Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya
Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,
Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.
Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.
Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.
Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Bekas yang Sama
Pagi datang bersama kicau burung peliharaan Andreas di belakang rumah.
Belvina mengerjap pelan. Tubuhnya terasa hangat dan nyaman, terlalu nyaman untuk ukuran tidur di tempat asing.
Ia menggeliat kecil, lalu membeku.
Ada sesuatu yang keras dan hangat di bawah pipinya. Dadanya naik turun teratur.
Dengan gerakan kaku, Belvina mendongak sedikit. Ia nyaris menjerit dalam hati.
Kini ia sadar sepenuhnya, kepalanya sedang bersandar di dada Alden. Bukan hanya itu. Tangannya memeluk pinggang pria itu. Salah satu kakinya bahkan menimpa pahanya dengan santai, seolah semalaman ia memeluk guling pribadi.
Belvina langsung mengangkat kepala cepat.
Kesalahannya tak bisa disembunyikan saat melihat sepasang mata gelap tengah menatapnya tenang.
Alden sudah bangun. Senyuman samar muncul di bibirnya.
“Nyenyak?” tanyanya santai.
Semburat hangat langsung naik ke pipi Belvina.
“Aku—ini—kenapa aku bisa—”
“Kurasa,” potong Alden malas, “semalam ada seseorang yang mencari kehangatan.”
“Bohong!” bantah Belvina buru-buru mengangkat kaki dari tubuh Alden, lalu berusaha turun dari ranjang.
Namun pagi ini rupanya nasib masih menyimpan dendam padanya. Kakinya tersangkut selimut.
“Ah—!”
Tubuhnya oleng ke depan.
Alden refleks meraih tangannya untuk menahan. Sayangnya, tarikan itu terlalu kuat.
Bukannya selamat, Belvina justru jatuh kembali ke atas ranjang, tepat menimpa tubuh Alden. Dan--
Bibir mereka bertemu.
Waktu terasa berhenti.
Belvina kehilangan kemampuan bergerak.
Alden juga diam sepersekian detik, namun hanya sesaat. Pria itu perlahan menggerakkan bibirnya, mengecap perlahan seolah menikmati kelembutan tak terduga itu.
Belvina yang masih syok justru semakin kaku. Ciuman itu mengejutkan dalam cara yang menyenangkan.
Jantungnya berdebar makin kacau.
Saat tangan Alden yang semula menahan pinggangnya mulai bergerak perlahan di punggung, napas Belvina langsung buyar.
Kesadarannya kembali seketika.
Belvina mendorong dada pria itu keras-keras lalu bangkit.
“Kau mesum!” serunya dengan wajah merah padam.
Alden ikut bangun setengah duduk. “Aku?”
“Iya! Kau menciumku!”
“Kau yang lebih dulu jatuh dan menciumku.”
“Itu karena kau bikin aku jatuh menimpamu!”
“Aku tadi berusaha menolongmu.” Alden mengangkat alis. “Kalau tidak kutarik tanganmu, kau pasti nyungsep seperti kemarin.”
Belvina terdiam sesaat.
“Tapi... tapi kau memanfaatkannya!”
Alden menahan senyum. “Memanfaatkan?”
“Iya!" sambar Belvina. "Dengan menciumku!”
Pria itu memandangnya lama, lalu berkata santai,
“Tapi kau menikmatinya.”
“Mana ada!”
Belvina nyaris meledak karena malu dan kesal. “Aku cuma terkejut dan otakku masih loading!”
“Masih loading...” Alden mencondongkan badan sedikit. “Atau terlalu menikmati sampai lupa cara bergerak?”
“Kau mesum!”
Belvina meraih bantal lalu melemparkannya ke arah pria itu sebelum bergegas turun dari ranjang.
“Awas jatuh lagi,” kata Alden santai.
Belvina mendelik tajam, lalu berjalan cepat menuju kamar mandi.
BRAK!
Pintu tertutup keras.
Alden menyentuh bibirnya sendiri dengan gerakan lambat. Ingatan beberapa detik lalu masih terasa jelas.
Bibir wanita itu lembut. Dan entah kenapa... sangat menyenangkan.
Bibirnya melengkung puas.
“Pagi yang bagus,” gumamnya rendah.
Di balik pintu kamar mandi, Belvina bersandar lemas sambil menutup wajahnya yang masih panas.
“Memalukan sekali...” gumamnya lirih.
"Kenapa aku bisa seceroboh itu? Dan yang lebih parah... kenapa semalam aku tidur seranjang dengan dia? Bukankah seharusnya aku tidur di sofa?"
Belvina mengusap wajahnya kasar, berusaha mengusir kekacauan di kepalanya.
"Sial!"
Namun saat berdiri di depan cermin, matanya justru jatuh pada bibirnya sendiri. Ingatan beberapa menit lalu kembali berputar jelas.
Sensasi lembut dan hangat itu masih tertinggal jelas di kepalanya.
Belvina menepuk kedua pipinya cepat.
“Tidak. Tidak. Ini nggak benar.”
Ia melihat bayangannya sendiri dengan serius.
“Belvina, sadar. Kau cuma pemeran antagonis. Alden nanti akan bersama pemeran utama. Tugasmu cuma menjaga hati, lalu bercerai dari es balok itu.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi...” Wajahnya berubah rumit. “Sekarang dia nggak kayak es balok lagi.”
Belvina membelalakkan mata sendiri.
“Argh! Apa yang kupikirkan?!”
Kesal, ia buru-buru melepas bajunya untuk mandi. Namun keningnya langsung berkerut saat melihat pantulan tubuhnya di cermin.
Ada beberapa bercak samar di leher, pundak, hingga dekat tulang selangka.
Belvina mendekat.
“Kenapa banyak bercak di tubuhku?”
Lalu potongan mimpi semalam muncul di kepalanya.
Ia bermimpi dicumbu Alden. Sentuhan di punggung, bibir hangat di leher, napas berat di dekat telinganya.
Tubuh Belvina menegang.
“Jangan-jangan...” Ia menelan ludah. “Semalam itu... bukan mimpi?”
Perlahan, kepalanya menoleh ke arah pintu kamar mandi.
Rahangnya mengeras.
“Alden... awas saja kau.”
Belvina keluar dari kamar mandi dengan langkah cepat. Rambutnya masih basah, wajahnya penuh amarah.
Alden yang sedang memilih dasi di lemari hanya melirik sekilas, seolah tak ada masalah.
“Kenapa tandukmu keluar lagi?”
Belvina berhenti di depannya lalu menyingkap sedikit kerah bajunya.
“Jelaskan ini.”
Mata Alden turun ke leher putih yang memperlihatkan bercak samar.
“Dan ini. Sama ini.”.Belvina menunjuk pundaknya, kemudian tulang selangkanya.
Alden melihat semuanya dengan tenang sekali. Terlalu tenang.
“Mungkin kau alergi.”
Belvina membelalakkan mata. “Alergi?”
“Bisa jadi.” Alden mengangkat bahu. “Kulit sensitif.”
"Kau pikir aku anak kecil? Kalau alergi pasti ada gatal, sesak napas, atau gejala lain!” sergah Belvina. “Ini pasti ulahmu, 'kan?”
Alden menatapnya beberapa detik, lalu menjawab tanpa beban,
“Memangnya kenapa kalau iya?”
Belvina ternganga.
“Kau... benar-benar kamu?!”
“Iya.” Jawaban Alden ringan seolah itu hal biasa.
Pipi Belvina berubah semerah tomat matang.
“Kau tak boleh menyentuhku sembarangan!”
Alden menyandarkan tubuh ke lemari sambil melipat tangan.
“Bukannya dulu kau begitu gigih ingin kusentuh?”
“Itu dulu!” potong Belvina cepat. “Sekarang aku nggak mau lagi. Jadi jangan pernah sentuh aku tanpa izin.”
Alden mengangkat satu alis.
“Tidak ada undang-undangnya suami dilarang menyentuh istrinya sendiri.”
“Kita cuma suami istri di atas kertas.”
“Kalau begitu...”
Alden mendorong tubuhnya dari lemari dan melangkah mendekat.
“Kita buat jadi suami istri sungguhan.”
“Jangan harap!”
Belvina mundur satu langkah. “Awas kalau kau sentuh aku lagi.”
Detik berikutnya—
Alden menangkap pinggangnya dan membawa Belvina masuk ke dalam pelukannya.
Tubuh wanita itu menabrak dada bidang pria itu.
"Alden!"
“Aku sudah menyentuhmu,” bisik Alden rendah di dekat telinganya. “Kau mau apa?”
“Kau—lepas!”
Belvina berusaha melepaskan diri, tetapi lengan pria itu terlalu kuat.
Alden menunduk sedikit, napasnya menyapu sisi wajah Belvina.
“Kau tahu...” suaranya rendah dan menggetarkan, “semalam kau menggeliat dan mendesah begitu manja.”
Belvina ingin lenyap dari muka bumi saat itu juga.
“Dasar mesum! Bohong!”
“Benarkah?”
Sebelum Belvina sempat membalas, kecupan lembut mendarat di lehernya.
Belvina terpaku di tempat.
Lalu satu lagi di pundaknya. Dan satu lagi di dekat garis rahangnya.
Tubuh Belvina meremang tanpa izin. Sentuhan itu sama seperti yang terasa samar dalam mimpinya semalam.
Alden memang melakukannya.
Napas Belvina mulai kacau.
...✨"Dia menolak disentuh, tapi tubuhnya justru mengingat setiap sentuhan itu."✨...
.
To be continued
nice ending
beautiful story
koh berkata...
cinta tanpa obsesi akan membuat cinta hanya seperti punya cangkangnya saja
dia akan mudah berpaling dan pergi
tapi obsesi tanpa cinta itu hanya menunjukkan sebenarnya kau hanya ingin memilikinya karena memuaskan ego mu.
tidak akan ada yg menolong mu kecuali dirimu sendiri yg menolong mu
ga perlu menahan seseorang yg tak mau bertahan bukan.
itu sebabnya...sebelum meminta orang lain mengulurkan tangannya untukmu. berjuanglah untuk mu sendiri.
walaupun ending yg indah
tapi...poor buat real belvina,dia pergi karena sudah menyerah sama keadaan 😔
nanti dia cari diluar
kalau dia ga kenyang di rumah
tapi ga mungkin si..dulu aja se absurd dulu aja ga pernah sama yg lain.
tapi orang juga punya batas bel
belvina yg dulu dan telah mati🥹🥹
mang... perempuan ga tau malu
mesti dihajar tu harga diri nya
tapi mang udah di gade ya,tu harga diri
pas ngejar laki orang🤣🤣
kepercayaan itu bagaikan membangun istana pasir..
tergantung kau menjaganya ,kalau ombak datang kau bisa menghalanginya.
karena sekali saja ombak itu menghantam dan menghancurkan istana itu.
akan penuh upaya dan effort untuk membangun kembali.
kalaupun bisa tentunya bentuk nya sudah tidak akan sama
terkadang kita ga perlu usaha banyak untuk menyakiti seseorang
hanya cukup membuat dan mengabaikan lalu akan berkembang dengan sendirinya.
rumor kadang lebih menyeramkan drpada kenyataan 😔🥹
mang laki laki bodoh
untung bodohnya ga lama"🫣🤣
yg kalau pecah susah lagi kembali nya
walaupun dikumpulkan dan di panaskan kembali
tetap cahaya dan Bentuknya ga akan sama
itu sebabnya bisa memberikan sesuatu yg kita ga punya sebelum nya🥹🥹
kl dia juga bisa milih pergi
banyak hidden chapter yg kita ga tau.
haaaahhh
KA hanya ta mau harga diri mu Ter usik
got you bad girl 🫣🤣🤣
tapi kau membiarkan dan membuat makin buruk
itu kesalahan mu
JD dia ga bisa nolak🤣🤣
kasiaaaaan 🫣