Indonesia
NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31

Menghadap Engkong-Popo

Perjalanan menuju Menteng terasa lebih panjang daripada biasanya.

Karina memegang kotak bunga di pangkuan. Nathan beberapa kali menyentuh jarinya, memastikan telapak itu tidak terlalu dingin. Cik Anna duduk di depan dan terus menerima pesan dari Popo mengenai menu makan malam.

"Engkong suka orang bicara langsung," kata Nathan. "Kalau dia diam, bukan berarti menolak."

"Kalau dia benar-benar menolak?"

"Aku tetap suamimu."

Cik Anna menoleh. "Dan aku tetap membawamu masuk. Jangan biarkan wajah serius Papa-ku membuatmu lupa bernapas."

Mobil memasuki halaman luas di balik gerbang kayu gelap. Rumah Hartawan tidak menjulang seperti gedung modern. Bangunannya rendah, dikelilingi pohon tua, kolam koi, dan batu alam yang tampak sudah berada di sana selama beberapa generasi.

Leon, pengurus rumah, menyambut di tangga. Beberapa staf membantu mengambil barang, tetapi Karina menahan kotak bunga buatannya sendiri.

Nathan membuka bagasi untuk mengambil hadiah Engkong. Saat Cik Anna berjalan lebih dulu, ia menarik Karina ke sisi mobil.

"Kamu cantik," katanya.

"Aku mau pingsan."

"Kalau pingsan, aku gendong. Tapi lebih baik jangan, nanti Engkong mengira aku membuatmu kurang makan."

Karina hendak menyuruhnya serius. Nathan malah menunduk dan mencium bibirnya. Ciuman itu seharusnya singkat, tetapi tangan Nathan menahan belakang lehernya seolah halaman rumah keluarga adalah tempat paling aman di dunia.

Suara batuk kecil terdengar.

Cik Anna berdiri dua langkah dari mereka. "Aku senang pernikahan kalian sehat. Namun Popo sedang menunggu di dalam, dan tetangga punya jendela."

Karina segera mundur dengan wajah panas. Nathan sama sekali tidak malu.

Cik Anna menerima kotak kecil berisi syal yang dibeli Karina untuknya. "Untukku juga?"

"Saya tidak tahu warna yang Cik suka."

Anna membuka sedikit kain hijau zamrud di dalamnya. "Kebetulan aku memang kekurangan syal warna ini."

Nathan tertawa. "Mama punya satu ruangan penuh syal."

"Tidak ada yang persis ini." Cik Anna mengaitkan lengan Karina. "Ayo. Aku yang mengantarmu masuk."

Mereka melewati aula berlantai batu dengan foto keluarga hitam putih, altar leluhur kecil yang terawat, serta aroma kayu cendana. Di ruang duduk, Popo Meilin sedang menuang teh. Engkong Willem berdiri di meja kaligrafi, menyelesaikan satu garis tinta hitam.

Karina mengenali beberapa wajah pada foto dari berita bisnis. Nama Hartawan selama ini hanya ia pahami sebagai keluarga pemilik beberapa perusahaan lama di Jakarta. Di dinding itu, sejarah mereka tampak jauh lebih panjang: pembukaan toko pertama, perayaan Imlek, kelulusan tiga generasi, dan foto Cik Anna muda yang menggendong Nathan.

Tidak ada pajangan berlebihan. Justru keheningan rumah, porselen tua, serta staf yang mengenal setiap kebiasaan penghuni membuat Karina merasa Sky Palace hanyalah lapisan paling luar dari kekayaan keluarga ini.

Nathan membisikkan nama orang-orang dalam foto. Ketika Karina mulai kehilangan fokus, ia menunjuk dirinya sendiri saat berusia enam tahun dengan gigi depan ompong.

"Yang itu pencuri kue Popo," katanya.

"Aku dengar," sahut Popo dari dalam.

"Pendengaran Popo selalu bagus kalau menyangkut kejahatanku."

Candaan kecil itu membantu Karina mengatur napas sebelum melangkah ke pusat ruangan.

Karina memberi salam dengan sopan. "Selamat sore, Engkong, Popo. Saya Karina. Terima kasih sudah menerima saya."

Popo menatap wajahnya, lalu perut yang menonjol. Ada kelembutan dan kesedihan aneh di matanya. Mungkin perempuan tua itu masih membayangkan Nathan menikahi gadis seusianya, bukan perempuan sepuluh tahun lebih tua dengan satu pernikahan gagal.

"Hamil jangan berdiri lama," kata Popo akhirnya. "Duduk."

Karina mengucapkan terima kasih dan duduk di kursi yang ditunjuk. Cik Anna mengambil tempat di sampingnya. Nathan berdiri di belakang kursi, satu tangan bertumpu dekat bahunya.

Engkong meletakkan kuas. Ia mencuci ujung jari di mangkuk kecil, mengeringkannya, lalu berbalik.

Tatapannya tidak kasar, tetapi berat. Ia memeriksa Karina seolah membaca dokumen bisnis yang tidak boleh menyimpan satu angka salah.

"Usia kandungan?" tanyanya.

"Hampir lima bulan."

"Dokter siapa?"

Karina menyebut dr. Wibisono dan dr. Silvia. Engkong mengangguk tipis, tampaknya mengenal kedua nama itu.

"Pekerjaan?"

"Saya baru meninggalkan perusahaan lama dan sedang membangun platform perempuan bersama dua rekan. Namanya Metamorfosa."

"Nathan masih kuliah."

"Saya tahu. Kami sudah menyusun jadwal supaya dia tetap menyelesaikan studinya."

Nathan menyela, "Aku yang menyusun jadwal kuliahku, Kong."

"Kalau begitu jangan terlambat lulus."

Popo menyodorkan teh jahe untuk Karina, bukan teh pekat yang diminum lainnya. "Katanya kamu mengandung tiga."

"Iya, Popo."

"Keluargamu sudah tahu?"

"Sudah. Papa dan Mama baru pulang setelah beberapa hari bersama kami."

"Mereka setuju?"

Karina memilih jujur. "Mereka masih khawatir karena semuanya cepat dan usia kami berbeda. Tapi mereka bersedia mengenal Nathan."

Popo memandang cucunya yang berambut abu-abu dan memakai anting hitam. Bibirnya mengencang seolah memang sulit membayangkan keduanya berdampingan.

"Kamu pernah menikah delapan tahun," kata Engkong. "Sekarang menikah lagi dalam waktu singkat. Mengapa kami harus percaya ini bukan keputusan karena panik?"

Jantung Karina berdebar. Telapak tangannya mulai basah, tetapi ia tidak mengalihkan mata.

"Karena saya bisa membesarkan anak-anak sendiri kalau hanya itu masalahnya," jawabnya. "Saya memilih Nathan karena dia bertanggung jawab tanpa mengambil hak saya untuk menentukan hidup. Saya datang bukan untuk meminta keluarga menutup masa lalu saya, hanya untuk menilai saya dari apa yang saya lakukan setelah ini."

Cik Anna meremas tangannya di bawah meja.

Engkong mengalihkan pandangan ke perut Karina. Wajahnya tetap tidak terbaca.

"Hm," katanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!