Indonesia
NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?

Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.

Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

Di dalam penthouse mewah Nicolas Vance, keheningan terasa begitu pekat, seolah menyerap seluruh sisa-sisa badai yang meledak beberapa jam lalu.

Sienna duduk di tepi tempat tidur di kamar utama. Tubuhnya diselimuti kain rajut tebal, namun dingin yang merambat bukan berasal dari pendingin udara, melainkan dari kilatan dendam yang baru saja ia saksikan di ruang sidang.

Suara teriak histeris Liam, tatapan mata Claudia yang penuh kebencian beracun, serta raut wajah Nico yang dingin tanpa belas kasihan terus berputar di dalam ingatannya bagaikan mimpi buruk yang tak selesai.

Jemarinya menyusup ke balik lipatan kain di pinggangnya, menyentuh sudut kertas resep medis tua yang agak terlipat. Kertas itu adalah satu-satunya benteng pertahanan terakhir yang membuktikan bahwa ibunya Nico, Christina Vance, tidak hanya mati karena peluru, melainkan telah diracuni racun arsenik secara perlahan.

Sienna tahu, jika kertas ini jatuh ke tangan Nico saat pria itu masih dibutakan oleh amarah, Nico bisa saja menganggapnya sebagai upaya manipulasi licik dari seorang anak pembunuh yang dituduh sebagai komplotan kejahatan ayahnya.

KLIK.

Gagang pintu kamar berputar.

Nicolas Vance melangkah masuk. Pria itu telah melepas jasnya, menyisakan kemeja putih berlengan panjang yang tergulung hingga ke siku dan rompi gelap yang melekat pas di tubuh tegapnya. Sepasang mata kelabunya menatap Sienna yang langsung menegang kaku di tepi ranjang.

Nico berjalan mendekat tanpa suara, lalu berhenti tepat di depan Sienna. Pria itu menyilangkan tangannya di dada, membiarkan keheningan mengikis keberanian gadis di hadapannya.

"Kau melihatnya sendiri tadi siang, bukan?" suara Nico bergema rendah, dingin dan tak terabaikan. "Bagaimana keluarga Ophelia mulai hancur satu per satu."

Sienna memberanikan diri mengangkat wajahnya. Iris cokelatnya yang redup berhadapan langsung dengan mata kelabu Nico. "Saya melihat seorang putra yang diseret ke penjara karena kejahatannya sendiri, Tuan Vance. Tapi saya tidak melihat keadilan untuk ayah saya, maupun untuk saya."

Nico terkekeh kaku, sebuah kekeh berbahaya yang tidak memancarkan hangat sedikit pun. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mencengkeram dagu Sienna dengan lembut namun mematikan, memaksa wajah gadis itu tetap menengadah.

"Keadilan?" desis Nico tepat di depan bibir Sienna.

"Kau dan ayahmu adalah satu paket iblis yang menghancurkan hidup ibuku. Hans Sinclair menembaknya, dan kau bocah tiga belas tahun yang bertugas sebagai pembuka jalan malam itu. Kau pikir aku lupa bagaimana kepolisian menemukan jejakmu di sekitar lokasi malam itu, Sienna?"

Sienna membelalakkan matanya, rasa sakit menyengat dadanya tatkala mendengar tuduhan kejam yang selama belasan tahun ini mengurungnya dalam neraka. "Saya tidak pernah menjadi komplotan siapa pun, Tuan. Malam itu saya hanya menunggu ayah di luar pagar. Ayahku bukan pembunuh, dan saya bukan komplotan."

"Cukup!" bentak Nico seraya menghempaskan cengkeramannya, membuat Sienna tersentak kecil. Pria itu berbalik membelakangi ranjang, melangkah menuju meja kecil di sudut kamar tempat segelas air minum diletakkan.

"Besok," ujar Nico datar, "Ayahku, akan kembali dari Singapura untuk menemuiku. Dia ingin melihat sejauh mana persidangan ini berjalan. Dan kau akan tetap berada di penthouse ini, di bawah pengawasanku. Jangan coba-coba bertingkah atau membuat masalah."

Tanpa menunggu balasan dari Sienna, Nico melangkah keluar kamar dan mengunci pintunya dari luar dengan dentuman pelan.

Sienna menyeka air matanya yang jatuh ke pipi. Ia merebahkan tubuhnya yang masih lemah ke atas ranjang, memeluk selimut erat-erat. Di tengah kegelapan kamar, tuduhan sebagai komplotan pembunuh dari bibir Nico terasa lebih menyayat daripada luka jahitannya.

...****************...

Sementara itu, di sebuah kediaman megah berarsitektur klasik di kawasan elite.

Suasana di dalam vila keluarga Ophelia terasa sangat mencekat. Gelas-gelas kristal dan vas bunga mahal berserakan di atas lantai marmer yang dingin, hancur akibat kemarahan Claudia Ophelia yang meluap-luap sejak pulang dari pengadilan.

Claudia berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke taman belakang, memegang telepon selulernya dengan jari-jari yang gemetar karena amarah dan kepanikan yang hebat.

Pintu ganda ruang tamu mendadak terbuka lebar.

Sesosok pria berusia akhir lima puluhan melangkah masuk dengan tongkat kayu berukir di tangan kanannya. Pria itu mengenakan setelan jas hitam elegan, wajahnya tirus dengan raut duka mendalam dan garis-garis kerutan yang memancarkan penderitaan masa lalu. Sepasang matanya yang redup menatap ke arah tempat penyimpan minuman yang berantakan.

Pria itu adalah Sebastian Vance, suami dari almarhumah Christina Vance sekaligus ayah dari Nicolas Vance dan Liam Vance. Sejak kematian istri tercintanya sebelas tahun lalu, Sebastian hidup dalam bayang-bayang duka.

"Kau membuat rumah ini seperti kandang hewan, Claudia," tegur Sebastian dengan suara berat dan letih.

Claudia berbalik seketika, matanya yang sembap menatap Sebastian. Wanita itu melangkah tergesa-gesa mendekati Sebastian, memegang lengan jas pria itu dengan wajah memelas.

"Sebastian, akhirnya kau pulang!" jerit Claudia histeris. "Kau harus menolong Liam, anak kita diseret ke penjara oleh Nicolas, dia sengaja menjebak Liam di pengadilan tadi siang."

Sebastian melepaskan pegangan tangan Claudia dari lengannya dengan gerakan dingin. Pria itu berjalan menuju sofa kulit raksasa, lalu mendudukkan tubuhnya perlahan seraya menumpukan kedua tangannya di atas kepala tongkat kayu.

"Aku sudah melihat rekaman video penembakan di pelabuhan itu, Claudia," ujar Sebastian datar, matanya menatap lurus pada Claudia dengan kecewa. "Liam begitu bodoh dan ceroboh. Bagaimana bisa dia membunuh seorang fotografer di tempat terbuka? Aku sudah kehilangan Christina... dan sekarang Liam malah menjadi seorang pembunuh."

"Liam panik, Sebastian," bela Claudia seraya berlutut di samping sofa Sebastian, pura-pura menangis. "Fotografer itu mengancam Liam, Liam hanya berusaha melindungi nama baik keluarga kita."

"Memangnya apa yang fotografer itu simpan, apa yang kalian sembunyikan dariku?"

Claudia tersentak kaget, ia baru tersadar akan kecerobohannya sendiri hampir membuka kartunya sendiri. Ia kemudian mencoba mengendalikan diri untuk terlihat lebih tenang.

"Menembak orang hingga mati bukan cara melindungi nama baik!" bentak Sebastian dengan napas memburu, teringat akan trauma penembakan yang merenggut nyawa istri tercintanya. "Hukuman ini adalah akibat dari perbuatannya sendiri. Aku tidak bisa membela seorang pembunuh, Claudia."

Claudia mendongak, matanya berkilat beracun tatkala melihat kepolosan Sebastian yang masih meratapi almarhumah istrinya. Claudia tahu, ia harus mengalihkan perhatian Sebastian agar pria itu mau bertindak.

"Sebastian, dengarkan aku," bisik Claudia dengan intonasi manipulatif. "Apakah kau tahu siapa yang dibawa Nicolas ke pengadilan tadi siang? Sienna Sinclair... gadis komplotan yang membantu pembunuhan Christina dulu, Nicolas masih membawanya dibawah tekanannya."

Genggaman tangan Sebastian pada kepala tongkat kayunya seketika menegang. Wajah pria tua itu memancarkan rasa duka dan sedikit kekhawatiran yang rumit.

Meskipun hatinya masih terluka parah karena meyakini bahwa Hans Sinclair dan Sienna adalah dalang di balik tewasnya Christina, amarah Sebastian pada Sienna sebenarnya sudah jauh mereda sejak gadis itu menjalani hukuman penjaranya.

Sebastian bahkan pernah menghentikan aksi kekejaman Nico pada Sienna karena terselip rasa kasihan pada gadis muda itu. Namun bagi Sebastian, membiarkan Sienna berada terlalu dekat dengan Nico adalah hal yang membahayakan.

"Nicolas masih menahan gadis itu." gumam Sebastian, alisnya bertaut berat.

"Ya!" balas Claudia tanpa ragu. "Nicolas masih dibutakan oleh dendam. Tapi aku takut gadis itu punya niat terselubung untuk membalas dendam pada keluarga kita. Kau harus melarang Nicolas bertindak terlalu jauh, Sebastian."

Sebastian memejamkan matanya kaku, menghembuskan napas panjang. "Gadis itu sudah membayar kesalahannya di penjara, tapi Nico memang tidak pernah mau melepaskan dendamnya. Aku akan menemui Nicolas besok."

...****************...

Keesokan harinya, pukul dua siang.

Matahari tertutup oleh awan mendung yang tebal di atas langit. Di dalam penthouse Nicolas Vance, pengamanan ditingkatkan dua kali lipat. Empat pengawal bertubuh tegap berseragam hitam berjaga di lorong depan lift utama.

Di dalam ruang tamu yang luas, Nicolas Vance duduk di sofa tunggal. Di hadapannya, Sebastian Vance duduk anggun seraya meletakkan tongkat kayunya di samping sofa. Dua cangkir kopi hitam panas terhidang di atas meja kaca di antara mereka.

"Kau tampak makin mirip dengan almarhumah ibumu, Nicolas," ujar Sebastian memecah keheningan, suaranya terdengar penuh kerinduan yang emosional. "Keteguhanmu, mata dinginmu persis seperti Christina."

Nico menyesap kopinya perlahan, lalu meletakkan cangkir porselen itu kembali ke tatakannya. "Jangan membawa nama Ibu di sini, Ayah. Ayah membiarkan Claudia dan Liam hidup mewah sementara Ibu tidur di bawah tanah."

Sebastian menghela napas berat, matanya menerawang duka. "Kau tahu betapa aku mencintai ibumu, Nico. Kematian Christina adalah pukulan terberat dalam hidupku. Tapi apa yang dilakukan Liam kemarin di dermaga, aku sama sekali tidak membelanya. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum."

Nico menyipitkan matanya sedikit, mendengarkan sikap ayahnya yang tidak membela Liam. "Lalu untuk apa Ayah datang ke mari?"

Sebastian menumpukan kedua tangannya di atas tongkat. "Claudia memberitahuku kau membawa Sienna Sinclair ke pengadilan kemarin. Kenapa kau masih menahan gadis itu di penthouse ini, Nico?"

Otot-otot di rahang Nico menegang seketika. "Sienna ada di sini karena aku yang menahannya. Dia adalah tawanan saya."

" Nicolas, dengarkan Ayahmu!" seru Sebastian dengan raut wajah cemas dan emosional. "Aku tahu rasa sakitmu atas kematian Christina. Tapi gadis itu sudah mendekam di penjara anak selama belasan tahun. Dia sudah menanggung hukuman hukumannya, kenapa kau masih belum bisa melepaskan dendam ini?"

"Dia belum membayar cukup!" potong Nico tegas, pendar mata kelabunya memancarkan dominasi yang membekukan.

"Satu dekade di penjara tidak akan pernah bisa mengembalikan Ibu. Dia dan ayahnya adalah komplotan yang merenggut segalanya dari kita!"

"Tapi menyiksanya terus-menerus tidak akan membawa Christina kembali," tegas Sebastian, teringat bagaimana dulu ia pernah menghentikan aksi kejam Nico pada Sienna karena tak tega melihat gadis itu terus disiksa.

"Dulu aku pernah memintamu berhenti menyiksanya, Nico. Hati kecilku juga sakit mengingat kejahatan ayahnya, tapi melihatmu menjadi monster yang dibutakan dendam seperti ini jauh lebih menakutkan!"

Sebelum Nico sempat membalas, pintu kamar utama perlahan terbuka.

Sienna melangkah keluar dari kamar, berniat mengambil air di dapur. Langkahnya terhenti kaku saat melihat sosok Sebastian Vance yang berdiri tegap di ruang tamu bersama Nico.

Mata Sebastian beralih menatap Sienna. Tidak ada kilatan dendam liar di mata pria tua itu, melainkan bauran antara rasa duka masa lalu, rasa kasihan, dan kelelahan yang amat sangat. Sebastian tahu gadis di hadapannya ini pernah menanggung dinginnya sel penjara.

"Sienna..." panggil Sebastian pelan, suaranya sarat akan beban berat. "Kau kenapa kau masih membiarkan dirimu terjebak dalam lingkaran dendam Nicolas?"

Sienna menatap Sebastian dengan mata berkaca-kaca. Di mata pria tua itu, Sienna selalu melihat sosok seorang suami yang hancur karena kehilangan istri tercintanya, pria yang juga dipengaruhi kebohongan Claudia.

"Tuan Sebastian..." cicit Sienna halus, menundukkan kepalanya sedikit penuh hormat dan rasa iba.

Nico melangkah cepat memotong garis pandang antara Sebastian dan Sienna. Pria itu berdiri di depan Sienna, menutupi tubuh mungil gadis itu dari ayahnya.

"Kembali ke kamarmu, Sienna," perintah Nico dengan nada dingin namun tak terbantahkan.

Sienna menatap punggung tegap Nico sejenak, lalu mengangguk pelan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, gadis itu berbalik dan kembali masuk ke dalam kamar utama, menutup pintunya rapat-rapat.

Sebastian menatap putra sulungnya itu seraya menggelengkan kepala pelan. "Lepaskan gadis itu, Nico. Jangan biarkan kebencian menghancurkan sisa kemanusiaanmu."

"Ini urusanku dengan keluarga Sinclair, Ayah," sahut Nico kaku seraya membukakan pintu untuk ayahnya. "Silakan pergi."

Sebastian menghela napas panjang, mengangguk pasrah seraya melangkah keluar menuju lift dengan ketukan tongkat kayunya yang teratur di atas lantai marmer.

Di dalam kamar utama, Sienna berdiri menyender di balik pintu yang terkunci. Tangannya memegang dada kirinya yang berdenyut kencang, air matanya menetes perlahan.

Kenyataan baru ini makin menghimpit jiwanya. Nico masih dibutakan oleh dendam membara, sementara Sebastian sebenarnya hanyalah seorang suami yang hancur dan tidak tahu apa-apa tentang kejahatan wanita simpanannya sendiri.

Sienna merogoh saku gaunnya, mengepalkan jemarinya erat-erat pada kertas resep medis racun arsenik itu.

"Tuhan... beri aku kekuatan, aku harus membongkar kebenaran ini. Bukan hanya untuk membersihkan nama ayah dan diriku sendiri, tapi juga untuk menyelamatkan orang-orang yang telah dibodohi oleh Claudia Ophelia." batin Sienna penuh doa.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!