Bertahun-tahun setelah sebuah pembantaian menghapus keluarga Black Rose dari dunia mafia, Elena kembali dengan identitas sebagai seorang pelayan.
Tidak seorang pun tahu siapa dirinya atau alasan sebenarnya ia memasuki keluarga Bianchi.
Namun, putra pertama keluarga Bianchi, Leon mulai mencurigai wanita itu. Kebiasaan aneh dan tato yang wanita itu miliki, membangkitkan potongan ingatan dari masa lalu yang tidak pernah bisa ia pahami.
Sampai sebuah kesalahpahaman memaksa mereka untuk menikah.
Leon melihat kesempatan untuk mengawasi Elena lebih dekat. Sementara Elena menerima pernikahan itu demi satu tujuan yaitu membalas dendam.
Dua orang dengan tujuan tersembunyi terikat dalam satu pernikahan.
Dan, tanpa mereka sadari, pernikahan itu akan membuka rahasia yang menghubungkan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Ke Kediaman Bianchi
Hari berikutnya, matahari sudah hampir mencapai puncaknya. Tapi, baik Elena maupun Leon belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari tidur mereka.
Kamar yang semalam berubah menjadi arena pertarungan kini terasa sunyi. Hanya suara napas keduanya yang terdengar di antara keheningan.
Hingga, suara ketukan keras dari luar pintu membuat Leon menggeram meskipun matanya masih terpejam.
Tok! Tok! Tok!
"Siapa yang mengetuk pintu pagi-pagi begini?" gerutunya malas. "Mengganggu saja."
Ketukan kembali terdengar.
Tok! Tok! Tok!
Leon akhirnya membuka matanya. Dengan berat hati, ia bangkit dari sofa sambil mengusap wajahnya, lalu berjalan menuju pintu. Sesekali ia memutar lehernya yang terasa kaku akibat tidur semalaman di sofa.
Begitu pintu dibuka, Leon langsung mendengus saat melihat Sean berdiri di depannya.
"Ada apa?" tanyanya ketus.
Sean justru terdiam. Tatapannya terpaku pada penampilan Leon yang jauh dari kata sempurna.
Rambut pria itu berantakan, kemejanya kusut, dan beberapa kancing bagian atas bahkan masih terbuka. Tapi, yang paling menarik perhatian Sean adalah bekas gigitan yang cukup jelas di leher Leon.
"Kenapa diam saja?" Leon menjentikkan jarinya di depan wajah Sean.
Sean tersentak. "Ma-maaf, tuan."
"Aku tidak butuh maafmu," ucap Leon. "Katakan, ada apa pagi-pagi datang kemari?"
Sean berkedip beberapa kali sebelum akhirnya melihat arlojinya.
"Pagi?" Ia menunjuk jam di pergelangan tangannya. "Ini sudah hampir masuk jam makan siang, Tuan."
Leon terdiam. Ia menoleh ke arah jendela lalu, kembali masuk ke dalam kamar dan melihat Elena masih tertidur pulas di ranjang.
Leon mengangkat alis. "Aku kira, dia sudah kabur." Ia kembali menemui Sean. "Jadi, ada apa?"
"Sejak pagi, beberapa pelayan sudah mengetuk pintu kamar Anda untuk mengantarkan baju ini." Sean mengangkat dua paper bag yang sejak tadi ia bawa.
"Tapi, tidak ada yang membukakan pintu. Karena itu, Tuan Besar meminta saya datang untuk membangunkan Anda."
Leon melirik paper bag tersebut. Tanpa banyak bicara, ia mengambilnya dari tangan Sean.
"Ya sudah. Kamu boleh pergi."
Sean mengangguk. Tapi, sebelum benar-benar pergi, pandangannya kembali jatuh pada leher Leon. Kali ini, bekas gigitan itu terlihat sangat jelas, membuat bibir Sean bergetar menahan tawa.
Leon menyipitkan mata. "Ada apa lagi?"
Sean berdeham pelan. "Ti-tidak ada, Tuan."
"Kalau begitu, sana pergi!"
Tanpa menunggu jawaban, Leon langsung menutup pintu begitu saja.
Brakh!
Sean yang masih di luar, akhirnya tidak bisa lagi menahan tawanya.
"Dasar," gumamnya. "Katanya tidak mau menikah. Tapi, malam pertama di sikat juga."
Ia menggeleng pelan, sebelum berjalan pergi.
Sementara di kamar, Leon meletakkan kedua paper bag di atas meja. Lalu, perhatiannya kembali tertuju pada Elena.
Entah mengapa, langkahnya membawa pria itu mendekati ranjang. Ia berdiri di sisi tempat tidur dan memperhatikan wajah Elena yang terlihat begitu damai saat tidur.
Leon terdiam beberapa saat. Tanpa sadar, tangannya terangkat, hendak menyingkirkan helaian rambut yang jatuh menutupi wajah Elena.
Namun, tepat sebelum jarinya menyentuhnya, tangan Elena bergerak cepat mencengkeram erat pergelangan tangannya.
"Ish!" Leon meringis.
Dalam sekejap, Elena membuka mata dan menatapnya tajam.
Leon segera menarik tangannya. "Bukannya kamu masih tidur?"
Elena bangkit dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.
"Aku hanya waspada."
Leon berdecih. "Bahkan saat tidur pun kamu masih bisa menyerang orang?"
"Lebih baik begitu daripada mati karena terlalu lengah."
Leon menatapnya beberapa detik. Lagi-lagi wanita ini memberikan jawaban yang membuatnya kesal.
Ia akhirnya mengalihkan pandangan. "Simpan saja kewaspadaanmu untuk nanti. Sekarang bersiaplah, kita harus pulang ke kediaman keluarga Bianchi."
Leon memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Daddy dan yang lainnya sudah menunggu kita."
***
Sebuah mobil berhenti tepat di depan kediaman megah keluarga Bianchi.
Dua orang penjaga yang berdiri di sisi pintu masuk segera bergerak membuka pintu mobil dengan sigap.
Leon turun lebih dahulu, disusul Elena. Tapi, keduanya tidak langsung masuk. Mereka berdiri sejenak di depan bangunan megah itu.
Elena menatap kediaman keluarga Bianchi. Dulu, ia keluar masuk melalui pintu belakang. Tapi sekarang, ia masuk melalui pintu utama dengan status baru sebagai istri Leon Bianchi.
Leon menyodorkan lengannya. Elena sempat menatap lengan tersebut sebelum akhirnya tersenyum tipis dan mengaitkan lengannya.
"Jangan membuat kesalahan di depan mereka," bisik Leon.
"Seharusnya, aku yang mengatakan itu kepada Anda, Tuan," balas Elena pelan.
Leon mendengus.
Keduanya kemudian melangkah masuk ke dalam kediaman. Tapi, baru beberapa langkah, suasana di dalam rumah langsung terasa berbeda.
Seluruh anggota keluarga Bianchi rupanya sudah berkumpul di ruang keluarga, menunggu kedatangan mereka.
Victor yang duduk di sofa segera mematikan rokoknya di asbak, kemudian menyandarkan tubuhnya dengan santai.
"Hebat sekali," ucapnya dengan nada menyindir. "Kalian membuat kami menunggu hampir seharian."
Leon tidak menjawab. Ia hanya berjalan masuk dengan wajah datar. Sementara, Elena menundukkan pandangan, berpura-pura merasa bersalah.
"Maaf, Tuan," lirih Elena.
Melihat situasi mulai memanas, Maria segera mencoba menengahi.
"Sudahlah, Sayang. Yang penting mereka sudah pulang."
Daniel yang duduk tidak jauh dari mereka tiba-tiba menyeringai.
"Mommy benar, Dad. Mereka pasti lelah setelah semalaman bertempur."
Leon langsung mengerutkan kening. Ia menatap Daniel dengan curiga.
"Kamu tahu dari mana semalam kami bertempur?"
Elena langsung mendesah pelan. Tangannya terangkat untuk mengusap kening, sekaligus menutupi wajahnya.
"Dia ini bodoh sekali," batin Elena.
Tapi, Daniel justru tampak semakin tertarik. "Wah... Berarti benar kalian melakukannya?" Ia bangkit dari sofa dan berjalan menghampiri Leon. Pandangan Daniel langsung jatuh tepat pada bekas gigitan di leher kakaknya.
Matanya membulat. "Wah, Kak... Kamu benar-benar hebat."
Leon semakin bingung. "Apa maksudmu?"
Daniel menunjuk lehernya. "Itu..."
Leon refleks menyentuh lehernya sendiri. Sedetik kemudian, wajahnya mengeras setelah menyadari apa maksud ucapan Daniel.
Sementara Elena diam-diam mencengkeram lengan Leon.
"Diamlah," bisiknya. "Jangan memperpanjang masalah."
Leon mendengus, dan memilih diam.
"Sudah, sudah," seru Maria. "Daripada terus berdiri di sini, lebih baik kita makan siang bersama."
Maria dan Victor bangkit dari sofa, lalu berjalan menuju ruang makan, di susul Daniel. Sementara, Leon dan Elena akhirnya mengikuti dari belakang.
Tidak lama kemudian, seluruh anggota keluarga yang masih berada di kediaman, berkumpul di ruang makan. Termasuk anggota keluarga dari pihak adik Victor yang kebetulan masih berada di sana.
Awalnya, suasana cukup tenang. Sampai suara penuh sindiran terdengar.
"Wah, wah, wah... Aku tidak menyangka, wanita yang dulu bekerja melayani keluarga Bianchi sekarang menjadi Nyonya Muda Bianchi."
Viona tersenyum sinis sambil menatap Elena dari ujung meja.
"Benar-benar hebat." Viona terkekeh pelan. "Entah trik apa yang dia gunakan sampai bisa masuk ke keluarga kita."
Suasana meja makan seketika berubah. Beberapa orang terlihat menahan senyum.
Tapi, Elena hanya diam. Ia tidak menunjukkan amarah sedikit pun.
"Aunty, jangan begitu." Daniel menimpali dengan nada suara yang terdengar ringan, tetapi justru membuat suasana semakin panas. "Bagaimanapun juga, wanita ini adalah pilihan Kak Leon."
Daniel tersenyum kepada Elena. "Walaupun sebelumnya dia seorang pelayan, sekarang statusnya sudah berbeda. Jadi, kita tetap harus menghormatinya."
Viona langsung menatap Daniel tajam. "Pilihan Leon?" Ia tertawa kecil. "Jangan terlalu naif, Daniel. Kita semua tahu bagaimana pernikahan ini terjadi."
Seketika, suasana ruang makan kembali hening. Leon yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat wajah. Tatapannya berubah dingin.
Begitu juga dengan Elena. Ia juga mengangkat kepalanya perlahan.
Pernikahan yang baru berlangsung satu hari ternyata sudah cukup untuk membuatnya menjadi sasaran penghinaan keluarga Bianchi.
Tapi, Elena tidak tersinggung sama sekali. Justru, ia tersenyum tipis karena, semakin banyak orang yang meremehkannya, semakin mudah ia menyembunyikan siapa dirinya sebenarnya.
Dan, mereka sama sekali tidak tahu bahwa Elena justru sedang memanfaatkan mereka.
💖💖💖
nyogok biar dobel up🤭
huh benalu menyusahkan👊