Indonesia
NovelToon NovelToon
Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:2.9M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.

“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.

Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.

“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.

Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.

“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Sore itu halaman rumah Deva terlihat ada sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan pagar. Pasangan suami-istri paruh baya turun sambil memperhatikan rumah besar itu dengan tatapan puas.

Si perempuan tersenyum kecil saat melihat taman depan yang masih rapi. Sedangkan sang suami beberapa kali mengangguk sambil memperhatikan bangunan rumah yang aestetik itu dari bawah sampai atas.

Deva berdiri di teras rumah. Kemeja kerjanya masih belum diganti. Wajahnya terlihat lelah sepulang kantor. Namun, tatapannya kali ini jauh lebih tenang dibanding beberapa hari lalu.

“Silakan masuk, Pak, Bu.”

Pasangan itu mengikuti Deva masuk ke dalam rumah. Langkah mereka pelan menyusuri ruang tamu luas yang selama ini menjadi tempat berkumpul keluarga itu.

Mata perempuan itu langsung berbinar melihat interior rumah yang masih tampak baru. “Rumahnya bagus sekali, Pak.”

Deva hanya tersenyum tipis. Tentu saja bagus. Karena dulu rumah ini dibangun dengan penuh mimpi.

Dulu Kartika begitu semangat memilih warna cat ruang keluarga. Memilih sofa. Menata dapur. Sampai memperdebatkan posisi barang-barang. Lalu, sekarang rumah itu akan menjadi milik orang lain.

Deva mengepalkan jemarinya pelan. Namun, kali ini ia tidak mundur. Ia sudah memutuskan semuanya masak-masak.

Mereka terus berjalan sampai ke ruang makan. Si suami memperhatikan lemari pajangan, pendingin ruangan, dan kitchen set mewah.

“Semua ikut dijual, Pak?”

“Iya.”

“Furniture juga?”

“Iya.”

Pasangan itu saling pandang puas.

Deva menarik napas pendek. “Aku jual dua miliar beserta segala isinya.” Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “Itu sudah murah. Enggak bisa kurang lagi.”

Si pembeli langsung tersenyum lebar. “Baiklah, Pak Deva. Kami setuju.”

“Karena keadaan rumah begitu terawat,” lanjut perempuan itu sambil tersenyum puas, “barang-barangnya juga komplit.”

Kalimat itu membuat dada Deva terasa sesak sesaat. Tentu saja rumah ini terawat. Karena Kartika dulu menjaga rumah ini seperti menjaga hatinya sendiri. Wanita itu bahkan hafal letak barang sekecil apa pun.

Deva cepat-cepat membuang pikirannya. Ia tidak boleh goyah sekarang.

“Pembayaran langsung lewat rekening saja.”

Nada suara Deva terdengar profesional. “Kita lanjut urus dokumen pemindahan kepemilikan di notaris besok.”

“Wah, bagus kalau begitu. Jadi, enggak ribet.”

Pasangan itu tampak puas. Sedangkan Deva hanya berusaha tetap berdiri kuat. Karena sesungguhnya setiap sudut rumah ini menyimpan kenangan tentang Kartika dan anak-anaknya.

Deva mengantar pasangan itu menuju pintu depan. Namun, begitu pintu dibuka, langkahnya langsung berhenti.

Bu Hania dan Iriana berdiri di sana. Wajah mereka jelas terlihat panik sekaligus penasaran.

Deva menatap keduanya lama. Ia merasa mereka pasti mendengar semuanya dari balik pintu.

Bu Hania langsung tersenyum lebar begitu pasangan pembeli pergi.

“Deva, rumah kamu laku mahal juga.”

Matanya berbinar terang. Seolah baru saja melihat harapan besar.

Namun Deva hanya menatap ibunya datar dan nada suaranya rendah. “Bu, kalau nanti aku mau punya rumah kayak gini lagi, tiga miliar juga belum tentu dapat.”

Senyum Bu Hania langsung memudar perlahan.

“Lagian...,” lanjut Deva pelan, “masih kurang satu miliar lagi.”

DEG.

Wajah Bu Hania langsung berubah. Harapan yang tadi sempat muncul langsung runtuh lagi.

“Masih kurang?”

“Iya.” Deva mengangguk kecil.

“Mobil kamu harganya ada satu miliar?” tanya Bu Hania cepat. Nada suaranya penuh harap.

Deva sampai tertawa pahit. “Mana ada, Bu.”

Ia mengusap tengkuknya pelan. “Laku ratusan juta aja udah untung ada yang mau beli di saat kepepet begini.”

Suasana di sana langsung sunyi. Bu Hania tampak mulai gelisah lagi. Sedangkan Iriana berdiri sambil memasang wajah kusut.

Perempuan itu melirik koper-koper miliknya yang mulai ditumpuk di sudut ruang tamu. Ia benar-benar tidak menyangka Deva seserius ini. Kemarin ia selalu berpikir kakaknya hanya menggertak. Namun sekarang rumah dan mobil benar-benar dijual.

Iriana menggigit bibir kesal sambil mulai membereskan barang-barangnya. Dia dan Delisa benar-benar harus pindah.

“Nyebelin banget sih!” Tangannya membanting boneka kecil ke dalam kardus. “Mana rumah Mama sama Papa di komplek sebelah kecil banget lagi.”

Deva mendengarnya. Namun, kali ini ia tidak lagi merasa bersalah. Karena selama ini tak ada satu pun dari mereka yang peduli saat dirinya merasa hancur, karena ditinggal keluarga kecilnya.

Di tempat lain Kartika duduk di atas sofa kamarnya. Lampu ruangan redup hangat. Aroma lavender dari diffuser memenuhi udara. Di tangannya ada sebuah foto lama. Foto Deva sedang menggendong Kaivan kecil sambil tertawa.

Tatapan Kartika perlahan melembut. Jarinya mengusap wajah Deva di foto itu pelan. Dadanya terasa sesak menahan rindu.

Rian baru saja memberinya kabar. Kalau Deva menjual rumah yang selama ini ditempati. Mobil kesayangannya juga akan dilepas. Deva juga benar-benar memutuskan untuk memutus rantai ketergantungan keluarganya.

Kartika menunduk perlahan. Matanya mulai berkaca-kaca. Rumah itu meski menyimpan ada kenangan buruk yang tidak bisa dia lupakan, tetapi menyimpan juga banyak kenangan indah.

Di sana Kaivan pertama kali belajar berjalan.

Di sana Kalingga merayakan ulang tahun kelima mengundang banyak temannya dan memberikan momen indah baginya.

Di sana juga Kartika pernah merasa sangat bahagia menjadi istri Deva. Namun, di rumah itu pula ia berkali-kali menangis sendirian. Karena Deva lebih mengutamakan kepentingan keluarganya daripada istri dan anak-anaknya.

Kartika memeluk foto itu perlahan. “Aku ingin tahu, sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan, Mas?” Suaranya lirih sekali.

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Kartika cepat-cepat menghapus sudut matanya.

“Masuk.”

Pintu terbuka cepat. Kalingga masuk sambil membawa beberapa lembar kertas. Wajah bocah itu berseri-seri.

“Mamaaa!”

Kartika langsung tersenyum kecil melihat putranya. “Iya, ada apa, Sayang?”

“Ini nilai hasil ujian Kakak!”

Kalingga menyerahkan kertas-kertas itu dengan penuh semangat. Kartika menerimanya pelan. Matanya langsung membesar. Semua nilai hampir sempurna. Bahkan beberapa mata pelajaran mendapat poin seratus.

Kartika sampai mengangkat wajahnya menatap Kalingga takjub. “Wah, Kakak hebat sekali!”

Tangannya mengusap kepala putra sulungnya penuh sayang. “Kakak belajar keras ya?”

Kalingga mengangguk bangga. “Tentu, dong! Kakak kan mau bikin Mama senang.”

Kalimat polos itu langsung membuat hati Kartika menghangat. Ia menarik Kalingga ke pelukannya.

“Terima kasih, ya, Sayang.”

Namun tiba-tiba wajah Kalingga berubah penuh harap. “Jangan lupa sama janji Mama kemarin ya?”

Kartika langsung tersentak. Ia terdiam sesaat. Lalu, ingatan itu muncul kembali. Kalau Kalingga mendapat nilai bagus mereka boleh menghubungi Deva.

Dadanya langsung terasa nyeri sekaligus hangat. Karena sesungguhnya ia tahu anak-anaknya juga sangat merindukan ayah mereka. Dan mungkin Deva juga sama.

Kartika tersenyum pelan. “Tentu saja.”

Mata Kalingga langsung berbinar terang. “Benaran?!”

Kartika mengangguk sambil tertawa kecil.

“Iya. Sana panggil dulu adek!”

“YEAAYYYY!”

Kalingga langsung melompat turun dari tempat tidur. Bocah itu berlari keluar kamar sambil berteriak girang.

“Adek, kita boleh telepon Papaaaa!”

Tawa kecil terdengar dari kamar seberang. Lalu, Kaivan muncul dengan rambut sedikit berantakan dan mata membulat bingung.

“Papa?”

Kalingga langsung menarik tangan adiknya penuh semangat. “Ya, kita telepon papa!”

Detik itu suara tawa anak-anak kembali memenuhi hati Kartika.

1
Mei Saroha
lambemu kaiiiii
Mei Saroha
beruntung ya keluarga deva dapet mantu org have
Mei Saroha
bu hania keturunan monster NPD apa ya, koq ngamuk mulu
Sfarlett Alexana
💪
Mei Saroha
kata gw mah mendingan ganti nomer HP aja Dav
Night Watcher
secara keseluruhan bagus, ada hikmah/ pelajaran yg bisa diambil,.
sayangnya outhor byk kurang teliti, shg banyak ketidaksesuaian antara cerita sebelumnya dgn cerita berikutnya.
mudah2an kedepan karya2mu lebih bagus, bukan cuma dr memancing emosi, keseruan perseteruan, tetapi dari segi konsistenitasnya.
moga sukses, maaf atas komentar2 kasarku (yg pasti tujuannya bkn utk menghina, tp utk kebaikan/ meningkatkan ketelitian yg akan mendorong otor berkarya lebih bermutu). trimakasih atas hiburan yg otor sajikan.🙏
Mei Saroha
sookooorrrr
Night Watcher
ya iyalah.. anggun walaupun pake pakaian olah raga ya tetap anggun, masa jd terlihat mak lampir... 😂😂😂🤭
Marina Tarigan
sela.at berbahsgia semua dari aeal amburadul dan keserakahan dpt titik temi saling menghormsto saling menghargai dan mau merbah sifst yg kursng baik akhirnya damai dan sejahtrs salam semuanya
Marina Tarigan
bagus dong akhirnya kelakuan yg serakah daro orang tua dan ketulusan Anggun dan Gavin menata hidup kembali kearah lebih sempurna terjadi juga salam hangat dsri pembava setis
Marina Tarigan
semoga Anggun dam Gavin betnodoj karena dua2 nya gagal dlm permikahan satu fitinhgal mati suami satu bercetai karena kergoisan pasangan deh
Marina Tarigan
bisa sm kartika itu orang tua tapi jgn se. kali2 campuri urusan rmh tgha Deva itu saja
Marina Tarigan
memang kamu nenek lampir egois arogan keras kepala Kalau kamu tahu siapa Kartika mungkin kamu mati berdori pura2 kaya lihat nanti satu2 anakmu jauh dari rmhmu larena kesibukan mereka sadarlah
Marina Tarigan
lanjutksn ceritanya sampai selesai baikmy haji rosita bantu keluarganya dan seluruh pendapatan gavin hanya dipakai utk cicilan rumah dan keperluan rmh tgha mereka dan tdk mengeluarkan dana utk keluarga rosita karen A Gavin bukan presdir atau CEO perusahaan tdk punya gaji banyak
Marina Tarigan
Deva kan kuli keluaga mereka terus desak Deva spya stroke tak pernah tenang hidupnya oleh benalu itu semia
Marina Tarigan
hati2 deva jgn karyika tersakiti lagi oleh keluargamu Rsngga akan mengusirmu ingat itu keluargamu liri kanan beNALU singkirkan semua
Marina Tarigan
metyus kefua belah pihak kok dus2 niadap ini sm 2 meronhrong tmh thga. anak
Marina Tarigan
lakban mulut ibu kalian dgn kuat ibu kalian itu psikopat aliad gila yg menghancurkam rmj tgga anaknya sendiri
Marina Tarigan
wah inu firhaka gara2 ibu monyet ini rmh tgga iriama dan Devs hancur
Marina Tarigan
lanjut keluarga amburaful egois ti gkat tinggi mampus lo semua ibu. ansk dama2 biadap nenek yv satu keparst
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!