Yang baca Author do'akan semoga kalian lancar rezekinya😍😍
Dari Selir yang Diabaikan menjadi Permaisuri
👑 Kaisar Tang Xuanze (唐玄泽)
👸 Permaisuri Mu Qingran (慕清然)
🌸 Gelar: Permaisuri Xianhe (贤和皇后)
🏯 Istana: Istana Ziyun
📜 Era Pemerintahan: Zhengzhou (正州)
Mu Qingran hanyalah seorang selir yang hidup dalam bayang-bayang istana. Diabaikan Kaisar Tang Xuanze, dihina para selir, dan dijadikan pion dalam perebutan kekuasaan, ia memilih bertahan dengan kecerdasan dan kesabarannya. Saat berbagai intrik mengancam takhta, Qingran membuktikan kesetiaan serta keberaniannya hingga perlahan merebut kepercayaan sang kaisar. Namun, jalan menuju singgasana permaisuri dipenuhi pengkhianatan, fitnah, dan pengorbanan. Mampukah seorang wanita yang pernah dianggap tak berharga mengubah nasibnya menjadi Permaisuri Xianhe yang dihormati seluruh negeri? Ataukah ambisi istana akan menghancurkan cinta dan harapan yang akhirnya ia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah di Atas Meja Rias
Malam kembali merengkuh Istana Zhengzhou, membawa keheningan yang menyesakkan ke setiap sudut tembok tinggi yang memisahkan kehidupan para bangsawan dan pelayan. Di ruang bawah tanah Paviliun Phoenix—sebuah tempat tersembunyi yang jarang dijamah oleh cahaya matahari—suasana terasa begitu kelam. Aroma lembap tanah berpadu dengan bau besi dari darah segar yang menetes pelan dari meja eksekusi kayu di tengah ruangan.
Seorang pria berseragam kasim rendahan terikat kuat di atas kursi besi. Wajahnya pucat pasi, penuh dengan lebam kebiruan akibat hantaman keras, dan sudut bibirnya pecah mengeluarkan cairan merah kental. Di hadapannya, Mu Qingran duduk di atas kursi kayu berukir dengan postur tegak yang memancarkan aura dingin seorang penguasa sejati. Di sampingnya, Tang Xuanze berdiri bersidekap, wajah sang kaisar sedingin es karang di tengah badai samudra.
"Katakan," suara Qingran memecah keheningan bawah tanah, terdengar begitu tenang namun menusuk hingga ke sumsum tulang. "Siapa yang menyuruhmu menebar minyak licin di tangga Kuil Leluhur pagi tadi? Dan siapa dalang di balik upaya peracunan berkala yang dirancang oleh Tabib Lu?"
Kasim itu mendongakkan kepalanya perlahan, tertawa kecil di tengah ringisan kesakitannya. "Yang... Yang Mulia Permaisuri... hamba hanyalah pelayan rendahan. Hamba tidak tahu apa-apa tentang rencana besar... hamba hanya disuruh oleh seseorang untuk..."
Sebelum kalimatnya selesai, Qingran memberi isyarat kecil dengan ujung jarinya. Chunhua, yang berdiri siaga di dekat meja penyiksaan, langsung melangkah maju dan menempelkan sebilah belati perak dingin tepat di leher sang kasim, menghentikan napas pria malang itu seketika.
"Kau pikir aku memiliki waktu untuk mendengarkan drama kebohongan murahan?" ucap Qingran tanpa sedikit pun rasa iba di matanya. "Aku tahu betul lencana siapa yang ada di saku jubahmu. Lencana dari Departemen Domestik—wilayah kekuasaan Menteri Muda Mei Lin, kakak dari Selir Mei. Dan aku juga tahu bahwa racun lambat itu dibeli melalui jalur perdagangan ilegal yang dikendalikan oleh faksi Perdana Menteri Gao."
Mendengar nama klan musuhnya disebut secara blak-blakan tanpa keraguan sedikit pun, mata sang kasim melebar sempurna karena terkejut. Ia tidak menyangka bahwa permaisuri sudah mengetahui seluruh rantai komplotan itu bahkan sebelum interogasi dimulai.
"Jika kau memilih untuk jujur sekarang," sambung Tang Xuanze dengan suara berat yang menggelegar di ruang bawah tanah, "maka keluargamu di desa utara akan dijamin keselamatannya. Namun, jika kau memilih untuk melindungi mereka yang ada di istana... maka bukan hanya nyawamu yang melayang malam ini, melainkan seluruh garis keturunanmu akan dihapus dari catatan sipil kekaisaran."
Ancaman mutlak dari sang kaisar akhirnya meruntuhkan pertahanan terakhir sang kasim. Air mata bercampur keringat mengalir deras di wajah kotor pria itu. Dengan suara terbata-bata dan gemetar ketakutan, ia akhirnya membuka mulut.
"Ampuni hamba... ampunilah keluarga hamba, Yang Mulia!" teriak kasim itu putus asa. "Benar... hamba disuap oleh pelayan kepercayaan Selir Mei atas perintah Menteri Muda Mei Lin. Mereka menjanjikan lima puluh keping emas jika hamba berhasil membuat Permaisuri terpeleset di kuil leluhur. Dan... dan mengenai racun, Tabib Lu memang bekerja sama langsung dengan faksi Perdana Menteri untuk memastikan tidak ada pewaris takhta lain selain garis keturunan yang mereka setujui!"
Pengakuan itu meluncur terang-terangan, menggema di dinding-dinding batu ruang bawah tanah yang basah. Tang Xuanze mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih, amarah yang membara di dalam dadanya nyaris meledak. Namun, sebelum kaisar sempat mengeluarkan titah eksekusi mati di tempat, Qingran mengangkat tangannya pelan, menghentikan amarah suaminya dengan tatapan penuh perhitungan strategis.
"Bagus," ucap Qingran dingin. "Simpan pengakuan ini di hadapan para saksi dewan menteri esok pagi. Jangan sentuh nyawanya malam ini, biarkan dia tetap hidup di sel tahanan pengawal istana sampai matahari terbit."
Keesokan paginya, ketika fajar baru saja menyingsing dan Aula Audiensi Utama kembali dibuka untuk sidang pagi, suasana terasa jauh lebih mencekam dibanding dua minggu lalu. Puluhan menteri berdiri dalam ketegangan yang luar biasa, menyadari bahwa ada sesuatu yang besar sedang dipersiapkan oleh sang permaisuri.
Perdana Menteri Gao berdiri di barisan paling depan dengan ekspresi wajah yang tampak tenang di luar, meskipun ada rasa gelisah yang merayap di dadanya sejak kabar penangkapan kasim semalam mulai terdengar samar-samar di kalangan istana.
Kaisar Tang Xuanze duduk di atas singgasana naga emas dengan tatapan yang menghujam tajam ke arah para pejabat tinggi. Di sisi kanannya, Mu Qingran berdiri anggun mengenakan jubah kebesarannya, memegang sebuah gulungan dokumen bertuliskan cap resmi istana.
"Hari ini," suara Tang Xuanze memecah keheningan aula, terdengar begitu berat dan berwibawa, "sidang istana tidak akan membahas masalah petisi suksesi yang kalian agungkan. Hari ini, kita akan membuka lembaran hitam mengenai pengkhianatan, percobaan pembunuhan terhadap keluarga kekaisaran, dan korupsi birokrasi yang melibatkan pejabat tinggi istana."
Seketika, ruangan besar itu mendadak gaduh. Beberapa menteri senior saling berbisik dengan wajah pucat pasi. Perdana Menteri Gao melangkah maju, membungkuk kaku sambil mencoba mempertahankan wibawanya.
"Yang Mulia... pengkhianatan macam apa yang Anda maksud? Mohon berikan bukti yang jelas sebelum menjatuhkan tuduhan kepada para pejabat setia istana," ucap Gao dengan suara bergetar tertahan.
Qingran tersenyum tipis. Ia melangkah maju satu langkah, lalu memberikan isyarat kepada pengawal istana untuk membuka pintu besar aula. Dua orang pengawal menyeret masuk sosok kasim semalam yang sudah dalam keadaan babak belur, melemparkannya tepat di tengah lantai marmer hitam di hadapan para menteri. Di belakangnya, Tabib Lu—yang baru saja ditangkap di kediamannya—juga digelandang paksa dengan tangan terborgol rantai besi.
"Perdana Menteri Gao," suara Qingran meluncur tajam, memotong napas setiap orang di ruangan itu. "Kau meminta bukti? Inilah bukti hidup dari rencana busuk yang dirancang oleh klanmu, Menteri Muda Mei Lin, dan Selir Mei untuk mencelakai nyawaku di Kuil Leluhur serta meracuni garis keturunan istana secara perlahan."
Kasim dan Tabib Lu secara bergantian membongkar seluruh pengakuan mereka di hadapan majelis agung, menyebutkan aliran dana, nama-nama pejabat yang terlibat, hingga dokumen rahasia yang selama ini disembunyikan di bawah meja birokrasi departemen domestik. Wajah Perdana Menteri Gao berubah menjadi putih seputih kapas; lututnya mendadak lemas, hampir membuatnya tersungkur di lantai marmer jika ia tidak segera menahan tubuhnya dengan kedua tangan di atas tongkat kayunya.
Skakmat mutlak. Kali ini, tidak ada lagi ruang bagi faksi menteri kolot untuk berkelit atau menyelamatkan diri dari jeratan hukum besi Kekaisaran Zhengzhou. Di atas singgasana kekuasaan, Mu Qingran dan Tang Xuanze berdiri bersisian, membuktikan kepada seluruh dunia bahwa singgahsana mereka tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh intrik murahan di balik bayang-bayang.
Author mau kasih tahu nih. Author cuti dua minggu untuk gak nulis dulu karena kesibukan author yang berada diperantauan juga. Jadi, untuk pembaca baca dulu karya lain author ya. jika nanti author kembali pastinya author akan kasih kejutan yang menarik lagi untuk karya selanjutnya.
Siapa nih yang suka intrik istana? kalian bisa request sama author mau dibuatkan novel tema Intrik istana, kultivasi, atau poliandri yang lagi trend sekarang.
kebetulan author lagi nulis karya baru dikertas jadi rilisnya kemungkinan juga bulan September.
Semoga kalian suka karya lain author ya🥰🥰
Terimakasih dukungan kalian untuk author🥰 author akan menulis karya yang lebih menarik dan matang lagi alurnya.
byebye🥰