Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.
Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!
Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16. HARI YANG TENANG
Kediaman Duke Dravenhart terkenal dengan dinamika rumah tangganya yang sangat unik. Sejak kedatangan Putri Virelia, wanita yang di siang hari hobi meneriaki kupu-kupu dan melempar barang antik, serta di malam hari berubah menjadi ketua pembunuh bayaran ulung, puri batu ini tidak pernah mengenal kata sepi. Selalu ada saja suara piring pecah, teriakan histeris, atau perdebatan konyol antara sang istri dan para pelayannya.
Namun, hari ini ... ada sesuatu yang sangat janggal.
Sudah pukul dua siang, tetapi suasana di dalam puri terasa begitu sunyi, tenang, dan damai. Tidak ada suara piring melayang, tidak ada ancaman pasukan cacing tanah raksasa, dan tidak ada pekikan burung hantu jadi-jadian.
Di dalam ruang kerja pribadinya, Duke Kael Dravenhart duduk menatap gulungan laporan logistik perbatasan. Namun, alih-alih membaca, mata biru sang panglima perang terus melirik ke arah pintu ruangannya. Ia merasa ada yang kurang. Keheningan ini justru membuatnya gelisah.
Kael meletakkan pena bulunya dengan kasar, lalu mendongak menatap Julian yang sedang berdiri merapikan setumpuk dokumen di samping meja.
"Julian?" panggil Kael dengan suara beratnya, memecah keheningan ruangan.
"Ya, Yang Mulia?" jawab Julian sigap, mengangkat wajah dari tumpukan kertas.
Kael mengerutkan keningnya, mengedarkan pandangan ke sekeliling lorong luar jendela.
"Kenapa hari ini kediaman kita terasa begitu sunyi? Tidak ada suara vas pecah sejak subuh tadi. Apakah istriku sedang membuat senjata rahasia di kamarnya, atau dia berhasil menjinakkan seluruh perabot puri?" tanya Kael heran.
Julian mendorong kacamatanya ke atas pangkal hidungnya, lalu menghela napas pelan, helas napas yang kini terdengar lebih mirip keluhan seorang manajer senior yang kelelahan.
"Ah, mengenai hal itu, Yang Mulia. Menurut laporan dari Elaine dan para pelayan sayap barat, Yang Mulia Duchess tampaknya sedang kelelahan luar biasa hari ini," kata Julian dengan nada prihatin.
Kael langsung menegakkan tubuhnya, perhatiannya tersita sepenuhnya.
"Kelelahan? Kenapa bisa?" tanya Kael kembali.
"Tentu saja kelelahan, Yang Mulia. Bagaimana bisa seseorang tidak kelelahan jika dalam beberapa malam terakhir kerjanya selalu menyelinap keluar jendela menjelang tengah malam, berlari melompati genting ibu kota, lalu baru kembali ke puri saat fajar menyingsing? Beliau 'kan manusia biasa, bukan monster dari perbatasan," jawab Julian datar namun sarat akan sindiran halus.
Mendengar sindiran Julian, Kael terdiam sejenak. Tenggorokannya terasa sedikit kering. Ia tahu betul aktivitas rahasia yang dilakukan Virelia sebagai Raven. Dan fakta bahwa istrinya kurang tidur karena sibuk memimpin kelompok revolusioner di malam hari mendadak membuat dada Kael dipenuhi rasa khawatir.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Kael langsung bangkit dari kursi kerjanya. Ia menyambar jubah militer hitamnya dan melangkah terburu-buru menuju pintu keluar.
"Eitss! Tunggu dulu, Yang Mulia! Mau ke mana Anda?! Laporan anggaran pertahanan kuartal ini belum disetujui! Ada lima puluh surat dari para menteri istana yang harus dibaca, dan panglima tidak boleh meninggalkan meja kerja sebelum semuanya selesai!" seru Julian panik, berlari kecil menghadang jalan atasannya. Ia menunjuk setumpuk dokumen tebal di atas meja.
"Urus saja sendiri, Julian. Aku sibuk," jawab Kael dingin, melangkah maju melewati kepala staf militernya tanpa ragu.
"Yang Mulia! Jangan lari dari tanggung jawab kenegaraan! Astaga! Kenapa selalu saya yang harus membereskan tumpukan kertas sialan ini?! Yang Mulia Duke yang terhormat, kembalilah!" pekik Julian kesal saat Kael justru mempercepat langkahnya, berubah menjadi lari kecil menyusuri koridor.
Teriakan frustrasi Julian menggema di sepanjang koridor, namun Kael sudah terlanjur melesat pergi meninggalkan ruang kerja.
Kael melangkah menyusuri koridor utama dengan cepat. Ia mendatangi sayap barat dan bertanya kepada setiap pelayan yang ia temui di sepanjang jalan.
"Apakah kalian melihat Duchess?" tanya Kael kepada seorang pelayan wanita yang membawa keranjang kain.
"Ah, Yang Mulia Duke! Tadi pagi saya melihat Nona Elaine membawakan selimut tebal dan keranjang piknik ke taman belakang. Katanya Yang Mulia Duchess ingin mencari udara segar di bawah pohon," jawab pelayan itu membungkuk hormat.
Mendengar informasi itu, Kael langsung mengubah arah langkahnya menuju halaman belakang puri.
Taman belakang Kediaman Duke adalah area yang luas, dipenuhi rumput hijau terawat, kolam ikan hias, dan jajaran pohon ek tua yang rindang. Begitu Kael menyeberangi pintu lengkung batu, ia langsung disambut oleh Elaine serta dua ksatria pengawal khusus Virelia;Philip dan Boran, yang berdiri berjaga dalam jarak beberapa meter dengan ekspresi sangat siaga.
Melihat kehadiran sang panglima perang, Elaine dan kedua ksatria itu buru-buru membungkuk hormat.
"Selamat siang, Yang Mulia Duke," sapa Elaine pelan, sengaja mengecilkan suaranya.
Kael mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat agar mereka tidak perlu terlalu formal. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumput taman.
"Di mana istriku?" tanya Kael dengan suara rendah, matanya menatap tajam ke arah Elaine.
Elaine tersenyum kecil, lalu menunjuk sopan ke arah sebuah pohon ek terbesar di sudut taman yang tertutup bayangan rindang.
"Beliau ada di sana, Yang Mulia," jawab Elaine.
Kael melangkah pelan mengikuti arah telunjuk sang pelayan. Di atas hamparan kain piknik bermotif kotak-kotak putih-biru yang digelar di atas rumput, sesosok gadis berbalut gaun tidur ringan sedang berbaring miring.
Virelia tertidur sangat pulas. Rambut pirangnya tergerai indah di atas rumput hijau, wajah pucatnya tampak begitu damai tanpa ada kerutan beban atau ekspresi akting gila yang biasa ia pasang. Di sebelah kepalanya, terdapat sebuah buku catatan kecil yang sampulnya terbuka separuh, menunjukkan coretan gambar bunga-bunga.
Kael berdiri tertegun di samping hamparan kain piknik itu. Sepasang mata birunya memandangi sang istri dengan tatapan tidak percaya.
Jadi ... gadis ini benar-benar bisa diam juga, batin Kael terkekeh pelan dalam hati, merasa gemas melihat sisi rapuh dan tenang dari gadis yang selama ini dikenal paling berbahaya di ibu kota.
Tanpa banyak bicara dan tanpa memedulikan status wibawanya sebagai panglima perang tertinggi Valdoria, Kael menjatuhkan tubuhnya berlutut di samping Virelia. Ia mengamati wajah istrinya lekat-lekat. Ada lingkaran hitam samar di bawah mata gadis itu, bukti nyata betapa kurang tidurnya ia akibat mondar-mandir sebagai ketua Black Dawn di malam hari.
Hati Kael terasa tercubit perih. Tanpa ragu-ragu lagi, Kael mengulurkan kedua tangannya. Satu lengannya melingkar di bawah lutut Virelia, sementara lengan satu lagi menopang punggung sang gadis. Dengan gerakan yang begitu hati-hati, lembut, dan penuh kehangatan, Kael mengangkat tubuh ringan Virelia ke dalam gendongan gaya pengantin.
Virelia yang sedang tidur pulas sempat menggeliat kecil karena pergerakan itu. Ia mendengus pelan, lalu secara tanpa sadar mendesakkan kepalanya lebih dekat ke dada bidang Kael, mencari sumber kehangatan, bergumam pelan dalam tidurnya.
"Kupu-kupu ... sialan," gumam Virelia dalam tidurnya.
Kening Kael sedikit berkedut, dan senyuman paling tulus dan hangat seketika mengembang di wajahnya. Ia menatap wajah istrinya yang tidur nyenyak di dalam dekapan tangannya.
Beberapa meter dari tempat mereka berdiri, Elaine, Philip, dan Boran menonton adegan romantis mendadak itu dengan mata membelalak lebar dan mulut sedikit terbuka karena terkejut.
Kael menoleh pelan ke arah para pelayan dan pengawal tersebut, lalu bicara tenang, "Elaine, katakan pada dapur untuk tidak mengganggunya sampai sore. Aku akan memindahkan Duchess ke kamarnya agar tidurnya lebih nyenyak."
"B-Baik, Yang Mulia!" jawab Elaine terbata-bata, menahan jeritan gemas di tenggorokannya melihat betapa manisnya sang Duke memerlakukan istrinya.
Kael berbalik badan, bersiap melangkah membawa Virelia kembali ke puri. Namun, sebelum ia sempat melangkah jauh, suara bisikan berisik terdengar dari arah Philip dan Boran.
"Hei ... Boran? Apakah kau melihat apa yang kulihat? Sang Duke ... dia tersenyum. Panglima perang kita yang terkenal kejam dan dingin itu tersenyum lebar seperti orang jatuh cinta," bisik Philip kepada rekannya dengan mata terbelalak.
Boran mengangguk-angguk kaku, menatap punggung Kael yang menjauh dengan tatapan ngeri.
"Menurutmu apakah kepala Yang Mulia Duke sempat terbentur batu saat latihan perang kemarin? Kenapa Beliau mendadak jadi selembut kapas begini pada sang Duchess?" ujar Boran.
Mendengar kalimat ngawur dari pengawalnya itu, pembuluh darah di pelipis Philip langsung menegang. Tanpa berpikir panjang, Philip melayangkan tangan kanannya dan memukul bagian belakang kepala Boran dengan keras.
PLAK!
"Aduh! Sialan, kenapa kau memukulku?!" protes Boran kesakitan sambil mengusap kepalanya.
"Jangan bicara sembarangan, bodoh! Kalau Yang Mulia Duke mendengar ucapanmu tadi, kita berdua bisa dikirim langsung ke tambang garam bersama Jane dan Ron!" desis Philip galak, menjewer telinga Boran.
Boran langsung menutup mulutnya rapat-rapat, merinding ketakutan membayangkan nasib mereka jika sampai menyinggung sang panglima perang yang sedang kasmaran.
Sementara itu, di dalam dekapan hangat Kael, Virelia tidur semakin pulas, sama sekali tidak menyadari bahwa rahasia besarnya sebagai Raven sudah terbongkar total, dan kini ia sedang digendong menuju kamar layaknya seorang ratu sejati.
menjadikan aku lebih tegar dan terlihat serba bisa .
siapapun yg selalu didorong kepinggir jurang setiap saat,pastinya mekanisme perlindungan diri nya lebih aktif 🥹🥹
" menjadi seorang perempuan harus serba bisa
bahkan ketika kita memakai gaun yg cantik,kita harus bisa berdiri tegak di dalam sebuah pertempuran."
ratu awan lu
Elaine mana?
syok ga liat boneka Barbie nya bisa begitu🤣🤣🤨
sweet banget si mereka😍😍
dah kayak Mak Mak komplek
pas bgt itu🤣🤣
ga usah malu
bangga donk ah
ajaran siapa itu🤣🤣🤣
gara gara siapa tu woiiii🫣🤣🤣🤣
lama lama virusnya akan kah nyampe ke Julian???🤨
othor.....tolong
kok lebih menjiwai mereka si
aku jadinya percaya sama siapa???
🫣🤣🤣🤣🤣