Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:769
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.

Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.

Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.

Ia salah besar.

Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:

**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**

Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.

Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.

Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.

Kali ini, dialah yang memegang pisau.

*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25: Bantahan Lewat Telepon

Tiga hari kemudian, Ibu menelepon saat aku sedang menyalin bukti unggahan gosip ke folder khusus.

Aku hampir membiarkan panggilan itu mati. Nama Ayah muncul lewat pesan beberapa detik kemudian.

Angkat sebentar, Nak. Damar mau bicara.

Jantungku langsung bergerak terlalu cepat.

Rangga sedang mengantar pesanan. Bu Lina berada di depan warung. Aku sendirian di kamar kecil dengan pintu terkunci, tetapi nama Damar membuat ruangan terasa kembali tak memiliki dinding.

Panggilan Ibu masuk lagi. Aku merekam layar, lalu menjawab.

"Nyalakan pengeras suara," katanya tanpa salam. "Mbakmu ada di sini. Ayah juga. Mas Damar menelepon dari Surabaya. Dia ingin meluruskan fitnahmu."

Suara sambungan lain terdengar. Damar menyapa dengan tenang.

"Sekar."

"Aku dengar."

"Mas Damar sudah berbaik hati mau menjelaskan," kata Ibu. "Kamu dengarkan sampai selesai."

Damar tidak langsung bicara. Aku bisa membayangkan ia duduk di ruang kerja, rapi dan terkendali, sementara seluruh keluarga menunggu satu kalimatnya.

"Saya tidak pernah melakukan tindakan tidak pantas kepada Sekar," katanya akhirnya. "Beberapa interaksi kami tampaknya ditafsirkan berbeda."

"Mobilnya sengaja dikunci," kataku.

"Sistem mobil mengunci otomatis. Saya membukanya saat kamu meminta."

"Setelah berhenti di jalan sepi."

"Karena perubahan lokasi pertemuan."

Setiap tindakannya memiliki penjelasan yang dipoles bersih. Tidak ada ruang untuk bau ketakutan, telapak yang berkeringat, atau cara ia menyebut malam hujan.

"Gelangnya bagaimana?" tanyaku.

Hening sepersekian detik.

"Hadiah untuk anggota keluarga calon istri."

Mbak Laras akhirnya bersuara. "Gelang apa?"

Aku membeku. Damar menjawab lebih cepat.

"Hadiah yang tidak jadi diberikan. Sekar mungkin salah memahami maksud saya."

Ia berbohong tanpa perubahan nada.

"Mas memasangnya di tanganku."

"Sekar," tegur Ibu. "Kamu sudah mengaku cerita itu bohong."

"Karena Ibu memaksaku!"

"Jangan mulai lagi."

Damar menarik napas pelan. "Bu Endang, jangan marahi Sekar."

"Mas masih membelanya setelah semua ini?"

"Dia sedang berada di bawah tekanan. Pencarian kerja, konflik keluarga, kurang tidur. Saya rasa dia sendiri belum bisa membedakan ketakutan dan kenyataan dengan baik."

Jari-jariku mencengkeram ponsel.

"Aku tahu apa yang terjadi."

"Saya tidak bilang kamu berbohong," lanjutnya, suara tetap lembut. "Kamu mungkin benar-benar mempercayai ingatanmu. Itu sebabnya saya menyarankan pemeriksaan profesional. Psikolog atau dokter bisa membantu."

Di ujung lain, Ibu mendesah seolah baru mendapat jawaban yang masuk akal.

"Ibu juga sudah bilang dia perlu diperiksa."

"Aku nggak sakit."

"Mencari bantuan bukan berarti sakit," kata Damar. "Laras, dampingi adikmu. Jangan biarkan dia sendirian."

Ia menjadikan kontrol terdengar seperti kepedulian. Menjadikan penolakanku sebagai gejala. Jika aku marah, aku tidak stabil. Jika aku diam, berarti mengakui.

"Aku tinggal di rumah Bu Lina karena aku memilih pergi," kataku. "Bukan karena tersesat."

"Kamu kabur setelah merusak kalung Ibu," sela Bu Endang.

Ayah akhirnya berbicara. "Cukup. Damar, kamu pernah masuk kamar Sekar malam hujan itu? Jawab ya atau tidak."

Ruangan di seberang mendadak sunyi.

"Tidak," jawab Damar.

Satu kata yang datang terlalu terlambat.

"Sudah jelas," kata Ibu.

"Belum," balas Ayah, tetapi suaranya tertutup oleh Mbak Laras.

"Aku capek," katanya. "Kita akhiri saja."

Panggilan terputus.

Aku menatap rekaman yang masih berjalan. Dadaku naik turun. Baru hendak menyimpannya ketika nomor pribadi Damar muncul.

Aku menolak.

Ia menelepon lagi.

Kali ketiga, aku mengangkat dan tetap merekam.

"Apa lagi?"

Tak ada suara keluarga. Hanya napasnya.

"Kamu seharusnya tidak meninggalkan rumah tanpa membawa gelang itu," katanya.

Darahku mendingin. "Mas tahu gelangnya di mana?"

"Saya tahu banyak hal yang kamu pikir aman."

"Jangan dekati aku lagi."

"Pulanglah ke rumah."

"Itu bukan perintah Mas."

Suaranya turun. "Jangan tinggal terlalu dekat dengan Rangga. Saya tidak suka."

"Mas nggak punya hak suka atau nggak suka."

"Hak bisa dibuat."

Tiga kata itu menekan lebih kuat daripada semua kalimat lembutnya di telepon keluarga.

"Aku merekam panggilan ini."

Hening.

Kemudian ia tertawa pelan, tanpa kehangatan. "Simpan baik-baik, Sekar. Jangan sampai hilang seperti benda lain di lacimu."

Sambungan mati.

Ponsel hampir terlepas dari tanganku. Damar tahu isi laci. Mungkin hanya tebakannya. Mungkin bukan.

Aku memutar ulang bagian terakhir dengan volume rendah. Suaraku sendiri terdengar asing, tipis dan kaku. Suara Damar justru tetap utuh, seolah bukan dia yang baru saja mengancamku, melainkan seseorang yang sedang mengingatkan jadwal makan malam.

Jangan sampai hilang seperti benda lain di lacimu.

Kalimat itu tidak membuktikan apa pun bagi orang yang ingin menutup mata. Ia bisa mengatakan bahwa aku pernah menceritakan isi laci kepadanya. Ia bisa menyebutnya candaan. Ia bisa melakukan apa yang baru saja dilakukannya di depan keluargaku, yaitu menyusun kebohongan yang cukup masuk akal untuk dijadikan tempat berlindung.

Namun aku tahu aku tidak pernah membicarakan laci itu dengannya.

Aku membuka folder yang kubuat atas saran Bara. Tangkapan layar gosip, daftar waktu, nomor telepon, dan catatan kejadian kususun berdasarkan tanggal. File rekaman kusalin dua kali. Satu kusimpan di penyimpanan daring, satu lagi kukirim ke alamat surel baru yang tidak diketahui keluargaku.

Tanganku gemetar saat menulis keterangan.

Panggilan pribadi setelah bantahan keluarga. Damar mengetahui gelang disimpan di laci kamar. Mengancam secara tidak langsung terkait Rangga.

Aku berhenti pada kata mengancam. Selama ini aku selalu mencari istilah yang lebih lunak untuk apa pun yang dilakukannya. Menekan. Mengganggu. Membuat tidak nyaman. Salah paham.

Kali ini aku tidak menggantinya.

Mengancam.

Huruf-huruf itu membuatku takut, tetapi juga membuat kejadian tadi memiliki bentuk. Sesuatu yang memiliki bentuk bisa dicatat. Sesuatu yang dicatat tidak mudah dihapus hanya karena Damar berbicara lebih tenang daripadaku.

Pintu diketuk.

"Kar?" suara Rangga. "Aku masuk kalau kamu nggak jawab."

Aku membuka kunci. Rangga berdiri dengan kantong pesanan masih di tangan. Ia melihat wajahku dan langsung meletakkan semuanya di lantai.

"Damar?"

Aku mengangguk.

Ia masuk, duduk di lantai dengan jarak satu lengan, tidak menyentuhku.

"Dia bilang aku nggak bisa membedakan ingatan dan kenyataan," bisikku. "Semua orang percaya."

Rangga menatapku tanpa ragu.

"Aku nggak."

Mataku panas.

"Kamu bahkan belum tahu ceritanya."

"Aku tahu kamu takut setiap dia mendekat. Aku tahu kamu nggak mendapat apa pun dengan menuduh orang sekuat dia. Dan aku tahu kamu bukan pembohong."

Air mata jatuh sebelum sempat kutahan.

Rangga tidak berkata akan membereskan semuanya. Tidak memaksaku menyerahkan rekaman. Ia hanya duduk di sana sampai tanganku berhenti gemetar.

Setelah napasku lebih teratur, ia bertanya, "Kamu mau aku dengarkan rekamannya?"

Aku menatap layar yang masih menyala. "Belum."

"Ya sudah."

Tidak ada desakan lanjutan. Tidak ada wajah kecewa karena aku belum sanggup membuka seluruh pintu. Ia hanya mengambil gelas kosong di meja, mengisinya dengan air dari dispenser, lalu meletakkannya dalam jangkauanku.

"Kalau suatu hari kamu mau melapor, aku ikut," katanya. "Kalau kamu belum siap, aku bantu simpan buktinya. Keputusan tetap punyamu."

Kalimat sederhana itu hampir lebih menyakitkan daripada penghinaan Ibu. Selama berbulan-bulan, semua orang mengambil keputusan atas namaku. Damar memutuskan apa yang seharusnya kuingat. Ibu memutuskan kapan aku harus mencabut ucapan. Bahkan rasa takutku dianggap milik bersama yang boleh dinilai dan dibatalkan.

Rangga mengembalikan semuanya kepadaku hanya dengan dua kata.

Keputusanmu sendiri.

Satu keluarga membutuhkan semua bukti untuk mempercayaiku.

Rangga hanya membutuhkan aku.

1
ceuceu
ga jelas lah,maaf thor aku skip
ceuceu
membungungkan antara cerita dan dialog
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!