Indonesia
NovelToon NovelToon
Its You

Its You

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:74
Nilai: 5
Nama Author: tatitu

Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
​Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di Luar, Gelora di Dalam

Malam akhir pekan di Paris menyapa tanpa kehangatan. Langit di atas kota mode itu tertutup jelaga kelam yang menyapu habis sisa-sisa pendar bintang. Angin musim gugur berembus kencang dari arah Sungai Seine, membawa serta bulir-bulir hujan deras yang menghantam kaca jendela apartemen lantai atas tempat Jungkook dan Mira tinggal. Bunyi gemuruh berulang kali terdengar di kejauhan, bagaikan derap langkah raksasa yang kian mendekat.

Di dalam kamar tidurnya yang hangat, Mira meringkuk di balik selimut tebal. Lampu tidur di sudut meja memancarkan cahaya kekuningan yang lembut, memberi sedikit ketenangan di tengah atmosfer luar yang kian mencekam. Buku catatan terjemahan bahasa Prancis masih tergeletak terbuka di atas kasur, namun perhatian Mira sepenuhnya teralihkan oleh deru angin yang membuat bingkai jendela kaca bergetar pelan.

DUAR!

Sebuah dentuman dahsyat membelah angkasa. Kilatan cahaya putih yang teramat menyengat menembus celah gorden, disusul oleh suara gemuruh yang seolah memecah langit persis di atas atap bangunan apartemen.

CEKLIK.

Listrik padam total. Cahaya dari lampu tidur seketika padam, melempar seluruh sudut apartemen ke dalam kegelapan pekat yang membekukan. Suara dengung peralatan elektronik berganti sepenuhnya oleh nyanyian gemuruh badai di luar yang kian menggelegar.

Mira terlonjak kaget di atas kasurnya.Rasanya jantungnya melompat hingga ke kerongkongan. Ketakutannya pada suara petir dan kegelapan mendadak menyatu, membanting seluruh logika dan rasa canggung yang selama ini mengikatnya. Napasnya memburu cepat, matanya membelalak panik menembus kehitaman kamar. Tanpa berpikir panjang, tanpa menyempatkan diri memakai sandal bulunya, Mira melompat dari tempat tidur.

Dengan jemari yang gemetar hebat, ia meraba-raba dinding koridor kamar yang dingin, berlari tergesa-gesa menembus kegelapan menuju satu-satunya titik aman yang ada di dalam benaknya: keberadaan Jeon Jungkook.

Di saat yang bersamaan, Jungkook baru saja melangkah keluar dari kamar mandi utama. Ia belum sempat mengenakan pakaian lengkapnya karena pemadaman listrik yang mendadak. Pria itu hanya melilitkan selembar handuk putih tebal di pinggangnya, meninggalkan tubuh bagian atasnya yang atletis telanjang bulat, masih basah oleh sisa-sisa tetesan air yang mengalir dari rambut hitamnya yang basah menelusuri lekuk otot dada dan perutnya yang tegas.

Jungkook baru saja berniat meraba dinding untuk mencari ponselnya di ruang tengah ketika sebuah tubuh mungil mendadak menabrak dadanya dengan amat keras.

BRUK!

"O-Oppa! Petirnya keras sekali...!" isak Mira dengan suara bergetar hebat.

Gadis itu menyergap tubuh Jungkook tanpa ragu. Kedua lengan mungilnya melingkar erat di pinggang telanjang Jungkook, mencengkeram kulit hangat dan keras pria itu dengan sekuat tenaga. Wajah Mira terbenam sepenuhnya di dada bidang Jungkook yang masih basah, menyerap kehangatan dan aroma sabun mandi pria itu yang maskulin dan menenangkan. Seluruh tubuh Mira gemetar seperti daun kering yang dihantam angin malam.

Jungkook seketika membeku di tempat. Tangan tegapnya yang tadinya terangkat di udara tertahan kaku. Napasnya terhenti di tenggorokan.

Sensasi sentuhan mendadak ini menghantam seluruh saraf di tubuh Jungkook bagaikan sengatan listrik bertegangan tinggi. Pria itu bisa merasakan kelembutan tubuh Mira yang menempel sempurna tanpa jarak pada dada dan perut telanjangnya. Napas hangat Mira yang memburu dan terengah-engah menerpa kulit dadanya yang basah, sementara Isakan kecil gadis itu bergetar tepat di atas detak jantungnya. Handuk yang terikat di pinggangnya terasa sangat tipis, tak mampu menjadi pembatas bagi kedekatan fisik mereka yang teramat intim di tengah kegelapan ini.

Darah pria dewasa di dalam diri Jungkook mendadak berdesir dan mengalir deras, memompa gejolak naluri yang teramat kuat dan berbahaya.

"M-Mira-ya..." panggil Jungkook dengan suara yang mendadak tercekat, teramat parau dan berat.

DUAR!

Sekali lagi, kilatan cahaya petir menyambar di luar jendela ruang tengah, menerangi siluet tubuh mereka selama sepersekian detik sebelum kembali diserap oleh kegelapan pekat. Suara dentuman gemuruh yang menyertainya membuat Mira menjerit kecil dan semakin mempererat cengkeraman tangannya di pinggang Jungkook, menempelkan tubuhnya kian rapat hingga tak ada celah udara sedikit pun di antara mereka.

Jungkook memejamkan matanya rapat-rapat. Pria itu membasahi bibirnya yang mendadak kering, berjuang setengah mati menguasai akal sehatnya yang kian terkikis oleh kehangatan tubuh gadis di pelukannya. Pria itu menghembuskan napas berat yang bergetar, lalu melepaskan kendali atas keraguannya.

"Ssst... tidak apa-apa. Ada aku di sini. Tidak perlu takut," bisik Jungkook tepat di atas kepala Mira, suaranya yang dalam dan bernada bass terdengar teramat lembut, bertolak belakang dengan gejolak di dalam dadanya.

Dengan gerakan yang perlahan namun pasti, Jungkook merengkuh punggung mungil Mira dengan satu lengan tegapnya, sementara lengan lainnya menyelusup ke bawah lipatan lutut gadis itu. Tanpa usaha berarti, Jungkook mengangkat tubuh Mira dari lantai, membawanya ke dalam gendongan gaya bridal carry yang erat dan penuh perlindungan.

Mira yang kaget hanya bisa melingkarkan kedua tangannya lebih tinggi, menyangkutkan lengannya di leher tegap Jungkook dan menyandarkan kepalanya di ceruk leher pria itu. Kulit leher Jungkook yang hangat dan basah menyentuh pipi Mira yang panas, menyalurkan sensasi sengatan manis yang membuat jantung Mira berdebar tak kalah liar.

Dengan langkah mantap menembus kegelapan yang dihafalnya di luar kepala, Jungkook membawa Mira menuju sofa besar di ruang tengah. Ia mendudukkan dirinya di atas busa sofa yang empuk, tetap mempertahankan Mira berada di atas pangkuannya. Pria itu tidak membiarkan Mira bergeser sedikit pun; ia mendekap tubuh gadis itu tetap menempel erat di dadanya, menjadikan tubuh tegapnya sebagai benteng kokoh yang melindungi Mira dari teror badai di luar.

Jungkook meraba bagian belakang sofa, meraih selimut rajut tebal yang biasa tersimpan di sana, lalu membentangkannya untuk menyelimuti tubuh mereka berdua. Di balik selimut yang hangat itu, Jungkook melingkarkan kedua tangannya di pinggang dan punggung Mira, mengusap helai-helai rambut panjang gadis itu secara konstan dengan gerakan yang sangat halus.

"Aku di sini, Mira-ya. Petirnya tidak akan menyakitimu," gumam Jungkook berulang kali di dekat telinga Mira, membisikkan kata-kata penenang bagaikan mantra di tengah gulita.

Mira tidak menjawab. Gadis itu hanya memejamkan matanya rapat-rapat, menikmati setiap usapan jemari tegap Jungkook di punggungnya. Dada tegap pria itu yang ketiadaan busana menjadi tumpuan bagi wajahnya. Mira bisa mendengar dengan sangat jelas detak jantung Jungkook yang bertalu-talu, cepat, kuat, dan penuh akselerasi liar yang sama sekali tidak berirama santai.

Apakah jantung Jungkook Oppa berdegup kencang karena petir... atau karena aku? batin Mira bertanya-tanya di dalam hatinya yang bergolak.

Namun, di luar pertanyaan itu, rasa nyaman yang teramat pekat perlahan menjalar dan menguasai seluruh diri Mira. Di atas pangkuan Jungkook, terbungkus dalam selimut yang sama, dan diapit oleh dekapan dua lengan kekar yang begitu protektif, meskipun dalam kegelapan, ketakutan Mira pada badai dahsyat di luar perlahan meleleh. Ia merasa teramat aman, seolah-olah tidak ada satu hal pun di dunia ini yang sanggup melukainya selama ia berada di dalam dekapan pria ini. Perlakuan serba manis dan kehangatan yang tak pernah ia dapatkan dari siapa pun ini seolah membius seluruh jiwanya.

Di sisi lain, posisi ini merupakan siksaan manis yang teramat menyiksa bagi Jeon Jungkook.

Kepala Mira bersandar penuh di ceruk lehernya. Setiap kali gadis itu bernapas, hembusan udara hangat dari hidung dan bibirnya menerpa langsung kulit sensitif di leher dan tulang selangka Jungkook. Aroma sampo buah persik yang segar berpadu dengan aroma alami tubuh Mira menyeruak memenuhi indra penciumannya, memabukkan akal sehat pria itu secara perlahan.

Setiap kali gemuruh petir kembali menyambar di luar, tubuh Mira akan berjingkat kecil, dan refleks gadis itu adalah mempererat pelukan tangannya di leher Jungkook serta makin membenamkan wajahnya di leher pria itu. Gesekan lembut kulit mereka, kehangatan tubuh mungil yang menempel di pangkuannya, serta keheningan malam yang gulita membuat seluruh rasa posesif dan hasrat terpendam yang selama ini dipendam Jungkook mencuat ke permukaan secara masif.

Jungkook menengadahkan kepalanya sedikit ke belakang, menyandarkannya pada sandaran sofa. Rahangnya mengeras ketat, urat-urat di leher dan lengannya menegang saat ia mengepalkan jemarinya di punggung Mira, berjuang sekuat tenaga mengendalikan diri. Napasnya memburu halus, berat dan tidak teratur.

Di dalam kegelapan yang hanya sesekali diterangi kilatan cahaya kilat dari luar, mata hitam Jungkook yang tajam berkilat penuh intensitas. Pria itu melirik ke bawah, menatap puncak kepala Mira dan garis leher halus gadis itu yang terekspos di bawah cahaya temaram petir. Bibir merah Mira berada begitu dekat, hanya berjarak beberapa milimeter dari kulit lehernya. Cukup dengan memiringkan kepalanya sedikit saja, Jungkook sanggup menautkan bibirnya pada bibir manis gadis itu dan menuntaskan gejolak dahsyat yang membakar dadanya.

Tetapi Jungkook menahannya. Pria itu memejamkan mata rapat-rapat, menggigit bibir bawahnya seraya menghembuskan napas panas yang tertahan. Ia tahu Mira sedang ketakutan dan membutuhkan perlindungan, bukan ketegangan lain dari hasratnya. Pria itu tidak ingin menakut-nakuti gadis polos yang telah memercayakan rasa amannya secara penuh di dalam dekapan ini.

Jungkook mengencangkan dekapan tangannya di pinggang Mira, menyalurkan seluruh gelora rasanya menjadi sebuah perlindungan yang makin erat dan posesif. Ia mengusap lembut tengkuk Mira, membiarkan jemarinya tenggelam di antara helai-helai rambut halus gadis itu, menenangkan gemetar tubuh Mira hingga perlahan-lahan ritme napas gadis di pangkuannya itu mulai teratur dan membeku santai.

Hujan deras di luar masih menepis kaca jendela tanpa ampun. Gemuruh petir masih sesekali terdengar di kejauhan, namun di atas sofa ruang tengah yang gulita itu, dunia seolah-olah telah berhenti berputar hanya untuk mereka berdua.

Mira yang kelelahan karena hentakan rasa takut yang hebat tadi, ditambah dengan kenyamanan luar biasa di dalam pelukan Jungkook, perlahan-lahan mulai kehilangan kesadarannya. Matanya kian berat, napasnya berembus makin teratur dan halus menerpa leher Jungkook. Gadis itu akhirnya tertidur lelap di atas dada tegap pria itu, masih memeluk leher Jungkook dengan erat seolah tak ingin dilepaskan.

Jungkook merasakan perubahan ritme napas Mira. Pria itu menunduk perlahan, memastikan bahwa gadis di pangkuannya telah benar-benar tertidur nyenyak. Senyum tipis yang amat tulus dan sarat akan kehangatan mengukir bibirnya di dalam kegelapan.

Pria itu mendekatkan wajahnya, meletakkan kecupan yang teramat lama dan lembut di puncak kepala Mira, menghirup dalam-dalam aroma persik yang menenangkan dari rambut gadis itu.

Malam itu, di tengah badai dan kegelapan kota Paris yang membekukan, Jeon Jungkook sepenuhnya menyerah pada kenyataan. Dinding pertahanan diri yang selama ini ia bangun dengan alasan "menjaga adik dari sahabatnya" telah hancur lebur tanpa tersisa. Pria itu tahu persis bahwa dirinya telah jatuh terlalu dalam ke dalam pesona Kim Mira dan ia tidak pernah berniat untuk keluar dari sana.

Tengah malam berlalu. Badai yang tadi mengamuk dahsyat di luar perlahan surut menjadi gerimis tipis. Gemuruh petir tak lagi terdengar, menyisakan keheningan malam yang tenang di kota Paris.

​TET... TET... TING!

​Suara berdengung pelan dari pendingin ruangan dan peralatan elektronik mendadak berbunyi. Lampu gantung ruang tengah yang terang benderang seketika menyala, membanjiri seluruh ruangan dengan cahaya putih yang silau.

​Mira terusik dari tidur lelapnya. Kelopak matanya bergetar pelan sebelum perlahan-lahan terbuka. Silau cahaya lampu membuat matanya mengerjap beberapa kali. Sensasi hangat dan lembut yang melingkupi tubuhnya membuat Mira hendak meregangkan otot, namun ia merasakan ada tekanan berat dan kokoh yang melingkari pinggangnya.

​Saat pandangannya mulai fokus, napas Mira seketika tertahan di tenggorokan.

​Wajah Jeon Jungkook berada hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya! Pria itu tertidur pulas dengan napas teratur yang terhembus lembut menyapu dahi Mira. Namun yang membuat jantung Mira serasa meledak saat itu juga adalah kenyataan bahwa tubuhnya saat ini sedang duduk menempel rapat di atas pangkuan Jungkook, dan wajahnya tadi menempel tepat di atas dada telanjang pria itu!

​Mira menunduk perlahan dengan mata membelalak sempurna. Kulit dada Jungkook yang bidang dan berotot berada tepat di depan matanya, tanpa selembar benang pun. Pandangan Mira turun lebih jauh ke bawah selimut yang sedikit tersingkap. Tidak ada baju, tidak ada kaos... Jungkook hanya mengenakan selembar handuk putih yang terikat riskan di pinggangnya!

​DEG!

​Darah mendadak mendidih dan menyapu seluruh wajah hingga telinga Mira. Sensasi kulit telanjang pria itu yang menempel pada tubuhnya kini terasa seratus kali lipat lebih panas dari sebelumnya.

​"O-Oppa..." cicit Mira panik setengah mati.

​Karena terkejut dan panik luar biasa, Mira tersontak dan langsung mendorong dada Jungkook reflek. "Jungkook Oppa! Bangun!"

​Jungkook yang terbangun mendadak akibat dorongan dan suara panik itu langsung membuka matanya lebar-lebar. "N-ggh... Mira-ya? Ada apa?!" tanya Jungkook linglung, matanya yang biasa tajam kini mengerjap bingung melihat cahaya terang benderang yang menyinari mereka.

​Mira secepat kilat melompat turun dari pangkuan Jungkook. Kakinya yang gemetaran hampir saja membuat gadis itu tersandung ujung sofa jika ia tidak segera menyeimbangkan diri. Wajahnya sudah merah padam bagaikan buah tomat yang matang.

​"M-maaf! Maafkan aku, Oppa!" seru Mira gagap, menutup matanya dengan kedua telapak tangan karena tidak sanggup melirik ke arah dada telanjang Jungkook lagi. "A-aku tidak sengaja... tadi petirnya sangat keras dan aku panik... aku benar-benar minta maaf!"

​Jungkook yang baru sadar sepenuhnya mendadak tersadar akan kondisinya sendiri. Pria itu menunduk melihat tubuh bagian atasnya yang polos tanpa pakaian, lalu melihat posisi handuknya yang hampir melonggar di pinggang.

​Wajah Jungkook seketika memerah hebat, menyamai rona merah di wajah Mira. Dengan panik namun berusaha tetap terlihat tenang, Jungkook secepat kilat meraih selimut rajut di sofa dan membungkus erat seluruh tubuh bagian atas hingga dadanya.

​"Ah... t-tidak apa-apa, Mira-ya," jawab Jungkook dengan suara yang kembali meracau canggung. Pria itu berdeham beberapa kali sambil membetulkan gulungan selimut di dadanya.

"Listriknya... sudah menyala, ya?"

​"I-iya, sudah menyala," bisik Mira masih menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang teramat panas. "Aku... aku kembali ke kamar dulu, Oppa! Selamat tidur!"

​Tanpa menunggu jawaban Jungkook lagi, Mira membalikkan badan dan berlari kencang menuju kamarnya, menyisakan suara dentuman pintu yang tertutup rapat.

​Di ruang tengah yang terang benderang, Jungkook terduduk sendirian di atas sofa, dibungkus selimut tebal bagaikan kepompong. Pria itu mengusap wajahnya yang terasa sangat panas dengan sebelah tangan, lalu tertawa pelan dan renyah meratapi kepanikan manis mereka berdua di tengah malam itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!