Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.

Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Sinar matahari pagi menembus kabut tipis di lereng pegunungan Bandung, menyiram teras rumah panggung dengan cahaya keemasan, Bau harum bumbu kacang dan adonan gorengan segar menusuk hidung, menciptakan suasana pagi desa yang begitu tenteram.

​Di teras depan, Sarah yang mengenakan pakaian ala pramugari tampak sibuk merapikan beberapa toples bumbu kacang racikan Kinanti ke dalam tas motor. Sementara itu, Lingga yang bergaya rambut mullet sedang mengelap kaca spion motor besarnya seraya bersiul santai.

​"Mbak Kinanti, makasih banyak ya buat bumbu kacangnya!" ujar Sarah ceria seraya memeluk hangat Kinanti. "Nanti kalau aku sama Lingga main ke sini lagi, kita bikin kuliner yang lebih banyak ya!"

​Kinanti membalas pelukan itu dengan senyum tulus. "Sama-sama, Mbak Sarah. Hati-hati di jalan ya. Jangan biarin Mas Lingga ngebut-ngebut bawa motornya!"

​"Pasti, Mbak! Kalau dia ngebut, aku jewer telinganya sepanjang jalan!" sahut Sarah seraya melirik tajam ke arah Lingga.

​Lingga tertawa terkekeh, mengacak rambut mullet-nya pelan. "Aduh, galaknya kumat lagi. Yaudah Bos, gua sama Sarah balik ke Jakarta dulu ya. Anak-anak The White Dragon tetap gua tempatkan di ring dua luar desa buat pantau situasi."

​Arka menepuk bahu Lingga tegas. "Hati-hati di jalan, Ngga. Thanks buat semuanya."

​Dengan deru mesin motor besar yang menggelegar halus, Lingga dan Sarah melaju meninggalkan pelataran rumah, meliuk-liuk menembus jalanan tanah perkebunan teh menuju jalan raya kota.

​Kinanti menyandarkan kepalanya di dada bidang Arka seraya memeluk pinggang suaminya dari samping. "Mas... aku seneng banget punya teman kayak Mbak Sarah sama Mas Lingga. Rumah kita jadi berasa ramai."

​Arka tersenyum lembut, merangkul bahu istrinya dan mendaratkan kecupan hangat di pelipis Kinanti. "Nanti kalau ada waktu luang, kita yang main ke tempat mereka, Sayang."

​"Beneran ya, Mas?" tanya Kinanti antusias dengan mata berbinar.

​"Beneran, Istriku," sahut Arka mulus.

​Arka mengusap lembut pipi Kinanti, menyunggingkan senyum hangat tanpa cela. "Sayang, Mas mau ke warung Pak Haji di dekat persimpangan sebentar ya. Mau beli minyak goreng tambahan sama kopi item"

​"Mau dianter nggak, Mas? Atau aku ikut?" tawar Kinanti penuh perhatian.

​"Nggak usah, Kin. Kamu istirahat aja di dalem, kayaknya kamu masih agak capek bekas kemarin," jawab Arka lembut seraya mengecup dahi Kinanti. "Mas cuma sebentar kok."

​Kinanti mengangguk penurut, lalu melangkah masuk ke dalam rumah panggung untuk merapikan dapur.

​Begitu pintu rumah tertutup rapat, senyum hangat di wajah Arka meluap tanpa sisa. Pandangannya membeku, berubah menjadi tatapan pemangsa dingin. Pria itu menyelinap masuk ke balik kerimbunan pepohonan pinus, bergerak memutar menembus kabut tebal tanpa menimbulkan suara gesekan daun sedikit pun.

​Sekitar tiga ratus meter dari posisi rumah, di atas dahan pohon pinus yang tinggi, seorang pengintai dari Club Strawberry berbaring tengkurap. Ia mengenakan pakaian penyamaran seperti dedaunan yang menempel ditubuh nya(ghillie suit) dan mengarahkan teropong lensa jarak jauhnya ke arah teras rumah Arka.

​"Target pria sedang melangkah keluar dari area rumah... tapi hilang dari visual. Ulangi, target hilang dari visual," bisik pengintai itu melalui earpiece rahasia.

​"Cari dia sekarang," sahut suara berat dari komando pusat melalui perangkat komunikasinya.

​"Tidak perlu cari jauh-jauh. Aku ada di sini."

​Suara amat rendah itu berbisik tepat di samping telinga sang pengintai.

​Sebelum pria bersenjata itu sempat menoleh atau menarik pemicunya, Arka yang sudah berada di dahan pohon yang sama mencengkeram leher musuh dari belakang. Dengan satu tekanan presisi di titik saraf bahu dan leher, Arka melumpuhkan sistem motorik pria itu seketika. Perangkat teropong dan senjatanya berhasil ditangkap oleh Arka sebelum jatuh ke tanah.

​Arka menurunkan tubuh pengintai yang sudah tak sadarkan diri itu ke dasar pohon secara senyap, lalu mencabut earpiece dari telinga musuh dan memasangnya ke telinganya sendiri.

​"Poin Dua, laporkan situasi! Mengapa diam?!" teriak suara dari seberang saluran radio komunikasi Club Strawberry.

​Arka menyesap udara dingin hutan pinus, lalu berbicara dengan suara amat datar yang sanggup membekukan darah pemikimnya.

​"Sampaikan pada pimpinan Club Strawberry kalian..." bisik Arka dingin. "Hutan pedesaan Bandung ini akan jadi kuburan bagi setiap pembunuh bayaran yang kalian kirim."

​Arka meremas perangkat komunikasi tersebut hingga hancur berkeping-keping.

​Tiga puluh menit kemudian.

​Arka melangkah santai memasuki halaman rumah panggungnya seraya menenteng kantong plastik berisi minyak goreng dan dua saset kopi hitam dari warung warga.

​Kinanti menyambutnya di depan pintu dengan senyum manis yang merekah. "Kok agak lama, Mas?"

​Arka tersenyum sangat lembut, merangkul pinggang Kinanti dan mengecup pelipis istrinya dengan penuh kehangatan. "Tadi sempat ngobrol sebentar sama Pak Haji di jalan, Sayang. Nih, kopi sama minyaknya."

​"Makasih ya, Mas Arka emang suami idaman," goda Kinanti seraya tertawa kecil, mengambil kantong plastik tersebut lalu berjalan ke dapur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!