹
lha itu pak bos gimana konsepnya kok diam saja,punya pembantu bentak2 kalo ngomong 🤧
malah bahan makanan di bawa pulang lagi
Erlinda Noviyani
pengin liat bucinnya Arya tp kayaknya pak mayor ngga kaya tokoh² bucin yg lain deh 😄
Marliana
lanjut
Farida Dalle
Laras yg mendapatkan semuanya krn dia mensyuri apa yg telah ditakdirkan utknya,bukankah telah jelas dan nyata ada firman Allah,bahwa"barang siapa yg mensyukri nikmatku,maka akan aku tambahkan nikmatnya dan barang siapa yg ingkar maka siksaku sngat pedih" nah kn...jd jngn heran klu Laras mendapatkan yg lebih.........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!