"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."
Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALL IN
Jam 8 malam ... kegelapan malam desa telah turun sepenuhnya, membawa kesunyian yang mencekam di sekitar rumah tua itu. Angin malam berhembus makin dingin, menusuk lewat celah-celah dinding kayu yang mulai lapuk. Setelah merapikan bekas makan malamnya yang sederhana di dapur—hanya seiring nasi dengan lauk seadanya—Salman kembali ke ritualnya yang tak pernah absen. Kopi hangat yang hitam pekat dan batangan kretek selalu menghiasi harinya, menjadi dua hal yang setia menemaninya mengurai benang kusut di dalam kepala yang kian memberat.
Dia duduk sendirian di kursi kayu ruang tamu yang sudah tua. Matanya menatap kosong pada asap rokok yang bergulung-gulung ditiup angin malam dari celah ventilasi di atas pintu. Pikirannya tidak bisa diam, terus berputar-putar seperti gasing. Dia kembali memikirkan tentang kejadian hari ini yang berjalan begitu cepat, liar, dan menjungkirbalikkan hidupnya dalam hitungan jam saja. Semua terjadi di luar kendali dan nalar sehatnya sebagai manusia biasa.
Semua bermula dari datangnya ningsih yang panik dan menangis siang tadi... Dan... berakhir dengan sapu tangan putih bernoda merah yang kini tersimpan rapi di bawah kolong tempat tidurnya. Sapu tangan itu kini menjadi saksi bisu sebuah rahasia besar yang teramat tabu.
Lalu, hanya selang satu jam kemudian, keajaiban yang dia tunggu berminggu-minggu datang lewat dering telepon: sebuah panggilan kerja di bengkel kota. Panggilan yang selama ini dia dambakan demi merubah nasibnya yang terlunta-lunta.
Dua kejadian besar yang kontras itu bertabrakan di dalam benaknya, melahirkan sebuah pemikiran abu-abu yang getir. Di satu sisi ada rasa bersalah yang teramat pekat, namun di sisi lain ada secercah harapan baru yang mendadak muncul ke permukaan.
"Apakah karena habis dapat perawan seolah membuang sial bagiku..." kata karsa dalam hati. Sebuah pertanyaan psikologis yang terdengar sinis namun jujur dari sudut hatinya yang paling dalam.
Di satu sisi dia merasa berdosa dan bersalah pada Ningsih, namun di sisi lain, dia tidak bisa memungkiri bahwa nasib baiknya seolah mendadak terbuka tepat setelah pergumulan hebat di siang hari itu. Keberuntungan itu datang di saat yang paling tidak terduga.
Dia pun kembali menghisap dalam dalam kreteknya, membiarkan rasa hangat tembakau membakar keraguan di dadanya. Asap tebal kembali mengepul, memenuhi ruang tamu yang remang-remang. Penyesalan tidak akan mengubah fakta bahwa Ningsih akan dinikahi Joni dalam waktu satu bulan. Waktunya sangat sempit. Panggilan kerja di bengkel kota ini adalah satu-satunya tiket bagi Salman Prakarsa untuk membangun "pondasi yang kuat" dan meruntuhkan kesombongan SUV putih milik Joni. Dia tidak boleh membiarkan harga dirinya diinjak-injak lagi oleh kekayaan orang lain.
Sorot mata Karsa mendadak berubah tajam dan penuh tekad. Sifat keras kepala dan keberaniannya sebagai lelaki kembali bangkit dari keterpurukan. Rasa bimbang yang sempat menggelayuti hatinya kini perlahan memudar, digantikan oleh ambisi yang membara. Dia tidak boleh setengah-setengah lagi dalam mengambil langkah hidup.
"Sebaiknya besok aku jual semua padi ini buat modal ke kota.. Yah all in saja," kata karsa mantap dalam kesunyian malam. Suaranya terdengar memecah keheningan rumah tua itu.
Menjual seluruh padi hasil panen peninggalan ibunya adalah perjudian besar. Itu berarti dia mengorbankan stok pangannya untuk beberapa bulan ke depan, sebuah risiko kelaparan yang nyata jika dia gagal di perantauan nanti. Namun bagi Karsa, tidak ada jalan mundur. Dia harus mempertaruhkan seluruh modal yang dia miliki untuk berangkat ke kota besok, bertaruh memperebutkan pekerjaan itu.
Dia harus menang dalam pertaruhan ini demi masa depannya.