Indonesia
NovelToon NovelToon
Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Suasana di ruang makan itu langsung berubah menjadi sangat kaku dan dingin.

Anya meremas ujung gaunnya kuat-kuat karena merasa sangat tidak nyaman berada di tengah perselisihan ini.

"Luar biasa sekali ucapanmu itu, Kakak."

Leon, pria berambut pirang yang merupakan saudara tiri Kenji, kembali angkat bicara dengan nada provokatif.

Leon menopang dagunya dengan satu tangan sambil menatap Anya dengan pandangan yang menyelidik.

"Tapi aku dengar dari anak buahku, ayah gadis ini adalah penjudi bangkrut yang mencuri uang dari kasino kita."

"Benar begitu, Nona Anya?" Leon melemparkan pertanyaan itu langsung kepada Anya.

Semua mata di meja makan kini menatap tajam ke arah Anya menunggu jawaban dari mulutnya.

Anya merasa kerongkongannya tiba-tiba menjadi sangat kering seperti gurun pasir.

[Peringatan: Karakter Leon mencoba membongkar identitas asli Anda.]

[Opsi 1: Menyangkal dengan keras dan marah-marah.]

[Opsi 2: Mengakui kebenaran tapi dengan memutarbalikkan fakta.]

[Opsi 3: Menangis dan meminta Kenji membelamu.]

Anya tahu menangis hanya akan membuatnya terlihat semakin lemah dan menyedihkan di mata para mafia ini.

"Informasi anak buah Anda sepertinya kurang akurat, Tuan Leon," jawab Anya pelan namun berusaha terdengar yakin.

Anya menegakkan punggungnya dan membalas tatapan Leon dengan berani.

"Ayahku memang memiliki masalah keuangan di masa lalu, tapi itu sudah diselesaikan oleh Kenji."

"Aku bertemu Kenji saat aku sedang mengurus masalah itu di kasinonya."

Anya sengaja menggenggam tangan kiri Kenji yang ada di atas meja untuk memberikan kesan meyakinkan.

"Kenji menyelamatkanku dari masalah besar, dan sejak saat itu aku bersumpah untuk mengabdikan hidupku padanya."

Kenji sedikit menegang saat tangan mungil Anya menyentuh tangannya, tapi dia tidak menepisnya sama sekali.

Dia malah membalikkan tangannya dan balas menggenggam tangan Anya dengan cukup erat.

"Begitulah ceritanya," tambah Kenji dengan senyum tipis yang dipaksakan.

"Anya mungkin tidak berasal dari keluarga kaya raya, tapi kesetiaannya padaku tidak perlu diragukan lagi."

Paman Haris mendengus kasar mendengar penjelasan yang terdengar seperti omong kosong murahan itu.

"Kesetiaan dari seorang anak pencuri tidak ada harganya di dunia kita ini, Kenji."

"Jika kau bersikeras menikahinya, para tetua mungkin akan mempertimbangkan ulang posisimu sebagai ketua klan yang baru."

Ancaman terang-terangan dari Paman Haris itu membuat beberapa anggota keluarga lain mengangguk setuju.

Anya menyadari bahwa posisi Kenji di rumah ini ternyata belum sepenuhnya aman dan kuat.

Banyak faksi di dalam keluarganya sendiri yang masih mencoba menjatuhkannya dari kursi kekuasaan.

"Maaf jika saya lancang berbicara, Tuan Haris."

Anya tiba-tiba angkat suara lagi, membuat Kenji menoleh menatapnya dengan sedikit terkejut.

"Tapi saya rasa kekuatan sebuah klan tidak hanya dinilai dari aliansi pernikahan semata."

Anya menelan ludahnya sejenak untuk mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.

"Klan Bratadikara di bawah pimpinan Kenji bulan lalu baru saja berhasil mengambil alih rute pelabuhan selatan."

"Itu adalah pencapaian besar yang tidak bisa dilakukan oleh pemimpin sebelumnya selama lima tahun terakhir."

Itu adalah informasi rahasia yang tidak sengaja Anya dengar dari obrolan pelayan saat dia dirias tadi.

Dia hanya nekat menggunakan informasi itu sekarang sebagai bentuk pertaruhan untuk membungkam mulut Paman Haris.

Raut wajah Paman Haris seketika berubah menjadi sedikit gelap mendengar ucapan Anya.

Memang benar bahwa Kenji sangat agresif dan sukses memperluas wilayah kekuasaan mereka belakangan ini.

Prestasi Kenji di lapangan itulah yang membuat para tetua mau tidak mau mengangkatnya menjadi ketua muda.

"Ternyata gadis kecil ini lumayan tajam juga lidahnya," ucap Leon sambil bertepuk tangan pelan.

"Kau beruntung sekali menemukan mainan yang pintar bersilat lidah, Kak Kenji."

Kenji tersenyum miring lalu mengangkat gelas anggurnya.

"Tentu saja, aku tidak pernah memilih barang murahan untuk berada di sisiku."

"Mari kita nikmati makan malamnya, hidangannya sudah mulai dingin."

Kenji memotong pembicaraan dengan nada final yang tidak terbantahkan lagi.

Suasana makan malam berlanjut dengan sangat kaku dan diisi oleh obrolan bisnis yang sama sekali tidak Anya mengerti.

Anya hanya fokus menghabiskan makanannya dalam diam sambil terus mempertahankan raut wajah tenangnya.

Meski begitu, di bawah meja, tangan kirinya terus meremas ujung gaunnya karena ketegangan yang belum mereda.

Satu jam yang terasa seperti di neraka akhirnya berlalu juga.

Acara makan malam keluarga itu ditutup dengan Paman Haris yang meninggalkan meja makan lebih dulu tanpa pamit.

"Ayo kita kembali ke kamar," ucap Kenji pelan sambil berdiri dari kursinya.

Anya mengangguk cepat dan langsung mengikuti langkah Kenji keluar dari ruang makan yang menyesakkan itu.

Sepanjang perjalanan melewati lorong rumah, tidak ada satu pun dari mereka berdua yang membuka mulut.

Hanya suara ketukan sepatu mereka yang menggema di keheningan malam kediaman Bratadikara.

Tap. Tap. Tap.

Setelah mereka sampai di kamar rias dan pintu ditutup rapat, Anya akhirnya bisa menghela napas lega.

Bruk.

Anya langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa panjang karena kakinya terasa sangat lemas.

"Aku hampir mati jantungan karena ketakutan di bawah sana tadi," keluh Anya sambil memijat pelipisnya.

Kenji melepaskan jas hitamnya lalu melemparkannya begitu saja ke atas kursi rias.

Pria itu berjalan menghampiri Anya dan berdiri menjulang di depan sofa yang didudukinya.

"Kau berbohong dengan lumayan mulus tadi di depan Leon," ucap Kenji dengan nada datarnya yang khas.

"Dari mana kau tahu soal perebutan rute pelabuhan selatan itu?"

"Pelayanmu membicarakannya saat merias rambutku tadi," jawab Anya jujur karena tidak berani berbohong pada pria ini.

"Mereka bilang kau hebat tapi sayangnya sangat kejam."

Kenji mendengus pelan mendengar kejujuran yang sangat polos dari mulut tunangan palsunya itu.

"Mulai besok, aku akan menugaskan dua pengawal bayangan untuk mengawasimu setiap saat."

"Leon dan Paman Haris tidak akan berhenti mencari kelemahanmu setelah perdebatan di meja makan tadi."

"Mereka berdua sangat licik dan menghalalkan segala cara untuk menyingkirkanku dari kursi ketua."

Anya menatap wajah lelah Kenji dan entah kenapa merasa sedikit simpati pada pria dingin di depannya ini.

Hidup di istana mewah yang dipenuhi oleh keluarga yang ingin saling membunuh ternyata tidak seindah kelihatannya.

"Aku mengerti, aku akan berhati-hati dan tidak akan keluar kamar jika tidak penting," jawab Anya pelan.

"Bagus, sekarang tidurlah sebelum kau terlihat seperti mayat hidup besok pagi."

Kenji membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu penghubung kamarnya sendiri.

"Selamat malam, Kenji," ucap Anya refleks sebelum pria itu menutup pintunya.

Langkah Kenji terhenti sejenak, tapi pria itu tidak membalikkan badannya sama sekali.

Dia hanya diam selama dua detik sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya tanpa membalas ucapan Anya.

Blam.

Pintu ditutup dengan rapat, meninggalkan Anya sendirian lagi di dalam kesunyian malam.

[Misi Harian Selesai: Berhasil selamat dari makan malam keluarga Bratadikara.]

[Hadiah: Poin Kecerdasan +2, Poin Afeksi Target +2%]

[Tingkat kemampuan adaptasi Anda meningkat perlahan.]

Anya tersenyum tipis melihat layar biru transparan itu menghilang dari pandangannya.

"Dua persen ya, setidaknya batu es itu tidak membenciku sepenuhnya," gumam Anya pelan pada dirinya sendiri.

Dia berjalan mendekati kasurnya dan mematikan lampu tidur di atas nakas.

Klek.

Malam ini Anya bisa tidur dengan sedikit lebih tenang, meskipun dia tahu besok akan ada banyak masalah baru yang menantinya di rumah ini.

Perang dingin di dalam keluarga Bratadikara baru saja dimulai, dan Anya kini terjebak tepat di tengah-tengahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!