Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Cetak. Cetak. Cetak.

Suara ketikan laptop Alena terdengar cepat memecah keheningan apartemen yang sepi itu.

"Ini data-data tentang Yayasan Pelita Hati yang berhasil kudapatkan," ucap Alena tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.

"Mereka sedang membuka lowongan relawan untuk bagian arsip."

"Tugasnya merapikan dokumen-dokumen lama yayasan sebelum dipindahkan ke sistem digital."

Reyhan mendekat dan melihat layar laptop itu.

"Bagian arsip?"

"Ini kesempatan bagus untuk mencari dokumen keuangan mereka yang asli," gumam Reyhan.

"Ya, tapi masalahnya, wawancaranya dilakukan besok pagi jam delapan."

"Kau punya waktu kurang dari 24 jam untuk menyiapkan identitas dan penyamaran yang sempurna."

"Kalau sampai kau ketahuan, tamat riwayat kita berdua."

Reyhan mengangguk paham dan segera berjalan menuju lemari pakaian yang ada di sudut kamar.

Lemari itu berisi beberapa pakaian bekas milik adik Alena yang ditinggalkan.

"Aku butuh kacamata minus tebal, rambut palsu yang agak panjang, dan baju kemeja kotak-kotak."

"Dan jangan lupa, tolong buatkan aku KTP dan ijazah palsu secepatnya."

Alena mendengus pelan sambil mulai mengetik lagi.

"Aku polisi, bukan tukang buat dokumen palsu."

"Tapi temanku si peretas itu bisa mengurusnya malam ini."

"Namamu mulai besok adalah Dimas Aditya, mahasiswa semester akhir jurusan administrasi."

Keesokan paginya, tepat pukul delapan kurang lima belas menit.

Sebuah taksi berhenti di depan gedung megah bertingkat empat di pusat kota.

Gedung itu didominasi warna putih dengan logo besar bertuliskan "Yayasan Pelita Hati" di bagian depannya.

Seorang pemuda turun dari taksi itu.

Pemuda itu mengenakan kemeja kotak-kotak yang terlalu besar, celana kain cokelat, dan membawa tas ransel butut.

Rambutnya agak panjang dan tidak rapi, menutupi sebagian keningnya.

Ia memakai kacamata dengan bingkai tebal yang membuat matanya terlihat lebih kecil dari aslinya.

Cara berjalannya sedikit membungkuk dan langkahnya ragu-ragu.

Siapa pun yang melihatnya tidak akan pernah menyangka bahwa pemuda culun itu adalah Reyhan Mahardika, buronan paling dicari se-Indonesia saat ini.

Reyhan melangkah masuk ke lobi yayasan dengan sikap gugup yang sengaja ia buat-buat.

"Permisi, Mbak."

"Saya Dimas Aditya, saya mau ikut wawancara untuk relawan bagian arsip," ucap Reyhan dengan suara agak sengau dan pelan kepada resepsionis.

Resepsionis wanita itu menatap Reyhan sekilas dengan pandangan malas.

"Silakan naik ke lantai dua, ruang HRD ada di ujung lorong sebelah kanan."

"Terima kasih, Mbak."

Reyhan berjalan menuju lift sambil menundukkan kepalanya.

Di dalam lift, ia membetulkan letak kacamatanya sambil mengamati kamera CCTV yang ada di sudut ruangan.

[Ding!]

Suara sistem berbunyi di kepalanya, tepat saat pintu lift tertutup.

[Misi Penyamaran dimulai.]

[Tujuan: Dapatkan data aliran dana rahasia Yayasan Pelita Hati.]

[Peringatan: Gedung ini dijaga oleh lima belas petugas keamanan bersenjata api ringan dan puluhan kamera pengawas tersembunyi.]

[Hadiah: Peningkatan Skill Manipulasi Pikiran (Tingkat Dasar).]

"Bersenjata api ringan?" batin Reyhan terkejut.

"Untuk apa sebuah yayasan amal mempekerjakan penjaga bersenjata api?"

"Tempat ini benar-benar sarang penjahat."

Ting!

Pintu lift terbuka di lantai dua.

Reyhan segera kembali ke perannya sebagai Dimas si mahasiswa culun.

Ia berjalan ragu-ragu menyusuri lorong sampai menemukan ruang HRD.

Tok. Tok. Tok.

"Masuk," terdengar suara berat dari dalam.

Reyhan membuka pintu perlahan.

Di dalam ruangan itu duduk seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi dan wajah yang kaku.

Pria itu membaca berkas lamaran di mejanya tanpa menatap Reyhan.

"Dimas Aditya?"

"Iya, Pak, saya."

"Duduk."

Reyhan menarik kursi dan duduk dengan canggung, sengaja menjatuhkan pulpennya ke lantai agar terlihat makin gugup.

"Maaf, Pak," ucapnya sambil memungut pulpen itu.

Pria HRD itu menatap Reyhan dengan pandangan meremehkan.

"Kerja di bagian arsip itu membosankan dan melelahkan."

"Gajinya juga kecil karena ini hitungannya relawan."

"Kamu yakin mau kerja di sini?"

"Yakin, Pak."

"Saya butuh pengalaman kerja untuk syarat kelulusan kampus saya," jawab Reyhan dengan suara sedikit bergetar.

Aktingnya benar-benar sempurna.

Bahkan pria HRD yang sangat berpengalaman itu tidak curiga sama sekali.

"Baguslah kalau begitu."

"Kamu bisa mulai kerja hari ini."

"Ruang arsip ada di lantai basement."

"Ini kartu aksesmu, jangan sampai hilang."

Pria itu menyodorkan sebuah kartu putih polos dengan tali lanyard berwarna biru.

"Terima kasih banyak, Pak."

Reyhan mengambil kartu itu dan segera keluar dari ruangan dengan senyum lebar yang terlihat bodoh.

Namun, begitu pintu ditutup, senyum bodoh itu seketika menghilang.

Mata di balik kacamata tebal itu berubah menjadi tajam dan dingin.

"Akses basement sudah di tangan."

Reyhan menempelkan kartu akses itu ke mesin pembaca di pintu darurat menuju tangga bawah tanah.

Tit. Ceklek.

Pintu terbuka.

Reyhan menuruni tangga yang remang-remang itu dengan langkah pelan dan tanpa suara.

Skill Observasi Tingkat Menengahnya langsung aktif.

Matanya dengan cepat memindai setiap sudut lorong basement.

"Ada dua kamera di ujung lorong, dan satu kamera tersembunyi di atas pintu ruang arsip utama."

Reyhan bergumam pelan.

Ia mengatur posisi topi kemejanya sedikit untuk menutupi wajahnya dari sudut pandang kamera tersembunyi itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!