Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6
***
Tiga minggu telah berlalu sejak malam pernikahan transaksi itu mengikat Alana di dalam Mansion Elard. Namun, waktu tidak mengikis dinginnya sangkar emas tersebut; waktu justru mempertebal rasa terasing dan penderitaan fisik yang harus ditanggung Alana setiap harinya.
Siang itu, matahari terik menyinari balkon kamar utama. Alana berlutut di depan wastafel kamar mandi, tubuhnya bergetar hebat saat rasa mual yang melilit perutnya kembali memuncak.
"Ugh... huekk!"
Alana memuntahkan cairan bening ke dalam wastafel. Tenggorokannya terasa terbakar, dan dadanya naik turun dengan napas yang serak menahan sakit. Wajahnya pucat pasi, lingkaran hitam samar membingkai kedua matanya yang sayu. Efek samping dari suplemen kesuburan dosis tinggi yang disuntikkan dan diberikan oleh Dr. Maya selama tiga minggu terakhir benar-benar menggerogoti daya tahan tubuhnya.
Bibi Rika yang berdiri di pintu kamar mandi hanya menatap Alana dengan raut kaku tanpa belas kasihan. "Nyonya Alana, memuntahkan suplemen tidak akan membebaskan Anda dari kewajiban. Nyonya Besar Helena sudah berpesan, jika Anda memuntahkannya, dosisnya harus diganti dengan yang baru."
Alana mendongak tertatih, menyapu sisa air di bibirnya dengan jemari yang gemetar. "Bibi... tolong sampaikan pada Ibu... perut saya sangat sakit. Kepala saya berputar..."
"Nyonya Besar menganggap mual dan lemas ini adalah reaksi normal dari proses penyesuaian rahim Anda," jawab Bibi Rika dingin seraya menyodorkan gelas berisi pil berwarna cokelat pekat. "Diminum sekarang, Nyonya. Sebelum Tuan Kenzo pulang."
Dengan bibir gemetar dan mata yang merebak oleh air mata kepasrahan, Alana menelan pil itu mentah-mentah. Rasa pahit yang menyengat tenggorokannya seolah menjadi pengingat bahwa di rumah ini, tubuhnya hanyalah wadah yang dipaksa tunduk.
**
Malam harinya, baru pukul delapan malam, deru mesin mobil Kenzo sudah terdengar di pelataran mansion. Pria itu pulang lebih awal dari biasanya. Beban kerja di kantor serta tuntutan keras dari Kakek Hendra dan Ayah Bramantyo terus mengejar, namun ada hal lain yang mendesak pikiran Kenzo—sebuah bayangan gairah memabukkan dari tubuh Alana yang dalam beberapa minggu terakhir mendadak menjadi candu liar di kepalanya.
Klek.
Pintu kamar utama terbuka. Kenzo melangkah masuk, melepaskan jas mewahnya dan melemparkannya sembarangan ke sofa. Pandangannya yang tajam langsung mengunci Alana yang duduk lemah di tepi ranjang berukuran king-size, masih mengenakan gaun tidur sutra tipis berwarna putih.
Kenzo melangkah mendekat. Ia menyadari wajah istrinya yang pucat dan tatapan matanya yang redup, namun hasrat dominasi dan kecanduan gairah yang membakar dadanya menutupi selapis rasa empati yang tersisa.
"Kamu terlihat pucat," ujar Kenzo datar, suaranya berat bergema di kamar yang temaram.
Alana menengadah pelan, menatap Kenzo dengan pandangan datar yang hampa. "Efek suplemen dari Dr. Maya... perut saya sangat mual, Mas."
Kenzo tidak memberikan kata-kata penghiburan. Ia mengikis jarak, duduk di tepi kasur dan merengkuh pinggang halus Alana, menarik tubuh wanita itu mendekat ke dalam kungkungannya. Aroma sabun maskulin bercampur harum tembakau yang pekat menyerbu indra penciuman Alana.
"Ibu bilang itu tanda bagus. Berarti tubuhmu merespons suplemen itu," bisik Kenzo dingin di dekat telinga Alana. Tangannya mulai menyusuri punggung halus istrinya, menembus kain sutra yang tipis.
Alana menahan napas, menatap mata hitam Kenzo. "Mas Kenzo... bisakah malam ini... berikan saya waktu beristirahat? Tubuh saya sangat lemas..."
"Restrukturisasi saham Elard Group akan difinalisasi bulan depan, Alana," potong Kenzo tanpa kompromi. Tangannya menangkup rahang Alana, memaksa wanita itu menatap dominasi di matanya. "Kakek Hendra menuntut bukti kepastian kehamilanmu. Saya tidak punya waktu untuk menunggumu beristirahat."
Air mata Alana menetes pelan menyusuri pipinya yang pucat, namun sorot matanya tetap tenang dalam kehampaan batin yang makin mendalam. Ia tidak lagi memohon. Ia membiarkan tubuhnya diputus dari rasa memiliki, menyajikannya sebagai tawanan yang pasrah.
Tanpa menunggu lebih lama, Kenzo mendorong tubuh kecil Alana hingga terbaring di atas ranjang yang empuk. Gaun sutra putih disingkirkan tanpa keraguan. Ketika Kenzo menindih tubuhnya, menyatukan diri mereka dalam dominasi yang liar, rasa nyeri tajam dari bagian bawah tubuh Alana bertubrukan langsung dengan mual yang melilit perutnya.
"Nghh... s-sakit, Mas..." rintih Alana pelan, jemarinya meremas sprei sutra hingga buku-buku jarinya memutih. "Perut saya... h-sshh... perih..."
Namun, rintihan pasrah dan kehangatan tubuh Alana yang menjepit erat justru membakar akal sehat Kenzo. Gelombang gairah yang pekat dan memabukkan seketika meruntuhkan seluruh rasa rasionalitas pria itu. Sensasi tiada tara yang dirasakannya dari Alana benar-benar berkuasa, membuatnya hilang arah dan kecanduan setengah mati.
"Ah... sshh... Alana..." Kenzo mengerang rendah, suara beratnya yang biasa kaku kini pecah oleh desahan kenikmatan yang begitu intens. "Kamu... ghh... kenapa bisa seperti ini... ahhh..."
Kenzo mempercepat ritme gerakannya, menuntaskan dahaga gairah yang menguasai kepalanya. Ia meremas jemari Alana yang dingin, menautkannya kencang di atas kasur, mengabaikan fakta bahwa ia sedang memaksakan kehendak pada tubuh wanita yang sedang lemah.
"Nghh... ah... Mas Kenzo... pelan-pelan... sshh... perih..." rintih Alana, suaranya bercampur antara kesakitan fisik akibat efek obat dan sensasi pekat yang tak sengaja menghantam saraf sensitifnya. Rintihan perih yang berbaur dengan napas pasrah Alana justru kian memprovokasi Kenzo.
"Ghh... tahan, Alana... ahh!... jangan tahan suara kamu..." erang Kenzo parau, kepalanya terkulai di ceruk leher Alana saat erangan nikmat yang panjang meluncur bebas dari tenggorokannya. Suara erangan suaminya menggema rendah di keheningan kamar, memproklamasikan betapa sang CEO dingin itu telah sepenuhnya berlutut di bawah candu gairah istri kontraknya.
"Ahhh... sshh... Alana... kamu membuat saya gila..." gumam Kenzo terengah-engah, terus memburu kepuasan itu hingga puncak kenikmatan membakar seluruh kesadarannya.
Kenzo bertindak liar malam itu, menuntaskan seluruh kecanduannya tanpa peduli bahwa Alana terkulai lelah di bawahnya. Di bawah remangnya lampu tidur Mansion Elard, penyatuan mereka menjadi saksi betapa Kenzo makin terjerat dalam gairah yang ia ciptakan sendiri, sementara Alana makin tenggelam dalam samudera mati rasa.
Ketika segalanya meredup dan Kenzo berbaring di sampingnya, dada bidang pria itu masih naik turun secara tidak teratur akibat napas yang terengah-engah. Suasana kamar kembali diselimuti keheningan yang kaku, hanya menyisakan deru pendingin udara dan denyut gairah yang perlahan mendingin. Jemari panjang Kenzo terulur, menyingkirkan beberapa helai rambut basah yang menempel di wajah pucat Alana, lalu beralih menangkup rahang tipis istrinya, memaksa Alana untuk berpaling menatap matanya.
Alana memutar pandangannya yang redup. Sorot mata wanita itu benar-benar hampa, seperti cermin retak yang tak lagi memantulkan emosi apa pun.
Kenzo menatap tatapan kosong itu dengan manik mata yang menggelap. Ada kejengkelan samar yang muncul di dadanya melihat kepasrahan hampa Alana, namun dominasi dan rasa puas atas pelepasan gairah semalam jauh lebih kuat menguasai pikirannya.
"Tatapan matamu," suara Kenzo terdengar parau, berat, dan dipenuhi penekanan yang tak bisa dibantah. "Ubah cara memandangmu seperti itu, Alana."
Alana bibirnya tertutup rapat, hanya menghembuskan napas tipis yang dingin. "Apa lagi yang Mas inginkan dari saya?" bisiknya parau, hampir tak terdengar.
Kenzo terkekeh sinis, menyunggingkan senyum remeh yang begitu menekan. Tangannya meremas rahang Alana sedikit lebih kuat, menegaskan kekuasaannya.
"Saya ingin kamu paham posisimu di kamar ini," ujar Kenzo tegas, suaranya menusuk hingga ke tulang. "Malam ini—dan malam-malam berikutnya—kamu wajib melayani saya kapan pun saya menginginkannya. Tubuhmu ini adalah milik kontrak kita. Jangan pernah coba-coba menolak atau beralasan lelah lagi."
Alana menatap tepat ke dalam iris hitam Kenzo, tak ada lagi air mata yang menetes. "Bukankah kewajiban saya hanya sampai saya memberikan pewaris yang diminta Kakek Hendra?"
"Benar," potong Kenzo tanpa ragu, suaranya mendingin drastis untuk membendung gejolak asing di dadanya. "Tapi sampai hari itu tiba, kamu adalah milik saya di atas ranjang ini. Jangan pernah berpikir sentuhan atau gairah saya malam ini berarti perasaan, Alana. Kamu hanya pemuas kewajiban dan candu fisik yang menyegarkan di sela tekanan pekerjaan saya. Tidak lebih dari itu."
Kata-kata itu terucap begitu gamblang dari bibir Kenzo. Pria itu sadar betul bahwa sensasi kehangatan dan kepasrahan tubuh Alana telah menjadi candu yang berbahaya baginya—sebuah kenikmatan fisik luar biasa yang tak pernah ia dapatkan dari wanita manapun. Namun, gengsi dan keangkuhan tinggi Kenzo membatasi kecanduan itu secara ketat: hanya sebatas urusan ranjang dan transaksi biologis. Di luar ranjang, Alana tetaplah wanita asing yang ia beli.
Alana memejamkan matanya sejenak, lalu mengangguk pelan tanpa membantah. "Baik, Mas Kenzo. Saya mengerti."
Kenzo menghembuskan napas panjang, melepaskan cengkeramannya dari rahang Alana lalu berbalik membelakangi istrinya, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sendiri.
Bersambung