[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]
Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekuatan Tinju Riak!
Sinar matahari pagi menyusup melalui celah-celah jendela kayu di penginapan Kota Heim, Wilayah Baron Wilde.
Di dalam kamar yang sunyi, Simon sedang melakukan latihan pernafasan sambil memikirkan pertarungannya dengan Jordan semalam.
[ Pernafasan Ular Hitam +3 ]
Jika dia tidak memiliki pedang hitam itu, mungkin Simon sudah mati sejak lama.
"Pedang milik Ksatria legendaris, nampaknya memang cocok dengan namanya." Pikir Simon.
Pedang hitam itu bukan sembarang pedang besi biasa, ia bisa melepaskan gelombang hitam yang aneh yang bukan Qi pertempuran, tapi seiring Simon teliti lagi aura gelap itu hanya muncul dari kristal hitam yang tertanam pada gagang pedangnya.
Apakah jika kristal hitam itu hancur efek gelombang hitam akan menghilang?
[ Pernafasan Ular Hitam +3 ]
Wajah tampannya yang berambut hitam legam tampak tenang, matanya memancarkan fokus yang tajam.
[ Pernafasan Ular Hitam +2 ]
Simon berhenti berlatih dan mengambil sesuatu dari penyimpanannya dan membuka lebar-lebar gulungan itu.
Kini di hadapan Simon terbentang sebuah gulungan perkamen kulit binatang yang masih memiliki aroma ujan saat pertempuran, gulungan ini berisi teknik Tinju Riak yang ia rampas dari jasad Jordan.
"Jordan menggunakan teknik ini untuk membelah udara. Jika aku bisa menguasainya, aku tidak akan hanya bergantung pada Pedang Hitam untuk serangan jarak menengah," pikir Simon.
Jujur saja Simon masih takjub dengan bagaimana Jordan mengunakan teknik ini saat melawannya.
Tanpa ragu Simon mulai membaca setiap baris instruksi dengan teliti.
Gulungan itu memuat ilustrasi figur-figur manusia yang sedang melakukan pengerahan tenaga dengan pola melingkar, menggambarkan bagaimana energi dari Benih Ksatria harus dialirkan menuju persendian tangan hingga ke ujung kepalan tinju.
Benih ksatria? Nampaknya secara samar ada benih ksatria yang hampir terbentuk dalam jantungnku.
Biar aku lihat!
Simon memejamkan matanya dan dalam matanya yang tak kasat mata ia bisa melihat secara samar bahwa ada benih berbentuk ular yang tinggal di jantungnya!
Benih ini seperti janin bayi, belum terbentuk sepenuhnya masih dalam keadaan cacat.
"Aku tidak menyadarinya saat itu, ternyata ksatria magang Tingkat 3 telah secara samar membentuk benih ksatria!" Kata Simon dengan takjub.
Walaupun belum sempurna harusnya tidak apa-apa kan aku mempraktikan teknik tinju riak ini?
Ia bangkit berdiri, mengambil kuda-kuda rendah untuk menstabilkan pusat gravitasinya.
Simon mulai memacu Pernafasan Ular Hitam miliknya.
Benih ular di dadanya berdenyut kencang, memompa energi hangat ke seluruh pembuluh darahnya.
Simon memusatkan pikirannya pada telapak tangan kanannya. Ia merasakan panas yang terkumpul, mencoba mengikuti instruksi untuk membuat energi itu tidak meledak secara linear, melainkan bergetar dalam frekuensi tertentu.
Dengan sentakan otot yang presisi, Simon melontarkan tinju lurus ke depan.
Wush!
Hanya angin biasa yang tercipta.
Ia kembali merenung, menyadari bahwa kuncinya adalah pada koordinasi tarikan napas saat otot lengan menegang secara maksimal.
"Tarik... tahan... lepaskan di titik puncak," gumamnya meniru pola yang pernah ia pelajari di dunia asalnya.
Simon mengulanginya lagi.
Kali ini, ia memaksa otot-otot lengannya bergetar hebat hingga urat-urat birunya menonjol.
Keringat mulai membasahi pakaian kasarnya, pertanda bahwa beban fisik yang ia lakukan itu nyata dan mulai terasa.
Bersenandung!
Tepat saat kepalannya berhenti di udara, udara di depan tinju Simon tampak berdistorsi sesaat, menciptakan riak transparan kecil seperti batu yang dijatuhkan ke kolam tenang.
Sensasi hangat menjalar kembali ke tulang lengannya.
"Apakah berhasil?"
Seketika, sebuah panel transparan berwarna biru muda termanifestasi di depan pandangannya, mencatat hasil kerja kerasnya.
[ Tinju Riak +1 ]
Simon tersenyum tipis dengan wajah yang dingin.
Ia terus mengulangi gerakan tersebut secara obsesif, merasakan setiap serat ototnya beradaptasi dengan teknik baru ini hingga notifikasi sistem terus bergetar di benaknya.
[ Tinju Riak +1 ]
[ Tinju Riak +2 ]
Setelah hampir satu jam berlatih hingga lengannya terasa panas membara, Simon membuka panel status lengkapnya untuk memastikan teknik itu telah terukir permanen di dalam sistem kemahiran-nya.
Nama: Simon Blake
Pekerjaan: Ksatria Magang Tingkat 3
Keterampilan:
Pernafasan Ular Hitam (Tinggi): 45/400
Teknik Pedang Silang (Menengah): 10/300
Tinju Riak (Pemula): 5/100
"Selesai. Satu lagi kartu truf kita untuk bertahan hidup di dunia yang biadab ini," pikir Simon sembari menyeka keringat di dahinya dan bersiap meninggalkan penginapan.
Sinar matahari pagi di Kota Heim terasa tajam dan dingin, namun suasana di depan penginapan mendadak mencekam oleh suara lecutan cambuk yang membelah udara.
SPLAT!
Simon yang menyembunyikan identitasnya di bawah jahitan jubah hitam dan topeng gagak melangkah keluar tepat saat sebuah cambuk kulit mendarat keras di punggung seorang budak laki-laki.
Budak itu tersungkur, jari-jarinya mencengkeram tanah berbatu yang dingin.
"Ampun, Ayah! Kumohon ampun!" ratapnya dengan suara yang dipenuhi rasa sakit.
Punggungnya sudah hancur, darah merembes melalui kain kasarnya yang compang-camping.
"Saya benar-benar tidak sengaja menjatuhkan bejana air suci itu... perut saya sangat lapar hingga tangan saya gemetar...Dan hal itu pun terjadi..." Kata budak itu.
"Diam, makhluk rendah!" sela sang pendeta dengan nada yang dipenuhi kebencian.
Ia mengangkat salib peraknya dengan tangan yang gemetar karena amarah.
"Tindakan cerobohmu bukan sekadar kesalahan fisik, kau telah mencemari kemuliaan nama Bapa Surgawi yang Maha Pengasih dengan tangan kotormu! Jiwamu yang penuh dosa asal memang pantas mendapatkan siksaan ini sebagai bentuk penebusan!"
Simon berhenti melangkah. Sepasang mata merahnya menyipit tajam dari balik lubang topeng gagaknya.
Di kehidupan sebelumnya ia yang pernah dihancurkan oleh ketidakadilan di dunianya dulu, dan pemandangan ini membuatnya Simon muak.
"Bapa Surgawi yang Pengasih, ya?" Bisik Simon dengan nada rendah yang.
Sebuah cibiran menghina terukir di sudut bibirnya.
"Dasar munafik. Menyiksa yang lemah demi memuaskan rasa haus akan kontrol, lalu menyebutnya sebagai kehendak Tuhan." Teriak Simon.
Wajah sang pendeta seketika memerah padam.
"Apa katamu?! Beraninya kau menghina pelayan Tuhan! Pengawal! Berikan dia pelajaran!"
Seorang pengawal berseragam gereja, yang merupakan Ksatria Magang Tingkat 1, langsung menghunus pedangnya dan menerjang ke arah Simon.
Bagi warga biasa, tekanan dari seorang praktisi ksatria tingkat 1 sudah cukup untuk membuat mereka sesak napas.
Namun, di mata Simon yang telah mencapai ksatria magang Tingkat 3, gerakan itu terlihat lamban.
"Lambatt!" Kata Simon.
Srat!
Simon meliuk bagai ular, menghindari tebasan pedang dengan menawan berkat Pernafasan Ular Hitam
[ Pernafasan Ular Hitam +1 ]
Tanpa memberi kesempatan, Simon menghantamkan sikunya tepat ke ulu hati pengawal itu.
Bugh!
Pengawal itu terengah-engah, matanya membelalak saat ia jatuh berlutut, dia tidak percaya bisa kalah dengan cepatnya.
"Kau ini.." ucap pengawal.
Namun, Simon tidak berhenti di situ, ia melayangkan tendangan memutar yang menghantam rahang sang pengawal hingga pingsan seketika.
"Astaga... apa yang baru saja kulihat?" bisik seorang pedagang sayur di pinggir jalan dengan wajah pucat.
"Pengawal gereja... seorang ksatria dikalahkan dalam dua gerakan?" seru warga lainnya dengan nada tidak percaya
"Siapa pria bertopeng gagak itu? Kekuatannya benar-benar menakutkan, dia bergerak seperti hantu!"
"Aku sama sekali tidak melihatnya! Keren!" Kata anak kecil yang melihatnya.
Sang pendeta gemetar, bukan lagi karena marah, melainkan ketakutan saat melihat Simon berjalan mendekatinya.
"Ja-jangan mendekat! Kau akan dikutuk oleh—"
Simon tidak menunggu kutukan itu selesai. Ia mengambil kuda-kuda rendah, memusatkan sirkulasi pernapasannya pada telapak tangan kanan.
TINJU RIAK!
Bersenandung!
Udara di depan tinju Simon bergetar hebat, menciptakan riak transparan yang menghantam wajah sang pendeta dengan telak.
BANG!
Tubuh sang pendeta terpental ke belakang sejauh tiga meter, menghantam kereta kayu penginapan hingga hancur berantakan.
Sebelum debu mereda dan orang-orang tersadar dari keterkejutannya, Simon menarik tudungnya lebih dalam dan segera melarikan diri, menghilang ke dalam gang-gang sempit Kota Heim.