Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.
Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.
Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.
Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24 — Menyimpan Bukti Diam-Diam
Mau menjebakku? Kita lihat siapa yang menyimpan lebih banyak bukti.
Keesokan paginya, Raka dan Beni memutar ulang audio pertemuan tanpa mengubah berkas asli.
Beni membuat salinan kerja, mencatat waktu pembuatan file, lalu menyimpan nilai hash bersama foto survei. Audio itu terdengar biasa jika dipotong: tawaran minum, pembayaran cepat, suara Deni masuk, dan pertanyaan Sherly yang tersinggung.
Dalam urutan penuh, polanya berbeda.
Sherly enam kali menyebut transfer.
Ia tidak sekali pun menjawab bahan dinding, aturan gedung, jenis giok, fungsi ruang, atau jadwal pemakaian. Deni masuk tepat setelah Sherly berdiri dekat Raka. Suara pintu bahkan terdengar sebelum Deni mengaku baru datang dari mobil.
"Dia sudah ada di luar unit," kata Beni.
"Kemungkinan. Jangan tulis sebagai fakta sebelum ada rekaman pintu."
"Dan vas?"
"Belum jatuh. Belum ada kerusakan. Kita hanya catat posisinya."
Beni bersandar. "Kalau gue jadi mereka, gue bakal potong bagian Bu Sherly mendekat, lalu sambung ke Deni masuk."
"Tambahkan judul yang menuduh saya mengganggu klien. Setelah itu, vas dibuat pecah dan mereka minta uang agar video tidak disebar."
"Lo ngomongnya kayak baca proposal proyek."
"Karena mereka juga bekerja pakai tahapan."
Notifikasi bank berbunyi.
Transfer masuk Rp50.000.000 ke rekening usaha Studio Nusa Karya. Pengirimnya rekening atas nama perusahaan yang tidak pernah disebut Aris. Keterangan transaksi hanya berbunyi TANDA JADI SHERLY.
Satu menit kemudian, Aris mengirim tangkapan layar.
Bu Sherly sudah menunjukkan keseriusan. Jangan kecewakan beliau.
Beni menatap angka itu. "Kita tidak pernah kasih invoice."
"Rekening Studio tercantum di katalog publik. Mereka sengaja mengirim tanpa kontrak."
Raka tidak memindahkan atau memakai dana tersebut. Ia mengunduh mutasi bank, menyimpan pesan Aris dengan tautan dan waktu, lalu menghubungi bank melalui kanal resmi untuk meminta prosedur pengembalian transaksi yang tidak memiliki dasar tagihan.
Petugas meminta laporan tertulis dan verifikasi tujuan pengembalian agar alirannya tetap dapat dilacak.
"Jangan transfer manual ke rekening lain yang mereka kirim belakangan," kata Raka kepada Beni. "Pengembalian hanya melalui asal dana dan instruksi bank."
Menjelang siang, Aris mengirim nomor rekening pribadi berbeda.
Kalau proyek belum jalan, kembalikan ke sini saja.
Beni mengangkat alis. "Terlalu cepat."
"Simpan."
Mereka tidak membalas nomor rekening itu. Raka hanya mengirim email resmi bahwa tidak ada kontrak/invoice, dana tidak akan digunakan, dan proses pengembalian sedang dilakukan melalui bank ke sumber asal.
Sore harinya, Raka kembali ke apartemen bersama Beni. Ia tidak meminta bertemu Sherly. Melalui meja layanan pengelola, ia menjelaskan bahwa calon klien mengundangnya sebagai vendor dan bahwa sebelum membuat proposal, Studio perlu memahami peraturan pekerjaan di unit tersebut.
Petugas perempuan memeriksa nomor unit.
"Itu unit contoh milik operator pemasaran, Pak. Bukan hunian pribadi."
"Apakah Bu Sherly tercatat sebagai pemilik atau penyewa?"
"Kami tidak bisa membuka data penghuni kepada pihak luar. Tapi unit itu memang bukan unit hunian."
Jawaban itu cukup. Raka tidak memaksa meminta nama.
Ia menunjukkan kartu kunjungan dari malam sebelumnya. "Jika kelak ada sengketa tentang kunjungan vendor, apakah rekaman lobi disimpan oleh pengelola?"
"Area umum dikelola gedung. Penyimpanan standar empat belas hari, bisa lebih lama bila sudah ditandai untuk insiden. Penyerahan rekaman harus melalui permintaan resmi pihak berwenang atau proses hukum yang sah."
"Kamera di dalam unit?"
"Bukan milik sistem keamanan gedung."
Beni mencatat kalimat itu tanpa mengambil gambar petugas. Raka meminta brosur tata tertib vendor yang tersedia untuk umum. Di dalamnya tercantum larangan pekerjaan basah tanpa izin, kewajiban daftar pekerja, jam angkut material, dan formulir perlindungan area.
Tidak satu pun pernah dibahas Sherly.
Petugas keamanan yang berjaga malam sebelumnya mengenali Raka saat mereka hendak pergi.
"Survei yang kemarin, ya, Pak? Cepat sekali keluarnya."
"Bapak yang mendaftarkan saya?"
"Iya. Tamu vendor Studio Nusa Karya, pukul tujuh lewat."
"Apakah Bapak melihat saya datang atau pulang bersama Bu Sherly?"
Satpam itu menggeleng. "Bapak datang dengan Pak Deni dari lobi. Pulangnya sendirian. Bu Sherly tidak turun."
Raka mengangguk. "Terima kasih. Kalau nanti pihak kepolisian meminta keterangan tentang catatan masuk, apakah Bapak bersedia menjelaskan yang Bapak lihat?"
Wajah satpam berubah waspada. "Ada masalah?"
"Belum ada laporan. Saya hanya memastikan prosedur bila muncul sengketa."
"Kalau resmi, saya jawab sesuai catatan."
Raka tidak meminta janji lebih jauh. Nama petugas, jam tugas, dan nomor meja layanan sudah ada pada kartu kunjungan. Kesaksian kelak harus diminta secara resmi, bukan diarahkan oleh calon pelapor.
Malamnya, mereka menemui Pengacara Wisnu.
Wisnu membaca kronologi, mutasi bank, email pengembalian, pesan rekening pribadi, brosur gedung, dan catatan percakapan dengan pengelola.
"Jangan kembali sendirian," katanya. "Jangan menyentuh barang mereka. Jangan menerima perubahan kontrak lewat percakapan lisan."
"Audio saya?"
"Simpan utuh. Bisa membantu kronologi dan pembelaan publik, tetapi jangan mengandalkannya sebagai satu-satunya alat bukti. Yang lebih penting: mutasi asli, pesan, saksi, log kunjungan, metadata, dan rekaman gedung yang nanti diminta melalui jalur resmi."
"Kapan lapor polisi?"
"Saat ada unsur konkret—ancaman meminta uang, tuduhan palsu yang disebar, kerusakan yang ditempelkan kepada Anda, atau rangkaian penipuan yang cukup. Kita dapat konsultasi awal sekarang dan menyiapkan draf laporan. Jika mereka bergerak, kita tidak mulai dari nol."
Wisnu meminta bank menandai sengketa transaksi dan mempertahankan jejak pengembalian. Ia juga menyiapkan surat permintaan preservasi CCTV agar, jika dasar hukumnya muncul, rekaman empat belas hari itu tidak otomatis terhapus sebelum penyidik meminta.
"Surat preservasi bukan hak untuk mengambil rekaman," tegasnya. "Kita hanya meminta data tidak dimusnahkan sementara. Pengelola boleh menilai sesuai kebijakan dan hukum."
Raka menyetujui tiap kata. Ia tidak butuh jalan belakang. Ia butuh jalur yang tetap berdiri ketika diuji.
Dalam perjalanan pulang, Bagas menelepon.
"Ben bilang lo lagi ngurus orang aneh. Jangan sok jagoan."
"Gue tidak mendatangi mereka sendirian lagi."
"Kalau harus ketemu, gue ikut."
"Lo gampang marah."
"Makanya gue berdiri jauh dan bawa air minum."
"Itu bukan pengamanan."
"Itu perkembangan karakter."
Raka hampir tertawa. "Kalau perlu, gue kabari."
Dua hari kemudian, bank mengonfirmasi proses pengembalian Rp50.000.000 ke rekening perusahaan pengirim. Nomor referensi keluar. Raka menyimpan bukti sebelum memberi tahu Aris lewat email.
Balasan Aris datang kurang dari lima menit.
Bu Sherly ingin menyelesaikan kontrak secepatnya. Datang Jumat malam. Kali ini jangan bawa terlalu banyak syarat.
Di bawah pesan itu ada jadwal pukul delapan dan nomor unit yang sama.
Beni membaca dari sisi meja. "Mereka masih mengundang setelah uang dikembalikan."
"Berarti uang bukan tujuan mereka."
"Lo mau datang?"
Raka menatap folder yang kini berisi audio utuh, hash, mutasi, bukti pengembalian, aturan gedung, nama saksi, lokasi CCTV, dan draf laporan.
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
"Jumat?" katanya. "Bagus. Itu hari yang gue tunggu untuk melihat mereka bergerak."