Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Korban Pertama
Pagi itu, Madiun diselimuti kabut tipis yang dingin. Sejak pukul empat subuh, suasana di dapur Warung Nasi Broto sudah sibuk luar biasa.
Bayu tampak paling bersemangat. Pria itu menyingsingkan lengan kemejanya, menyusun puluhan nampan seng dan memastikan pasokan daging segar dari pasar telah ditata rapi.
Senyum tak pernah lepas dari wajahnya, seolah rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya menguap begitu saja disapu oleh bayangan keuntungan besar yang menanti.
"Lang, cepat bantu angkat kuali cadangan ke depan!" seru Bayu penuh gairah, suaranya nyaring memecah hening pagi. "Hari ini kita harus buka lebih cepat. Katanya ada rombongan bus dari luar kota yang mau mampir!"
Galang yang sedang menyapu lantai semen memandang kakaknya dengan tatapan nanar. Lingkaran hitam mengelilingi matanya karena tak tidur semalaman.
Bayangan percakapan Pak Sapta dan Bu Retno di balik celah pintu dapur terus berputar-putar di kepalanya bagaikan teror yang mencekik.
"Mas ...." Galang mendekati Bayu, menahan lengan kakaknya dengan genggaman erat. "Hari ini Mas Bayu di rumah saja, ya. Nggak usah ikut melayani warung. Nggak usah ke mana-mana."
Bayu menghentikan gerakannya, menatap Galang dengan dahi berkerut heran.
"Kamu ngomong apa sih, Lang? Hari ini justru hari paling penting! Pak Sapta mau ngajak aku ke pasar induk buat beli mobil bak bekas buat operasional warung. Kenapa aku malah disuruh di rumah?"
"Tolong dengarkan aku sekali ini saja, Mas!" bisik Galang penuh penekanan, matanya memancarkan ketakutan yang teramat sangat. "Perasaanku nggak enak. Bahaya, Mas! Mas Bayu dalam bahaya!"
Bayu mendengus gusar, melepaskan cengkeraman Galang dengan kasar.
"Alasan gila apa lagi ini, Galang?! Kamu mau merusak momentum keberhasilan kita?! Aku ini anak tertua, aku punya tanggung jawab! Jangan kekanak-kanakan!"
Sebelum Galang sempat membalas, Pak Sapta keluar dari kamar utama dengan pakaian rapi. Kemeja batiknya licin tanpa kedut, dan tongkat berkepala naganya berdetuk halus di lantai. Bu Retno mengekor di belakangnya, berdiri kaku dengan tatapan mata kosong yang menatap lurus ke depan.
"Bayu," panggil Pak Sapta dengan suara beludrunya yang tenang dan berwibawa. "Motor tua milik almarhum bapakmu sudah saya isi bensinnya penuh. Sebelum kita berangkat ke pasar induk nanti siang, tolong kamu ambil berkas kelengkapan warung di rumah rekan saya di dekat perlintasan kereta api pinggiran kota."
Galang terperanjat. Hatinya kian gusar.
"Jangan, Mas! Jangan pergi!" seru Galang refleks, memotong pembicaraan Pak Sapta tanpa rasa takut.
Bayu menatap Galang dengan raut wajah penuh amarah dan malu di depan Pak Sapta.
"Galang! Cukup! Kamu ini bikin malu saja!" Bayu berbalik menatap Pak Sapta dengan sikap hormat. "Siap, Pak. Biar saya yang ambil sekarang juga naik motor Bapak. Berkasnya atas nama siapa?"
Pak Sapta tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang membuat bulu kuduk Galang berdiri tegak.
"Nanti ada bungkusan kain di atas meja teras rumahnya. Kamu tinggal ambil. Berangkatlah sekarang, sebelum jalanan ramai."
"Baik, Pak!" Bayu langsung menyambar kunci motor dari atas meja kasir.
"Mas Bayu, jangan!" Galang mencoba mengejar dan memegang jaket kakaknya, namun Bayu mendorong dada Galang hingga ia terhuyung mundur menabrak meja kayu.
"Jangan bertingkah gila di depan Pak Sapta dan Ibu, Galang!" gertak Bayu tajam. "Aku cuma pergi sebentar!"
Bayu melangkah lebar keluar rumah. Suara raungan mesin sepeda motor tua Pak Broto terdengar membelah heningnya pagi Madiun, lalu derunya perlahan memudar dijauhkan oleh jarak.
Galang terduduk di lantai semen, memandangi pintu depan yang terbuka lebar. Di sudut dapur, Pak Sapta berdiri bersedekap, menatap Galang dengan pendar mata yang amat dingin dan penuh kemenangan.
Bu Retno tetap mematung di sampingnya, bibirnya yang tersenyum kaku merapalkan bisikan tanpa suara yang tak terdengar.
"Kamu tidak akan pernah bisa menghentikan air yang sudah mengalir dari hulu, Galang," desis Pak Sapta pelan, hampir tak terdengar oleh siapa pun kecuali Galang.
Tanpa memedulikan rasa sakit di badannya, Galang bangkit berdiri. Rasa panik yang liar membakar dadanya. Ia tidak boleh membiarkan Bayu mati! Apa pun yang terjadi, ia harus menghentikan kakaknya!
Galang berlari keluar warung, menerobos kabut pagi yang kian menebal. Ia berlari sekuat tenaga menyusuri jalan raya Madiun menuju perlintasan kereta api tanpa palang pintu di pinggiran kota—tempat yang berjarak sekitar dua kilometer dari warung mereka.
Setiap hembusan napasnya terasa membakar tenggorokan, kakinya yang bertelanjang alas memukul permukaan aspal yang kasar dan dingin.
"Mas Bayu! Mas Bayu!" jerit Galang di tengah napasnya yang memburu.
Di dadanya, potongan kain linen tua yang ia simpan di saku terasa hangat—hampir memanas—seolah-olah merespons mara bahaya ghaib yang sedang terjadi.
Setelah berlari kesetanan selama lima belas menit, Galang mulai melihat hamparan rel kereta api yang membentang menembus perkebunan jati.
Udara di sekitar perlintasan terasa teramat berat, dipenuhi bau tanah basah yang menyengat dan aroma kembang kamboja yang layu.
Dari kejauhan, Galang melihat sepeda motor tua babak belur milik ayahnya terparkir di pinggir jalan dekat rel. Bayu berdiri di samping motor itu, membelakangi jalan raya. Pria itu memegang sebuah bungkusan kecil berbalut kain kelabu.
Namun, penampilan Bayu tampak janggal. Kakaknya berdiri kaku bagaikan patung kayu, kepalanya tertunduk dalam-dalam, dan kedua tangannya tergantung lemas di samping tubuh.
"Mas Bayu!" teriakan Galang melengking memecah sunyi.
Dari arah utara, suara klakson kereta api barang meraung-raung dahsyat.
HOOOOOONGGG!
Getaran hebat mulai merambat di atas besi rel. Tanah di sekitar perlintasan bergoyang pelan.
Kereta api raksasa dari besi hitam melaju kencang dengan kecepatan tinggi, hanya berjarak beberapa ratus meter dari titik perlintasan!
Galang mempercepat larinya, air mata panik menyembur dari matanya.
"Mas Bayu! Awas, Mas! Ada kereta!"
Namun Bayu seolah-olah telah kehilangan seluruh indranya. Ia tidak menoleh, tidak bergerak, dan tidak berkedip.
Di atas rel kereta api, Galang melihat bayangan ghaib yang amat mengerikan—sosok tinggi hitam berambut lebat dengan mata merah menyala berdiri kaku di belakang tubuh Bayu, kedua tangan hitam berukuran raksasa dengan kuku-kuku panjang mencengkeram erat kedua bahu Bayu, menahannya agar tak bisa bergerak seujung kuku pun!
"Mas Bayu! Lari!" jerit Galang histeris, jaraknya tinggal lima puluh meter lagi!
Tepat ketika kereta api raksasa itu berjarak belasan meter dari perlintasan, Bayu mendadak menggerakkan kakinya.
Namun, bukannya mundur melangkah menjauh, tubuh Bayu seolah ditarik paksa oleh kekuatan tak kasat mata—melangkah maju secara mekanis dan berhenti tepat di tengah-tengah dua bilah besi rel.
Bayu perlahan menolehkan kepalanya ke arah Galang. Wajah kakak tertuanya itu pucat pasi tanpa darah. Matanya membelalak lebar, namun pupil matanya telah memutih penuh. Bibirnya mengukir senyum kaku yang sama persis dengan senyuman Bu Retno.
"Darah ... sudah dibayar ...," bisik suara yang keluar dari mulut Batu, namun yang terdengar bukan suara Bayu—melainkan perpaduan suara berat Pak Broto dan erangan serak Pak Sapta yang bergema bersamaan!
"MAS BAYU! TIDAK!"
HOOOOOOOONGGG!
BRAKKK!
Benturan dahsyat membelah udara. Tubuh Bayu dan sepeda motor tua itu terhantam telak oleh moncong besi kereta api yang melaju tanpa ampun.
Bungkusan kain kelabu terlempar ke udara, pecah memuntahkan potongan-potongan kain kafan tua dan tanah kuburan yang berhamburan di atas aspal.
Galang tersungkur di atas aspal dingin, terendam dalam hantaman gelombang angin kencang yang dibawa oleh laju kereta api. Suara decitan besi rel yang tergerus roda kereta berdengung memekakkan telinga.
Darah segar menyemprot ke mana-mana, membasahi batu-batu kerikil di sepanjang jalur kereta. Potongan kain linen tua di dalam saku baju Galang mendadak robek secara ghaib—terbelah dua tepat di bagian tulisan nama Bayu Broto.
Kereta api terus melaju, meninggalkan keheningan yang amat pekat di perlintasan sunyi itu.
Galang merangkak perlahan di atas aspal, jeritan histeris tertahan di tenggorokannya yang menyempit. Di antara ceceran darah dan puing-puing sepeda motor yang hancur berkeping-keping, Galang melihat tubuh kakak tertuanya terbaring tak bernyawa dalam kondisi yang teramat tragis.
Di sudut pohon jati di pinggir rel, bayangan hitam tinggi berangsur-angsur memudar dan menghilang ke dalam kegelapan perkebunan.
wajar para kerabat pada nolak bantuin kalo taruhan nya nyawa dan keluarga mrk.
Serius Galang akan menantang datangnya malam Jumat kliwon?
Serius Galang pasrah saja....
Kenapa pakk kyai tidak membantu Galang, yang belum dewasa untuk menyelesaikan ini sendiri.
Galang harus menyaksikan sisa saudaranya diambil gilirannya menjadi tumbal.
come on, Galang !
jangan diam saja .
Do something to save your little brother "Gilang".
masih kecil tapi diliputi ketakutan karena gangguan ghaib.
mau kamu menangis darah,
Buu Broto ga akan sadar dengan ucapan dan tindakannya, Galang .....
Dia dalam pengaruh ghaib Mbah Mangu.
Apakah pesugihan yang diambil bapakmu tidak bisa diputuskan ???
Dan tetapp harus dituntaskan dengan mengambil 2 nyawa yang tersisa , yaitu Rian dan Gilang ????
Mereka masih kecil
Tapi nyawa mereka sudah digadai oleh pesugihan yang dianut bapaknya sendiri.
Tinggal giliran Rian ..... Dan selanjutnya Gilang.
🥺🥺