Meski telah 10 tahun saling mengenal dan sempat hidup bersama dalam pernikahan, nyatanya Rastadira dan Farhan harus menyerah pada takdir perpisahan. Berbagai kemelut hadir sejak ia memutuskan pergi dari kehidupan Farhan dan keluarga. Namun, siapa yang menyangka banyaknya kemelut malah mengantarkannya pada kisah yang lebih hangat dan nyaris sempurna? Sanggupkah ia beralih rasa tanpa ada bayangan masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandutmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemui Indah
Sejak siang itu, hubunganku dengan Farhan semakin dekat. Kami sering berbalas pesan, juga sering berbalas senyum saat berjumpa. Aku yang sebelumnya tidak memiliki perasaan apapun, tiba-tiba merasa ada yang kurang jika ponselku tidak memunculkan nama Farhan. Sesekali juga muncul keinginan untuk berpapasan dengannya di sekolah.
Hingga pada suatu hari Farhan benar-benar mengungkapkan perasaannya di hari terakhir pekan UTS. Dia mengungkapkannya secara langsung ketika menghampiriku ke kelas dan mengajakku pulang bersama. Di tengah perjalanan menuju tempat parkir motor itulah dia menembakku.
Dengan gaya norak khas abege yang sedang hits kala itu Farhan memberi opsi lewat helm. Jika aku menerimanya, maka aku harus mengambil helm dan ikut ke boncengannya. Sebaliknya, jika aku menolak maka aku boleh mengabaikan helm itu.
Seperti sudah bisa ditebak apa jawabanku, wajah Farhan menguraikan aura kemenangan. Mengingat kedekatan kami tiga minggu terakhir ini, rasanya mustahil jika aku menolaknya. Ya, aku menerima helm itu.
Waktu berjalan dengan cukup membosankan saat aku resmi berstatus pacar Farhan. Dua karibku, Ratih dan Yuki, perlahan menjaga jarak karena Farhan selalu siaga di sisiku saat di sekolah. Pernah kucoba menegurnya supaya dia tidak selalu mengikutiku minimal saat jam istirahat, tapi tak pernah dihiraukannya. Meski sering kali saat istirahat dia duduk di bangku kawanku yang laki-laki, tapi tetap saja aku masih dalam pemantauannya. Belum lagi masalah berangkat dan pulang sekolah, Farhan tidak pernah absen mengantar jemputku setiap hari, padahal aku sangat rindu duduk berdesakan di angkot seperti saat aku belum mengenal Farhan.
Alasan-alasan itulah yang sering membuatku kesal hingga akhirnya di tiga bulan pertama hubungan kami aku berniat putus darinya. Tentulah Farhan menolak, dan akhirnya sikapnya yang masih seperti bocah memaksaku untuk tetap melanjutkan hubungan ini daripada dia nekat pindah sekelas denganku.
Meski dengan berat hati aku menerima kembali hubungan ini, nyatanya lama kelamaan aku jadi terbiasa dan mulai nyaman sehingga reaksi Ratih dan Yuki tak lagi menjadi soal untukku. Kami masih berkawan baik, namun tidak sedekat seperti awal kenal dulu. Pendeknya, aku sudah benar-benar nyaman berkawan dengan Farhan. Ke kantin, ke perpustakaan, sampai bimbel pun kami daftar di tempat yang sama.
Hampir tidak ada konflik di antara kami berdua, sifatku yang cenderung cuek dan sifat Farhan yang selalu terbuka ternyata bisa membuat hubungan kami awet. Saking terbukanya, Farhan sampai menceritakan apa saja yang dia alami saat tidak bersamaku, termasuk aktivitasnya setiap hari saat di kelas dan di rumah. Duh.
Selepas SMA, untuk kali pertamanya kami terpisahkan oleh jarak. Aku melanjutkan pendidikanku di Surabaya dan Farhan melanjutkannya di Kota Malang. Saat kuliah, aku tidak lagi tinggal di rumah dinas bersama kedua orang tuaku, karena ayah telah memasuki usia pensiun sehingga ayah dan ibu memutuskan untuk kembali ke Madiun. Alhasil, aku pun tinggal di sebuah rumah kontrakan yang kuhuni dengan sembilan mahasiswi lain dari berbagai kota dan berbagai jurusan.
Tidak ada yang berubah dengan hubunganku bersama Farhan, kami masih berkomunikasi lancar menggunakan smartphone. Hubungan kami benar-benar santai, tidak saling mengekang, tidak saling curiga, betul-betul seperti sahabat yang saling percaya bahwa tidak akan ada yang tersakiti diantara kami. Aku mengenal teman-teman kuliahnya, Farhan pun mengenal teman-teman kuliahku. Namun, jika ada pertanyaan hal apa yang belum kuketahui dari Farhan tentulah tentang keluarganya. Selama tujuh tahun menjalin kedekatan dengannya, belum pernah sekalipun aku mendengar Farhan bercerita tentang keluarganya. Dimana alamat tepat rumahnya, siapa nama orang tuanya, siapa nama saudaranya, informasi dasar semacam itu belum pernah kuketahui kejelasannya, yang kutahu sebatas Farhan anak kedua dari tiga bersaudara. Itu saja.
**
Hari ini adalah jatah libur dari toko tempatku bekerja. Aku sengaja berganti pakaian rapi untuk bersiap ke rumah sahabatku saat kuliah, Indah. Berkat pertolongan Indah dan suaminyalah aku bisa tinggal di kota kecil ini dan bekerja di toserba milik kerabat suami Indah. Jika diingat-ingat kembali peristiwa pahit kala itu, rasanya hampir tak percaya aku berada disini.
Entah bisikan darimana yang menuntunku ke kota kelahiran Indah, sehingga menghindarkanku dari upaya bunuh diri akibat aksi tercela dari pria yang kuhormati. Ah, sesak rasanya dada ini, ditambah lagi dengan hasil yang mengejutkan dari alat uji kehamilan barusan, rasanya ingin kutemui saja pria itu sekaligus ingin ku cakar wajahnya dengan.... Astagfirullah, aku harus cepat bertemu Indah supaya setan tak berlama-lama menguasaiku.
Jarak kosku dan rumah Indah cukup dekat, dengan sekali ikut boncengan tukang ojek yang mangkal di gang depan maka lima menit pun sampai. Jantung berdetak sangat cepat saat aku sampai di depan rumah Indah. Ada rasa sungkan yang hinggap ketika hati berniat mengutarakan kenyataan ini pada Indah, takut membebani pikirannya. Namun aku tak punya pilihan lain, hanya Indah yang tahu betul peristiwa yang menimpaku. Maka, kuberanikan diri masuk ke halaman dan mengetuk pintu rumahnya. Sahutan salam dari dalam rumah menandakan bahwa Indah ada di rumah, dia terlihat gopoh saat mengetahui aku lah tamu yang mampir ke rumahnya pagi ini.
“Dira, kok ndak kabar-kabar kalau mau kesini.” Ucapnya terkejut karena kedatanganku. Anaknya yang paling kecil turut mengekor di belakang Indah, sepertinya baru selesai mandi karena kulihat torehan bedak bayi begitu segar menghiasi wajah mungil itu.
“Halo Afif, maaf ya tante kesini pagi-pagi, habis mandi ya?” sapaku pada balita yang kini di gendongan Indah.
“Masuk, Dir.” Indah mempersilakanku masuk, pintu rumah ditutupnya kembali.
Aku duduk di kursi yang sama seperti saat pertama kali aku kesini sekitar dua bulan lalu. Jika saat itu Indah didampingi suaminya, kali ini Indah hanya berdua dengan Afif di rumah.
“Dir, kamu kenapa?” Tanya Indah sambil menyentuh tangan kananku, seolah tahu bahwa aku tengah bersedih.
“Ternyata cerita malam itu belum berakhir, Ndah.” Jawabku sambil mengeluarkan bungkusan tisu dari dalam tas, tisu itu berisi tespek dua garisku.
Indah membelalakkan matanya, menutup mulutnya yang ternganga saking kagetnya. Tidak cukup sampai disitu, Afif diturunkannya, matanya ikut berkaca melihat benda itu. Tak lama ia pun menghambur memelukku, isaknya membuat tangisku pun ikut luruh.
Ada sebagian beban yang berkurang saat aku mengisakkan semuanya bersama Indah. Kami sama-sama wanita, sama-sama seorang istri sehingga air mata yang keluar pun berasal dari perasaan yang sama.
“Lalu bagaimana rencanamu?” Tanya Indah saat tangisnya mereda.
“Aku belum tahu, Ndah. Mau memastikan ke dokter kandungan aku takut ambruk disana, hasil tespek ini saja sudah membuat aku stres.” Jawabku.
“Farhan?” Indah mengucapkannya dengan sangat pelan dan hati-hati.
“Putusan perceraian kami akan keluar paling cepat akhir bulan depan, Ndah. Hari pertama aku nggak di rumah waktu itu dia jadikan alasan untuk gugatan cerai.” Jelasku.
Ada perih yang tak dapat kugambarkan saat menceritakan gugatan cerai itu. Kenyataan yang tidak pernah kuprediksi sebelumnya, pria yang sepuluh tahun selalu mengucapkan kalimat-kalimat indah untukku ternyata tega melepasku begitu saja. Namun aku sadar, keputusan Farhan itu sudah seharusnya kuterima, mengingat akan hadirnya makhluk di rahimku kini.
“Aku nggak mungkin menceritakan ini ke Farhan, juga nggak mungkin menjelaskan semuanya ke orang tuaku. Aku bingung, Ndah. Sedangkan sampai detik ini pun orang tuaku ngga pernah tahu masalah rumah tanggaku dengan Farhan.”
“Tapi Ibu tahu kalau kamu disini, Dir?” Aku mengangguk. Saat itu aku memang memberitahu Ibu bahwa aku tinggal dan bekerja di Jombang, kota kelahiran Indah, karena Farhan ada tugas luar dan mertuaku sedang tidak di rumah. Alasan yang konyol memang, namun entah mengapa Ibu menerima semua alasanku tanpa banyak pertanyaan.
“Kalau begitu, kamu harus temui laki-laki itu, Dira.”