Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.
Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.
Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.
"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”
Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"
“Mas, panggil saya mas Bara.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Let's See!
Bab 12
“Urus dan selesaikan secepatnya!”
“Baik, pak Barata. Secepatnya saya selesaikan. Berkas sudah lengkap, prosesnya tidak akan lama. Kalaupun ada yang kurang, biar saya urus.”
Barata menyambut jabat tangan pria yang selama ini mengurus keperluan terkait legalitas diri dan keluarganya, juga kuasa hukum keluarga besar Airlangga. Semalam sudah menghubungi untuk bertemu di kampus pagi ini. Legalitas pernikahan dengan Ruby harus segera diproses, khawatir ada hal yang tidak diinginkan kedepannya. Profesinya di kampus dan profesi Ruby sebagai model sangat rentan dengan gosip dan isu.
Baru saja menghidupkan laptop, pintu ruangan diketuk ternyata Ardi.
“Pak Bara,” sapa Ardi menghampiri dan berdiri di depan meja pria atasannya. “Urusan di luar sudah beres pak? Seingat saya, masih satu minggu di luar.”
“Belum,” sahut Bara bersedekap sambil bersandar. Kalau saja Ardi bekerja untuknya bukan oleh kampus, pasti sudah habis diceramahi. Karena keteledorannya, Ruby sampai menyusul ke tempat dia bertugas dan berakhir dengan pernikahan. “Nanti saya konfirmasi kapan saya lanjut riset.”
“Baik pak Bara. Ada yang perlu saya bantu?”
Bara menggeleng. “Jangan ganggu saya. Ada laporan kampus dan penelitian yang harus segera saya selesaikan. Setelah makan siang saya ada rapat dengan rektor, jangan buat janji apapun.”
“Baik, pak.” Ardi pamit dan sudah sampai pintu saat Bara memanggilnya.
“Kalau ada mahasiswa mencari saya, minta mereka mengirim text jangan menelpon!”
“Siap pak Bara.”
Bekerja sambil menunggu kehadiran Ruby yang akan bimbingan, nyatanya sudah satu jam menunggu tidak juga muncul batang hidungnya.
“Pantas saja hampir di DO, tidak memanfaatkan waktu yang ada,” batin Bara. Cukup lama fokus dengan layar laptop, sempat melakukan meeting online dengan perusahaan terkait kerjasama kampus. Menjawab panggilan dari sekretariat dan mengupdate jadwalnya ke depan. Hampir pukul 11 siang saat telpon di mejanya berdering.
“Iya.”
“Pak Bara, ini ada Ruby ingin bimbingan. Gimana pak?” terdengar suara Ruby mengatakan kalau dia tidak lama dan sudah janjian dengan Bara.
“Suruh tunggu!”
10 menit berlalu, ponselnya berdering. Nama Ruby tertera di layar, Bara mengabaikan. Sekedar memberi pelajaran pada istrinya itu agar lebih menghargai waktu. Panggilan diabaikan, ponselnya dihujani pesan.
...Ruby...
P
P
Mas Dosen
Eh, Pak Barata yang terhormat, saya Ruby Silvia Gunawan. Ingin bimbingan sudah menunggu di luar, bisa sekarang kah?
ini sudah profesional loh, anggap aja kita nggak berdebat urusan bimbingan waktu di rumah
^^^Tunggu, saya masih sibuk^^^
Saya juga kaleee
Pak Bara 🙄 ini asistennya bilang setelah makan siang bapak ada rapat. Terus saya kapan bimbingannya. Nggak bakal lama kok, saya kasih bonus senyum paling manis juga bekal makan siang, biar nggak jajan keluar
^^^5 menit lagi^^^
Astaga, Barata
^^^Yang sopan!^^^
Benar saja, 5 menit kemudian Bara mempersilahkan Ruby ke ruangannya.
“Selamat siang pak Barata, terima kasih sudah membuat saya menunggu.”
Bara melepas kacamatanya. Penampilan Ruby dengan celana kulot jeans dan kaos putih dimasukan ke dalam celana dilapis jaket cream model crop. Rambut diikat ekor kuda, lengkap dengan sneakers. Membawa tote bag dan tas bekal langsung menempati sofa.
Penampilan casual dan segar di mata. Sudah pasti bukan hanya dia pria yang sepakat kalau Ruby terlihat energic dan manis.
“Sudah tau saya sibuk, kenapa tidak dari pagi.”
“Saya kan ke apartemen dulu ambil mobil, biar bisa wara wiri nggak pake ojek. Jakarta panas tahu.”
“Sebentar lagi saya istirahat dan ….”
“Ck, bentar doang. Nggak sampai 10 menit juga selesai.” Ruby membongkar berkasnya di atas meja. “Jauh-jauh bawa dokumen naik pesawat, taunya bongkar di sini juga. Bukan bimbingan malah dapat mahar.”
Bara sudah duduk bersebrangan dengan Ruby. Dengan gaya menyilang kaki dan bersandar pada sofa, membuka lembaran demi lembaran, tangannya sesekali menulis di atas berkas. Kadang menggeleng dan kadang menghela nafas.
“Nulis apa pak?”
“Perbaikan,” sahutnya lalu meletakan berkas di atas meja. “Berikutnya bimbingan tidak perlu pakai dokumen begini. Bisa soft file. Nanti saya beri komen di kalimat atau paragraf dengan citation. Saya sudah lama meninggalkan model bimbingan hardcopy begini. Ah iya, kamu mahasiswa abadi jadi kurang update ya.”
Ruby mencebik karena diejak dan terbelalak mendapati banyak coretan di banyak lembaran. “Loh, ini revisi lagi, bukannya tinggal acc?”
“Apa yang harus saya acc, bab IV kamu masih mentah dan belum lengkap.”
Sepuluh menit yang Ruby janjikan sudah lewat, hampir satu jam sudah ia berada di ruangan itu. Mendapatkan penjelasan dari dospem merangkap suami. Bimbingan setara kuliah 2 sks. Bahkan Bara sempat menjeda dengan menikmati bekal makan siang yang dibawakan.
“Yaelah pak, nggak ada kebijakan gitu. Ini sih banyak banget yang harus dikerjakan, waktu saya sempit. Masa saya di DO, padahal udah berkorban loh. Dengan pernikahan kita.”
Bara mengedikan bahu, ia membubuhkan paraf di kartu bimbingan.
“Kamu bisa masak?” tanya Bara random, karena ia tahu makanan yang dibawa Ruby buatan bibi.
“Kalau bisa pun saya nggak mau masak buat bapak. Nanti puas sama isi perut, mau dimanjain bawah perutnya.” Ruby cemberut sambil membereskan dokumen.
“Ya ampun.” Padahal bukan pertanyaan menjurus ke mana pun, tapi selalu ada jawaban yang membuat kepalanya berdenyut.
“Nanti malam bantuin revisi ya. Kalau nggak dibantu jangan tidur di kamar, tidur aja di dapur.”
“Itu rumah saya, terserah saya mau tidur di mana.”
“Terus gimana, kalau saya nggak berhasil daftar sidang tepat waktu.”
Bara kembali mengedikan bahu.
“Pak Bara nggak malu, punya istri belum sarjana. Di Do pula dari kampus, mana saya mahasiswa bimbingan bapak loh!”
“Kenapa harus malu. Kecerdasan dan kedisiplinan kamu sebagai mahasiswa bukan sepenuhnya tanggung jawab dosen dan kampus.”
Ruby menggantung tote bag di bahunya setelah semua dokumen berhasil dirapikan dengan asal lalu berdiri dan menghentakan kaki karena kesal. “Nyebelin banget, saya sumpahin bapak jatuh cinta sama saya.”
“Oh ya. Gimana kalau kamu duluan yang cinta sama saya?”
“Nggak mungkin, selera saya mas-mas yang masih muda. Bukan yang udah mateng kayak bapak.”
“Let’s see!”
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
Awas ya kamu .....🤭