Indonesia
NovelToon NovelToon
The Hidden Truth

The Hidden Truth

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyusupan

"Elea titiknya ada di lokasi pelabuhan lama Novaris!"

Elea mengangguk paham, ia menginjak gas lebih dalam.

"Pantau terus, Nes!" ucapnya dengan tegas.

"Siap, bestie!"

Mobil yang dikendarai Elea melaju kencang membelah jalanan malam, lampu-lampu kota berkelebat cepat di kaca jendela.

"Lea, jangan ambil jalur tol. Di sana sedang macet akibat kecelakaan," ucap Vanesa menatap layar laptop, memandu Elea.

Elea mengangguk paham, ia membanting setir, berbelok memasuki jalan sempit menuju area pelabuhan.

"Nes, berapa lama lagi sampai ke sana?" tanya Elea, suaranya tegang, matanya tak lepas dari jalan di depan.

"Sekitar sepuluh menit lagi, kalau lo tetap ngebut kayak gini," jawab Vanesa.

Elea menginjak gas lebih dalam, tak menghiraukan kendaraan-kendaraan lain yang berusaha memperingatinya. Pikirannya hanya dipenuhi satu nama, Lyn. Tak ada ruang untuk rasa takut, hanya tekad yang membakar dadanya untuk segera menemukannya, apa pun resikonya.

"Elea, pelankan mobilnya," ucap Vanesa. "Kita udah dekat dengan titik koordinatnya. Kalau ada orang di sana, mereka pasti dengar suara mesin mobil ini dari jauh."

Elea menurunkan kecepatan, napasnya memburu. Ia mematikan lampu mobil, membiarkan kegelapan malam menyelimuti kendaraannya, saat mendekat ke arah gudang.

"Jumlah mereka berapa?" tanya Elea.

Vanesa tak langsung menjawab, ia menatap deretan layar yang ada di depannya.

"Sekitar sepuluh orang, atau lebih..." jawabnya.

Elea mengangguk, ia menatap tas yang ada di sampingnya.

"Nes, lo sudah siap?"

Vanesa mengangguk mantap. "Tentu!"

"Sekarang!"

—•—

"Tuan, kami mendeteksi seseorang masuk ke pelabuhan ini."

Rama segera bangkit dari duduknya, ia berjalan ke arah layar. "Siapa mereka?"

"Belum jelas, Bos. Tapi sepertinya cuma dua orang," jawab salah satu anak buah, matanya tak lepas dari layar CCTV yang menampilkan bayangan samar bergerak di antara kontainer-kontainer pelabuhan.

Rama menyipitkan mata, mengamati layar dengan seksama. "Bukankah itu tim Tuan Besar?"

"Bukan, Tuan. Tim dari Tuan Besar baru saja berangkat sekitar setengah jam yang lalu, berdasarkan laporan dari mata-mata kita. Mereka akan sampai sekitar besok siang, saya bisa pastikan mereka bukan dari Tim Tuan besar."

Rama mengangguk-angguk, membenarkan ucapan anak buahnya.

"Awasi terus pergerakannya. Kalau dia bertindak nekat, langsung habisi!"

"Siap, Tuan!"

Rama masih terus memantau layar, matanya menyipit tajam mengikuti setiap pergerakan bayangan yang muncul di sana, seolah tak ingin melewatkan detik sekecil apa pun.

"Siapa mereka?"

Di sisi lain, Elea dan Vanesa bergerak hati-hati menyusuri lorong gelap di antara kontainer-kontainer besar, langkah mereka senyap, matanya mengawasi segala arah.

"Lea, itu dia mobilnya." Vanesa menunjuk sebuah mobil yang tak jauh dari posisi mereka.

Elea mengangguk. "Gue yakin, orang-orang itulah yang menculik putriku."

"Gue setuju dengan ucapan lo!"

"Sekarang bersiaplah, sepertinya pergerakan kita sudah terdeteksi."

"Iya, gue juga merasakannya."

"Siapa kalian?"

Deg!

Elea dan Vanesa saling pandang, lalu berbalik serentak. Mendapati empat sosok besar sudah mengepung mereka dari belakang.

"Siapa kalian?! Beraninya masuk wilayah kami!" bentak salah satu dari mereka, tangannya sudah meraih pistol di pinggangnya.

Elea tak menjawab. Dalam sepersekian detik, ia melempar sesuatu yang ada dalam tasnya ke udara sebagai pengalihan, lalu melesat maju menghantam rahang penjaga terdekat dengan sikunya. Tubuh pria itu limbung ke belakang, tapi sebelum sempat jatuh, Elea sudah menyusul dengan tendangan telak ke perutnya.

"Vanesa, hati-hati!" teriak Elea sambil menghindari pukulan.

"Siap, bestie! Lo juga!" Vanesa berputar cepat menghindari serangan, lalu membalas dengan pukulan cepat ke wajah lawannya. Meski usianya tak mudah lagi, gerakannya lincah dan terlatih.

Salah satu lawan mencabut pistolnya, mengarahkan ke Elea. "Diam di tempat, atau ku..."

DUAGH!

Sebelum kalimatnya selesai, Vanesa sudah melompat dari samping, menendang tangan pria itu hingga pistolnya terpental jauh, lalu menyusul dengan hantaman siku ke tengkuk.

"Rasakan..." ucap Vanesa dengan nada mengejek.

Elea masih bertarung menghadapi dua lawan sekaligus, tubuh mereka saling dorong di antara kontainer-kontainer besi. Tubuh Elea hampir terbanting, tapi Elea lebih cepat menangkap lengan lawannya dan memutar tubuh, membanting lawan dengan teknik yang jelas sudah terlatih.

"Argh!"

Elea menodongkan belati ke leher lawannya. "Katakan dimana putriku berada?" ancamnya.

Lawan itu meringis kesakitan, matanya melotot ketakutan menatap belati yang menempel di lehernya. "Saya... saya nggak tahu di mana putrimu!" katanya terbata-bata, mencoba mengelak.

"Jangan bohong!" bentak Elea, tangannya semakin menekan belati itu, membuat goresan tipis mulai muncul di kulit leher pria itu. "Kalian telah menculiknya di sekolah, saat hujan deras!"

Pengawal itu terdiam, tubuhnya gemetar. Keringat dingin membasahi dahinya, matanya bergerak liar mencari jalan keluar yang tak ada.

"Katakan," desis Elea, suaranya dingin dan penuh ancaman, "sebelum kepalamu ini terpisah dari badanmu."

"D-di gudang pendingin!" pria itu akhirnya berteriak panik. "Di gudang pendingin! Mayatnya masih di sana!"

Bugh!

"Jaga ucapanmu BRENGSEK!"

Elea mendorong tubuh pria itu hingga terjatuh, lalu berdiri tegak, napasnya masih memburu.

"Vanesa, gudang pendingin," ucapnya cepat.

Vanesa yang baru selesai melumpuhkan lawannya sendiri menoleh, mengangguk tegas.

Elea dan Vanesa mengikat pergelangan tangan dan kaki pengawal yang berhasil mereka lumpuhkan dengan tali dari dalam tasnya, memastikan pria itu tak bisa kabur.

"Ayo," ucap Elea, matanya kembali menyala penuh tekad. "Lyn menungguku!"

1
Anne Rukpaida
smngat lyn 💪
Nona Jmn: Terima kasih
total 1 replies
Anne Rukpaida
akhirnya lyn ketemu juga 😇
Nona Jmn: Akhirnya🫰😁...
Ikutin terus yah... masih ada plot twist kebelakangnya🤭
total 1 replies
Anne Rukpaida
critanya luar biasa keren 😎
Nona Jmn: Terima kasih🫰🫰
total 1 replies
Anne Rukpaida
smangat ka, jadi smkin penasaran ma jln ceritanya asal muasal ortunya Lyn bisa punya keahlian bela diri gitu🔥
Nona Jmn: Sabar yah🤭🤭😁😁
total 1 replies
Anne Rukpaida
ceritanya bkin deg²n 🔥 smangat ka
Nona Jmn: Terima kasih kak😊😊🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!