Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.
Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.
Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.
Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kambing Hitam
Sesampainya di kantor Polda, Nino dan Asep langsung menghadap Miko. Keduanya langsung melaporkan hasil penyelidikan hari ini. Nino memperlihatkan chat yang ada di ponsel kedua Nilan.
“Jika dilihat dari chat ini, bisa dibilang Rama memiliki motif untuk membunuh Nilan. Tetapi satu chat ini belum cukup kuat.”
“Aku tahu. Tapi tidak ada salahnya kalau kita menahannya untuk sementara waktu.”
“Nino benar, Ndan. Chat Rama sangat mencurigakan. Sebaiknya keluarkan surat penahanan untuknya.”
“Aku bisa saja mengeluarkannya. Tapi kalian juga harus menggali apa motifnya membunuh Riri. Bukankah dia bilang tidak mengenalnya.”
“Tapi kita juga belum bisa memastikan pengakuannya benar atau bohong.”
“Kami akan ke klub lagi. Siapa tahu ada pegawai di sana yang pernah melihat Rama sebelumnya.”
“Ya, lakukan saja. Surat penahanan untuk Rama akan segera kukeluarkan.”
“Oh ya, Ndan. Ada undangan dari dokter Bagas. Malam minggu ini dia merayakan anniversary pernikahan dan meminta komandan datang bersama keluarga.”
“Kalian mau datang?” Miko malah bertanya balik.
“Mau dong.”
“Dengan siapa? Cuma berdua aja? Nggak bosan ngejomblo terus? Masa kalah sama Ahqam dan Eris,” ledek Miko sambil terkekeh.
Meski Miko tidak bisa melihat Ahqam, pria itu tahu perkembangan tentang khodam milik Asep tersebut.
Dia kerap dijadikan tong sampah oleh duo kancing cetet saat mengeluhkan sikap absurd dan menyebalkan Ahqam.
Wajah Asep dan Nino langsung berubah masam. Hal itu membuat Miko semakin tergelak.
“Kita jomblo karena salah Komandan,” celetuk Asep.
“Lho, kenapa jadi salahku?”
“Kalau Komandan nggak kasih kita tugas terus-terusan, mungkin kita udah punya pacar.”
“Ngeles aja. Dulu aku masih sempat menjalin hubungan dengan Yara di sela-sela tugasku. Bilang aja kalian nggak laku,” jawab Miko sambil terkekeh.
Nino dan Asep mendengus bersamaan. Miko senang sekali meledek mereka. Dipikir-pikir perilaku Miko sama menyebalkan seperti Ahqam.
“Tiba-tiba jadi kangen Bang Iqbal. Gimana kabar Bang Iqbal sekarang?” tanya Asep mengalihkan pembicaraan agar mereka tidak terus-menerus terkena ledekan Miko.
“Iqbal baru saja dipindahkan ke Lampung.”
“Kayaknya karier Bang Iqbal makin bagus aja nih.”
“Iya, dong. Sejak menikah, kariernya semakin menanjak. Makanya kalian cepat-cepat cari pasangan gih. Biar kalian nggak disangka kaum pelangi, ke mana-mana berdua terus.”
“Astaga.”
“Hahaha!”
Nino dan Asep memilih segera keluar dari ruangan Miko. Jika tidak, sang atasan akan terus meledek mereka. Sambil menunggu surat perintah penangkapan Rama, keduanya beristirahat dulu di meja masing-masing.
Lima belas menit kemudian surat perintah penangkapan keluar. Nino meminta personel lain untuk menjemput Rama. Sementara dirinya dan Asep akan mendatangi klub Butterfly.
Tak sampai dua puluh menit keduanya sudah tiba di klub Butterfly. Sejak terjadi razia dua malam lalu, klub ini baru beroperasi kembali. Belum banyak pengunjung yang datang. Mungkin mereka takut ada razia lagi.
Nino dan Asep mendekati meja bar. Nino meminta bartender mendekat dengan menggerakkan jarinya.
“Apa kamu pernah melihat pria ini datang ke sini?” Nino menunjukkan foto Rama.
Untuk sesaat sang bartender terdiam. Beberapa detik kemudian dia menganggukkan kepalanya.
“Apa dia sering ke sini?”
“Tidak juga. Hanya sesekali saja.”
“Apa ada yang bersamanya saat datang?”
“Ehm … sepertinya tidak.”
“Apa saja yang dia lakukan kalau datang?”
“Paling hanya duduk di sini sambil memandangi pengunjung.”
“Apa dia pernah menyewa LC?”
“Tidak pernah.”
“Apa dia pernah mendekati Riri?”
“Riri? Dia memang pernah menanyakan padaku. Sepertinya dia tertarik pada Riri, tapi tidak pernah berani mendekatinya.”
“Baiklah, terima kasih.”
Setelah menanyakan beberapa pertanyaan, Nino dan Asep mencari pegawai lain. Dari beberapa pegawai yang mereka tanyai, ada tiga orang yang pernah mengaku melihat Rama di klub ini. Begitu dirasa cukup, keduanya segera kembali ke kantor.
Saat mereka tiba di kantor, Rama juga sudah berada di ruang interogasi. Personel yang menjemputnya langsung menempatkan pria itu di ruang interogasi. Miko sendiri yang melakukan interogasi kepada Rama.
“Apa benar Anda menjalin hubungan rahasia dengan Nilan?” tanya Miko.
“I-Iya.”
Rama cukup terkejut hubungannya dengan Nilan sudah diketahui pihak kepolisian. Pria itu kembali dibuat terkejut saat Miko menunjukkan ponsel milik Nilan.
Di dalam galeri terdapat banyak foto-foto dirinya dan Nilan. Bahkan ada beberapa video berdurasi singkat juga.
“Berapa lama Anda menjalin hubungan dengan Nilan?”
“Sekitar satu tahun.”
“Dari chat kalian, sepertinya Nilan ingin mengakhiri hubungan kalian.”
Rama mengangguk pelan seraya menundukkan kepala. Perasaannya pada Nilan sudah terlalu mendalam.
Karena itu, saat Nilan meminta putus, dia tidak menerimanya. Pria itu tidak henti menelepon dan mengirimkan pesan pada Nilan. Memohon agar wanita itu mau kembali padanya.
Namun Nilan tetap tak merespons. Hal itu membuat Rama kesal hingga akhirnya dia mengirimkan pesan yang mengancam.
“Karena kecewa Nilan mengabaikan Anda, Anda akhirnya memutuskan membunuh Nilan.”
“Tidak. Saya tidak membunuhnya,” jawab Rama cepat seraya menggelengkan kepalanya.
“Lalu bagaimana dengan pesan ancaman ini?”
Miko memperlihatkan pesan terakhir Rama yang mengancam Nilan.
“Saya mengancamnya karena emosi. Tapi sungguh, bukan saya yang membunuhnya.”
“Saat malam kematian Nilan, Anda juga tidak memiliki alibi.”
“Saya memang mengikuti bus yang ditumpanginya sampai ke daerah rumahnya. Tapi setelah itu saya langsung pergi, sumpah.”
“Sumpah Anda tidak berlaku di sini. Hanya bukti dan saksi yang bicara. Kalau Anda memang tidak membunuh Nilan, katakan dengan jelas di mana Anda berada saat pembunuhan Nilan terjadi dan siapa yang bisa membuktikan alibi Anda.”
Rama semakin tertunduk dalam. Kebetulan, tidak seorang pun yang bisa membuktikan alibinya.
Terdengar ketukan di pintu ruangan. Tak berapa lama kemudian muncul salah seorang personel. Dia memberikan catatan pada Miko. Catatan itu dititipkan Nino untuk diserahkan kepada atasannya.
“Saat kematian Riri, Anda tertangkap kamera CCTV di klub Butterfly. Apa yang Anda lakukan di sana?”
“Saya hanya ingin melepaskan penat.”
“Apa Anda sering datang ke klub itu?”
“Tidak. Kemarin adalah yang pertama.”
“Benarkah? Pegawai di sana ada yang mengatakan Anda cukup sering datang ke sana.”
“Itu pertama kalinya saya datang ke sana,” Rama bersikeras.
“Lebih baik Anda mengatakan yang sejujurnya. Hukuman yang Anda terima bisa lebih ringan jika Anda mengaku.”
“Saya tidak membunuhnya! Tidak membunuhnya!” Rama sedikit meninggikan suaranya sambil menggebrak meja.
Miko bangkit dari kursinya. Pria itu segera keluar dari ruang interogasi. Dia memerintahkan personel yang berjaga di depan ruang interogasi untuk memasukkan Rama ke dalam sel.
Rama hanya bisa pasrah saat salah seorang petugas mengeluarkannya dari ruang interogasi. Pria itu kemudian dimasukkan ke dalam sel.
Dia duduk sambil menyandarkan punggungnya ke dinding di belakangnya. Pandangannya lurus ke depan dan tampak kosong.
Miko kemudian memanggil Nino dan Asep ke ruangannya. Mereka mendiskusikan penahanan yang dilakukan pada Rama.
“Untuk saat ini kita bisa menahannya untuk sementara. Tapi kalian tahu, Rama bisa saja lolos jika tidak ada bukti kuat bahwa dia adalah pembunuhnya.
Kalian harus bekerja lebih keras lagi. Sebenarnya aku tidak begitu yakin jika Rama pelakunya.”
“Siap, Komandan.”
***
Di sebuah unit apartemen, seorang pria sedang duduk santai di sofa. Matanya terus memperhatikan layar laptop di depannya.
Pria itu sedang melihat rekaman CCTV di kantor Polda. Senyum tipis tersungging di bibirnya saat melihat Rama dijebloskan ke dalam sel.
Pria itu berhasil membuat Nino dan Asep mengikuti alur yang sudah dibuat olehnya.
“Untuk sementara nikmati kemenangan palsu kalian. Sebentar lagi aku akan memberikan hadiah untuk kalian. Hahaha!”
***
Jadi pembunuhnya Rama apa bukan?
Ini penampakan Pradipta versiku