Sejak kecil, Keira hidup jauh dari keluarganya. Ketika akhirnya mereka kembali dan ia berharap menemukan kehangatan yang selama ini dirindukannya, kenyataan justru menghancurkan harapannya.
Di rumah itu, ada seorang anak yang diperlakukan bak permata, sementara Keira hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Setelah perselisihan dengan kakaknya tadi, Keira memilih duduk sendirian di bangku taman rumah sakit.
Ia memandang rembulan yang bersinar terang di langit. Seindah apa pun pemandangan itu, tak mampu menyembunyikan kesedihan yang mendalam di hatinya.
Hingga kini pun Keira masih tak memahami, mengapa kedua orang tuanya selalu memandangnya dengan pandangan yang dingin dan tak menyukainya. Mungkin mereka tak terbiasa hidup dalam ketenangan seakan kedamaian itu harus selalu terganggu oleh kehadirannya sendiri.
Keira pun sadar sepenuhnya bahwa kedua orang tuanya begitu menyayangi saudara kembarnya, dan tak ingin sedikit pun musibah menimpa Keyna.
Bahkan Keira dapat menyimpulkan, mereka tak akan segan-segan mengorbankan nyawa sendiri demi menyelamatkan Keyna jika sesuatu terjadi padanya.
Namun bukankah hal itu terasa tak adil? Tanpa tahu apa kesalahannya, ia sudah dibenci begitu saja.
Apakah kelahirannya sungguh tak diharapkan? Lantas karenanya mereka pun tak menyukainya?
Ingat kembali masa lalunya, saat ia sering dihina dan disakiti lantaran dianggap tak memiliki orang tua, rasanya perih itu masih terasa hingga kini.
Setiap orang pasti memiliki masalahnya masing-masing, bukan? Tak peduli kaya atau miskin, masalah itu datang dari mana saja.. keluarga, percintaan, atau hal-hal lain. Dan hal inilah yang kini Keira yakini sepenuhnya.
Ia menyeka rambutnya dengan kasar, lalu bangkit berdiri dan melangkah kembali menuju ruang rawat saudara kembarnya.
Sesampainya di ruangan itu, ia melihat Ayahnya duduk di tepi ranjang dengan wajah penuh kelelahan. Ibunya terlelap di sampingnya. Sementara kedua kakaknya tak tampak di ruangan itu.
“Maafkan kehadiranku, Ayah,” ucap Keira pelan, lalu ia ikut duduk di sisi Ayahnya.
“Untuk apa kau datang?” Tanya Bara singkat dan dingin.
“Mengenai kekacauan tadi.. dan bolehkah aku tahu, mengapa Keyna bisa jatuh sakit seperti ini, Ayah?” Tanya Keira dengan penuh rasa ingin tahu sekaligus rasa bersalah.
“Kondisi jantungnya yang bermasalah. Dan semua ini tak akan terjadi seandainya kau tak pergi meninggalkannya sendirian.”
“Ayah… bolehkah aku memintamu sesuatu?” Lanjut Bara, pandangannya lurus ke depan. Di dalam suaranya terdengar kepasrahan dan kepedihan yang mendalam.
“Apa yang Ayah inginkan?” Jawab Keira dengan senyum tipis, ia merasa begitu jarang, bahkan mungkin tak pernah, Ayahnya meminta sesuatu kepadanya dengan nada yang tenang seperti ini.
“Tolong jaga Keyna, di mana pun ia berada. Utamakanlah Keyna di atas dirimu sendiri. Sejak kecil pun ia tak sekuat kau, Ra…”
Suara Ayahnya terdengar bergetar. Ia menanggung rasa sakit seorang diri, ia sering menemukan Keyna terbaring menangis di kamar menahan rasa sakit penyakitnya.
Ayah pun telah berusaha segala cara agar penyakit Keyna segera sembuh, namun ternyata tak semudah yang dibayangkan.
“Ayah tak tega melihatnya menderita begitu. Ayah sudah berusaha sekuat tenaga, hingga rasanya.. Ayah hampir tak berdaya lagi.” Lanjut Bara dengan nada yang penuh keputusasaan. Wajahnya tampak begitu lelah, meski hatinya pun perih melihat keadaan putrinya yang lain.
Senyum yang semula terukir di wajah Keira pun perlahan memudar mendengar ucapan itu.
“Lantas mengapa Ayah dan Ibu tak menyukaiku?” Bukannya menjawab permintaan itu, Keira justru melontarkan pertanyaan yang selama ini mengganjal di hatinya.
“Karena tak adil rasanya, jika Keyna harus menanggung segala rasa sakit sendirian sementara kau tumbuh dalam keadaan sehat dan bebas darinya.” Jawab Bara jujur.
“Jadi hanya karena alasan itu?” Ucap Keira pelan, tatapannya kini kosong. Ia pun menemukan jawaban atas segala pertanyaannya selama ini.
“Jika aku menjaga Keyna sebagaimana yang Ayah minta.. apa yang akan Ayah berikan kepadaku?” Tanya Keira kembali dengan wajah datar.
“Apa yang kau inginkan? Rumah mewah? Perhiasan? Perusahaan besar? Atau pulau yang luas..”
“Pelukan.”
“Aku hanya ingin dipeluk oleh Ayah dan Ibu.” Lanjut Keira lembut.
Keira merasa dirinya sungguh berlebihan meminta hal itu. Katanya ia tak mengharapkan kasih sayang mereka dan akan menjauh, padahal sesungguhnya yang ia dambakan hanyalah pelukan hangat dari kedua orang tuanya dan kakaknya.
Hanya sekali saja ia ingin merasakan pelukan seorang ibu, terlebih lagi ibu yang melahirkannya. Tak butuh pelukan itu berulang kali, cukup sekali saja, asal ia dapat merasakannya.
Keira tersenyum getir dalam kesunyian. “Jadi begini rasanya.. dianggap anak kandung namun diperlakukan bagai anak tiri.”
Saat itu pun Keira tengah duduk sendirian di ruang makan, sementara keluarganya masih berada di rumah sakit. Ia makan perlahan, namun pikirannya terus melayang memikirkan setiap kata yang terucap dari mulut Ayahnya.