"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sah
"Istri nak Liam dari kampung mana?" tanya seorang warga
"Dari kampung cadas pak, ini di titipkan orang tuanya pada Opa Sagara, dan Opa Sagara menitipkan pada saya, Kenanga ini bisu jadi maaf kalau dia bicara dan kalian tidak mengerti" jawab Liam
"Oh, dari kampung cadas, tidak apa apa nak kami maklum, cantik sekali ya mirip dengan anak petinggi kampung cadas yang dulu jadi istri Mbah Karman, matanya sama" ucap seorang warga
"Iya, dia memang cantik" ucap Karna yang menghampiri mereka
"Aaa"
Warga terkejut karena Kenanga tidak bisa bicara dan hanya melambaikan tangannya pada Karna, bahkan sempat turun dan memeluk Karna.
"Ko nak Karna di peluk?" tanya warga lain
"Kenanga ini sudah seperti adik saya, bapak juga mengenalnya, pak Sagara meminta Kenanga dari bapak karena Kenanga adalah anak angkat bapak dari kampung cadas" jawab Karna berbohong
"Akting yang bagus" bisik Lintang
"Suka suka mereka lah, yang penting Kenanga tidak di cibir warga" jawab Hamka
"Mbah memang hebat, hatinya begitu mulia, kami jadi semakin kagum" ungkap seorang warga di balas tatapan malas dari Hamka dan Lintang
"Iiii" Kenanga menunjukkan kalung pemberian Karna pada semua orang dengan senang.
"Apa artinya?" tanya Dirman
"Ini kalung dari... Kak Karna" jawab Liam melirik Karna
"Karena Kenanga ini adik angkat saya, Liam kami minta untuk memanggil kami bapak dan kakak juga" ungkap Karna tanpa merasa canggung merangkul Liam.
"Ini benar?" tanya Dirman dan Liam mengangguk.
"Ayo masuk, bapak akan panggil nak Panca sekalian" ucap Dirman yang masih terkejut.
"Mampir ke rumah kakak yuk, kakak punya kue serabi, di buat kak Aini" bujuk Karna
"Tunggu kak, kami akan menikah secara agama Liam dulu, baru setelah itu Liam akan ajak Kenanga ke sana" ucap Liam memilih jujur karena warga sudah bubar
"Maksud kamu?" tanya Karna
"Kakak tahu kan saya orang beragama, dan saya tidak mungkin menyentuh orang yang bukan hak saya, jadi saya akan menikahi Kenanga" jawab Liam
"Tapi di sini tidak ada yang beragama" ucap Karna
"Saya hanya butuh saksi saja untuk Saya mengucapkan ijab kabul pada Kenanga, dan saya ingin kak Panca yang jadi saksi pernikahan kami" jawab Liam
"Panca, apa kalian bersekutu?"
"Liam saja hanya bertemu satu kali saat sidang tempo hari, kebetulan saja kak Panca sekolah di kota, jadi dia tahu cara cara orang kota menikah" jawab Liam dan Karna mengangguk
"Baiklah aku juga mau melihatnya, Aini, sini, kita lihat pernikahan Kenanga dulu" panggil Karna pada Aini yang sedang menjemur Kinanti di depan rumah panggung yang di bangun Karna.
"Ko bayinya tidak dengan ibunya kak?" tanya Lintang
"Kami sudah bercerai, istri saya sekarang hanya Aini" jawab Karna sempat melirik Laily yang sedang mengobrol dengan Lilis.
"Kang, ayo masuk, ibu katanya sudah buat teh" panggil Laily
"Ayo" ajak Lintang
"Kenanga ayo, kamu jangan lari lari, nanti...."
Bruk.
"Hiks..."
Belum sempat Liam selesai bicara, Kenanga sudah terjatuh tepat di depan rumah Karna karena dia terus berlari kesana kemari setelah Liam melepaskan ikatan di tangannya.
"Belum juga selesai bicara sudah jatuh, ayo bersihkan dulu" ucap Liam menggendong Kenanga ke arah kamar mandi milik Dirman.
Karna melihat setiap gerak tubuh Liam yang terus merawat Kenanga dengan sabar, Karna tahu seperti apa aktifnya Kenanga jadi dia cukup kagum karena Liam bisa sabar mengurus Kenanga meski mereka baru bersama selama satu hari.
"Jangan nangis, ini juga salah kamu, jadi terluka kan lututnya" ucap Liam menghapus air mata Kenanga dan mengobati luka di lutut Kenanga dengan daun yang di bawa Karna.
"Kenanga tidak apa apa?" Tanya Hamka
"Lututnya terluka, nanti di rumah akan gue obati lagi" jawab Liam kembali menggendong Kenanga untuk masuk ke dalam rumah Dirman.
"Masuk nak, tidak apa apa" ucap Lilis karena Karna terlihat ragu untuk masuk.
Lima menit kemudian, Dirman dan Panca sudah sampai di rumah, mereka memulai proses ijab kabul setelah memastikan Kenanga membaca dua kalimat syahadat terlebih dahulu meski hanya berbisik. Karna memperhatikan dengan seksama semua proses dari awal sampai akhir, bahkan maskawin yang di berikan Liam juga adalah uang tunai yang di bawa Hamka dan di tukar dengan kartu milik Liam sebesar seratus juta rupiah.
"Gue kaya, Shan sama Lyra akan gue ajak jalan jalan di Mall bulan depan" ucap Hamka
"Lo emang udah kaya kan" gerutu Liam
"Do'akan istri kamu menurut agama kamu Liam" ucap Panca berpura pura tidak tahu cara berdo'a karena di sana ada Karna.
"Tata caranya unik ya kang, jadi lebih khusyuk, ada tata caranya tidak hanya seperti di kampung ini yang cukup memakaikan gelang lalu besoknya ada pesta" ungkap Aini.
"Iya, aku jadi tenang karena sekarang Liam tidak akan meninggalkan Kenanga" jawab Karna
"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri menurut agama kalian, saling menjaga dan jangan sampai lupa adat istiadat di sini juga, harus kalian hormati" ungkap Panca
"Iya kak, terima kasih karena sudah membantu kami" ungkap Liam mencium tangan Panca, Prama, Dirman dan juga Karna.
"Kenanga, cium tangan mereka juga sebagai tanda hormat" ucap Liam dan Kenanga mencium tangan ke empat orang itu juga sambil terus menangis karena sakit di kakinya membuat dia tidak bisa bebas bergerak.
"Ini hadiah dari bapak, jangan nakal lagi ya" ucap Dirman memberikan sandal yang awalnya dia beli untuk Laily tapi karena Kenanga ke sana jadi dia jadikan hadiah.
"Aa" jawab Kenanga tersenyum senang
Karna mengusap air mata adiknya itu dengan tatapan teduh, dia senang karena akhirnya kenanga bisa bertemu banyak orang meski hanya di kenal sebagai istri Liam dan anak angkat Karman saja.
"Kak Panca tidak membawa apapun, tapi kak Panca akan berikan ini untuk Kenanga, ini permen dari pasar cadas, untuk kamu, tadinya ini untuk anak anak yang hari ini akan sekolah, karena saya bertemu kamu lebih dulu, jadi ini untuk kamu saya berikan sebagian" ucap Panca
"Iiiii" senang Kenanga sampai memeluk Panca tapi langsung di tarik Liam.
"Mulai posesif tipis tipis" bisik Hamka
"Belum ada rasa tapi mulai bertumbuh sedikit demi sedikit" bisik Lintang
"Dan lama lama akan menjadi bukit" balas Hamka lalu keduanya tertawa.
"Ngapain Lo berdua ketawa?" tanya Liam
"Itu, kami sedang membahas tentang rencana Hamka yang mau memberikan kembali black card milik kita sebagai hadiah katanya" jawab Lintang langsung di geplak Hamka.
"Ngadi Ngadi Lo! Jangan harap dua kartu ini akan kembali pada kalian" sinis Hamka