Mobil mogok di depan sebuah rumah makan sederhana mempertemukan Dawin, pasukan khusus elite yang tegas namun berhati lembut, dengan Kwila, perawat baik hati dari keluarga Lidar. Pertemuan yang tak terduga itu berubah menjadi cinta yang tumbuh di tengah bahaya, ketika keluarga Kwila justru menjadi incaran organisasi kriminal BlackSystem yang begitu ditakuti. Antara tugas melindungi negara dan menjaga wanita yang dicintainya, Dawin harus menghadapi pengkhianatan, pengejaran, dan pertaruhan nyawa sementara Kwila belajar bahwa cinta sejati kadang datang justru saat dunia terasa paling berbahaya. Namun kisah ini tak berhenti di pelaminan. “Dawin dan Kwila” adalah saga keluarga yang membentang lintas generasi merayakan pernikahan, kelahiran, perjuangan mengejar mimpi, hingga anak-anak mereka tumbuh dewasa dan menemukan cinta serta jalan hidup masing masing. Dari aksi menegangkan hingga kehangatan meja makan keluarga, novel 150 bab ini adalah perjalanan panjang tentang keberanian, penebusan, dan bagaimana kebaikan kecil bisa berbuah kebahagiaan yang tak pernah berhenti bertumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarang ular bernama BalckSystem
Piku berlari sepanjang gang sempit menjauhi Good Resto tersebut, wajahnya masih menyimpan kemarahan dan rasa malu yang begitu besar akibat kekalahan memalukan yang baru saja dia alami di depan orang-orang yang selama ini selalu tunduk terhadap ancamannya. Dia terus berjalan cepat hingga akhirnya tiba di sebuah gudang tua di pinggiran kota, tempat yang dari luar tampak biasa saja, namun di dalamnya menyimpan salah satu markas operasi milik BlackSystem, organisasi mafia terbesar di kota tersebut.
Beberapa pria berbadan kekar berjaga di pintu masuk gudang tersebut, mengenali Piku dan segera membiarkannya masuk tanpa banyak bertanya. Di dalam gudang tersebut, suasana jauh berbeda dari kesan kumuh yang ditampilkan dari luar, dengan berbagai peralatan modern, komputer, serta beberapa kotak yang diduga berisi barang-barang ilegal tersusun rapi di sudut ruangan.
"Piku, kenapa lo kelihatan babak belur gitu?" tanya salah satu anak buah lain, seorang pria bertubuh lebih kurus bernama Rangga, yang kebetulan sedang berada di ruangan tersebut memeriksa beberapa dokumen transaksi.
"Diem lo, Rangga. Ini bukan urusan lo," bentak Piku dengan nada yang masih dipenuhi kemarahan, tidak ingin mengakui kekalahannya di hadapan rekan yang selama ini menjadi saingannya dalam memperebutkan posisi lebih tinggi di organisasi tersebut.
Rangga hanya mengangkat bahu, menyembunyikan senyum sinis yang muncul menyaksikan kondisi Piku yang begitu kacau tersebut, sebuah kesempatan yang mungkin bisa dia manfaatkan nanti untuk menjatuhkan posisi rival tersebut di mata Bos Tiger. Piku melangkah menuju ruangan lebih dalam, tempat sang bos besar biasa menerima laporan dari seluruh anak buahnya.
Ruangan tersebut jauh lebih mewah dibandingkan area gudang lainnya, dengan perabotan kayu jati yang mengkilap serta sebuah meja besar tempat seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun duduk dengan wibawa yang begitu mengintimidasi. Pria tersebut adalah Bos Tiger, pemimpin tertinggi BlackSystem, sosok yang ditakuti seluruh anak buahnya karena kekejaman dan kelicikannya dalam menjalankan bisnis gelap tersebut.
"Piku, kenapa mukamu babak belur begitu? Laporan soal Lidar gimana?" tanya Bos Tiger dengan suara berat, matanya menatap tajam ke arah anak buahnya tersebut, seolah bisa membaca kegagalan yang baru saja terjadi hanya dari ekspresi wajah Piku.
"Bos, ada orang asing yang tiba-tiba ikut campur waktu saya lagi negosiasi sama Lidar. Dia pake seragam militer, kemampuan bertarungnya nggak main-main," lapor Piku dengan nada yang berusaha menyembunyikan rasa malunya, meski keringat dingin mulai membasahi keningnya menghadapi tatapan tajam sang bos tersebut.
Mendengar laporan tersebut, Bos Tiger terdiam sejenak, alisnya sedikit terangkat mendengar detail mengenai lawan yang berhasil mengalahkan salah satu anak buahnya dengan begitu mudah tersebut. "Seragam militer? Kesatuan apa?"
"Saya nggak sempet liat jelas, Bos. Tapi gerakannya cepet banget, kayak orang yang udah terlatih khusus," jawab Piku, mengingat kembali betapa mudahnya dia dikalahkan oleh pemuda tersebut tanpa sempat memberikan perlawanan yang berarti.
Bos Tiger menyandarkan tubuhnya ke kursi, merenungi informasi tersebut dengan ekspresi yang sulit ditebak. Sebagai mantan anggota pasukan khusus elite sendiri sebelum akhirnya berkhianat dan membangun kerajaan bisnis gelapnya tersebut, dia tahu betul betapa berbahayanya seseorang yang telah melalui pelatihan militer khusus tersebut.
"Dulu, sebelum saya pilih jalan ini, saya juga pernah jadi bagian dari pasukan elite. Kalau bener yang lo hadapin itu anggota pasukan khusus, jangan pernah remehkan dia," ujar Bos Tiger dengan nada yang tiba-tiba berubah lebih serius, mengenang kembali masa lalunya yang begitu berbeda dari kehidupan gelap yang kini dia jalani.
Piku terdiam, tidak menyangka bosnya tersebut ternyata pernah memiliki latar belakang militer yang serupa dengan pemuda yang baru saja mengalahkannya tersebut. "Terus gimana, Bos? Saya udah janji bakal hancurin resto itu."
"Untuk sementara, kita amati dulu. Jangan gegabah, apalagi kalau memang ada tentara yang terlibat, bisa bahaya buat operasi kita secara keseluruhan," instruksi Bos Tiger dengan penuh perhitungan, tidak ingin gegabah mengambil tindakan yang bisa membahayakan seluruh jaringan bisnis gelap yang telah dia bangun selama bertahun-tahun tersebut.
Setelah Piku keluar dari ruangan tersebut, Bos Tiger duduk sendirian, pikirannya melayang jauh ke masa lalu, mengenang kembali masa-masa ketika dia masih menjadi bagian dari pasukan khusus elite, sebelum akhirnya tergoda oleh kekayaan dan kekuasaan yang ditawarkan dunia gelap tersebut. Dia teringat pada seorang sahabat karib yang dulu selalu bersamanya dalam berbagai misi berbahaya, seorang pria yang kini menjabat sebagai komandan di kesatuan militer yang sama, seseorang bernama Kapten Endrik.
"Kapten Endrik... masih di sana ya sekarang," gumam Bos Tiger pelan pada dirinya sendiri, teringat pada persahabatan yang dulu begitu erat sebelum akhirnya jalan hidup mereka berpisah begitu jauh, satu memilih tetap setia pada tugas negara, satu lagi memilih jalan gelap demi kekayaan yang tidak pernah dia dapatkan selama bertahun-tahun mengabdi sebagai tentara dengan gaji yang begitu minim tersebut.
Sementara itu, di sudut lain gudang tersebut, Rangga yang menyaksikan kegagalan Piku tadi, mulai menyusun rencana sendiri untuk memanfaatkan situasi tersebut demi kepentingannya sendiri. Dia mendekati salah satu anak buah lain yang cukup dekat dengannya, membisikkan rencana untuk melaporkan kegagalan Piku tersebut secara berlebihan kepada Bos Tiger, berharap bisa menjatuhkan posisi rivalnya tersebut sekaligus menaikkan posisinya sendiri di mata sang bos besar.
"Kalau Piku terus gagal kayak gini, cepat atau lambat Bos bakal ganti dia sama orang lain. Kenapa nggak kita yang ambil kesempatan itu?" bisik Rangga kepada rekannya tersebut, mata nya berbinar penuh ambisi yang tersembunyi di balik topeng kesetiaan yang selama ini dia tunjukkan kepada organisasi tersebut.
Persaingan internal yang mulai terbentuk di antara para anak buah BlackSystem tersebut, meski belum terlihat jelas oleh Bos Tiger sendiri, akan segera menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi jalannya konflik besar yang akan datang, sebuah konflik yang akan melibatkan tidak hanya organisasi mafia tersebut, namun juga keluarga sederhana pemilik Good Resto, seorang perawat bernama Kwila, dan seorang anggota pasukan khusus elite bernama Dawin, yang tanpa mereka sadari, baru saja menjadi bagian dari sebuah cerita besar yang akan mengubah nasib banyak orang di kota tersebut.
Malam itu, ketika Piku kembali menyusuri jalanan kota dengan hati yang masih dipenuhi dendam, dia bersumpah dalam hati untuk segera membalaskan rasa malu yang telah dia terima, sebuah sumpah yang akan segera membawa bencana besar bagi keluarga Lidar yang selama ini hanya ingin menjalani hidup sederhana dengan restoran kecil mereka tersebut, tidak menyangka bahwa kebaikan mereka menolong seorang pemuda asing di hari itu, justru akan mengubah seluruh arah takdir hidup mereka menuju babak yang jauh lebih besar dan berbahaya dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.