When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.
Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.
Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : Langkah Pasukan Hitam
Tanah basah di sekitar Hutan Pinus Hitam mendadak bergetar.
Dering genta kecil yang tergantung di leher kuda-kuda perang memecah keheningan sore.
Rosalia yang masih terduduk tersungkur di menyipitkan matanya yang sembap.
Napasnya masih memburu tajam, kedua tangannya menahan tubuhnya yang hampir terjatuh.
Di depannya, dua preman suruhannya yang tadi berlutut ketakutan pada Evelyn kini makin merapatkan wajah mereka ke tanah, ketakutan setengah mati melihat gulungan debu tebal yang melayang naik dari arah tikungan jalan.
BLEK! BLEK! BLEK!
Langkah kaki ratusan kuda perang menerjang kerikil basah.
Dari balik kabut tipis dan rindangnya pepohonan, muncul barisan ksatria.
Di dada mereka, terukir jelas lambang resmi Pasukan Zirah Hitam dari wilayah perbatasan Obsidian Keep!
Ada lebih dari lima puluh ksatria zirah hitam yang mengepung seluruh area jalan setapak.
Di barisan paling depan, menunggangi seekor kuda jantan hitam bermata merah, berdiri sosok pria yang paling ditakuti sekaligus disegani di seluruh Kekaisaran Arkania.
Duke Cassian von Obsidian.
Rambut hitamnya yang sedikit panjang bergoyang pelan membingkai wajah tampannya yang tegas.
Cassian menyapu seluruh area—menatap kereta Evelyn yang miring, racun yang mengkristal di tanah, dan sosok Rosalia.
DEG!
Jantung Rosalia seketika berhenti berdetak. Lidahnya mendadak kelu, seluruh keberanian dari status "pemeran utama"-nya hilang begitu sepasang mata merah Cassian mengunci keberadaannya!
Cassian melompat turun dari atas kuda.
Pria bertubuh tinggi tegap itu menyibak barisan ksatria, melangkah menuju tempat Evelyn berdiri di samping Julian.
Saat Cassian mendekat, aura hawa panas murni—energi mana api yang bisa mengimbangi elemen es Evelyn—menguar halus dari tubuhnya, mengusir hawa dingin yang menyelimuti area sekitar.
"Kamu nggak apa-apa, Evelyn?" tanya Cassian dengan suara baritonnya yang serak.
Jemari Cassian terangkat, menyentuh helai rambut perak Evelyn yang sedikit berantakan diterpa angin, merapikannya ke belakang telinga dengan hati-hati—sangat kontras dengan reputasinya sebagai sang "monster Utara".
Evelyn menatap Cassian, lalu menyunggingkan senyum tipis. Rasa lega yang luar biasa hangat berdesir di dalam dadanya.
"Aku baik-baik saja, Cassian," sahut Evelyn. "Hanya ada sedikit gangguan dari serangga yang panik."
Julian yang berdiri di samping adiknya menghela napas lega. "Duke Cassian... bagaimana Anda bisa ada di rute ini?! Bukannya jadwal kedatangan Pasukan Zirah Hitam ke ibu kota baru besok pagi?"
Cassian menolehkan kepalanya sedikit pada Julian, memberikan anggukan hormat yang singkat. "Saya memajukan jadwal keberangkatan dua belas jam. Merpati pembawa pesan di perbatasan memberi tahu kalau ada pergerakan mencurigakan dari pasukan rahasia Istana yang mengarah ke jalur vila Rosenberg."
Binar mata merah Cassian beralih, melihat sosok Rosalia yang masih tersungkur di tanah.
Cassian memutar badannya, melangkah mendekati Rosalia.
"S-Lord... Lord Cassian..." bisik Rosalia bergetar hebat, air mata menetes di pipinya. Ia berusaha merangkak mundur, namun ujung jubah milik Cassian sudah membayang di atas kepalanya.
Cassian berhenti di depan Rosalia. Pria itu menunduk, menatap gadis itu dari atas dengan pandangan yang lebih dingin dibanding badai salju di puncak perbatasan Utara.
"Jadi kamu... putri angkat keluarga Valerius yang belakangan ini sibuk meracuni pikiran Putra Mahkota di Istana?" tanya Cassian.
Rosalia menggelengkan kepalanya histeris, badannya gemetar kencang hingga giginya bergemelutuk. "B-bukan... saya nggak bermaksud... ini cuma kesalahpahaman, Lord Cassian! Nona Evelyn yang..."
SRING!
Belum sempat Rosalia menyelesaikan kalimat bohongnya, Cassian mencabut pedang dari pinggangnya dengan satu sentakan cepat!
Ujung pedang besi itu menancap di tanah basah— di antara dua paha Rosalia, merobek ujung gaunnya.
"AAAGHHH!" jerit Rosalia histeris, menutup wajahnya dengan kedua tangan seraya menangis ketakutan setengah mati!
"Satu kata lagi meluncur dari mulutmu..." ancam Cassian, "...maka kepalamu bakal lepas dari tubuhmu."
Seorang kapten ksatria zirah hitam melangkah maju, membungkuk di samping Cassian seraya menyerahkan sebuah wadah kain tebal berisi sisa sampel racun penekan mana yang tadi tumpah di batu.
"Kami sudah mengamankan sisa botol racun ini, My Lord," lapor kapten itu tegas. "Formula racun ini diidentifikasi sebagai Black Frost Suppressant—jenis racun terlarang yang hanya bisa dikeluarkan atas izin stempel pribadi Putra Mahkota Nathaniel dari gudang Istana Barat."
Binar mata merah Cassian berkilat kejam. "Stempel pribadi Nathaniel...?"
Cassian terkekeh pendek. Pria itu menyarungkan pedangnya kembali, lalu menoleh pada Evelyn yang sedang mengamati situasi dengan tenang.
"Tampaknya Putra Mahkota kita yang terhormat sudah sangat tidak sabar untuk menyerahkan takhtanya secara sukarela di hadapan para dewa," ujar Cassian dengan nada sarkasme.
Evelyn melangkah mendekati Cassian, berdiri di samping Cassian. Ia melirik Rosalia yang kini terbaring pasrah di atas tanah.
"Apa yang bakal kamu lakukan pada gadis ini, Cassian?" tanya Evelyn halus.
Cassian melirik Rosalia dengan pandangan jijik. "Membunuhnya di sini hanya akan mengotori tanah perbatasan Rosenberg dan memberi alasan buat Nathaniel untuk menuduh kita melakukan pembunuhan sebelum dewan dibuka."
Cassian memberi isyarat tangan pada dua ksatria di belakangnya.
"Ikat tangan dan kakinya," perintah Cassian. "Lemparkan dia ke dalam kereta tahanan militer. Biarkan dia menikmati dinginnya malam di perkemahan Pasukan Zirah Hitam sampai kita menyerahkannya langsung ke hadapan Raja dan seluruh Dewan Bangsawan besok lusa!"
"T-TIDAK! JANGANN!" jerit Rosalia histeris saat dua ksatria berzirah mencengkeram dua lengannya dengan kasar. "Yang Mulia Nathaniel akan membunuh kalian semua! Nathaniel nggak akan tinggal diam melihat kalian memperlakukan Calon Puteri Mahkota seperti ini! Lepaskan aku! Lepas! Evelyn alur cerita ini akan berjalan seperti yang seharusnya!"
Namun, teriakannya sama sekali tidak dihiraukan oleh para ksatria perbatasan yang berhati dingin.
Setelah area jalan kembali tenang dan para preman diborgol, Cassian berbalik menghadap Evelyn.
Pria itu melepaskan jubahnya, lalu menyampirkannya di atas bahu Evelyn.
"Terima kasih, Cassian..." bisik Evelyn manis.
Cassian menatap mata Evelyn, menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
"Kuda dan keretaku jauh lebih hangat dan aman dibanding kereta Rosenberg yang rusak ini," tutur Cassian rendah seraya mengulurkan tangannya pada Evelyn. "Mari kita naik. Rombongan utama Pasukan Zirah Hitam sudah menunggu di gerbang ibu kota."
Evelyn menyambut uluran tangan Cassian, melangkah menuju kereta kuda Cassian.
kesel banget sama dia/Panic/