"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."
Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sebuah luka
Matahari pagi baru saja merangkak naik, menyiram pekarangan rumah Karsa dengan cahaya keemasan yang hangat. Namun, bagi Budi, kehangatan itu terasa hambar. Udara pagi yang bersih justru mendadak terasa menyesakkan paru-parunya. Langkah kakinya terpaku di dekat pintu dapur, menyaksikan pemandangan di ruang tamu yang rasanya sanggup meremukkan egonya sebagai seorang pria.
Di sana, Dewi sedang berdiri di dekat pintu. Gadis itu baru saja datang, mengantarkan kantong plastik berisi sembako lengkap dengan senyuman paling manis yang pernah Budi lihat.
Sialnya.....
senyuman itu bukan untuknya. Tatapan mata Dewi, yang berbinar penuh perhatian dan kecemasan terselubung, sepenuhnya tertuju pada Karsa yang masih terduduk di kursi kayu dengan wajah linglung.
"Besok aku mau ke kota... sengaja main ke sini sekalian mau pamit."
Kalimat yang diucapkan Dewi beberapa saat lalu terus terngiang di telinga Budi, berdenging kasar seperti tawon.
Budi melirik ke luar jendela.
Di halaman rumah Karsa yang sedikit berlumut, sebuah mobil pribadi milik keluarga Dewi terparkir dengan anggun. Gadis itu tidak akan naik bus ekonomi di terminal desa. Dia akan menyetir sendiri ke kota, memulai kehidupan barunya sebagai mahasiswi, meninggalkan desa ini dan meninggalkan Budi dengan luka yang menganga.
Budi tersenyum kecut, sebuah senyuman pahit yang dia sembunyikan dengan cara menunduk. Sebagai sahabat karib, Budi tahu segalanya. Dia tahu Karsa sedang terpukul karena duka mendalam setelah kepergian ibunya, dan lahan sawah peninggalan orang tuanya pun sudah lama selesai dipanen. Karsa sedang tidak punya kesibukan, sedang rapuh, dan di saat seperti itulah Dewi datang. Terang-terangan mendatangi rumah Karsa di pagi itu, menerobos masuk ke dalam kehidupan sahabatnya, hanya demi mengucapkan kata perpisahan secara langsung.
Sebagai sahabat, Budi ingin selalu pasang badan untuk Karsa. Tapi sebagai pria biasa yang sudah bertahun-tahun mengagumi Dewi dalam diam, pagi ini Budi merasa hatinya benar-benar berdarah. Mengapa harus Karsa? Mengapa Dewi harus bersusah payah mengemudikan mobilnya ke rumah reyot ini hanya untuk berpamitan, sementara rumah Budi dilewati begitu saja tanpa sepatah kata pun?
Pikirannya melayang pada obrolan mereka di jalanan desa tempo hari. Saat itu, Karsa dengan polosnya menghibur Budi dengan berkata,
"Ah bud mana ada.. Toh kamu lihat aja, dia anak orang kaya... Perbedaan kasta sosial mereka terlalu jauh untuk dijembatani oleh perasaan."
Budi mengingat ucapan sahabatnya itu dan rasanya dia ingin tertawa sekeras-kerasnya untuk menertawakan kebodohan mereka berdua. Karsa begitu buta, atau mungkin pura-pura tidak tahu. Karsa mengira Dewi menjaga jarak dari Budi karena urusan kasta sosial dan harta kekayaan keluarga. Karsa tidak pernah sadar bahwa alasan Dewi tidak pernah bisa menerima Budi adalah karena seluruh hati gadis itu sudah dikunci mati untuk sosok Karsa sendiri.
Dewi rela mengalah dan menahan diri demi menjaga perasaan Ningsih, sahabatnya. Namun, pagi ini, di detik-detik terakhir sebelum dia pergi merantau, pertahanan Dewi runtuh. Dia egois demi perasaannya pada Karsa, tanpa memikirkan ada hati lain yang hancur berkeping-keping di ruangan yang sama.
Hati milik Budi.
"Maaf, kata Karsa menyambung ramah, sekedar minum saja.." suara Karsa memecah keheningan, mencoba mencairkan suasana saat budi membawakan nampan berisi cangkir kopi dan segelas teh.
Budi menghela napas panjang, mencoba menguasai gemuruh di dadanya. Dia melangkah maju, mengambil posisi duduk di samping Karsa, lalu meraih cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap. Dia menyeruput kopi pahit itu dalam-dalam, berharap rasa pahit di lidah bisa menyamarkan rasa perih yang menjalar di hatinya.
Ketika Dewi kemudian berceloteh tentang rencana kuliahnya, jurusan kebidanan yang dipilihnya, dan bagaimana dia harus mengurus semuanya sendiri di kota, mata gadis itu sesekali mencuri pandang ke arah Karsa, seolah mencari kepastian apakah pria itu akan merindukannya atau tidak.
Budi melihat semua kode itu. Setiap gerak-gerik, setiap tarikan napas Dewi, semuanya menceritakan tentang Karsa.
"Eh dewi, kata Budi, DiKota nanti kamu kuliah jurusan apa?" tanya Budi akhirnya, mencoba memotong ketegangan emosional yang membuatnya muak. Suaranya terdengar datar, kehilangan keceriaan Budi yang biasanya selalu ramah dan jenaka.
Setelah obrolan itu mereda, Dewi akhirnya berpamitan untuk benar-benar berangkat. Budi ikut berdiri, berniat mengantar sampai ke depan pintu. Namun, saat mereka berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir di halaman, Budi sengaja memperlambat langkahnya. Dia membiarkan Karsa berjalan lebih maju di depan bersama Dewi.
Budi berdiri di teras rumah Karsa, bersedekap, menatap bayangan mobil Dewi yang mulai dinyalakan. Dia melihat bagaimana Dewi sempat menatap Karsa dari balik kaca spion dengan pandangan yang tulus dan sarat akan perpisahan yang berat.
Saat mobil itu akhirnya bergerak maju, membelah jalanan desa yang berbatu dan meninggalkan debu yang beterbangan, Budi memalingkan wajahnya.
Dia menolak untuk melambaikan tangan.
Pagi ini.... Budi memutuskan untuk memendam rapat-rapat perasaannya. Dia akan tetap menjadi sahabat terbaik bagi Karsa, menemaninya melewati masa-masa sulit pasca-panen, tapi separuh dari jiwanya tahu, rasa sakit hati pagi ini telah mengubah sesuatu di dalam dirinya untuk selamanya.