Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelidikan di Bawah Getaran Nada dan Kebingungan Para Profesor
Sinar matahari pagi yang menembus kabut nipis Akademi Grandoria tidak lantas membawa ketenangan yang biasa. Keheningan khas pagi hari kini tergantikan oleh bisik-bisik gelisah dari para murid dan pengajar.
Suara nada "Huoooo..." yang muncul sejak tengah malam tadi tidak kunjung padam. Suaranya bergema halus, teratur, memancar bagai bisikan dari alam gaib yang tidak memiliki wujud maupun pangkal.
Di dalam Laboratorium Sihir Menara Utama, Profesor Vane bersama belasan penyihir senior sibuk mengelilingi Bola Kristal Resonansi—alat pendeteksi getaran mana paling sensitif di seluruh Kerajaan Grandoria.
Alat yang biasanya mampu memetakan letak pergerakan musuh sekecil apa pun itu kini hanya memancarkan riak-riak cahaya biru kacau yang bergetar tanpa ritme jelas.
Kelima anggota Tim Vanguard berdiri melingkar di sekeliling meja lab.
Monica memperhatikan pantulan cahaya biru bola kristal tersebut seraya mengepalkan jemarinya di atas gagang tongkat safirnya.
"Bagaimana hasilnya, Profesor Vane?" tanya Monica penuh ketegasan, membuka percakapan di tengah kebisingan alat-alat laboratorium.
Profesor Vane menarik napas panjang, lalu mengusap janggut putihnya dengan raut wajah amat bingung. "Aneh sekali. Tidak pernah ada fenomena seperti ini sepanjang sejarah catatan akademi. Frekuensi getaran suara ini menyatu sempurna dengan aliran mana alami benua, namun sifatnya sama sekali tidak destruktif."
"Tidak destruktif, tapi sangat mengganggu," seloroh Reno seraya memegang leher belakangnya yang terasa pegal. "Suaranya seolah berbisik tepat di belakang telinga, tapi saat aku menoleh, tidak ada siapa-siapa di sana!"
"Aku sudah mencoba menyaring frekuensinya dengan rumus peredam mantra elemen angin," potong Kazuma seraya menunjukkan lembaran kalkulasi runa yang penuhi meja lab. "Tetapi gelombang nada ini tidak menggunakan udara sebagai media utamanya.
Nada "Huoooo..." ini merambat melalui celah dimensi jiwa dan kesadaran."
Elena memegang busur Celestial-nya erat-erat seraya menatap ke luar jendela laboratorium. "Setiap kali angin berembus dari arah selatan, suaranya terasa sedikit lebih nyaring... tetapi jarum kompas pelacak kita justru menunjuk ke arah utara. Ini sama sekali tidak masuk akal."
"Suara itu bukan dipancarkan dari daratan," sahut Danis yang mendadak muncul dari balik bayangan pilar laboratorium. "Aku sudah mengitari batas tembok luar perbatasan akademi hingga dasar Celah Tengkorak tadi subuh. Di mana pun aku berdiri, volume dan frekuensi nada itu tetap berada pada intensitas yang persis sama. Seakan-akan sumber suaranya tidak bergerak, melainkan dunia kita yang sedang dikelilingi oleh nada tersebut."
Pintu laboratorium terbuka lebar. Kepala Sekolah Alaric melangkah masuk dengan tongkat naganya yang terpaut benang-benang energi pelindung. Wajah sang kepala sekolah tampak tenang namun menyimpan kecemasan mendalam.
"Anak-anakku," panggil Alaric lembut. "Para Dewan Kerajaan baru saja mengirimkan burung sihir utusan dari lima kota besar di luar ibu kota. Fenomena nada misterius ini ternyata tidak hanya terdengar di akademi kita."
"Di kota lain juga?!" seru Elena kaget.
"Ya," jawab Alaric mengangguk pelan. "Mulai dari wilayah perbatasan barat hingga pemukiman pesisir timur, seluruh warga mendengar gema nada "Huoooo..." yang sama. Tidak ada kehancuran yang terjadi, tidak ada racun Miasma yang terdeteksi, namun gema nada ini telah membuat konsentrasi para perapal sihir terganggu secara serentak."
Monica melangkah mendekati jendela besar laboratorium yang menghadap ke arah cakrawala. Ia mengangkat tongkat safirnya ke udara, membiarkan aura emas Celestial Domain memancar lembut ke luar. Namun, begitu sihirnya menyentuh atmosfer udara, nada "Huoooo..." itu justru merespons dengan denyutan yang sedikit lebih hangat, seolah-olah menyapa sihir murni milik Monica.
Perasaan aneh yang familiar mendadak menyentuh sudut hati Monica. Ada rasa kehangatan yang asing, duka yang mendalam, sekaligus kerinduan yang tak terelakkan terpancar dari balik gema nada gaib tersebut.
"Suara ini..." gumam Monica pelan, suaranya hampir tertutup oleh deru angin malam. "Suara ini seperti sedang memanggil seseorang..."
"Memanggil siapa, Monica?" tanya Kazuma cepat seraya memperhatikan perubahan mata biru Monica.
Monica menggelengkan kepalanya perlahan seraya membetulkan kuncir kuda rambut hitamnya. "Aku belum tahu secara pasti, Kazuma. Tapi aku bisa merasakan... nada ini bukan bentuk ancaman musuh. Ini adalah sebuah pesanan atau panggilan dari masa lalu yang belum terselesaikan."
Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan berbagai percobaan pencarian yang tidak membuahkan hasil. Tim Vanguard bersama para profesor akademi telah menyisir hutan terlarang, menjelajahi gua-gua bawah tanah, hingga menerbangkan kapal sihir pemindai ke langit tinggi. Namun, di mana pun mereka berada, sumber nada misterius "Huoooo..." tetap menjadi misteri besar yang tidak terpecahkan.
Nada itu terus mengalun konstan tanpa henti selama berhari-hari, membuat seluruh benua tenggelam dalam teka-teki tak bertepatan.