Indonesia
NovelToon NovelToon
Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Wanita perkasa / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.

Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.

Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.

Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.

Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.

Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 — Bonus: Alina

Alina

Aku berguling-guling di ranjang, tapi tak bisa tidur. Aku terus teringat gadis itu, lalu bergerak gelisah lagi. Dmitry menggerutu di sampingku.

"Ada apa, Alina?"

Aku berbalik menghadapnya. Dan berkata, mantap:

"Besok aku akan mencari gadis itu, Dmitry. Dia mengandung cucuku."

Dmitry mengembuskan napas, masih setengah mengantuk, tapi sudah dengan nada seseorang yang berusaha meredam badai.

"Kau belum yakin, Alina. Kita minta tes DNA dulu."

Aku merasakan ketegasannya, tapi aku tak mundur. Justru sebaliknya. Ada sesuatu dalam diriku yang menyala makin kuat.

Aku menarik napas dalam-dalam lalu berkata:

"Aku melihat kejujuran pada dirinya, Dmitry. Dia mengingatkanku pada masa laluku sendiri, hamil dan sebatang kara."

Keheningan menggantung sejenak di antara kami. Aku tahu apa yang dia pikirkan: emosi, dorongan sesaat, kenangan lama yang bercampur dengan kenyataan.

Tapi bukan cuma itu.

Ini keyakinan.

"Besok aku akan menemuinya," ulangku.

Dmitry mengusap wajahnya, sudah lelah bahkan sebelum hari dimulai.

"Jangan gegabah saja. Biar aku selidiki dulu."

Aku langsung menolak.

"Tidak."

Kata itu keluar singkat, tegas, tanpa ruang untuk ditawar.

Aku berbaring menyamping di ranjang, tapi kini ini bukan lagi soal tidur. Ini soal keputusan.

Karena gadis itu...

Tak lepas dari kepalaku barang sedetik pun.

Dan aku tak biasa mengabaikan firasat semacam ini.

Aku bangun dengan tekad bulat. Aku mandi lalu berdandan. Dmitry sudah berangkat kerja sejak tadi. Viktor semalam nyaris tak pulang tidur.

Aku memanggil sopir.

"Pak Geraldo."

Aku mengucapkan selamat pagi dan memintanya mengantarku ke rumah gadis yang kemarin dia antar pulang dari pesta gender reveal Olga.

Kulihat dia menggaruk kepala sebelum menjawab.

"Nyonya... lingkungannya berbahaya."

Dia ragu sejenak lalu menambahkan:

"Kemarin gadis itu menangis cukup lama di dalam mobil."

Dadaku menyempit diam-diam.

"Bisa kubayangkan."

Aku masuk ke mobil dan memandangi pemandangan yang berganti di balik jendela. Sedikit demi sedikit jalanan yang indah menghilang, gedung-gedung mengecil, dan segalanya mulai tampak makin usang. Makin terbengkalai.

Lingkungan itu memang buruk.

Tapi itu tak membuatku takut.

Mobil berhenti beberapa menit kemudian. Pak Geraldo cepat-cepat turun dan membukakan pintu untukku.

"Rumah yang itu, Nyonya."

Pengawalku mengekor tak jauh di belakang, waspada pada setiap gerakan.

Aku mengangkat pandangan.

Dan hatiku mencelos.

Rumah itu nyaris runtuh.

Gerbang besinya berkarat. Catnya yang lama hampir tak bersisa. Aku menyusuri lorong kecil sambil merasakan rasa tak nyaman tumbuh dalam diriku.

Itu bukan kehidupan yang layak bagi siapa pun.

Apalagi bagi seorang anak.

Aku mengetuk pintu.

Kulihat ada gerakan di dalam.

Tapi tak ada yang membuka.

Aku mengetuk lagi.

Kali ini, pintunya terbuka perlahan.

Ekaterina.

Dia terkejut melihatku. Wajahnya seketika kehilangan warna.

"Aku tak mau ada masalah," katanya cepat. "Aku sudah paham Viktor tak mau tahu soal anak ini."

Aku mengerutkan kening.

"Jadi ini anak Viktor?"

Ekaterina langsung menggeleng, air mata memenuhi matanya.

"Bukan... anak ini anakku."

Jawaban itu menghantamku dengan cara yang aneh.

Sebelum aku sempat berkata apa pun, sebuah suara memanggil dari dalam:

"Ayo, Kathy! Aku bisa terlambat ke sekolah!"

Ekaterina otomatis berbalik.

Dan aku bisa melihat lebih jelas isi rumah itu.

Sederhana. Sangat sederhana.

Tapi bersih. Rapi.

Ada kasih sayang yang terjaga di sana.

Seorang anak perempuan muncul tak lama kemudian. Berambut pirang, mirip Ekaterina. Mungkin sekitar lima tahun.

Dia menatapku penasaran lalu tersenyum sopan.

"Selamat pagi, Nyonya."

Hatiku makin mencelos.

"Selamat pagi, Sayang."

Ekaterina membetulkan letak tas ransel si kecil dan menghindari menatapku langsung.

"Aku harus mengantar adikku ke sekolah."

Adik.

Bukan anak.

Aku mengamati keduanya sejenak dalam diam.

Lalu bertanya:

"Boleh aku ikut mengantar kalian?"

Ekaterina langsung ragu.

Seperti hewan ketakutan yang sedang memutuskan lari atau tidak.

Tapi si kecil menggenggam tangannya erat-erat.

Dia menjawab riang bahkan sebelum Ekaterina sempat berkata apa-apa.

"Boleh! Sekolahku bagus sekali."

Dia menggenggam erat tangan Ekaterina sambil melonjak-lonjak.

"Aku baru masuk sekolah lagi beberapa hari lalu, tapi aku sudah punya teman."

Ekaterina tertawa kecil, akhirnya membiarkan sedikit keringanan lolos dari dirinya.

Baru kali ini aku melihatnya begitu.

Bukan ketakutan.

Bukan ketegangan.

Hanya kasih sayang.

Dia menutup pintu rumah dan merapikan tas ransel di bahu si kecil.

"Sekolahnya tak terlalu jauh."

Aku mulai berjalan bersama mereka menyusuri gang-gang sempit di lingkungan itu. Tanahnya tak rata, rumah-rumah berimpitan, kabel-kabel membentang melintang di langit... semuanya begitu jauh dari kenyataan yang kujalani sampai terasa seperti negeri lain.

Tapi mereka melangkah di sini seperti orang yang sudah belajar bertahan hidup di tengah kekacauan ini.

Aku mengamati Ekaterina dari samping.

Meski lelah, meski jelas takut padaku, dia tetap memperhatikan setiap langkah si kecil.

Seolah seluruh dunia boleh runtuh, asalkan bukan yang satu itu.

Lalu dia menoleh ke belakang.

Dan tubuhnya seketika menegang.

Aku mengikuti arah pandangnya.

Tiga prajurit pengawalku membuntuti kami dari jarak beberapa meter.

Waspada.

Bersenjata.

Ekaterina berhenti melangkah seketika.

Ketakutan kembali ke wajahnya begitu cepat sampai menyayat hatiku.

Dia menggenggam tangan si kecil lebih erat.

"Mereka membuntuti kita?" tanyanya lirih.

Aku mengembuskan napas diam-diam.

Tentu saja iya.

Dmitry takkan pernah membiarkanku keluar sendirian.

Aku berbalik menghadap mereka.

"Menjauhlah."

Ketiganya ragu.

"Nyonya Alina..."

Suaraku keluar lebih tegas kali ini.

"Kubilang menjauh."

Mereka saling melempar pandang cepat, tapi menurut, menambah jarak sampai hampir di ujung jalan.

Ekaterina masih tampak curiga.

Seolah menanti-nanti ada jebakan.

Tapi si kecil hanya terus tersenyum, sama sekali tak sadar.

"Lihat, kan?" Dia menunjuk riang ke depan. "Sekolahnya yang biru itu!"

Aku mengikuti arah jari mungilnya.

Di depan pintu sekolah, Ekaterina berjongkok di hadapan si kecil dan menyelipkan beberapa helai rambut pirang ke belakang telinganya.

"Yang manis, ya. Sebentar lagi aku jemput."

Si kecil mengangguk cepat, tapi sebelum masuk dia berbalik ke arahku dengan senyum sopan.

"Namaku Lisbela. Senang berkenalan dengan Nyonya."

Aku tak bisa menahan senyum yang langsung muncul.

"Namaku Alina. Dan aku terpikat padamu, Lisbela."

Dia tersenyum lebih lebar lagi, senang mendengar jawaban itu.

Tapi perhatiannya cepat teralih saat melihat anak perempuan lain masuk lewat gerbang.

"Sofia! Tunggu aku!"

Keduanya berlari masuk bersama ke dalam sekolah, tertawa seolah seluruh dunia begitu sederhana.

Aku mengamati sampai mereka lenyap dari pandangan.

Lalu keheningan kembali.

Ekaterina juga mengamati beberapa detik. Sorot matanya berubah total saat si kecil hilang dari pandangan. Beban itu langsung kembali ke pundaknya.

Kami memulai perjalanan pulang dalam diam.

Tanpa obrolan.

Tanpa pertanyaan.

Hanya suara langkah kami di trotoar yang retak.

Aku menyadari tatapan orang-orang di jalan. Sebagian penasaran. Sebagian lagi curiga. Kehadiranku jelas tak cocok dengan tempat itu.

Tapi Ekaterina terus berjalan menunduk, seolah sudah terbiasa mengabaikan dunia di sekitarnya.

Ketika kami sampai di depan rumah, dia berhenti sejenak sebelum membuka gerbang.

Lalu akhirnya menatapku.

Masih waspada.

Masih ragu.

Tapi tak setakut tadi.

"Nyonya mau masuk?"

Aku mengiyakan, katanya kita perlu bicara.

Ekaterina ragu sedetik, tapi membukakan pintu untukku. Aku masuk perlahan.

Rumah itu kecil.

Ruang tamu sempit dengan sofa sederhana dan televisi menempel di dinding. Dapurnya nyaris menyatu dengan ruang tamu. Sebuah lorong sempit menuju ruangan lain, semuanya terlalu kecil untuk sebuah keluarga hidup dengan nyaman.

Ada bau apak.

Dinding-dindingnya menunjukkan bekas rembesan air.

Tapi semuanya tertata dan bersih.

Sangat bersih.

Seolah dia berusaha menutupi kekurangan uang dengan harga diri.

Aku duduk di sofa dan berhenti melihat-lihat sekeliling agar tak makin membuatnya canggung.

Ekaterina tetap berdiri beberapa detik, jelas tak tahu harus bagaimana dengan kehadiranku di rumahnya.

Lalu aku membuka tasku.

"Kemarin kau pergi tanpa bayaranmu."

Aku mengeluarkan sebuah amplop berisi uang dan menyodorkannya.

Ekaterina menatap amplop itu seolah benda itu bisa meledak.

Lalu mengambilnya perlahan.

Dia membukanya.

Dan seketika mengerutkan kening.

"Ini lebih dari yang disepakati."

Tanpa ragu, dia mengambil hanya sebagian uang dan mengembalikan sisanya padaku.

"Aku tak mau uang keluargamu."

Aku mengamatinya dalam diam.

Suaranya sedikit tergetar saat melanjutkan:

"Sebentar lagi Viktor menggedor pintuku, menuduhku mencuri dari Nyonya."

Itu mengusikku.

Lebih dari seharusnya.

Karena dia bicara tentang putraku dengan rasa takut yang sungguhan.

Bukan amarah.

Bukan dendam.

Ketakutan.

Aku meletakkan amplop itu di meja tengah tanpa mengambilnya kembali.

"Viktor takkan menyentuhmu."

Ekaterina melepas tawa lemah, getir.

Seperti orang yang sudah terlalu sering mendengar janji.

"Nyonya tak mengenal putra Nyonya seperti yang Nyonya kira."

Komentar itu menghantamku telak.

Karena mungkin...

dia benar.

Aku kembali menatapnya.

"Sudah berapa lama usia kandunganmu?"

Ekaterina ragu sebelum menjawab.

"Sekitar tiga bulan."

Aku mengangguk perlahan, mencoba mencairkan ketegangan di antara kami.

"Cucuku yang satu lagi laki-laki. Siapa tahu kali ini perempuan."

Dia menunduk.

"Aku tak tahu."

Jawabannya singkat. Berjarak.

Meski begitu, aku terus melanjutkan.

"Dan bayinya baik-baik saja?"

"Iya."

Sesederhana itu.

Terlalu samar.

Dadaku langsung menyempit.

Dia tak menyebut pemeriksaan. Tak menyebut dokter. Tak menyebut apa pun yang biasa dibicarakan wanita hamil.

Maka aku bertanya langsung:

"Kau sudah ke dokter? Sudah mulai pemeriksaan kehamilan?"

Ekaterina tak menjawab.

Dan diamnya memberiku jawaban yang kubutuhkan.

Aku langsung berdiri.

"Bersiaplah. Aku akan mengantarmu ke dokter."

Dia mengangkat pandangan ke arahku, terkejut.

"Tak perlu."

"Perlu."

Suaraku keluar tegas, tanpa ruang untuk berdebat.

"Aku baru akan pergi setelah kau diperiksa."

Ekaterina menatapku beberapa detik. Kurasa dia sadar aku benar-benar takkan menyerah.

Lalu dia mengembuskan napas, mengalah.

"Aku akan bersiap."

Dia menghilang lewat lorong sempit itu.

Begitu tinggal sendirian, ada sesuatu dalam diriku yang mengusik makin kuat.

Sebuah firasat buruk.

Yang terasa akrab.

Seharusnya aku tak melakukannya.

Tapi nalarku tak mau membiarkanku tenang.

Aku berjalan ke dapur.

Kubuka salah satu lemari.

Kosong.

Yang satunya.

Kosong.

Hatiku benar-benar mencelos kali ini.

Meski begitu aku terus.

Kuhampiri kulkas, sudah merasakan kepedihan naik ke tenggorokanku.

Saat kubuka...

Cuma sedikit susu.

Dan air.

Tak ada lagi.

Aku cepat-cepat menutupnya, seolah pemandangan itu takkan terlalu menyakitiku kalau tak kupandangi terlalu lama.

Lalu aku kembali ke ruang tamu sebelum dia menyadari.

Tapi sekarang...

aku sudah paham jauh lebih banyak dari yang ingin Ekaterina tunjukkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!