[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]
Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terima Misi
Simon menatap intens selembar perkamen kusam yang tertempel di papan buletin.
Sepasang mata merahnyaa menyala berkilat di balik topeng gagak saat ia membaca detail misi tentang membunuh Kapten Pengawal yang berpengkhianat.
Dalam hati, Simon menimbang pro dan kontra tentang misi.
Oknum anonim yang memberikan misi ini benar-benar berani memberikan sebuah gulungan Teknik Pernafasan Tingkat Menengah.
Di dunia ini, teknik pernapasan adalah segalanya.
Teknik tingkat rendah hanya bisa membawa seseorang ke ambang Ksatria Magang kelas 1-2, sementara tingkat menengah bisa mencapai kelas 2-3.
Teknik tingkat tinggi biasanya dimonopoli oleh kaum bangsawan untuk mencapai tingkat ksatria formal atau bahkan ksatria legendaris.
Sebenarnya, Pernafasan Ular Hitam milik Simon hanyalah teknik tingkat rendah, namun berkat Sistem Kemahiran miliknya, teknik itu telah naik kelas menjadi tingkat menengah.
Baginya, mengumpulkan teknik pernapasan tambahan juga tujuan dari Simon, semakin banyak teknik pernafasan yang ia pelajari semakin kuat pula dirinya.
'walaupun itu teknik pernapasan tingkat menengah, bagaimanapun itu tetap teknik pernafasan. Aku akan mengambil misi ini' keputusan Simon sudah bulat.
Tangannya yang kokoh terulur, menarik robekan kertas misi itu dari papan buletin di depan banyak orang di sana.
Sret!
Aula yang tadinya bising oleh bisikan tiba-tiba hening seketika. Ratusan pasang mata tertuju pada sosok berjubah hitam dengan topeng gagak tersebut.
"Hei, lihat itu... Apakah dia pendatang baru, aku baru melihatnya disni? Dia berani menyentuh misi Kapten Pengkhianat?" celetuk seorang pembunuh kurus dengan nada meremehkan.
"Hahaha! Dia pasti bosan hidup! Kapten itu memiliki Qi Pertempuran. Seorang bocah tingkat Kayu hanya akan menjadi tumpukan daging dalam tiga detik!" seru pria lain sambil tertawa kasar, memicu gelombang tawa mengejek di seluruh aula.
"Aku bertaruh 5 koin perak, kepala gagak itu akan dipajang di gerbang kota besok pagi!" teriak seorang petaruh, disambut oleh sahutan taruhan lainnya yang mendambakan kematian Simon.
Di tengah cemoohan itu, seorang wanita berotot dengan rambut twintail melangkah maju, menghalangi jalan Simon. Otot lengannya yang besar tampak menonjol, menandakan dia adalah praktisi fisik yang tangguh.
"Tunggu, jangan ambil misi itu" ucap wanita itu dengan suara berat, menatap Simon dari balik topengnya.
"Saran dariku, kembalikan kertas itu. Kapten pengawal itu bukan mangsa yang mudah, tidak cocok untuk pemula sepertimu, meskipun hadiahnya sangat besar tetap saja jangan biarkan keserakahan membunuhmu.
Simon berhenti sejenak, namun ia bahkan tidak menoleh sepenuhnya ke wanita berotot itu. Suaranya terdengar acuh.
"Khawatirkan saja diri kalian sendiri. Aku akan baik-baik saja," jawab Simon singkat sembari melangkah melewati wanita itu tanpa ragu.
Bisikan-bisikan kembali pecah di belakangnya. "Sombong sekali bocah itu..." "Mari kita lihat apakah dia masih bisa bicara setelah tenggorokannya robek."
Simon tidak peduli lagi.
Ia berjalan lurus menuju konter tinggi tempat Rose berdiri.
Dengan gerakan mantap, ia menempelkan poster buronan itu di atas meja kayu.
"Aku mengambil misi ini, Rose," kata Simon.
Rose menyesuaikan letak kacamatanya, menatap poster itu lalu menatap Simon dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Geralt... kau benar-benar tahu cara membuat keributan di hari pertamamu, ya."
Simon hanya tersenyum tipis mendengar peringatan dari Rose.
"Aku cukup percaya diri dengan kekuatanku sendiri," ucapnya Simon.
Di balik jubahnya, Simon meraba gagang pedang hitam panjang yang ia rampas dari Edie, sebuah artefak ksatria legendaris ini sangat kuat, meskipun Simon belum bisa mengeluarkan Qi pertempuran, tapi dengan pedang ajaib ini dia yakin bisa berhadapan dengan ksatria formal.
"Tapi yang kamu hadapi ini adalah Ksatria Jordan," Rose menyela dengan nada serius, jemarinya mengetuk meja kayu konter.
"Orang ini sangat licik, dan dia juga adalah Ksatria Formal. Kau tahu apa itu Ksatria Formal?"
"Aku tahu," jawab Simon tenang.
"Ksatria yang sudah membangkitkan benih ksatria dan bisa memanfaatkan Qi Pertempuran untuk memperkuat serangan mereka"
Rose menyesuaikan letak kacamatanya, menatap tajam ke arah sepasang mata merah Simon yang tampak mengintimidasi di balik lubang topeng.
"Jika kau mengerti, kenapa kamu masih mau menerima misi ini? Lebih baik kau kembalikan saja dan terimalah misi yang lebih baik untuk pemula, seperti membunuh pedagang rempah korup di distrik barat," saran Rose dengan mencoba membujuknya.
"Tidak apa-apa. Aku... sangat suka bertempur dengan orang yang lebih kuat." seru Simon dengan nada pelan.
Meskipun alasan itu terdengar sangat dibuat-buat bagi siapa pun yang mengenal Simon, ia tidak berniat menjelaskan bahwa ia sangat membutuhkan Teknik Pernafasan Tingkat Menengah dari hadiah misi ini.
Rose terdiam sejenak, mengamati pemuda di depannya dengan saksama.
Rose menatap sosok 'Geralt' dengan perasaan campur aduk. Dari balik kacamatanya.
Di matanya, Geralt hanyalah seorang pendatang baru di Tingkat Kayu, namun ia memiliki keberanian atau bisa di bilang kegilaan untuk mengambil kontrak yang biasanya menjadi jatah pembunuh Tingkat tinggi.
'Apa dia benar-benar mencari kematian? Atau seperti yang di katakannya, ia hanya suka bertarung dengan orang yang lebih kuat?' Rose tidak bisa memikirkan apapun sekarang.
Gila semua sudah gila!
Ia telah melihat banyak ksatria magang sombong berakhir menjadi bangkai di gang-gang Kota Lune karena meremehkan pengguna Qi pertempuran.
Namun, ada sesuatu pada ketenangan Geralt yang membuatnya merasa bahwa pemuda ini bukan sekadar pembual. Matanya yang merah itu... Rose dapat merasakan bahwa tidak ada ketakutan dalam matanya.
"Baiklah kalau kamu tetap memaksa," ucap Rose akhirnya sembari menghela napas pasrah.
"Satu hal lagi, organisasi tidak akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padamu di luar sana. Jika kau mati, plakat kayumu akan hangus dan poinmu hilang"
"Baiklah, aku mengerti, Rose. Jadi, bisakah kamu beritahu aku di mana posisi orang ini sekarang?" tanya Simon langsung ke inti permasalahan.
"Berdasarkan laporan intelijen terbaru," bisik Rose sembari menarik sebuah peta perkamen lusuh dari bawah konter,
"Jordan tidak bersembunyi di dalam kota. Dia terlihat mendirikan kamp sementara di Pinggiran Wilayah Wilde, tepat di sebuah bekas pos jaga logistik yang sudah terbengkalai"
Simon mencondongkan tubuh, memperhatikan titik yang ditunjuk Rose.
"Pos jaga logistik... tempat yang strategis untuk melarikan diri jika ketahuan," menurut analisis Simon dengan pola pikirnya.
"Benar," lanjut Rose.
"Dia membawa sekitar sepuluh pengawal pribadi yang sangat setia. Mereka bukan ksatria, tapi mereka adalah tentara veteran yang mahir menggunakan busur silang. Jordan sendiri sangat waspada, kabarnya dia tidak pernah melepaskan zirah mithril-nya bahkan saat tidur".
Simon mencatat setiap detail itu dalam ingatannya.
"Sepuluh pengawal dan satu Ksatria Formal yang waspada. Menarik"
Setelah mendapatkan informasi lokasi yang tepat, Simon menarik tudung jubah hitamnya lebih dalam, membetulkan letak pedang hitam di punggungnya, dan segera pergi meninggalkan aula Serikat Pembunuh Lune tanpa menoleh lagi.
Ia melangkah keluar gerbang, menyatu dengan kegelapan malam Kota Lune yang mencekam, siap untuk melakukan perburuan berdarah berikutnya.