Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Ditinggalkannya

Rahasia Yang Ditinggalkannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: Momowen

Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.

Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.

Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salju Pertama

Di bawah langit yang kelabu, salju turun tanpa henti.

Sebuah Ferrari hitam berpindah jalur dengan liar di tengah padatnya lalu lintas.

Tiba-tiba, sebuah truk besar yang kehilangan kendali melaju dari arah berlawanan.

“Brak!”

Benturan keras itu meremukkan sisi pengemudi Ferrari hingga tak berbentuk.

Tim medis segera melakukan upaya penyelamatan.

Namun...

Mereka gagal.

Biiip—

Garis pada monitor detak jantung berubah menjadi garis lurus.

Chris Devallion dinyatakan meninggal di tempat.

Dunia seakan tenggelam dalam keheningan.

Silvia Pollis tersentak membuka mata.

Bibirnya sedikit terbuka saat ia menarik napas dalam-dalam, seolah baru saja berhasil merebut kembali udara yang nyaris hilang.

Kedua tangannya mencengkeram erat selimut.

Pantulan dari kaca bingkai foto di atas meja memperlihatkan rambutnya yang kusut berantakan.

Tok... Tok...

Suara ketukan terdengar dari balik pintu kamar.

"Nona, Nyonya meminta kita segera berangkat."

"Aku tahu."

Silvia berjalan menuju wastafel dan menatap pantulan dirinya di cermin.

Ia menangkupkan air dengan kedua telapak tangannya lalu membasuh wajah, berusaha membuat dirinya tampak sedikit lebih segar.

Di dalam lemari pakaian, sebuah gaun panjang berwarna hitam tampak begitu mencolok di antara deretan pakaian putih.

Ujung jemarinya perlahan mengusap kain gaun itu.

Tanpa disadari, air mata mulai menggenang di matanya.

Ruang Duka.

"Silvia, sebaiknya kamu beristirahat dulu. Belakangan ini kamu hampir tidak pernah tidur nyenyak. Jangan sampai kesehatanmu ikut memburuk."

Lingkaran hitam di bawah mata Silvia tampak begitu jelas.

Ia memandang Rosie yang terlihat sangat kelelahan.

"Tante..."

Suara Silvia terdengar serak.

"Tante juga harus banyak beristirahat."

Keheningan kembali menyelimuti ruangan begitu kata-kata itu selesai terucap...

Silvia mengangkat pandangannya ke arah para pelayat.

Di wajah mereka tersungging senyum tipis yang sengaja disembunyikan.

Tak ada kesedihan.

Tak ada penyesalan.

Justru sebaliknya...

Mereka tampak lega karena yang berbaring di dalam peti bukanlah diri mereka sendiri.

Pandangan Silvia perlahan beralih ke peti mati yang telah tertutup rapat.

Rasa sesak yang tak mampu ia jelaskan perlahan memenuhi dadanya.

Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram erat kain di dekat jantungnya.

Padahal... aku seharusnya tidak bisa merasakan sakit...

Lalu kenapa... rasanya begitu menyakitkan...?

Air mata perlahan mengalir di pipinya.

Tiba-tiba, sebuah kehangatan menyentuh lengannya.

Silvia mendongak.

Itu adalah Nelia Sillus.

“Sil..”

Suara Nelia terdengar begitu lembut.

Mata gadis itu sembap, jelas menunjukkan bawa ia telah banyak menangis.

Tanpa berkata apa pun, Silvia mengikuti Nelia dan duduk di kursi yang berada di sudut ruangan.

“Nelia.”

Suara seorang wanita yang lembut memecah keheningan.

“Ibu.”

Jawaban Silvia terdengar datar.

Di samping Meliana Qiros berdiri seorang pria muda dengan postur tegap.

Meliana melirik putrinya yang tampak semakin kurus dan pucar, lalu menarik pria di sampingnya agar maju beberapa langkah.

“Nelia, saya perkenalkan terlebih dahulu. Ini putraku, Kelvin Pollis.”

Nelia hanya mengernyit tipis.

“Hm.”

Jawabannya singkat sebelum kembali menundukkan kepala.

Melihat sikap dingin itu, Meliana buru-buru melanjutkan pembicaraannya.

“Kalau nanti kamu mau pulang, biar Kelvin yang mengantarmu balik.”

Karena Nelia tetap diam, ia kembali menambahkan.

“Kalian juga akan segera bertunangan. Tidak ada salahnya untuk mulai saling mengenal lebih dekat.”

“Bibi.”

Nelia memotong perkataannya dengan tenang.

“Aku tidak punta hak untuk menolak perjodohan yang diputuskan oleh kedua pihak keluarga demi urusan bisnis.”

“Tapi selama pertunangan itu belum benar-benar dilangsungkan, menurutku tidak perlu berpura-pura membangun perasaan yang palsu ini.”

Tatapannya beralih kepada Kelvin.

“Tuan Kelvin.”

“Kalau tidak ada urusan penting, sebaiknya jangan sering muncul di hadapanku.”

Nelia berdiri, lalu mengangkat telunjuknya dan menepuk pelan dada pria itu.

“Aku tidak suka melihatmu.”

Kelvin menatap gadis mungil di depannya tanpa perubahan ekspresi.

“Baik.”

Silvia menarik perlahan lengan Nelia.

“Nelia...aku ingin ke toilet.”

Nelia langsung menoleh.

Wajah Silvia tampak jauh lebih pucat daripada sebelumnya.

“Silvia, bentar...aku temani..”

Silcia baru saja hendak berbicara.

“Nelia!”

Suara seorang pria terdengar dari kejauhan.

Ayah Nelia sedang melambaikan tangan sambil tersenyum ke arah mereka.

Nelia tampak bimbang.

Tangannya masih menggenggam lengan Silvia dan sama sekali tidak berniat melepaskannya.

“Pergilah dulu.”

“Aku tidak apa-apa kok.”

Setelah ragu beberapa saat, Nelia akhirnya mengangguk pelan dan melepaskan tangannya.

Klik.

Pintu toilet terkunci rapat.

Silvia menangkupkan air dengan kedua telapak tangannya lalu membasuh wajah berkali-kali.

Namunn tiba-tiba...

Rasa asam memenuhi tenggorokannya.

Ia spontan memegangi perutnya.

Tubuhnya terhuyung hingga hampir kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya berhasil menopang diri di sisi kloset.

Rasa mual yang begitu kuat membuatnya terus muntah kering.

Beberapa helai rambut menempel berantakan di pipinya.

Kedua matanya memerah.

Dengan tubuh yang lemas, Silvia bersandar di samping kloset.

Saat itulah..

Ponsel yang dilemparkannya ke lantai tiba-tiba bergetar.

Pengirim : Chris Devallion.

Jantung Silcia seakan berhenti berdetak dalam sekejap itu.

Matanya memerah seketika.

Dengan tangan yang gemetar, ia segera membuka pesan itu.

Suara yang begitu dikenalnya perlahan terdengar.

“Si Bodoh...”

“Kalau kamu bisa mendengarkan pesan ini...”

“Kurasa...aku sudah tidak ada.”

Batuk pelan terdengar dari seberang rekaman.

Di kejauhan, samar-samar terdengar suara dokter yang memintanya segera beristrirahat.

Air mata Silvia kembali mengalir tanpa bisa dihentikan.

Ia menutup mulutnya rapat-rapat agar isaknya tidak terdengar.

“Si Bodoh...”

“Aku sebenarnya penasaran sih...apakah nanti kamu akan menangis karena kepergianku.”

“Heh...”

“Mungkin tidak bakalan, ya.”

“Dasar gadis yang tidak punya hati.”

Batuknya kembali terdengar.

“Si Bodoh...”

“Kali ini...”

“Aku benar-benar tidak bisa pulang lagi.”

“Kamu harus hidup dengan baik-baik, meskipun nggak ada aku di samping lagi tahu?”

Rekaman itu terdiam cukup lama.

Baru beberapa saat kemudian suaranya kembali terdengar.

“Kalau begitu...”

“Pergilah ke luar negeri.”

“Aku punya beberapa teman baik di sana.”

“Mereka akan menggantikanku untuk menjagamu disana.”

“Si Bodoh...”

“Aku sudah rindu denganmu...”

“Sayangnya...sepertinya kita tidak bisa bertemu lagi.”

Batuk keras kembali terdengar.

“Tuan Muda!”

Seseirang memanggil dari kejauhan.

Suara Chris semakin lirih.

“...Tunggu aku...”

Rekaman itu berakhir.

Pada saat yang sama, layar ponsel Silvia berkedip pelan.

Email itu...

Menghilang.

Silvia menatap layar kosong hpnya itu tanpa berkedip.

Jarinya terus menarik layar ke bawah untuk menyegarkan kotak masuk.

Sekali.

Dua kali.

Sepuluh kali.

Tetap saja tidak ada apa-apa.

Seolah-olah rekaman tadi...tidak pernah ada sejak awal.

“Chris...”

“Dasar si Pembohong...”

Silvia meringkuk di sudut ruangan.

Keningnya menempel pada dinding yang dingin.

Berkali-kali ia memanggil nama pria itu.

Air matanya jatuh satu demi satu membasahi layar ponsel yang telah padam.

Hingga layar itu benar-benar gelap...

Tangannya pun perlahan terkulai tanpa tenaga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!