Indonesia
NovelToon NovelToon
DIA YANG KU PILIH

DIA YANG KU PILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: Raudah Sahidah

Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...

lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....

ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...


Hati menjerit serta memanjatkan doa....

berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....


Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....

ke hadiran yang ku nanti telah tiba...

dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...


Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Rahasia Rosita Merina

Mobil Rina melaju perlahan meninggalkan gerbang rumah besar keluarga Wijaya, roda-roda karetnya berputar halus di atas aspal yang masih bersih dan segar tersentuh embun pagi.

Rina memegang setir dengan kedua tangannya, namun pandangannya lurus ke depan tanpa benar-benar melihat jalanan yang dilaluinya. Pikirannya masih tertinggal di saat ia berhadapan dengan Laras yang menatapnya dengan tatapan yang begitu tenang namun penuh perhitungan.

Setiap kata yang terucap dari bibir ibu tirinya itu terngiang kembali di telinganya, menekan dadanya perlahan namun pasti, seolah ada beban berat yang terus menghimpit tanpa pernah melepaskan. Rasa muak yang sempat ia tahan di teras tadi belum sepenuhnya hilang, masih mengganjal di kerongkongannya, membuat setiap tarikan napas terasa sedikit lebih berat dari biasanya.

Ia tidak berbelok ke arah jalan yang menuju ke tempat yang diminta Laras, tidak sama sekali. Sebaliknya, Rina memutar setir mobilnya ke arah yang berlawanan, menuju jalan raya utama yang ramai, lalu terus melaju hingga hiruk-pikuk kendaraan mulai menyebar dan digantikan oleh suasana yang lebih tenang namun tetap hidup.

Di sana, di sebuah kawasan yang strategis namun tidak terlalu mencolok, berdiri sebuah bangunan dua lantai yang modern dan elegan. Papan nama bertuliskan "Narira Resto" terpasang rapi di bagian depan, dengan huruf-huruf yang berkilau lembut tersentuh sinar matahari pagi.

Itu adalah restoran yang ia bangun sepenuhnya dengan keringat sendiri, hasil kerja keras, ketekunan, dan tabungan yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun tanpa ada satu pun orang di rumah itu termasuk Rian, kakaknya yang mengetahui tentang lestoran itu.

Tempat ini adalah satu-satunya dunia yang benar-benar miliknya, tempat di mana ia tidak perlu berpura-pura menjadi anak yang penurut dan patuh, tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus takut dihakimi atau dimanfaatkan.

Rina menghentikan mobilnya di halaman parkir yang luas dan tertata rapi di samping bangunan itu. Mesin mobil dimatikannya, dan untuk sesaat ia hanya duduk diam di sana, memandangi gedung itu dari balik kaca depan. Hatinya terasa sedikit lebih tenang hanya dengan melihatnya, seolah setiap sudut bangunan itu memancarkan kekuatan yang mengalir masuk ke dalam dirinya.

Ia menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan, lalu membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Udara pagi yang segar langsung menyambutnya, menyapu sisa-sisa ketegangan yang masih melekat di bahunya.

Begitu kakinya melangkah masuk melewati pintu utama, senyum yang berbeda dari sebelumnya langsung terukir di wajahnya—bukan senyum pura-pura yang ia tampilkan di hadapan Laras, melainkan senyum yang tulus, hangat, dan penuh kepercayaan diri. Para pegawai yang sudah datang dan sedang bersiap menyambut pelanggan menyambut kedatangannya dengan sapaan yang ramah dan penuh hormat.

"Selamat pagi, bu Rosita!" ucap mereka serempak, menyapanya dengan senyum yang tulus.

"Selamat pagi, semuanya" jawab Rina lembut namun tegas, suaranya terdengar hangat dan menenangkan.

Ia berjalan perlahan menyapa satu per satu, menatap mata mereka dengan perhatian yang tulus. "Terima kasih sudah datang lebih awal. Semoga hari ini kita semua dalam keadaan sehat dan bersemangat, ya" ucap rina.

"Tentu bu rosita!" jawab mereka dengan antusias, senyum di wajah mereka semakin melebar melihat keramahan pemilik restoran itu.

Rina mengangguk pelan, lalu melangkah melewati ruang resepsionis yang bersih dan beraroma harum rempah yang lezat, menuju lorong yang mengarah ke ruang kerjanya sendiri di lantai dua. Setiap langkahnya terasa lebih ringan dibandingkan saat ia berjalan di rumah Wijaya. Di sini, lantai keramiknya mengkilap dan bersih, namun tidak terasa dingin dan menuntut seperti di rumah itu. Di sini, keanggunannya adalah miliknya sendiri, bukan topeng yang harus ia pakai demi menyenangkan orang lain.

Sesampainya di depan pintu ruangannya yang bertuliskan nama "Rosita" dengan huruf timbul kecil di samping gagang pintu, ia membukanya perlahan dan melangkah masuk. Ruangan itu luas namun nyaman, didominasi warna krem dan kayu cokelat hangat yang menciptakan suasana tenang dan menyegarkan.

Di tengah ruangan terdapat meja kerja kayu jati yang besar namun sederhana, dan di sudut lain berdiri sebuah sofa empuk berwarna cokelat susu yang menghadap ke jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota yang mulai sibuk.

Rina menutup pintu di belakangnya, memutar kunci perlahan hingga terdengar bunyi 'klik' halus yang menandakan ia kini benar-benar sendirian. Tidak ada mata yang mengawasi, tidak ada telinga yang mendengar, tidak ada peran yang harus ia mainkan lagi. Kakinya melangkah pelan menuju sofa itu, lalu ia duduk dan merebahkan tubuhnya sepenuhnya ke bantalan empuknya. Punggungnya yang sejak tadi tegang perlahan rileks, bahunya turun, dan kepalanya bersandar lembut di sandaran sofa. Matanya menatap langit-langit ruangan yang putih bersih, napasnya teratur dan pelan, seolah sedang membiarkan setiap inci kelelahan yang menumpuk perlahan luruh jatuh ke lantai.

"Aku tidak sepatuh dan sepenurut itu, Laras..." gumamnya pelan, suaranya berbisik lembut di ruangan yang sunyi itu, hanya terdengar oleh dirinya sendiri.

Ujung bibirnya terangkat membentuk senyum kecil yang penuh makna itu bukan hanya kebahagiaan, bukan pula kesedihan, melainkan kepuasan yang tenang.

"Kau pikir kau bisa mengatur hidupku sesuka hati, menganggapku boneka yang bisa kau gerakkan sesuai keinginanmu. Kau salah. Selama ini aku hanya menunggu waktu, menunggu saat yang tepat untuk menunjukkan bahwa aku bukanlah apa yang kau pikirkan selama ini" ucap rina.

Ia diam sejenak, membiarkan kata-katanya menggema pelan di dalam hatinya sendiri. Jantungnya berdetak tenang, kendali atas dirinya sendiri perlahan kembali utuh. Perlahan, Rina menegakkan tubuhnya kembali, punggungnya lurus dan teguh, matanya kembali tajam dan jernih.

"Sejauh ini semua masih dalam kendaliku" ucapnya kembali, kali ini dengan suara yang lebih mantap dan tegas, seolah meyakinkan dirinya sendiri sekaligus menegaskan janji yang ia buat dalam hati.

"Aku tahu apa yang aku lakukan. Aku tahu ke mana langkah selanjutnya akan membawaku. Kau mungkin menyusun rencanamu rapi-rapi, Laras, tapi kau lupa satu hal aku juga bisa punya rencanaku sendiri, dan rencanaku itu jauh lebih rapi dari yang mungkin bisa kau bayangkan" ucap rina dengan menekan setiap kalimat.

Rina menoleh ke arah jendela kaca besar di hadapannya, menatap keluar ke arah jalanan kota yang semakin ramai, ke arah langit biru yang cerah tanpa awan yang menghalangi pandangannya.

Di balik kaca bening itu, dunia berputar dengan cepat, orang-orang berjalan dengan tujuan masing-masing, dan di antara keramaian itu, ia berdiri tegak dengan dunianya sendiri. Senyum yang terukir di bibirnya kini begitu sulit diartikan—ada ketegasan di sana, ada kebijaksanaan yang tumbuh dari pengalaman pahit, ada keberanian yang perlahan menguat, dan ada tekad yang tak bisa digoyahkan lagi. Siapa pun yang melihat senyum itu mungkin akan bingung menafsirkannya, namun bagi Rina, senyum itu adalah jawaban atas segala tekanan yang selama ini ia pendam.

Ia tidak akan pergi ke tempat yang diminta Laras hari ini, tidak hari ini. Ia akan tetap di sini, di tempat yang benar-benar miliknya, mengurus apa yang menjadi tanggung jawabnya sendiri. Biarlah Laras menunggu, biarlah ia bertanya-tanya dan marah—Rina sudah siap menghadapi segala konsekuensinya. Karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Rina merasa memegang kendali atas hidupnya sendiri.

Ia bukan lagi anak-anak yang harus selalu patuh, bukan lagi anak yang hanya bisa menangis, bukan lagi sosok yang hanya ada untuk melengkapi keinginan orang lain. Di sini, di ruangan ini, di restoran yang ia bangun dengan tangannya sendiri, Rina adalah dirinya sendiri—utuh, bebas, dan mampu membantengi dirinya sendiri dlam perang senyap kepada ibu tirinya.

Perlahan ia bangkit dari sofa, melangkah menuju meja kerjanya dengan langkah yang ringan namun penuh keyakinan. Ia duduk di kursi kerjanya, membuka buku catatan, dan mengambil pena. Pikirannya mulai menyusun rencana-rencana baru, menyusun langkah demi langkah yang akan membawanya semakin jauh dari bayang-bayang rumah Wijaya dan semakin dekat pada kebebasan yang selama ini ia dambakan. Di luar sana, matahari semakin tinggi dan bersinar terang, menyinari setiap sudut ruangan itu dengan cahayanya yang hangat, seolah ikut merayakan kebangkitan gadis yang akhirnya berani berdiri atas kakinya sendiri.

Matahari baru saja mengintip malu-malu dari balik bukit, menyebarkan cahaya keemasan yang lembut menyentuh atap rumah kayu sederhana itu. Udara pagi masih terasa sejuk dan segar, membawa aroma tanah basah serta wangi bunga-bunga liar yang tumbuh di halaman rumah Rania.

Di dalam kamar kecil yang rapi itu, Rania sudah bangun sejak lama. Ia berdiri di depan cermin kecil yang menempel di dinding, merapikan pakaiannya dengan teliti—kemeja sederhana berwarna biru muda yang bersih dan rapi, serta rok kain yang nyaman untuk bergerak seharian di pasar.

Rambutnya yang hitam panjang diikat rapi ke belakang kepala, membiarkan wajahnya yang bersinar segar terpancar tanpa halangan. Di kakinya, ia mengenakan sepatu kain yang nyaman dan kokoh, siap melangkah jauh demi membantu Bu Rahma di lapak sayuran.

Rania meraih tas anyaman bambunya yang sudah siap di samping tempat tidur yang di dalamnya tersimpan bekal sederhana berupa nasi bungkus dan air minum yang disiapkan Mamanya pagi-pagi. Ia memastikan tidak ada yang tertinggal, lalu menarik napas panjang, merasakan semangat yang mengalir di dadanya. Hatinya tenang namun penuh harapan, senyum tak pernah lepas dari bibirnya setiap kali teringat pada Bu Rahma yang begitu baik padanya, pada lapak sayur yang kini menjadi tempat ia belajar banyak hal tentang kehidupan.

Dengan langkah ringan, Rania melangkah keluar dari kamarnya menuju ruang tengah. Di sana, Mamanya sedang duduk di meja kayu kecil sambil menyusun sayuran yang baru dipetik dari ladang tadi subuh.

Cahaya matahari pagi menembus celah jendela kayu, jatuh tepat di wajah wanita itu, menyoroti kerutan halus di dahinya yang menjadi bukti ketekunan dan kasih sayang yang tak pernah putus.

"Ma..." panggil Rania pelan, suaranya lembut namun terdengar jelas di ruangan yang hening itu.

Mama Rania menoleh seketika, wajahnya seketika menyambut putrinya dengan senyum hangat yang selalu menenangkan hati siapa pun yang melihatnya. Tangan kasarnya yang penuh bekas kerja terhenti sejenak, lalu bergerak perlahan menyeka keringat tipis di pelipisnya.

"Sudah siap berangkat, Nak?" tanyanya lembut, matanya menatap Rania dengan penuh kasih sayang sekaligus kekhawatiran halus yang tak pernah benar-benar hilang.

Rania mengangguk mantap, melangkah mendekat dan menggenggam tangan Mamanya erat-erat. "Iya, Mah... Aku mau ke pasar lagi hari ini, bantu Bu Rahma. Aku sudah berangkat sekarang" ucap raniaenuh semangat.

Mama Rania mengusap punggung tangan putrinya dengan ibu jarinya yang kasar namun hangat, menatap wajah Rania lekat-lekat seolah ingin mengingat setiap inci wajah gadis itu di dalam hatinya. "Mama bangga sekali padamu, Rania. Kamu tumbuh menjadi gadis yang rajin dan berbakti. Tapi Mama juga ingin kamu ingat satu hal—jangan terlalu memaksakan diri, ya? Jika lelah, beristirahatlah. Kesehatanmu jauh lebih berharga daripada apa pun yang ada di pasar itu" ucap mama rania.

Rania tersenyum hangat, merasakan hangatnya kasih sayang Mamanya mengalir langsung ke dalam hatinya. Ia mendekat dan memeluk bahu Mamanya dengan lembut, menaruh pipinya di bahu yang kurus namun kokoh itu.

"Aku tahu, Mah... Terima kasih sudah mengingatkan. Aku akan berhati-hati, aku akan makan dengan teratur dan istirahat kalau sudah lelah. Jangan khawatir ya, Bu Rahma juga baik sekali padaku, dia selalu menyuruhku beristirahat kalau sedang sepi" ucap rania.

"Bu Rahma itu wanita yang baik" gumam Mama Rania pelan, mengusap punggung putrinya perlahan.

"Bersyukurlah kamu bertemu dengan orang tulus seperti dia. Tapi tetap jaga dirimu, Nak. Pasar itu ramai dan panas, minum air yang cukup, ya"

"Iya, Ma. Aku janji mamah tenang saja" jawab Rania melepaskan pelukannya, menatap mata Mamanya dengan penuh keyakinan.

"Nanti sore aku pulang seperti biasa. Kalau ada pesan atau barang yang perlu aku beli di pasar, bilang saja sekarang" tawar rania.

Mama Rania menggeleng pelan, tersenyum lembut. "Tidak ada, Nak. Kamu cukup jaga dirimu saja. Itu sudah cukup untuk Mama. Hati-hati di jalan ya, jaga keselamatanmu. Jangan lupa berdoa sebelum berangkat"

" Iya, Mah" ucap Rania sambil tersenyum manis. Ia meraih tas anyamannya, lalu kembali menggenggam tangan Mamanya sebentar—sebagai tanda perpisahan sementara yang penuh kasih sayang.

"Aku berangkat dulu ya, Ma. Assalamualaikum" ucapnya.

"Waalaikumsalam, Nak. Hati-hati..." jawab Mama Rania, suaranya sedikit bergetar menahan haru.

Ia berdiri di ambang pintu, menatap punggung putrinya yang melangkah menjauh dengan langkah tegap dan penuh semangat. Cahaya matahari pagi menyelimuti tubuh Rania, seolah memberkati setiap langkah kakinya.

Rania melangkah di jalan setapak tanah yang masih lembap oleh embun pagi, menoleh sekali ke belakang dan melambaikan tangan pada Mamanya yang masih berdiri diam di pintu rumah.

Mamanya membalas lambaian itu dengan senyum yang lembut namun matanya berkaca-kaca, menatap putrinya dengan harapan dan doa yang tak pernah terucap. Rania terus berjalan menjauh, menuju jalan raya yang akan membawanya ke pasar, ke tempat di mana ia belajar tentang kehidupan, tentang kerja keras, dan tentang arti bersyukur atas segala hal kecil yang dimiliki.

Hatinya penuh kebahagiaan, langkahnya ringan, dan di dalam hatinya ia berjanji—suatu hari nanti, ia akan memberikan kehidupan yang lebih baik untuk Mamanya, wanita yang telah mengorbankan segalanya demi kebahagiaan anak-anaknya.

Sementara itu, Mama Rania masih berdiri di sana, menatap hingga sosok putrinya benar-benar menghilang di tikungan jalan. Hatinya berdoa dalam keheningan, memohon perlindungan dan kebahagiaan untuk Rania, juga untuk Rian dan Rina yang jauh di sana. Angin pagi berhembus pelan, menyentuh wajahnya yang teduh, dan di dalam kesederhanaan rumah kayu itu, kasih sayang seorang ibu terus mengalir tanpa henti—menjaga, mendukung, dan mendoakan setiap langkah kaki anak-anaknya, ke mana pun mereka pergi serta dimanapun berada.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!