"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."
Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sebuah rencana
Sore hari mereka sudah bersih dan santai di mess.. Setelah seharian bergelut dengan pelat besi tebal dan percikan api las di atas vessel Hino 500, kesegaran air mandi seolah meluruhkan semua rasa penat. Aroma sabun mandi yang wangi kini memenuhi kamar mes yang sederhana itu. Salman duduk selonjoran di atas kasur busanya, sementara Jono dan Agus asyik bersandar di dinding sambil menikmati embusan angin sore dari jendela yang menghadap ke jalan raya.
Jono yang sedang memainkan korek api gas tiba-tiba menoleh ke arah Salman, teringat sebuah rencana penting untuk menyambut rekan baru mereka.
"Eh man... malam minggu nanti ikut kita," kata jono.. matanya berkedip jahil, memberikan kode tersembunyi yang sudah sangat dipahami oleh rekannya.
Salman yang sedang memijat pergelangan tangannya yang agak pegal mendongak.
"Emangnya kemana," tanya salman.."
Hehe nanti aku kenalin sama anak anak sebelah. Ia kan gus.." celetuk Jono sambil menyenggol kaki Agus yang duduk di dekatnya. Mes sebelah yang dimaksud Jono tidak lain adalah gedung mes karyawati pabrik yang siang tadi sempat mereka bicarakan saat jam istirahat.
Agus terkekeh.. ikut membayangkan bagaimana hebohnya perkenalan anak baru dari desa ini dengan gadis-gadis pekerja pabrik di seberang jalan nanti.
Mendengar kesempatan bagus untuk mencairkan suasana dan beradaptasi dengan lingkungan kota, Salman langsung menyambutnya dengan antusias. "Wahh mantep itu," kata salman.. skalian nambah teman..
Baginya.... memperluas jaringan pertemanan di kota besar adalah hal pertama yang harus dia lakukan agar tidak terus-menerus merasa terasing.
Namun, sebagai anak baru yang ingin fokus mengejar pundi-pundi rupiah, ingatan Salman kembali pada sistem kerja bengkel ini. Dia menegakkan posisi duduknya.
"Eh bentar, apa disni juga ada lembur..." tanya Salman, memastikan tidak ada jadwal kerja tambahan yang berbenturan dengan agenda mereka.
"Ada sih," kata jono.. "Tapi jarang..."
Jono menjeda kalimatnya sejenak, mencoba mengingat-ingat catatan jam kerjanya sendiri selama sebulan terakhir di bengkel ini. "Aku saja yg baru 1 bulan disni paling baru 4x lembur... itupun pas darurat aja.." lanjut Jono, menegaskan bahwa manajemen bengkel asuhan Anita memang jarang memberikan lembur jika tidak ada unit truk proyek yang harus segera keluar mengejar tenggat waktu.
Agus yang melihat raut wajah Salman mendadak serius jadi penasaran. "Emangnya knp," tanya agus pada salman..
Salman hanya tersenyum tipis, lalu melontarkan sebuah logika sederhana namun sangat masuk akal yang membuat suasana mes seketika hening.
"Yahh gimana mau jalan klo pas lembur..."
kata Salman dengan nada polos tanpa dosa.
Mendengar jawaban super realistis dari mulut Salman, Jono langsung terpaku selama dua detik. Otaknya yang tadinya sudah membayangkan malam minggu yang seru mendadak tersadar oleh fakta sederhana tersebut.
Plak! Jono langsung menepuk kepalanya sendiri.. menyadari betapa pekoknya dia yang mengajak jalan-jalan tanpa memikirkan kemungkinan adanya unit darurat yang masuk malam minggu nanti.
"Ia juga ya..." kata Jono dengan wajah serba salah, memicu tawa renyah dari Agus yang meledak seketika memenuhi ruangan mes.
Malam itu, di dalam mes karyawan yang mulai menggelap, kehangatan persahabatan di antara tiga pemuda sepantaran itu kian mengikat erat. Salman Prakarsa perlahan mulai bisa menertawakan hidupnya kembali, walau jauh di sudut hatinya yang terdalam, bayangan satu bulan waktu yang tersisa untuk Ningsih di desa masih tersimpan rapat sebagai bahan bakar rahasia perjuangannya di kota besar ini.