Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM GACHA RAJA KULINER

SISTEM GACHA RAJA KULINER

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Suara pintu mobil ditutup dengan pelan terdengar di sela antrean mahasiswa yang riuh.

Seorang pria berseragam safari hitam berjalan lurus mendekati gerobak putih Galang.

Pria bertubuh tegap itu menerobos antrean hingga membuat beberapa mahasiswa mendengus sebal karena diserobot.

"Mas, saya pesan satu porsi dibungkus sekarang juga," ucap pria berseragam itu dengan nada angkuh.

"Tolong buatkan yang cepat karena bos saya tidak suka menunggu lama di dalam mobil."

Galang melirik sekilas ke arah mobil SUV hitam mewah yang kaca jendelanya sedikit terbuka di pinggir jalan.

"Sesuai antrean ya Pak, semuanya di sini juga sedang menunggu giliran," jawab Galang dengan suara tenang dan tangan yang terus meracik mangkuk.

Supir itu mendecak kesal namun terpaksa mundur satu langkah karena ditatap sinis oleh mahasiswa lain.

Setelah menunggu sekitar lima menit, giliran pesanan supir arogan itu akhirnya tiba.

Galang menuangkan kuah kaldu panas ke dalam mangkuk kertas anti bocor yang ia sediakan khusus untuk dibawa pulang.

Syuuur.

"Ini pesanan Bapak, untuk harganya silakan bayar seikhlasnya saja," ucap Galang menyodorkan bungkusan yang masih mengepul itu.

Supir itu melempar selembar uang sepuluh ribu lecek ke atas etalase kaca dengan wajah sangat meremehkan.

"Uang kembaliannya buat kamu beli sabun saja," sindir supir itu lalu berbalik pergi dengan sombong.

Galang hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan pesuruh orang kaya yang tidak punya tata krama tersebut.

Di dalam mobil mewah bersuhu dingin itu, seorang pria paruh baya bernama Wijaya sudah menunggu dengan tidak sabar.

Wijaya adalah pemilik jaringan Restoran Bintang Samudera yang selama ini mendominasi bisnis kuliner di kota tersebut.

"Ini sup ayamnya Pak Wijaya," lapor sang supir sambil menyerahkan bungkusan hangat itu ke kursi belakang.

Wijaya membuka tutup mangkuk kertas itu dengan ujung dua jarinya seolah benda itu dipenuhi oleh bakteri jalanan.

Klak.

Aroma rempah jahe merah dan kaldu ayam kampung seketika menyebar memenuhi seluruh kabin mobil yang sempit.

Hidung Wijaya tanpa sadar langsung mengendus wangi yang sangat menggugah selera tersebut berulang kali.

"Aromanya lumayan juga untuk ukuran masakan gembel," gumam Wijaya sambil meraih sendok plastik yang menempel di tutupnya.

"Mari kita buktikan seberapa sampah rasa masakan yang berani-beraninya viral di media sosial ini."

Wijaya menyuapkan sedikit kuah bening berwarna kekuningan itu ke dalam mulutnya dengan ekspresi jijik.

Slurp.

Detik berikutnya saat kuah itu menyentuh lidahnya, tubuh Wijaya kaku seperti tersambar petir.

Rasa gurih yang sangat murni tanpa campuran penyedap buatan meledak keras di dalam rongga mulutnya.

Kaldu itu terasa begitu dalam dan kaya rasa, seolah direbus selama puluhan jam oleh seorang koki master dengan teknik sempurna.

Sensasi hangat seketika menjalar dari perutnya naik ke bagian kepalanya yang sering sakit akibat persaingan bisnis.

Tanpa sadar, tangan Wijaya menyendok suapan kedua, ketiga, hingga irisan daging ayam kampungnya ikut masuk ke dalam mulut.

Kunyah. Kunyah.

Tekstur daging unggas itu terasa sangat empuk dan bumbu rempahnya meresap hingga ke serat terdalam tanpa sisa bau amis sedikit pun.

"Bagaimana rasanya Pak Bos? Pasti tidak sebanding dengan masakan koki kepala kita kan?" tanya sang supir memecah keheningan dari kursi depan.

Pertanyaan supir itu bagaikan tamparan keras yang menyadarkan Wijaya dari ilusi kenikmatan yang baru saja ia rasakan.

Wajah Wijaya langsung memerah padam karena merasa malu ketahuan menikmati makanan kaki lima murahan.

Brak.

Ia meletakkan mangkuk kertas itu ke dalam tempat gelas mobil dengan sangat kasar hingga kuahnya sedikit tumpah.

"Rasanya sangat biasa saja, anak itu terlalu banyak memakai rempah murahan untuk menutupi bau amisnya!" dusta Wijaya dengan suara keras.

Namun perutnya yang terasa sangat nyaman dan hangat benar-benar mengkhianati ucapan kasarnya itu.

Wijaya menatap tajam ke arah gerobak putih Galang di seberang jalan dengan perasaan sangat terancam.

Sebagai pengusaha kuliner puluhan tahun, ia tahu persis bahwa rasa masakan Galang ini bisa menghancurkan reputasi restorannya dalam sekejap jika dibiarkan membesar.

Pintu SUV hitam itu tiba-tiba terbuka lebar menabrak trotoar.

Wijaya melangkah keluar dan berjalan cepat menyeberangi jalan menuju kerumunan gerobak Galang.

Penampilannya yang memakai jas mahal berwarna abu-abu membuat para mahasiswa menyingkir memberikan jalan karena segan.

Wijaya berhenti tepat di depan etalase kaca Galang dan berkacak pinggang.

"Jadi kamu anak muda yang resepnya sedang ramai dibicarakan oleh orang-orang bodoh di internet itu?" sapa Wijaya dengan nada suara yang sangat merendahkan.

Galang menghentikan ayunan spatulanya dan menatap pria paruh baya tersebut dengan wajah datar.

"Benar Pak, apakah rasa sup saya ada yang kurang pas di lidah Bapak?" jawab Galang dengan sopan namun tajam.

Wijaya menyilangkan tangannya di dada sambil menatap penampilan Galang dari atas kepala hingga ujung kaki.

"Nama saya Wijaya, pemilik jaringan Restoran Bintang Samudera di pusat kota," perkenalkannya dengan nada sombong yang dibuat-buat.

"Sup ayammu tadi lumayan untuk ukuran kaki lima, tapi levelnya masih sangat jauh di bawah standar restoranku."

Galang hanya tersenyum tipis mendengar pujian palsu yang diucapkan pria itu.

"Lalu tujuan Bapak datang ke mari dan marah-marah untuk apa?" tanya Galang langsung ke inti masalah.

Wijaya mencondongkan tubuhnya ke depan dan merendahkan suaranya agar tidak terdengar mahasiswa lain.

"Saya ini orang bisnis murni yang tidak suka membuang waktu dengan basa-basi," ucap Wijaya menatap tajam.

"Saya mau membeli resep rahasia sup ayam dan nasi gorengmu itu seharga lima puluh juta rupiah kontan hari ini juga."

"Tapi syaratnya, setelah uang cair kamu harus berhenti berjualan dan menyingkir dari kota ini selamanya."

Beberapa mahasiswa yang mengantre di dekat mereka terkesiap mendengar angka puluhan juta itu disebutkan.

Namun Galang sama sekali tidak terkejut, apalagi tergiur dengan angka tersebut.

"Maaf Pak Wijaya, resep peninggalan keluarga saya tidak akan pernah saya jual kepada siapa pun," tolak Galang dengan suara tenang namun mematikan.

Wajah Wijaya langsung mengeras kaku mendengar penolakan cepat dari pemuda jalanan tersebut.

"Kamu jangan terlalu sombong anak muda, lima puluh juta itu uang yang sangat besar untuk ukuran gembel sepertimu," desis Wijaya dengan nada mulai mengancam.

"Kalau kamu berani menolak tawaran baik hati saya ini, bisnis kecilmu ini akan saya hancurkan rata dengan tanah."

Galang mengambil selembar lap bersih dan mulai mengelap meja kayunya tanpa mempedulikan kemarahan pria kaya itu.

"Silakan dicoba saja Pak Wijaya kalau memang Bapak punya kuasa untuk melakukannya," tantang Galang sambil menatap lurus ke dalam bola mata lawannya.

"Tapi saran gratis dari saya, lebih baik Bapak fokus memperbaiki kualitas resep restoran Bapak sendiri daripada sibuk mengurusi pedagang gerobakan pinggir jalan."

Wajah Wijaya langsung berubah merah padam seperti kepiting rebus karena dihina telak di depan puluhan pasang mata mahasiswa.

"Lancang sekali mulutmu pengemis!" bentak Wijaya sambil menunjuk tepat di depan hidung Galang.

"Kita lihat saja berapa lama lagi gerobak rongsokanmu ini bisa bertahan mencari makan di jalanan kotaku!"

Wijaya berbalik dengan gerakan kasar dan berjalan setengah berlari kembali ke arah mobil mewahnya.

Brum. Ciiit.

Mobil SUV hitam itu langsung melesat pergi dengan kecepatan tinggi meninggalkan kepulan debu tipis di jalanan kampus.

Galang menghela napas pelan lalu kembali meracik mangkuk pesanan di tangannya yang sempat tertunda.

"Jangan hiraukan bapak tua yang sedang cari sensasi tadi semuanya, ayo silakan antrean selanjutnya maju," ucap Galang mencairkan suasana yang sempat tegang.

Jam terus berdetak tanpa ampun mendekati batas akhir pukul empat sore.

Sisa kuah kaldu di dalam panci raksasa dimensi penyimpana Galang kini benar-benar tinggal untuk beberapa porsi terakhir saja.

Antrean mahasiswa di depan gerobaknya juga sudah mulai menyusut seiring dengan berakhirnya jam kuliah sore.

"Bang, masih ada sisa satu porsi kuahnya tidak?" tanya seorang mahasiswa berkacamata tebal yang baru saja datang berlari dari arah gerbang.

"Ini porsi yang paling terakhir Mas, pas sekali rezekinya," jawab Galang sambil menuangkan sisa kuah dan suwiran ayam penghabisan.

Syuuur.

Mahasiswa itu menerima mangkuknya dengan senyum lega lalu duduk di kursi plastik yang kosong.

Galang menatap punggung mahasiswa yang sedang makan rakus itu dengan detak jantung yang berdebar sangat kencang.

Sebuah layar biru transparan melayang di udara menunjukkan angka yang sangat kritis di ambang batas.

[Progres Penjualan: 199/200 porsi.]

[Waktu tersisa: 10 menit.]

Begitu mahasiswa berkacamata itu menelan suapan kuah terakhirnya hingga tandas, ia mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu rupiah.

"Ini Bang uangnya, enak banget kuahnya parah, bikin rasa pusing di kepala saya langsung hilang total," ucap mahasiswa itu puas mengusap perutnya.

"Terima kasih banyak Mas," jawab Galang menerima dan mengantongi uang tersebut dengan tangan bergetar.

Detik itu juga saat uang masuk ke saku, suara dentang lonceng mekanis yang sangat ia tunggu-tunggu akhirnya menggema di kepalanya.

DING.

[Waktu tersisa: 00:08:45.]

[Progres Penjualan: 200/200 porsi.]

[Misi Mingguan Keempat Berhasil Diselesaikan Tepat Waktu!]

Galang memejamkan kedua matanya dan menghembuskan napas yang sangat panjang menembus kelegaan hatinya.

Beban ancaman mengerikan yang akan merenggut indera pengecapnya seumur hidup akhirnya musnah sudah.

[Evaluasi Kepuasan Pelanggan: Sangat Sempurna dan Ikhlas.]

[Hadiah Misi sedang didistribusikan ke dalam ruang dimensi Host.]

Trrrt. Trrrt.

Ponsel butut di saku celana jeans Galang bergetar hebat menerima pesan masuk.

Galang segera merogoh ponsel itu dan melihat notifikasi transfer dari bank dengan nominal luar biasa sebesar lima belas juta rupiah.

Angka saldo di rekening tabungannya kini sudah resmi menyentuh lebih dari tiga puluh juta rupiah bersih.

[Satu Set Pisau Masak Legendaris berhasil ditambahkan ke dalam Ruang Penyimpanan Sistem.]

Galang menelan ludah dan segera membuka fitur dimensi visualnya melalui pikiran.

Di dalam salah satu kotak kosong yang bersinar terang, kini terdapat sebuah koper kulit hitam berukuran sedang berukirkan naga emas.

Ia belum bisa membukanya dan melihat isinya sekarang karena masih berada di tempat terbuka.

Namun Galang yakin betul bahwa benda ajaib itu akan mengubah gaya dan kecepatan masaknya secara drastis ke depannya.

[Host disarankan untuk segera mencari tempat menetap permanen sebagai basis operasi.]

[Peringatan: Ancaman dari kompetitor bisnis level menengah telah terdeteksi dan sedang bergerak.]

Galang membaca deretan peringatan dari sistem itu dengan kening yang langsung berkerut dalam.

"Sistem kali ini benar, pria arogan tadi pasti tidak akan tinggal diam setelah harga dirinya kuhancurkan," batin Galang sambil mulai membereskan peralatan masaknya ke dalam gerobak.

Ia tidak bisa lagi terus-terusan mengandalkan gerobak jalanan yang rentan disabotase jika musuhnya adalah pengusaha kaya sekelas Wijaya.

Berbekal uang puluhan juta di tangan, ini adalah saat yang paling tepat baginya untuk naik level mencari bangunan ruko untuk disewa.

Galang mengunci etalase gerobaknya dan segera menyalakan mesin motor tuanya.

Perjalanan pulangnya sore itu terasa sangat berbeda dari minggu-minggu sebelumnya saat ia masih dikejar lintah darat.

Dulu ia pulang dengan rasa putus asa, namun kini ia pulang dengan kepala tegak menyambut perang kuliner yang sesungguhnya.

1
Wega Luna
ada loh nasi goreng 6000 an kalo GK salah di daerah Kediri atau Tulungagung ,,, asli pengen beli tapi karena kemarin bus pariwisata ku GK bisa menepi jadi cuma lihat dari jendela bus ,kalo ada waktu luang saya mau kesana lagi pake mobil pribadi ,,, sebagai pecinta kuliner nasi goreng saya penasaran rasanya dengan harga tersebut
Dhewa Shaied
lanjut thor
Khalita Aazahra
lanjut
Wega Luna
perlu dicoba tuh ,,,aku suka daging bekicot yg disalah itu waktu hamil dulu bisa habis 10 tusuk langsung makan , berarti nasi goreng ala seafood yh
Nissa Safira: Bener juga sih... ayam lebih mahal dari bekicot 🤣 Oke deal, nanti kalau Galang bagi resep Nasi Goreng Bekicot aku share di sini. Mbak yang pertama cobain di rumah ya, kabarin kalau bocil-bocil pada ketagihan🤣🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!