Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Menghilang
Waktu berjalan merayap lambat, membawa perubahan musim dari hujan lebat ke teriknya angin kemarau. Di dalam Hani’s Atelier, suasana terasa jauh lebih senyap dari biasanya. Yunita telah resmi pindah ke Yogyakarta untuk memulai lembaran baru sebagai mahasiswi, meninggalkan Evita yang kini tinggal bersama Keyra di rumah, meskipun kedua orang tua mereka tetap sehat dan hidup mandiri di kediaman mereka sendiri di sudut kota yang berbeda. Namun, ketiadaan sang adik membuat rumah itu terasa kian lowong.
Evita berdiri di balik meja kasir, matanya berulang kali secara tidak sadar melirik ke arah pintu kaca setiap kali jarum jam dinding menunjuk tepat pukul dua siang. Kebiasaan kecil itu tercipta tanpa bisa ia cegah. Selama berminggu-minggu di awal kepergian Vino, ia selalu tanpa sadar menanti dering bel yang riang, menanti sosok berkaos rapi dengan topi koki miring yang datang membawa kehangatan. Namun, bel pintu butik kini hanya berdering untuk pelanggan biasa atau kurir paket ekspedisi yang bergerak kaku.
Arvino benar-benar telah lenyap dari poros hari-harinya.
Pemuda yang dulunya kerap datang mengantarkan sup iga, kue balok, hingga botol vitamin C dengan senyuman tulus itu kini tinggal kenangan. Ironisnya, setelah semua benteng pertahanan yang ia bangun berhasil mengusir pemuda itu setelah Vino mengepak barang-barangnya dan melangkah jauh ke Yogyakarta untuk mengejar impian arsitekturnya, Evita tidak merasa aman. Ia justru merasa hampa.
Ruang kosong yang ditinggalkan Vino terasa begitu nyata. Setiap sudut butik seolah menyimpan bayangan keteguhan dan senyuman tulus yang dulu selalu ia tepis mentah-mentah. Bahkan Keyra sesekali masih polos menanyakannya. Kemarin sore, bocah perempuan itu sempat merengut kecil sambil berkata, "Mama, Kak Vino kok sudah nggak pernah mampir lagi? Kapan dia bawain kue balok cokelat buat Keyra?" Pertanyaan polos itu menohok ulu hati Evita, membuatnya hanya bisa tersenyum kaku sembari mengalihkan topik pembicaraan.
Untuk mengisi kesunyian itu, Pak Hendra tetap hadir dengan segala kemapanannya. Pria paruh baya tersebut rutin datang membawakan buket bunga eksklusif, hadiah mahal untuk Keyra, serta membicarakan rencana ekspansi bisnis yang menguntungkan. Secara logika, Pak Hendra adalah wujud nyata dari apa yang dicari oleh seorang wanita dewasa: mapan, aman, dan terjamin. Namun, semakin sering ia duduk mendengarkan pembicaraan Pak Hendra, semakin Evita merasakan dingin yang mencekat. Pesona pria matang itu kini terasa hambar, bagaikan topeng formalitas tanpa jiwa. Evita akhirnya menyadari dengan pahit bahwa harta dan kedudukan tidak akan pernah bisa menggantikan ketulusan sederhana yang pernah ditawarkan oleh seorang pemuda delapan belas tahun.
Larut malam, saat Keyra sudah terlelap di kamarnya, Evita sering kali membuka laci meja kerjanya. Di sana, tersimpan rapi sebuah botol kaca kecil bekas minuman vitamin C beraroma jeruk, pemberian terakhir Vino sebelum pemuda itu pergi. Ia menyadari bahwa tembok es yang ia dirikan dengan susah payah bukanlah pelindung, melainkan sangkar besi yang mengurungnya dalam kesepian abadi.
Ribuan kilometer dari hiruk-pikuk Surabaya, di bawah langit sore Yogyakarta yang hangat dan puitis, denyut kota berdetak dengan ritme kreativitas yang dinamis. Di kawasan sekitar Tugu yang dipadati lalu-lalang mahasiswa dan wisatawan, suasana sore itu terasa hidup.
Seorang mahasiswi berjalan cepat di trotoar sambil menenteng tas laptop dan beberapa map ditangannya. Itu adalah Yunita, yang kini tengah berjuang menata masa depannya di kota pelajar ini, jauh dari bayang-bayang masa lalu di Surabaya.
Di waktu dan tempat yang nyaris bersamaan, dari arah berlawanan, melangkah seorang pemuda dengan jaket denim gelap dan ransel kain di bahunya. Tubuhnya kini tampak lebih tegap, dan sorot matanya memancarkan ketenangan serta ketajaman berpikir seorang pemuda yang menghabiskan hari-harinya bergulat dengan skala garis arsitektur di studio Mas Danang. Itu adalah Arvino. Ia baru saja kembali dari kunjungan proyek lapangan dan hendak bergegas pulang.
Jarak di antara keduanya menyempit seiring langkah kaki yang terus bergerak maju. Dalam keramaian yang padat itu, mereka berpapasan dalam jarak kurang dari satu meter. Desiran angin sore sempat mengibaskan ujung syal yang dikenakan Yunita, sementara aroma kopi lokal dan kertas gambar mengiringi langkah Vino.
Namun, tak satu pun dari keduanya menoleh. Yunita sibuk memeriksa jadwal kuliahnya di ponsel, sementara pikiran Vino terfokus pada detail struktur atap yang harus ia selesaikan malam itu. Mereka bersilang jalan tanpa saling menyadari keberadaan satu sama lain, terpisahkan oleh takdir yang masih menyimpan rahasia tentang bagaimana lembaran kisah mereka suatu hari nanti akan kembali bertaut di bawah langit yang sama.
btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍