Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Bencana Makan Malam dan Rahasia yang Terbongkar
Suasana di restoran fine dining bergaya Prancis itu terasa sangat eksklusif dan tenang. Cahaya lampu gantung kristal yang temaram memantulkan kemewahan di atas meja panjang yang sudah tertata rapi dengan peralatan makan perak. Di sudut ruangan, alunan musik instrumen piano terdengar lembut, mengiringi percakapan hangat antara keluarga Dirgantara dan keluarga Pramudya.
Hendra Dirgantara dan Surya Pramudya tampak asyik mengobrolkan kenangan masa lalu mendiang kakek mereka, sementara Maria dan Sarah terlihat sangat akrab membicarakan gaun dan perhiasan.
Exel duduk di kursinya dengan setelan jas hitam elegan buatan penjahit Italia. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi, seolah-olah ia sedang menghadiri rapat akuisisi perusahaan alih-alih makan malam perjodohan. Di sebelahnya, Achmad duduk tenang—menghadiri acara sebagai asisten pribadi sekaligus perwakilan keluarga—sambil sesekali menikmati jus jeruknya.
"Exel," bisik Maria lembut sambil menyenggol pelan lengan putranya. "Tersenyumlah sedikit. Calon tunanganmu sebentar lagi datang bersama mamanya yang tadi sedang dari toilet."
Exel hanya menghela napas tipis, sama sekali tidak berniat mengubah ekspresi kaku di wajahnya. Bagi Exel, siapa pun gadis yang akan melangkah masuk lewat pintu itu tidak akan mengubah fakta bahwa ia terpaksa berada di sini.
Tak lama kemudian, pintu ruang privat restoran itu terbuka. Sarah melangkah masuk terlebih dahulu, disusul oleh seorang gadis mungil yang mengenakan dress pastel merah muda yang sangat anggun. Rambut bergelombangnya terurai rapi, dan wajahnya tampak cantik alami bak boneka porselen.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Saat gadis mungil itu mendongak dan matanya bertabrakan langsung dengan mata cokelat gelap milik Exel, waktu seolah berhenti seketika.
Mata bulat milik Alexa melotot sempurna. Kakinya membeku di atas karpet mahal. Di seberang meja, Exel yang biasanya selalu tenang dan terkontrol, mendadak menegakkan tubuhnya dengan mata menyipit tajam.
"SI ES BATU KANEBO KERING?!" jerit Alexa reflek dengan suara cemprengnya yang melengking hingga mengalahkan alunan musik piano di ruangan itu.
"CEWEK ANEH CAMPRENG?!" balas Exel tidak kalah reflek, berdiri dari kursinya dengan wajah yang seketika mengeras.
PRANG!
Gelas teh yang sedang dipegang Surya Pramudya hampir saja merosot dari jemarinya. Keheningan yang sangat canggung mendadak menyelimuti seluruh ruangan. Ibu Sarah menutup mulutnya karena terkejut, sementara Maria dan Hendra saling pandang dengan dahi berkerut dalam.
Achmad yang duduk di samping Exel bahkan sampai tersedak jus jeruknya sendiri. Ia terbatuk-batuk kecil sambil menatap Exel dan Alexa bergantian dengan mata berbinar antusias. Ini plot twist paling gila se-Jakarta! batin Achmad terbahak.
"Alexa! Jaga bahasamu!" tegur Sarah dengan bisikan tajam namun penuh penekanan. "Apa-apaan kamu menyebut calon suamimu dengan sebutan seperti itu?!"
"Exel, ada apa ini? Kenapa kamu berteriak begitu?" Hendra menatap putranya dengan nada penuh selidik.
Maria memandangi Exel dan Alexa secara bergantian dengan tatapan curiga yang sangat kentara. Sebuah senyuman tipis yang penuh tanda tanya terbit di bibirnya. "Tunggu... kalian berdua... sudah saling kenal sebelumnya?"
"TIDAK!"
Alexa dan Exel menjawab secara bersamaan dengan nada tegas, kompak, dan penuh penolakan yang membumbung tinggi.
Jawaban yang terlalu serentak itu justru membuat kecurigaan di mata kedua orang tua mereka makin menjadi-jadi.
Surya menyandarkan punggungnya di kursi, memandangi putri semata pembawa ulahnya itu dengan mata menyipit. "Kalian bilang tidak kenal, tapi baru saja kalian menyebut nama panggilan yang sangat... spesifik. Es batu kanebo kering? Cewek aneh cempreng? Itu bukan sebutan untuk orang yang baru pertama kali bertemu, kan?"
Wajah Alexa mendadak memerah padam karena malu sekaligus panik. Ia menyenggol lengan mamanya sambil berbisik panik, "Ma... ini benaran om-om galak yang mau dijodohin sama Alexa? Dia ini cowok aneh yang hampir nabrak Alexa tadi pagi!"
Exel mengeraskan rahangnya, menatap Achmad dengan tatapan membunuh saat mendengar kata 'om-om' lagi dari bibir cempreng gadis itu.
"Dia anak sekolah yang tidak punya sopan santun, Pa," potong Exel dingin, mencoba menguasai keadaan kembali meski dadanya gemuruh oleh kekesalan. "Tadi pagi dia memotong jalan mobil saya secara ceroboh dengan motornya. Hanya insiden kecil di jalanan."
"Ooh... jadi kalian sudah bertemu tadi pagi di jalan?" goda Maria dengan binar mata bahagia yang tidak bisa disembunyikan. Ia menatap Sarah sambil tersenyum lebar. "Sarah, sepertinya takdir memang sudah mengatur pertemuan mereka lebih cepat dari rencana kita!"
"Iya, Maria! Ternyata mereka memang sudah punya chemistry tersendiri ya, walau agak sedikit... heboh," sahut Sarah terkekeh gembira, sama sekali tidak menghiraukan raut wajah Alexa yang sudah seperti mau menangis.
"Ih, Mama! Chemistry dari mana?! Dia itu galak banget, Ma! Tadi pagi aja mau beli sepuluh motor cuma buat nyombong!" protes Alexa heboh, tangannya bertengger di pinggang tanpa sadar.
Exel mengepalkan tangannya di balik saku celana, berusaha keras menahan diri agar tidak meledak di depan orang tuanya. "Papa, Mama, saya rasa perjodohan ini—"
"Duduk, Exel," pangkas Hendra dengan suara berat yang tak tertahankan. "Kalian berdua duduk sekarang. Kita nikmati makan malam ini dulu."
Alexa mengerucutkan bibirnya dalam-dalam, lalu duduk di kursi yang berseberangan langsung dengan Exel. Selama acara makan malam berlangsung, suasana terasa sangat absurd. Para orang tua asyik tertawa dan membicarakan rencana pernikahan yang makin dimatangkan, sementara dua sejoli di hadapan mereka saling melempar tatapan permusuhan secara sembunyi-sembunyi.
Setiap kali Exel menatap kaku ke arah depan, Alexa akan menjulurkan lidahnya tipis atau membuat muka mengejek. Dan setiap kali Alexa mulai berceloteh cempreng pada mamanya, Exel akan mendengus dingin seraya meminum air putihnya dengan penuh penekanan.
Di sudut meja, Achmad hanya bisa tersenyum puas menyaksikan penderitaan sahabatnya. Selamat menikmati masa depanmu, Exel Dirgantara. Hidupmu yang sepi sebentar lagi bakal berubah jadi arena wahana permainan! batin Achmad tertawa riang.