Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYESALAN YANG TERLAMBAT
Hari-hari berlalu dengan kelam di rumah kontrakan kecil itu. Bu Surya semakin hari semakin lemah. Tubuhnya yang dulu tegap dan selalu bersuara lantang, kini hanya terbaring di atas tikar tipis, napasnya terengah-engah. Askar duduk di sampingnya setiap waktu, membasuh wajah ibunya dengan air hangat, memberi makan sesendok demi sesendok — perlakuan yang dulu justru selalu diberikan Miska kepadanya, namun dulu ia abaikan begitu saja.
"Askar..." suara Bu Surya terdengar sangat pelan, hampir berbisik.
"Ibu, aku di sini. Ada apa, Bu?" Askar mendekatkan wajahnya, menahan agar air matanya tidak jatuh.
"Maafkan Ibu... maafkan Ibu ya, Nak..." air mata menetes di sudut mata Bu Surya. "Ibu salah. Ibu jahat sekali pada Miska. Padahal dia anak yang baik, sabar, tulus... Ibu malah memakinya, menghinanya, mengusirnya..."
"Sudah, Bu. Sudah jangan dipikirkan lagi. Istirahatlah dulu," Askar menggenggam tangan ibunya yang terasa dingin.
"Bagaimana bisa tidak kupikirkan? Setiap malam aku terjaga, terbayang wajahnya... wajah yang selalu tersenyum sabar meski Ibu perlakukan kasar... Ibu menyesal, Askar. Sangat menyesal..." Bu Surya terbatuk pelan, dadanya terasa sesak. "Kalau saja dulu kita menghargainya... kalau saja dulu Ibu tidak buta... mungkin sekarang kita tidak sendirian seperti ini."
Askar menunduk, air matanya jatuh membasahi punggung tangan ibunya. "Aku juga salah, Bu. Aku yang paling salah. Aku tidak pernah membela Miska. Aku lebih percaya pada kata-kata Ibu daripada pada istriku sendiri. Aku membiarkannya terluka, dan aku sendiri yang melepaskannya. Penyesalan ini selalu ada di hatiku, setiap detik, setiap hari."
"Kita kehilangan permata yang paling berharga, Nak. Demi wanita yang hanya datang saat kau punya harta..." Bu Surya menarik napas panjang, lalu menatap langit-langit kamar yang rendah. "Rara... dia hanya mau harta kita. Sekarang harta itu hilang, dia pun pergi. Dan Miska... dia yang tulus, dia yang tetap tinggal saat kita tidak punya apa-apa dulu... justru kita yang mengusirnya."
"Sudah, Bu. Jangan bicara terlalu banyak. Aku akan cari uang untuk obat Ibu, sabar ya sebentar lagi," Askar berusaha berdiri, namun Bu Surya menahan tangannya.
"Jangan pergi, Askar. Temani Ibu sebentar saja... Ibu takut..." tatapan Bu Surya mulai kabur. "Kalau... kalau nanti bertemu Miska... tolong sampaikan maaf Ibu... beri tahu dia kalau Ibu salah... kalau dia wanita yang baik..."
"Iya, Bu. Aku akan sampaikan. Sekarang istirahat dulu ya, Bu. Semuanya akan baik-baik saja," jawab Askar dengan suara bergetar, berusaha meyakinkan ibunya maupun dirinya sendiri.
Namun kata-kata itu terlambat. Detik berikutnya, napas Bu Surya berhenti. Tangannya yang menggenggam tangan Askar perlahan terlepas. Matanya tertutup perlahan, dan wajahnya terlihat tenang — seolah beban penyesalan yang memikul pundaknya selama ini akhirnya terangkat.
"Ibu!!! Ibu!!!" Askar memeluk tubuh ibunya yang mulai dingin, menangis sejadi-jadinya. "Bangunlah, Bu! Jangan tinggalkan aku sendirian! Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi!"
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyelimuti kamar kecil itu. Askar duduk terpaku, tubuh ibunya masih di pelukannya. Ia sendirian. Benar-benar sendirian. Tidak ada rumah, tidak ada harta, tidak ada ibu, tidak ada istri, tidak ada teman. Semua yang ia miliki telah hilang, dan yang paling menyakitkan — semuanya karena kesalahannya sendiri.
Dengan sisa uang yang sedikit, Askar mengurus pemakaman ibunya. Tidak banyak orang yang datang. Hanya beberapa tetangga lama yang sekadar membantu. Saat tanah menutup makam Bu Surya, Askar berlutut di sana, berjam-jam tanpa beranjak.
"Maafkan aku, Bu... Maafkan aku..." bisiknya berulang kali. "Aku janji akan berubah. Tapi aku tahu, janjiku ini sudah terlambat untukmu."
Hari-hari setelah itu berjalan bagai mimpi buruk bagi Askar. Ia bekerja serabutan — mengangkat barang di pasar, membantu orang membangun, apa saja yang halal untuk makan hari itu. Wajahnya kusam, pakaiannya lusuh, dan matanya penuh kesedihan yang mendalam. Orang-orang yang dulu mengenalnya sebagai manajer perusahaan yang gagah dan berpenampilan rapi, kini hanya memandangnya dengan pandangan kasihan sekaligus jijik.
Dan setiap kali ia berjalan melewati jalanan kota, ia selalu melihat papan nama toko yang semakin besar — toko milik Miska. Toko itu berkembang pesat, cabang-cabangnya mulai bermunculan, dan setiap kali ia melihatnya, hatinya terasa semakin perih. Ia tahu, di balik kesuksesan itu, ada wanita yang dulu ia buang dan ia hancurkan. Wanita yang kini bangkit lebih tinggi dari dirinya.
Sementara itu, di hari yang sama, di tempat yang jauh lebih cerah dan damai, Miska berdiri di depan cermin. Ia mengenakan gaun pengantin yang indah dan sederhana, wajahnya bersinar dengan kebahagiaan yang tulus. Di sampingnya berdiri Bu Siti, tersenyum bahagia.
"Kau cantik sekali, Miska," ucap Bu Siti lembut, merapikan kerah gaun itu.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih sudah ada di sisiku sampai hari ini," jawab Miska tersenyum, matanya berbinar bahagia.
"Kau pantas bahagia, Nak. Kau sudah melewati banyak hal yang berat, dan sekarang saatnya kau menerima kebahagiaan itu."
Pintu terbuka, dan Arfan masuk. Ia mengenakan setelan jas yang rapi, wajahnya penuh cinta dan kebanggaan saat melihat calon istrinya.
"Kau sangat cantik, Miska," ucap Arfan lembut, menggenggam kedua tangan wanita itu.
"Terima kasih, Arfan. Terima kasih sudah menerima aku apa adanya," jawab Miska tulus.
"Bukan hanya menerima, tapi menghargai. Dan aku akan selalu menghargaimu, setiap hari, sampai akhir hayatku," janji Arfan dengan tulus.
Pernikahan mereka berlangsung sederhana namun penuh kehangatan. Dihadiri oleh keluarga, teman-teman, dan orang-orang yang tulus menyayangi mereka. Tidak ada kemewahan yang berlebihan, namun penuh cinta dan rasa syukur. Miska bersanding di samping pria yang tidak hanya mencintainya, tapi juga menghormatinya, mendukungnya, dan melihat nilainya — hal yang dulu tidak pernah didapatkannya di rumah Askar.
Setelah menikah, hidup Miska semakin bahagia. Usahanya terus berkembang, dan Arfan selalu mendukung setiap langkahnya. Mereka sering pergi berlibur, makan bersama, berjalan-jalan — hal-hal sederhana yang dulu Miska impikan namun tidak pernah terwujud. Dan di sampingnya, selalu ada Arfan — pria yang membuatnya merasa aman, dicintai, dan berharga setiap hari.
Suatu sore, saat mereka berjalan berdua di taman kota, Arfan bertanya pelan. "Apakah kau pernah menyesal, Miska? Atau ingin membalas dendam pada mereka yang dulu menyakitimu?"
Miska berhenti berjalan, menatap ke depan dengan tenang. "Dulu aku memang sedih, terluka, dan kecewa. Tapi sekarang... aku sudah tidak membenci mereka. Aku sudah memaafkan. Namun memaafkan bukan berarti aku kembali. Aku memaafkan agar hatiku tenang, bukan untuk mereka."
Arfan tersenyum bangga, merangkul bahu istrinya. "Kau wanita yang luar biasa, Miska. Aku bersyukur sekali bisa bersamamu."
"Aku juga, Arfan. Aku bersyukur sekali," jawab Miska tulus, menatap mata suaminya.
Dari kejauhan, di sisi lain taman, seorang pria berpakaian lusuh melihat mereka. Ia berhenti sejenak, menatap wajah wanita yang dulu istrinya itu — wajah yang begitu bahagia, begitu bersinar, begitu damai di samping pria lain. Askar tidak mendekat. Ia hanya berdiri diam, menyadari sepenuhnya bahwa wanita itu bukan lagi miliknya. Bahwa ia sudah kehilangan hak untuk bersamanya sejak lama.
Dengan langkah pelan, Askar berbalik dan pergi. Tidak ada yang menyapanya, tidak ada yang memanggil namanya. Ia berjalan sendirian di jalan yang sepi, ditemani penyesalan yang takkan pernah bisa dihapus. Ia tahu — Miska bukan lagi istri lemahnya yang dulu selalu sabar dan menunggu. Miska kini milik orang lain, dan ia sendiri yang melepaskannya.
Dan di taman itu, di bawah langit yang biru dan cerah, Miska tersenyum bahagia di pelukan suaminya. Ia telah menjadi wanita yang kuat, mandiri, dan dicintai dengan tulus. Ia bukan lagi istri yang lemah, yang selalu dihina dan diabaikan. Ia telah menemukan kebahagiaannya sendiri — bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri, dan dari cinta yang tulus yang akhirnya datang tepat waktu.
TAMAT
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪