Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 : Teror Spreadsheet 100 Halaman dan Air Mata di H-10

Dua minggu menjelang hari H pernikahan. Jika saat lamaran Fahri hanya mencetak SOP 50 halaman, maka untuk acara resepsi pernikahan ini, tingkat paranoid sang penyidik kaku meningkat tiga kali lipat.

Di papan tulis ruang rapat Harmony EO, tertera tabel Microsoft Excel raksasa yang dicetak tebal.

Fahri membagi seluruh tim menjadi divisi-divisi mikro:

Bagas memegang Logistik Konsumsi dan Pengujian Rasa

Dave memegang Estetika Florist

Galang memegang Alur Lalu Lintas Parkir Arga sebagai Komandan Protokoler

"Sesuai revisi spreadsheet halaman 87," tegas Fahri dengan kacamata yang melorot di hidung, menunjuk papan tulis memakai penggaris besi.

"Jumlah porsi es puter harus presisi 1.250 cup. Tidak boleh ada deviasi lebih dari dua persen! Widya, kamu sudah kirimkan daftar ukuran baju keluarga besar dari pihak kamu?"

Widya yang duduk di sebelah Fahri mengangguk pelan. Wajah cantiknya tampak sedikit pucat, dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya.

"Sudah, Mas... Tadi pagi jam lima sudah aku email ke Mas Fahri."

"Bagus," sahut Fahri tanpa menatap wajah calon istrinya karena sibuk membolak-balik berkas.

"Selanjutnya jam dua siang ini kita ada janji fitting busana terakhir dari vendor, lalu jam empat sore cek lokasi katering, jam tujuh malam rapat dengan ketua RT tempat acara." papar Fahri panjang lebar

Kiara yang duduk di sofa dengan perut yang makin membuncit manis di usia kehamilan delapan bulan mengamati gerak-gerik Widya dengan cemas. Kiara menyenggol lengan Dimas.

"Mas... Widya kelihatan capek banget," bisik Kiara khawatir.

"Dia kan masih kerja full time di kantornya, belum lagi urus berkas kelurahan sendiri. Mas Fahri kok gak nanya kondisi badannya sih?"

Dimas menatap Fahri yang masih sibuk mengomel soal warna taplak meja ke Bagas. Dimas menghembuskan napas panjang.

"Fahri itu terlalu fokus ingin bikin acara yang sempurna buat Widya, Ra. Dia gak sadar kalau kesempurnaan yang dia kejar justru bikin calon istrinya tertekan."

...***...

Ruang butik berpendingin udara itu dipenuhi gaun-gaun pengantin dan kain kebaya mewah. Namun, udara di dalamnya terasa mencekam bagi Widya.

Sejak seminggu terakhir, Widya hanya tidur dua jam sehari. Ia harus menyelesaikan laporan akhir tahun di kantornya, melayani permintaan ibunya soal daftar undangan kerabat jauh, dan di saat yang sama harus mengikuti alur SOP super padat yang disusun oleh Fahri. Kepala Widya terasa berputar, dadanya sesak, dan badannya dingin membeku.

"Mbak Widya, coba berdiri agak tegap ya. Ini bagian pinggang kebayanya mau saya jarum sedikit," pinta penjahit butik seraya berlutut di bawah gaun Widya.

Fahri berdiri di dekat pintu kaca, sibuk menempelkan telepon di telinganya.

"Gak bisa gitu dong, Mas! Di perjanjian awal, tenda transparan itu sudah termasuk sistem AC standing empat unit! Jangan coba-coba ubah pasal kontrak!"

"Mas Fahri..." panggil Widya pelan. Suaranya sangat tipis, nyaris tak terdengar di antara omelan Fahri pada vendor tenda.

Fahri masih membelakangi Widya.

"Bentar ya, Wid..... Ini vendor tendanya mau main-main sama saya—"

"Mas... kepala aku... pusing banget..."

BRUK!

Suara benturan tubuh yang jatuh memotong kalimat Fahri. Penjahit butik menjerit histeris.

Fahri memutar tubuhnya seketika. Ponsel pintar di tangannya terlepas dan jatuh menghantam lantai marmer hingga layarnya retak.

Pandangan Fahri mengunci pada tubuh Widya yang sudah tergeletak pingsan di atas karpet, wajahnya pucat pasi seperti kertas, dan napasnya tersengal halus.

"WIDYA!"

Fahri menjerit histeris. Pria yang biasanya selalu tenang, rasional, dan penuh kendali itu mendadak kehilangan seluruh pijakannya. Ia berlutut, menyangga kepala Widya di pangkuannya dengan tangan yang gemetar hebat.

"Widya! Buka matamu! Sayang, jawab saya!" teriak Fahri, air mata kepanikan Spontan meluncur deras dari matanya.

"Tolong! Panggil ambulans! SIAPA PUN TOLONG!"

Lampu merah di atas pintu IGD menyala. Bau karbol dan infus menyengat hidung.

Fahri duduk di kursi besi koridor rumah sakit dengan kedua tangan menangkup wajahnya. Baju kemejanya kusut, kacamata yang biasa bertengger rapi kini miring tak terurus. Seluruh kebanggaan, kontrol diri, dan dokumen 100 halamannya mendadak tak berarti apa-apa.

Dimas, Kiara, dan seluruh anggota Geng Harmony berlarian menelusuri koridor.

"Fahri! Gimana keadaan Widya?!" tanya Dimas panik seraya memegang kedua bahu sahabatnya.

Fahri mendongak. Wajahnya merah padam, dadanya naik turun oleh tangis yang ditahannya.

"Dokter bilang... Widya kelelahan hebat, Dim. Trombositnya drop, tekanan darahnya anjlok, dan dia dehidrasi berat... Dokter bilang kalau terlambat dibawa, dia bisa kena serangan tifus akut..."

Fahri mencengkeram kain kemeja Dimas, suaranya pecah terisak.

"Ini salah gue, Dim! Gue yang bikin dia begini! Gue sibuk mikirin warna bunga, sibuk mikirin es puter, sibuk mikirin gengsi acara... tapi gue gak pernah nanya dia capek atau enggak! Gue monster, Dim!"

Kiara melangkah mendekat, mengusap bahu Fahri dengan lembut.

"Mas Fahri... tenangkan diri Mas Fahri dulu. Widya butuh Mas Fahri yang kuat sekarang, bukan Mas Fahri yang menyalahkan diri sendiri."

Pintu IGD terbuka. Dokter keluar dan mengabarkan bahwa Widya sudah sadar, namun harus dirawat inap total setidaknya selama lima hingga tujuh hari ke depan—artinya Widya baru bisa keluar rumah sakit tepat H-3 atau H-2 pernikahan.

Fahri melangkah masuk ke ruang rawat dengan kaki gemetaran.

Di atas ranjang putih, Widya terbaring lemas dengan selang infus menancap di punggung tangannya. Saat melihat Fahri masuk dengan mata sembap, Widya mencoba menyunggingkan senyum tipis.

"Mas Fahri... maafin aku ya..." bisik Widya parau.

"Aku malah merusak jadwal fitting dan katering hari ini..."

Mendengar kata-kata itu, pertahanan mental Fahri hancur berkeping-keping. Pria tegap itu berlutut di samping ranjang Widya, menggenggam tangan istrinya yang dingin, dan menempelkannya ke dahinya seraya menangis sesenggukan.

"Jangan minta maaf... Demi Allah, jangan pernah minta maaf, Widya..." tangis Fahri pecah di tepi ranjang.

"Saya yang bodoh... Saya yang jahat..."

Dari tas kerjanya, Fahri mengeluarkan tumpukan berkas SOP 100 halaman yang selama ini ia agung-agungkan. Tanpa ragu sedikit pun, di hadapan Widya, Dimas, dan Kiara, Fahri merobek-robek kertas tebal itu menjadi dua, empat, lalu melempar serpihannya ke dalam tong sampah.

"Masa bodoh dengan semua pesta ini!" seru Fahri tegas di antara isak tangisnya.

"Saya gak butuh acara megah! Saya gak butuh 1.000 tamu! Saya cuma butuh kamu sehat, Widya! Kalau kamu gak kuat, kita batalkan resepsinya. Kita cuma nikah di KUA depan penghulu, yang penting kamu sehat dan ada di samping saya!"

Widya meneteskan air mata haru. Jemari tangannya yang bebas bergerak perlahan, mengusap air mata di pipi Fahri.

"Aku gak mau batalkan nikahnya, Mas..." bisik Widya lembut namun penuh penekanan.

"Aku cuma mau Mas Fahri ada di sini... pegang tangan aku... jangan bahas soal vendor lagi."

"Iya... Saya janji. Saya gak akan bahas vendor satu kata pun," balur Fahri erat, mencium jemari Widya berkali-kali dengan penuh penyesalan dan kehangatan.

Kiara dan Dimas saling bertukar pandang di pintu kamar rawat. Kiara tersenyum tipis seraya menyandarkan kepalanya di dada Dimas.

"Pelajaran berharga buat Mas Fahri ya, Mas..." gumam Kiara pelan.

"Iya, Ra," sahut Dimas seraya mengecup kening Kiara.

"Pernikahan itu bukan tentang seberapa megah panggungnya, tapi tentang dua insan yang saling menjaga keselamatan dan kebahagiaan satu sama lain."

Selama sepuluh hari tersisa menuju hari H, atmosfer persiapan berubah total. Fahri menyerahkan 100% urusan teknis lapangan kepada Arga dan Dimas.

Fahri mengambil cuti penuh dari kantornya hanya untuk duduk di samping ranjang rumah sakit Widya—menyuapinya bubur, mengusap keningnya saat demam, dan membacakan ayat-ayat suci hingga Widya tertidur lelap.

Di ruang rawat sederhana itu, di antara bunyi bip berirama dari monitor jantung dan aroma cairan infus, Fahri dan Widya justru menemukan hakikat cinta yang paling murni:

bukan kesempurnaan acara yang membuat mereka bersatu, melainkan kesediaan untuk saling menopang di saat salah satu di antara mereka hampir tumbang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!