Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.
Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.
Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!
IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com
Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Modus Belajar Untuk Kencan
"Mil, kenapa Sean bisa kasih kamu kado semahal ini? Dia pasti cinta banget sama kamu," ucap sang Mama dengan nada antusias dan wajah yang bahagia.
Emily sempat terdiam beberapa saat sambil berpikir keras alasan Sean Anderson rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk membelikannya tas branded. Emily bahkan tidak merasa terlalu dekat dengan Sean dan ia hanya menganggap Sean sebagai teman sekelasnya yang suka membantunya.
"Kenapa gak jawab pertanyaan Mama? Malu ya kamu disukain sama cowo?" Pertanyaan dari sang ibu membuat Emily tersadar dan ia segera
"Apaan sih, Ma? Dia tuh emang anak orang kaya, makanya dia bisa kasih kado yang mahal. Itu bukan gara-gara cinta sama aku, tapi karena dia memang super kaya aja jadi kadoin tas mahal itu mungkin wajar bagi dia."
Emily berusaha untuk tetap berpikir positif bahwa kadonya bukanlah bukti cinta dari Sean, tetapi hanya sebuah hal wajar di kalangan orang kaya. Bahkan meski Sean benar-benar menyukainya, Emily tidak ingin membalas perasaan Sean karena ia tidak ingin hidupnya terikat oleh perasaan cinta.
"Kamu kok ga percaya sama Mama sih, Mama tuh udah pengalaman soal begini. Dia pasti cinta banget sama kamu sampai effort buat kasih tas semahal ini," ujar sang Mama sambil tersenyum dan memegang bahu kiri Emily dengan tangan kanannya.
Emily terdiam dan berpikir sejenak, mungkin saja Sean benar-benar mencintainya sampai memberinya tas semahal itu. Namun, Emily tidak berani berpikir lagi soal percintaan. Bagi dirinya, hubungan asmara tidak penting dan hanya akan jadi penghambat dalam mengejar ranking di sekolah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya di sekolah, kehebohan kado ultah Emily belum sepenuhnya surut. Namun Emily memilih mengabaikan bisik-bisik iri dari sudut kelas dan tetap fokus menatap lembar soal latihan di mejanya.
"Hai, Emily. Gimana? Kamu suka hadiah dari aku?" Suara berat yang familier mendadak terdengar dari samping mejanya.
Emily mendongak, mendapati Sean berdiri santai dengan seragam rapi dan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan pada orang lain.
"Suka banget, Sean. Makasih ya udah beliin aku tas warna putih."
"Sama-sama. Tapi aku inget kamu sukanya warna ungu, cuma aku ga ketemu tas warna ungu buat kamu. Oh iya, kamu hari ini habis pulang sekolah mau ngapain?"
Emily sempat mengerutkan dahi sejenak, bingung bagaimana Sean bisa tahu warna favoritnya. Namun, ia memilih menjawab pelan, "Aku mau belajar buat ulangan Akuntansi besok di kafe dekat sini, kenapa?"
"Oh, gitu. Kebetulan aku juga mau belajar Akuntansi, boleh ga kamu belajarnya sambil ajarin aku juga hari ini?" tanya Sean dengan wajah penuh harap.
"Hmm... Boleh. Tapi jangan berisik ya. Sama kamu harus janji sama aku kalau kamu bisa ngerti materinya karena aku ga bisa pulang malam-malam," sahut Emily tegas.
"Janji. Jam tiga sore aku tunggu di kafe depan gerbang," jawab Sean mantap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore harinya, sudut kafe berkonsep minimalis itu tampak tenang. Emily sudah duduk di dekat jendela kaca besar, menata buku tebal, kalkulator, dan kacamata silindernya. Sebelum ia sempat beranjak untuk memesan minuman, Sean tiba-tiba datang dan meletakkan se cangkir Taro Latte hangat serta croissant cokelat di meja Emily.
"Loh? Ini buat aku? Aku belum pesan apa-apa," cetus Emily bingung.
"Udah aku pesenin. Taro Latte manisnya pas, tanpa whipped cream. Bener, kan?" ujar Sean santai sembari duduk di hadapan Emily.
Dada Emily berdesir aneh. Ini kedua kalinya Sean menebak seleranya dengan sangat presisi, padahal seingat Emily, ia tak pernah bercerita apa pun pada cowok itu.
"Kamu... kok bisa tahu aku suka ini?" tanya Emily curiga.
"Aku punya mata buat merhatiin kamu, Mil," sahut Sean santai sambil membuka buku tulisnya. "Yuk mulai, katanya nggak mau pulang kemalaman?"
Proses belajar mengajar pun dimulai. Namun, semakin lama Emily menjelaskan materi jurnal penyesuaian, ia semakin sadar ada yang aneh. Setiap kali Emily memberikan soal latihan tingkat sulit, Sean bisa menyelesaikannya hanya dalam hitungan menit tanpa cela.
Emily meletakkan pulpennya dan menatap tajam dari balik lensa tebalnya. "Kamu sebenarnya udah bisa dan paham materi Akuntansi ini, kan? Terus kenapa minta aku ajarin?"
Sean menghentikan jemarinya. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap Emily lekat-lekat tanpa ada keraguan.
"Soalnya kalau aku bilang aku udah paham, kamu nggak akan mau duduk berdua sama aku di sini," aku Sean jujur tanpa nada bersalah sedikit pun.
Jantung Emily mencelos. Suasana meja mereka mendadak hening, bertepatan dengan hujan deras yang mendadak mengguyur jalanan Jakarta di luar jendela.
"Sean, jangan becanda..." gumam Emily, berusaha mengalihkan pandangan dengan merapikan lembar kertasnya.
"Aku nggak pernah becanda kalau soal kamu, Emily," potong Sean cepat. Suaranya terdengar begitu dalam dan tulus. "Dua tahun ini aku selalu merhatiin kamu dari jauh. Kamu selalu sibuk lari sendirian, maksa diri kamu buat jadi sempurna demi dipandang sama orang tua kamu. Apa kamu nggak pernah merasa capek?"
Pertanyaan itu seperti tombak yang merobek pertahanan dingin Emily. Selama ini, tak ada seorang pun yang pernah peduli atau bertanya apakah ia lelah. Dunia hanya menuntutnya untuk terus menjadi nomor satu.
Napas Emily tertahan. Matanya mulai terasa memanas, namun ia sekuat tenaga menahan rasa sesak itu.
"Bukan urusan kamu," cicit Emily pelan, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Sekarang jadi urusan aku," tegas Sean. Tanpa ragu, tangan Sean terulur dan menggenggam lembut jemari Emily yang dingin di atas meja. "Kamu nggak harus selalu menanggung semuanya sendirian. Biar aku yang ada di samping kamu."
Sensasi hangat dari genggaman Sean membuat pertahanan Emily goyah seketika. Namun, logika dan ketakutannya akan rasa cinta kembali mengambil alih. Emily pelan-pelan menarik tangannya.
"Hujan udah mulai reda. Aku harus pulang sekarang," bisik Emily kaku.
Sean tidak memaksakan diri. Ia langsung berdiri dan mengambil kunci mobilnya. "Aku antar. Nggak ada penolakan, jalanan basah dan udah gelap."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam mobil mewah milik Sean, keheningan menyelimuti mereka. Hujan gerimis dan aroma maskulin cendana memenuhi ruangan mobil.
Saat mobil terhenti di lampu merah, Sean mengambil sebuah map kulit dari jok belakang. "Tas kamu tadi agak basah pas lari ke mobil. Di dalam map ini ada handuk kecil, pakai aja buat ngeringin rambut atau kacamata kamu."
Emily menerima map kulit itu. Namun karena tangannya masih sedikit licin, map tersebut terlepas dari pangkuannya dan jatuh mengepak ke lantai mobil. Berkas-berkas di dalamnya terhambur keluar.
"Eh, maaf, Sean! Aku nggak sengaja!" panggil Emily panik, langsung membungkuk untuk memungut lembaran kertas tersebut.
"Nggak apa-apa, Mil, biar aku-"
Belum sempat Sean menyelesaikan kalimatnya, jemari Emily sudah memungut sebuah foto cetak berukuran sedang yang terselip di balik dokumen.
Langkah dan napas Emily terhenti seketika. Matanya membelalak sempurna menatap foto di tangannya.
Foto itu diambil dua tahun lalu. Foto seorang siswi SMA Harapan Bangsa berambut hitam lurus yang sedang tertidur lelap di pojok perpustakaan, mengenakan masker putih dengan kacamata tebal yang sedikit miring.
Foto itu... adalah foto yang persis sama dengan foto pacar LDR yang dipamerkan Sean ke satu kelas dua tahun lalu!
Ternyata tidak pernah ada pacar jarak jauh. Gadis bermasker putih yang dibanggakan Sean dua tahun lalu adalah Emily yang difoto secara diam-diam saat ia kelelahan belajar.
Emily mendongak perlahan. Matanya bergetar menatap wajah Sean yang mendadak kaku di balik kemudi.
"Sean... foto ini..." bisik Emily dengan suara gemetar. "Cewek LDR yang kamu pamerin dua tahun lalu... itu aku?"
Bersambung......