Kecelakaan tragis merenggut orang tua Hana, menyisakan utang menumpuk yang mengandaskan mimpinya.
Demi bertahan hidup, ia rela menjadi office girl tak terlihat di Adhitama Group.
Namun, satu malam kelam merobek takdirnya. Akibat sabotase racun pemicu gairah, Alvaro Adhitama, CEO dingin dan berkuasa kehilangan kendali dan merenggut kesucian Hana secara biadab.
Didera rasa bersalah, Alvaro menuntut pernikahan. Sadar akan jurang kasta di antara mereka, Hana memilih kabur meninggalkan ibu kota.
Sayang, kekuasaan Alvaro sanggup mencegat pelariannya. Ditekan dominasi mutlak sang CEO, Hana akhirnya pasrah diseret kembali dan tanpa menyadari ada benih baru yang mulai tumbuh di rahimnya.
Bagaimana Kelanjutannya???? Ada yang penasaran??
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAA!!!
Follow IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikutlah Denganku
Bus tua berbau asap solar dan lepa minyak itu terguncang hebat menembus jalan arteri yang meliuk di perbatasan ibu kota.
Suara deru mesin yang bising dan decit rem yang aus mengisi kabin yang remang-remang. Hana duduk di baris ketiga dari belakang, menyandarkan keningnya yang dingin pada kaca jendela yang bergetar.
Di luar, bayangan pohon-pohon rindang dan tiang listrik meluncur cepat ke belakang, terhapus oleh fajar yang perlahan merekah di ufuk timur.
Hana menghembuskan napas panjang, mencoba meredakan detak jantungnya yang masih berdegup liar. Ia meraba tas ransel di pangkuannya yaitu satu-satunya hal yang ia miliki saat ini.
Aku berhasil, bisiknya dalam hati, mencoba menyuntikkan sedikit rasa lega ke dalam dadanya yang terasa hampa. Aku sudah keluar dari Jakarta.
Namun, ketenangan samar itu tidak bertahan lama.
Tiba-tiba, dari arah belakang, terdengar deru mesin berkapasitas besar yang meraung nyaring, memotong suara mesin bus tua yang lambat.
Cahaya lampu tembak dari dua mobil SUV hitam berukuran raksasa menyinari kabin bus melalui kaca belakang, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di langit-langit kendaraan.
Para penumpang lain yang sebagian besar masih terkabut kantuk mulai berbisik-bisik kebingungan.
"Ada apa itu di belakang?" gumam seorang bapak tua di seberang kursi Hana seraya menengok ke belakang.
"Mobil-mobil mewah itu seperti mengejar bus kita." seru bapak itu lagi.
Jantung Hana mendadak berhenti berdetak. Sengatan dingin melesat dari ujung kakinya langsung menuju ubun-ubun.
Sebelum bus sempat melaju lebih jauh, salah satu SUV hitam itu menyalip dari sisi kanan dengan kecepatan tinggi, lalu secara presisi memotong jalur dan berhenti melintang tepat di depan bus. Sopir bus mengumpat keras sambil menginjak rem dalam-dalam.
CITTTT!
Ban bus berdecit keras menghantam aspal, melontarkan para penumpang ke depan. Bus berguncang hebat sebelum akhirnya berhenti total di bahu jalan raya yang sepi, dihimpit oleh pepohonan rindang di kanan dan kiri.
"Setan! Siapa orang-orang gila itu?!" teriak sopir bus seraya membuka kaca jendela dan menyemburkan makian.
Hana membeku di kursinya. Pandangannya terpaku pada pintu SUV hitam yang terbuka di bawah pendar sinar fajar yang keemasan.
Dari dalam mobil melangkah keluar seorang pria tinggi tegap berbalut mantel hitam mahal. Posturnya yang dominan dan garis wajahnya yang tegas memancarkan aura kekuasaan yang begitu pekat, membuat suasana jalanan yang sepi itu mendadak menggentarkan.
Alvaro Adhitama.
Pria itu berdiri di tengah jalan, matanya yang tajam menyapu setiap jendela bus dengan pandangan menuntut yang tak tertekankan.
Di belakangnya, Nakula dan dua pria bertubuh tegap bersetelan jas berdiri siaga, namun Alvaro memberi isyarat tangan agar mereka tetap tinggal di belakang.
"Pak! Ada apa ini?!" panggil sopir bus saat pintu lipat bus terbuka secara otomatis. "Bapak tahu ini membahayakan penumpang saya?!"
Alvaro tidak menjawab makian sang sopir. Ia melangkah menaiki tangga besi bus dengan gerakan tenang namun pasti. Setiap pijakan sepatunya di lantai bus menimbulkan suara ketukan yang bergema di tengah kesunyian kabin yang mendadak cengang.
Pandangan Alvaro menyapu deretan baris kursi satu per satu. Para penumpang beringsut mundur, terintimidasi oleh keberadaan pria asing yang tampak seperti penguasa dari dunia lain ini.
Dan kemudian, mata Alvaro mengunci sosok gadis yang meringkuk di baris belakang.
Hana.
Alvaro menarik napas panjang yaitu sebuah hembusan napas yang sarat akan rasa lega, penyesalan, dan ketegasan mutlak. Ia melangkah menyusuri lorong sempit bus, mengabaikan tatapan heran puluhan pasang mata, hingga berhenti tepat di samping kursi Hana.
"Hana..." panggil Alvaro. Suaranya tidak lagi dingin atau ketus seperti di kantor, melainkan terdengar begitu rendah, lembut, dan gemetar oleh emosi yang tertahan.
Hana mendongak pelan. Wajahnya yang pucat pasi menatap Alvaro dengan pandangan penuh ketakutan dan keputusasaan yang tak terbayangkan. Jemari tangannya meremas tali ranselnya kencang-kencang hingga memutih.
"J-jangan..." bisik Hana, suaranya pecah di tenggorokan.
"Tolong... Pak Alvaro... jangan ganggu saya lagi..." lirihnya lagi.
Alvaro menyadari betul ketakutan yang membakar mata gadis itu. Bukannya menggunakan kekerasan atau menyeretnya keluar secara paksa seperti yang biasa dilakukan pria berkuasa di posisinya, Alvaro justru berlutut di lorong bus yang kotor. Pria jangkung itu merendahkan posisinya hingga matanya sejajar dengan mata Hana.
"Aku tidak akan menyakitimu, Hana," kata Alvaro pelan, suaranya begitu menenangkan, berbanding terbalik dengan reputasinya yang menakutkan.
"Aku mohon... dengarkan aku dulu." pinta Alvaro.
"Kenapa Bapak tidak bisa biarkan saya pergi?!" jerit Hana lirih, air mata keputusasaan yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah membasahi pipinya yang memar.
"Saya cuma office girl! Saya tidak punya apa-apa! Kenapa Bapak harus mengejar saya sampai ke sini?!"
"Karena aku yang membuatmu seperti ini," balas Alvaro tulus, matanya menatap lurus ke dalam mata Hana tanpa ada kebohongan sedikit pun.
"Aku tidak bisa membiarkanmu berjalan sendirian dalam keadaan terluka dan ketakutan karena kesalahanku. Aku tidak akan pernah bisa dimaafkan kalau membiarkanmu menghilang begitu saja."
"Saya sudah bilang... saya tidak menuntut apa pun dari Bapak!" potong Hana seraya terisak pelan.
"Saya cuma mau hidup tenang... Tolong... biarkan bus ini jalan..." mohon Hana dengan penuh harapan.
"Dan membawamu ke mana?" tanya Alvaro lembut, jemari tangannya terangkat pelan, hendak menyapu air mata di pipi Hana, namun ia menahannya di udara saat melihat Hana sedikit beringsut takut. Alvaro menarik tangannya kembali dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Kau tidak punya tujuan pasti, Hana. Kau lari karena takut padaku, bukan karena kau punya kehidupan yang lebih baik di luar sana." seru Alvaro.
Hana menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di balik jemarinya yang gemetar.
Seluruh ketegangan, rasa lelah, dan keletihan fisik serta mental yang menumpuk sejak semalam runtuh seketika. Ia merasa sangat rapuh, sangat tidak berdaya.
Di hadapan kekuasaan, uang, dan keteguhan Alvaro, segala bentuk perlawanan dan pelariannya terasa seperti usahanya menahan gelombang laut dengan telapak tangan.
"Kenapa harus saya, Pak..." tangis Hana pecah, bahunya naik-turun oleh isakan yang memilukan.
"Kenapa takdir harus jahat sekali sama saya..."
Melihat kepasrahan dan kelemahan gadis itu, dada Alvaro terasa seperti dihantam sembilu. Tanpa memedulikan tatapan penumpang lain, Alvaro berdiri pelan, lalu mengulurkan tangannya pada Hana bukan dengan cengkeraman kasar seperti malam kelam itu, melainkan dengan telapak tangan terbuka, memohon.
"Ikutlah denganku, Hana," bisik Alvaro, suaranya begitu hangat dan menenangkan.
"Aku tidak memaksamu untuk langsung memaafkanku. Aku tidak akan menyentuhmu tanpa izinmu lagi. Tapi tolong... biarkan aku menjamin hidupmu, merawat lukamu, dan memberikan perlindungan yang layak untukmu. Kau tidak perlu lari lagi."
.
.
Cerita Belum Selesai.....