Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.
Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Rencana Dokter Siska dan Kotak Bekal Merah Muda Genggaman tangan Mayor
BAB 15: Rencana Dokter Siska dan Kotak Bekal Merah Muda
Genggaman tangan Mayor Aris yang erat dan hangat membawa Mayang menyusuri koridor utama Gedung Komando Batalyon.
Setiap kali melewati prajurit atau perwira pertama yang sedang bertugas, mereka seketika berhenti, mengambil sikap sempurna, dan memberikan hormat komando yang sangat kaku.
Namun, mata para prajurit itu tak bisa menyembunyikan rasa penasaran dan senyum tipis melihat gadis berkacamata tebal yang berjalan santai dengan gaun merah mudanya tepat di samping Komandan Batalyon mereka yang terkenal amat dingin, galak, dan tanpa kompromi.
"Mas Mayor..." bisik Mayang pelan seraya membetulkan kacamata tebalnya yang sedikit meluncur,
"Tangan Mayang tidak usah dipegangi erat-erat begini. Malu dipertontonkan sama anak buah Mas Aris dari tadi."
Aris sama sekali tidak mengendurkan genggamannya.
Wajah tegas dan rahang kokohnya tetap menatap lurus ke depan, tetapi sudut bibirnya terangkat membentuk garis senyum yang amat tipis.
"Biarkan saja," ujar Aris tenang namun berwibawa dengan suara bass-nya.
"Supaya satu Batalyon ini tahu secara resmi, siapa satu-satunya wanita yang punya hak penuh untuk mengganggu Komandannya kapan saja."
Mayang menggigit bibir bawahnya menahan senyum yang mendadak ingin meledak. Dadanya berdesir hebat oleh kehangatan dan rasa bangga.
Mereka akhirnya tiba di depan pintu kayu tebal bernuansa gelap bertuliskan RUANG KERJA KOMANDAN BATALYON.
Aris memutar gagang pintu, membukanya lebar-lebar, lalu mempersilakan Mayang masuk lebih dulu.
Ruangan ber-AC itu terasa sangat sejuk dan harum kayu cendana, didominasi oleh meja kerja besar berbahan kayu jati, bendera lambang satuan di sudut ruangan, jajaran piala penghargaan militer, serta foto-foto resmi dinas.
Aris melangkah mendekati sofa tamu, lalu menarikkan kursi khusus untuk Mayang sebelum ia melepas baret hijau gagahnya dan meletakkannya dengan rapi di sudut meja kerja.
"Bawa bekal apa hari ini?" tanya Aris seraya melepas kancing teratas kemeja PDL-nya, memberikan kesan santai yang amat langka di hadapan Mayang.
"Nasi goreng sosis spesial dengan telur mata sapi setengah matang!" seru Mayang bangga seraya meletakkan kotak bekal merah mudanya di atas meja kopi.
Dengan cekatan, ia membuka tutupnya. Uap hangat beraroma gurih, bawang merah, dan kecap manis seketika memenuhi ruangan kerja yang semula kaku dan dingin itu.
"Mayang bangun dari jam lima pagi khusus buat menggoreng ini, lho!"
Aris menerima sendok stainless yang disodorkan Mayang. Tanpa ragu atau banyak bicara, sang Mayor langsung menyantap suapan pertama.
Suasana ruangan mendadak hening sejenak saat Aris mengunyah makanan tersebut. Raut wajah kaku yang biasanya menyiratkan ketegangan latihan seketika melunak total.
"Sangat enak," ujar Aris singkat, namun tatapan mata tajamnya menatap Mayang dengan kedalaman rasa sayang yang tak terbantahkan.
"Setiap masakan buatan kamu selalu punya rasa khas yang bikin seluruh rasa lelah dan stres tugas Batalyon hilang seketika."
Mayang duduk bertopang dagu dengan kedua tangannya di atas meja, menatap wajah tampan Aris yang sedang menikmati bekalnya dengan senyuman cerah.
Namun, sejurus kemudian, Mayang menghela napas pelan.
"Mas Mayor..." panggil Mayang pelan.
"Hmm?" Aris merespons tanpa menghentikan suapannya.
"Tadi di luar... Dokter Siska bilang kalau kehadiran Mayang ke sini membawa bekal merah muda begini cuma mengganggu fokus dan merusak disiplin Mas Aris sebagai pimpinan Batalyon," tutur Mayang polos, mencoba menyampaikan keresahannya.
Gerakan sendok Aris seketika berhenti di udara. Dalam hitungan detik, aura hangat di wajah sang Mayor lenyap, berganti menjadi ketajaman dan kekakuan khas komandan militer.
Mata pekatnya menatap Mayang lurus-lurus.
"Jangan pernah dengarkan ucapan dia," tegas Aris dengan nada suara rendah namun sangat menekan.
"Dokter Siska tidak punya hak sedikit pun untuk menentukan siapa yang boleh datang ke ruangan saya atau mengatur kehidupan pribadi saya. Tugas dia di Batalyon ini murni urusan administrasi medis, dan saya tidak akan membiarkan dia melampaui batas kewenangannya."
Sementara itu, di lantai dua gedung Korps Kesehatan Batalyon yang berjarak sekitar dua ratus meter dari ruangan Komandan, Dokter Siska berdiri kaku di dekat jendela kaca besar. Tangannya terlipat rapat di dada baju medis putihnya.
Matanya yang tajam dan dingin terus menatap ke arah jendela ruangan Aris dari kejauhan dengan raut wajah yang dipenuhi amarah dan intrik.
"Dokter Siska," panggil Kapten Yoga yang baru saja melangkah masuk ke dalam ruang kerja medis seraya membawa setumpuk map dokumen berwarna biru.
"Ini data hasil pemeriksaan medis berkala seluruh anggota Batalyon untuk bulan ini."
Dokter Siska memutar tubuhnya dengan anggun, merapikan kembali jas dokter dan sanggul rambutnya yang rapi.
"Terima kasih banyak, Kapten Yoga. Oh ya, kalau tidak salah ingat dari jadwal dinas... latihan fisik dan taktis tingkat berat untuk para prajurit akan diadakan lusa di medan Lapangan Tembak?"
Kapten Yoga mengangguk polos tanpa curiga.
"Betul sekali, Dok. Itu latihan rutin penguatan fisik dan ketahanan medan yang dipimpin langsung oleh Mayor Aris. Latihannya sangat keras, penuh lumpur, dan suasananya sangat disiplin."
Dokter Siska menyunggingkan senyum misterius sebuah senyuman tipis yang dipenuhi niat terselubung.
"Bagus sekali," gumam Dokter Siska halus.
"Tolong persiapkan tim medis lapangan secara lengkap untuk mendampingi di lokasi lusa. Saya sendiri yang akan turun langsung memimpin Pos Kesehatan Utama di area Lapangan Tembak."
Kapten Yoga sedikit terkejut. "Lho, Dokter Siska mau turun ke lapangan langsung? Lapangan tembak itu sangat panas, berdebu, dan penuh lumpur, Dok."
"Tidak masalah, Kapten," jawab Dokter Siska dengan nada percaya diri yang tinggi.
"Justru di sanalah peran tim medis profesional sangat krusial. Saya ingin memastikan Aris maksud saya Mayor Aris melihat secara langsung bagaimana dedikasi dan keahlian saya dalam mendukung tugas Batalyon ini."
Dokter Siska meremas pena perak di jemarinya. Ia tahu betul bahwa medan latihan taktis yang keras dan ekstrem adalah wilayah steril militer tempat warga sipil biasa seperti Mayang tidak akan pernah memiliki akses untuk masuk.
Medan latihan adalah dunianya dunia kedokteran dan militer tempat ia bisa membuktikan secara telak kepada Aris tentang siapa wanita yang paling berguna, berkelas, dan paling pantas berada di samping sang Komandan.
Dua hari kemudian, debu membubung tinggi di udara terik Lapangan Tembak dan Medan Latihan Taktis Batalyon.
Suara gertakan komando, letusan senjata latihan, dan teriakan semangat prajurit bergema keras membelah panasnya matahari siang.
Mayor Aris berdiri tegap di atas mimbar pengawas utama dengan Pakaian Dinas Lapangan (PDL) hijau zaitun yang telah basah kuyup oleh keringat.
Wajahnya garang, memancarkan kepemimpinan mutlak saat memberikan instruksi.
Tak jauh dari mimbar, di Pos Kesehatan Utama yang berdiri di bawah tenda taktis, Dokter Siska bertindak sangat sigap.
Dengan jas medis dan peralatan lengkap, ia berulang kali menangani prajurit yang mengalami lecet atau kelelahan, sengaja memperlihatkan keahlian medisnya secara mencolok di hadapan Aris.
Namun, di tengah-tengah simulasi latihan yang begitu menegangkan dan penuh intimidasi itu, sebuah suara deru mesin jeep dinas terdengar mendekat.
Mobil jeep berplat lokal itu mendadak berhenti tepat di luar garis barikade keamanan latihan.
Pintu jeep terbuka. Dan dari balik pintu, muncul sosok Mayang!
Gadis itu tampil sangat heboh dan di luar nalar.
Ia mengenakan topi rimba berukuran jumbo, kacamata hitam super besar, serta membawa dua termos raksasa berisi es sirup manis dingin dan kardus makanan!
Tak lupa, di tangan kanannya, Mayang mengapit sebuah toa pengeras suara kecil berwarna kuning menyala!
"Semangat latihannya, Bapak-Bapak Prajurit Ganteng!" teriak Mayang nyaring dan heboh menggunakan toa pengeras suaranya dari pinggir barikade.
"Merayapnya yang cepat! Jangan lemas! Ingat, es sirup merah manis dingin buatan Mayang sudah menunggu di bawah tenda!"
Deg!
Suara nyaring toa Mayang seketika memecah keseriusan medan latihan! Puluhan prajurit yang sedang merayap di tanah berlumpur mendadak menghentikan gerakannya seketika.
Kapten Yoga yang bertugas di lapangan spontan menepuk jidatnya dengan wajah pasrah, sementara Dokter Siska di pos medis terperangah dengan wajah memerah padam tahan amarah atas kekacauan tersebut.
Di atas mimbar pengawas, Mayor Aris menghentikan instruksi komandonya.
Sang Mayor menatap gadis berkacamata hitam jumbo di pinggir lapangan itu dengan sudut bibir yang tak lagi sanggup menahan rasa geli dan senyuman bangga!