Olivia Kania Smith mati dengan tragis ditangan adik angkatnya.
Olivia tidak tahu selama ini, kenapa keluarga kandungnya begitu sangat membencinya, dan bahkan juga teman-temannya sangat membencinya.
Mereka lebih percaya, dan perhatian kepada adik angkat Olivia.
Hingga pada detik terakhir Olivia akan mati, barulah ia tahu kenapa semua orang sangat membencinya.
Suara hati adik angkatnya dapat didengar semua orang, kecuali dia!
Siapa sangka, setelah kematian tragisnya, ia dapat mengulang kembali kehidupannya, dan dapat mendengar suara hati adik angkatnya.
Bagaimana sikap Olivia menghadapi keluarga kandungnya, setelah kehidupan ke duanya untuk membalas sakit hatinya pada kehidupan sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 7.
"Aaa.. !!!"
Lydia menyentuh pipinya yang terasa begitu sakit, dan ia menangis kesakitan merasakan pipinya yang membengkak.
Melihat keadaan Lydia yang sangat memprihatinkan, emosi Mariana semakin naik.
Ia sampai mendengus dengan geram menunjuk Olivia, "Kurang ajar! kamu berani sekali berbuat kasar pada Lydia!!!"
"Kau berani main kasar, ya! Hah!!!" bentak David, dan bergegas untuk membalas Olivia.
Olivia yang tidak ingin lagi lemah seperti dikehidupan sebelumnya, ia menoleh ke arah meja panjang tempat makanan, dan minuman.
Tangannya dengan cepat menyapu permukaan meja, dan menghamburkan semua makanan, gelas serta botol minuman yang ada di atas meja.
Prang!!!!
Suara gelas dan botol pecah terdengar begitu nyaring membentur lantai aula.
Semua sontak mundur, saat Olivia dengan kencang menyapu permukaan meja dengan tangannya.
Apa saja yang ada di atas meja itu sebagian mengenai mereka.
Mata Mariana terbelalak melihat apa yang dilakukan Olivia.
"Sungguh berani! benar-benar berani! dasar anak kurang ajar! bodyguard!!!" teriak Albert dengan emosi tingkat tinggi, sampai urat lehernya terlihat menonjol.
Ia benar-benar sudah kewalahan menghadapi sikap membangkang Olivia.
"Cepat! tangkap anak durhaka itu untukku!!!" sambung Albert lagi menunjuk Olivia dengan raut wajah merah padam.
Olivia berdiri dengan tenang di tempatnya.
Perasaannya sedikit lega sudah menghamburkan apa saja yang ada di atas meja.
"Ayo!!!" terdengar suara pengawal datang, untuk melakukan apa yang diperintahkan Albert.
Olivia melirik satu botol minuman, yang masih tertinggal di atas meja.
Ini baru permulaan saja! bisik hatinya meraih botol minuman tersebut.
"Mau apa kamu!!" David melihat Olivia yang meraih botol minuman dari atas meja.
"Jangan mendekat!!!" teriak Olivia mengacungkan botol itu ke arah bodyguard, yang akan datang menangkapnya.
Botol itu ia acungkan ke wajah bodyguard itu satu persatu, yang mencoba ingin mendekat padanya.
Sorot mata Olivia begitu tajam memandang mereka satu persatu, dengan raut wajahnya yang begitu dingin.
Lalu kemudian botol itu ia acungkan ke arah keluarganya, yang tampak melindungi Lydia dari amukan Olivia lagi.
"Sudah kubilang pada kalian! aku tidak melemparkan vas itu ke kepala Lydia! kalian semua tidak percaya!!"
Mata Olivia tajam memandang satu persatu keluarganya itu, "Ku kasih tahu kepada kalian, ya! grup Smith sudah diberikan padaku, Olivia Kania Smith! aku memiliki saham tiga puluh persen di perusahaan Smith! kalau kalian masih terus menekan ku, aku bisa melakukan apa saja kepada kalian!!!"
Albert dan Mariana saling memandang mendengar apa yang di katakan Olivia, sementara Lydia yang kesakitan memegang pipinya yang membengkak.
Mariana mengacungkan tangannya menunjuk Olivia, dengan raut wajah menggeram.
Saat ia ingin melontarkan amarahnya kepada Olivia, Lydia semakin merasakan sakit pada wajah bengkaknya.
"Ma, sakit!!" suara Lydia terdengar sulit saat bicara.
Ia ingin menangis merasakan betapa sakitnya wajahnya.
Penampilan wajahnya terlihat begitu sangat jelek.
"Dokter! Dokter! mana Dokter? cepat datang ke mari!!!" teriak Mariana dengan panik.
Dokter bergegas datang terburu-buru membawa kotak obatnya.
"Mana pasiennya??" tanya Dokter.
Ia mengedarkan pandangan matanya sembari memegang kaca matanya untuk melihat dengan fokus.
"Di sini! ini pasiennya! di sini, di sini!!!" panggil Mariana menunjuk ke arah Lydia, yang sedari tadi berdiri di sampingnya.
Lydia melepaskan tangannya memeluk pipinya yang bengkak, agar Dokter melihat dengan jelas kondisinya yang memprihatinkan.
Olivia menurunkan botol minuman yang ia acungkan, melihat Dokter yang datang untuk memeriksa keadaan Lydia.
Dokter memandang Lydia dengan kening mengerut, merasa ada yang salah dengan pasien yang akan ia periksa.
"Aku ini memang Dokter! tapi bukan Dokter hewan, ya!!" jawab Dokter setelah mengamati penampilan wajah Lydia, "Masak kalian menyuruhku memeriksa babi?? tentu saja aku tidak bisa periksa!!"
"Apa Dokter bilang?!!"
"Bicara apa Dokter?!!"
Mata Mariana dan David bersamaan terbelalak, mereka terkejut mendengar apa yang dikatakan Dokter.
Bersambung......
..