Indonesia
NovelToon NovelToon
Pada Akhirnya, Kamu

Pada Akhirnya, Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / CEO / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.

Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.

Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.

Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.

Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.

Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.

Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20. Mikael Mulai Menunggu

Pagi itu, Mikael tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Kebiasaan yang baru saja terbentuk dalam beberapa minggu terakhir.

Sebelumnya, ia selalu datang tepat waktu atau bahkan sedikit terlambat. Tapi sekarang, kakinya seakan memiliki kehendak sendiri, membawanya lebih cepat ke gedung itu, karena ia tahu ada seseorang yang akan ia temui di sana.

Ia berjalan menuju meja resepsionis dengan senyum tipis yang sudah siap di bibirnya. Senyum yang selalu ia berikan setiap pagi, karena tahu sebentar lagi Naira akan muncul di pintu masuk dengan napas sedikit terengah karena berjalan cepat, rambut yang rapi namun kadang ada helai yang terlepas, dan tas besar yang selalu menggantung di bahu kanannya.

"Selamat pagi, Pak Mikael," sapa resepsionis.

"Selamat pagi," jawab Mikael sambil melirik jam di dinding. Pukul delapan kurang sepuluh menit. Biasanya Naira sudah ada di sini sekarang.

Ia berjalan ke ruang kerjanya, tapi matanya terus melirik ke arah pintu setiap kali ada suara langkah kaki. Setiap kali seseorang melintas, ia berharap itu Naira. Tapi bukan.

Pukul delapan tepat. Belum ada Naira.

Mikael mulai sedikit gelisah. Ia duduk di kursi kerjanya, membuka berkas di depannya, tapi matanya tidak bisa membaca satu baris pun. Pikiran terus melayang ke pintu.

Mungkin dia terlambat naik bus. Mungkin hujan tadi pagi membuat jalan macet. Pasti begitu.

Pukul delapan lewat sepuluh menit. Masih tidak ada tanda-tanda Naira.

Mikael berdiri. Ia berjalan keluar ruangannya, menyusuri lorong menuju ruang desain tempat Naira bekerja. Ruangan itu kosong. Meja kerjanya rapi, tidak ada tas, tidak ada jaket, tidak ada tanda bahwa perempuan itu pernah datang hari ini.

Ada rasa cemas yang mulai menjalar di dadanya. Rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

 Selama ini ia selalu yakin Naira akan ada di sana. Selama ini ia selalu merasa aman karena tahu setiap hari ia bisa melihatnya, berbicara dengannya, bahkan sekadar berdebat dengannya.

Tapi hari ini, Naira tidak ada. Dan rasanya seperti ada bagian dari dirinya yang ikut hilang.

Ia kembali ke ruangannya, mencoba berkonsentrasi. Tapi setiap kali ponsel bergetar, ia langsung meraihnya dengan cepat.

Setiap kali telepon berdering, ia berharap suara Naira yang terdengar di ujung sana. Tapi tidak ada pesan, tidak ada panggilan.

Pukul sembilan. Kecemasan itu berubah menjadi kekhawatiran yang nyata. Mikael tidak bisa lagi diam saja. Ia mengambil ponselnya, mencari nama Naira di daftar kontaknya. Jari-jarinya ragu di atas tombol panggil.

Kenapa aku begitu cemas? Dia mungkin cuma sakit. Mungkin ada urusan keluarga. Dia bukan milikku. Aku tidak punya hak untuk menuntut kehadirannya.

Tapi alasan itu tidak cukup untuk menenangkan hatinya. Ia menekan tombol panggil. Nada sambung berbunyi sekali... dua kali... tiga kali.

"Halo?"

Suara Naira terdengar pelan, sedikit serak, dan terdengar jauh.

"Naira? Kamu di mana? Kenapa belum datang?" Pertanyaan itu keluar begitu cepat, begitu penuh emosi, hingga Mikael sendiri terkejut dengan suaranya sendiri.

Ada keheningan sejenak di ujung telepon. Lalu terdengar tawa kecil yang lemah. "Kamu... kamu kenapa. Kamu khawatir ya?"

Mikael berdeham, mencoba menutupi kegelisahannya. "Aku hanya... pekerjaan menumpuk. Kita punya jadwal rapat pagi ini. Itu saja."

Naira terdengar tersenyum meski lewat telepon. "Kamu tidak pintar menjadi pembohong. Kamu tidak perlu beralasan." Ia batuk pelan.

"Aku sakit, Mikael. Demam sejak semalam. Ibuku menyuruhku istirahat hari ini. Maaf tidak memberitahumu sebelumnya."

"Sakit?" Mikael langsung berdiri tegak. "Sejak kapan? Sudah ke dokter? Kamu sendirian di rumah?"

"Tenanglah, El. Aku baik-baik saja. Cuma demam biasa. Sudah minum obat. Ibu ada di sini." Naira tertawa pelan melihat reaksinya yang berlebihan. "Kamu lucu sekali kalau cemas."

Mikael menyadari betapa berlebih-lebihannya reaksinya. Ia tersenyum malu. "Aku hanya... tidak terbiasa tidak melihatmu setiap hari. Rasanya... ada yang kurang."

Kalimat itu terucap begitu jujur, begitu tulus, hingga keduanya terdiam sejenak. Di ujung sana, Naira merasakan panas di pipinya.

Dan di sini, di ruang kerjanya yang luas dan mewah, Mikael menyadari satu kebenaran yang tak bisa ia sangkal lagi. Naira bukan sekadar rekan kerja. Bukan sekadar pacar sandiwara. Naira sudah menjadi bagian dari harinya, bagian dari pikirannya, bagian dari hidupnya.

"Makasih sudah khawatir," bisik Naira lembut. "Aku akan segera sembuh, janji."

"Istirahatlah. Jangan pikirkan pekerjaan. Aku akan menutup rapat hari ini." Mikael berhenti sejenak, lalu menambahkan pelan. "Aku akan menunggumu di sini. Sampai kamu kembali."

"Jangan terlalu menungguku ya," goda Naira, meski suaranya terdengar lembut dan penuh perasaan.

"Sulit untuk tidak melakukannya," jawab Mikael jujur. "Sampai jumpa, Naira. Cepat sembuh."

"Iya. Sampai jumpa, Mikael."

Telepon dimatikan. Mikael meletakkan ponselnya di atas meja, tapi rasa cemasnya belum sepenuhnya hilang. Ia duduk kembali, tapi suasana hatinya sudah berubah.

Pekerjaan yang biasanya menantang kini terasa membosankan. Ruangan yang biasanya nyaman kini terasa terlalu sepi.

Tanpa tawa kecil Naira, tanpa suara bantahnya yang sesekali terdengar, tanpa tatapan matanya yang cerdas dan kadang menantang, semuanya terasa tidak lengkap.

Sepanjang hari itu, setiap kali ia melewati ruang desain yang kosong, setiap kali ia melihat meja kerja Naira yang rapi namun sepi, ia menyadari satu hal yang menakutkan sekaligus menyenangkan.

Ia sudah terbiasa dengan kehadiran Naira. Ia sudah bergantung pada kehadirannya. Dan yang paling menakutkan, ia tidak ingin melepaskan kebiasaan itu.

*****

Di sore hari, saat semua pekerjaan selesai dan orang-orang mulai pulang, Mikael masih duduk di meja kerjanya. Ia menatap jendela yang menghadap ke luar.

Langit mulai berubah warna menjadi jingga keunguan. Biasanya pada jam seperti ini, ia dan Naira akan berjalan keluar bersama, berdebat tentang hal-hal kecil, tertawa tanpa alasan yang jelas. Hari ini... ia berjalan sendirian.

Saat ia melangkah keluar dari gedung, angin sore menerpa wajahnya. Ia teringat kata-kata Naira di telepon tadi. Aku akan segera sembuh.

Mikael tersenyum tipis. "Aku akan menunggumu, Naira," gumamnya pelan pada angin sore. "Dan aku tidak ke mana-mana."

Hari itu, Mikael menyadari bahwa menunggu bukanlah hal yang menyebalkan. Menunggu seseorang yang berarti justru membuat setiap detik terasa berharga. Karena di ujung penantian itu, ada senyuman yang ia rindukan lebih dari apa pun.

1
Evi Anggorowati
kasian naira.. takutnya mikail goyah stlh cinta masa lalunya kembali.. berharap naira bahagia ma mikail, g mengalami patah hati lagi
Evi Anggorowati
penasaran bgt ntar ada rahasia apa yg bikin naira jd galau lg pdhal sptnya mikail beneran tulus mencintai naira
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: karena sebelumnya mempunyai cinta yg besar tetapi dipendam ke Ravian selama bertahun2 kak😊
total 1 replies
Evi Anggorowati
suka ma novelnya gaya bahasanya jg suka semoga happy end ceritanya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
Suka banget sama alurnya, ringan tapi tetap bikin penasaran dan bikin pengen terus baca!”❤
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
mak mak doyan novel
mulai menyimak..
mudah2an cocok 💪
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya. semoga suka💖😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!