Indonesia
NovelToon NovelToon
Mantan Oh Mantan

Mantan Oh Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masuknya Sang Ular dan Awal Badai

Pagi itu, atmosfer di kantor pusat perusahaaan milik Dean tampak sibuk seperti biasa. Berkas-berkas audit menumpuk di meja divisi finansial, sementara di lantai atas, Dean sudah duduk di kursi kebesarannya sejak pukul tujuh pagi. Bagi Dean, pekerjaan adalah keteraturan. Segala sesuatu harus berjalan sesuai fungsi dan kalkulasi yang tepat. Namun, keteraturan itu hari ini harus sedikit bergeser karena satu janji yang dibuatnya dengan sang sahabat, Timoty.

Pintu ruangan Dean diketuk tiga kali dengan ketukan yang ritmis dan sopan.

"Masuk," jawab Dean singkat, pandangannya tetap tertuju pada dokumen tablet digital di tangannya.

Pintu terbuka, dan sosok Timoty melangkah masuk dengan senyum lebar yang biasa ia pamerkan. Namun, kali ini Timoty tidak datang sendiri. Di belakang punggungnya, seorang wanita muda dengan langkah anggun mengekor di belakang. Wanita itu mengenakan rok pensil hitam formal dan kemeja putih sutra yang sangat rapi. Rambutnya dikuncir kuda dengan menyisakan beberapa helai poni yang membingkai wajahnya yang tampak polos dan berwajah sayu.

"Dean! Sori mengganggu pagi-pagi," sapa Timoty, langsung mengambil posisi duduk di kursi depan meja kerja Dean. "Sesuai pembicaraan kita di telepon dua hari lalu. Ini adikku, Dania. Dia baru saja menyelesaikan sertifikasi administrasi perkantoran dengan nilai terbaik."

Dean meletakkan tabletnya ke meja. Tatapan matanya yang elang dan dingin langsung menyapu sosok wanita di depan meja kerjanya. "Dania," panggil Dean, intonasinya formal tanpa ekspresi.

Dania segera membungkuk hormat, menunjukkan sikap yang sangat santun dan pemalu. "Selamat pagi, Pak Dean. Mohon bantuannya. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengecewakan Anda dan Kak Timoty di perusahaan ini," ucap Dania dengan nada suara yang sengaja dibuat agak bergetar lembut, seolah dia merasa sangat gugup dan terintimidasi oleh kharisma pria di depannya.

Timoty menepuk bahu adiknya dengan sayang. Dia menoleh pada Dean dengan tatapan memohon yang tulus sebagai seorang sahabat. "Dean, kamu tahu sendiri kan bagaimana kondisi keluarga kami belakangan ini setelah proyek Papa di luar kota macet. Dania anak yang pintar, tapi dia terlalu lembut dan sering kali sungkan di dunia kerja yang keras. Aku menitipkannya padamu karena aku tahu kamu adalah pria yang paling profesional dan punya integritas tinggi. Posisi sekretaris keduamu sedang kosong, bukan?"

Dean terdiam sejenak, logikanya mulai menimbang. Secara profesional, performa administrasi Dania yang tertera di map portofolio memang di atas rata-rata. Secara personal, menolak permintaan Timoty—sahabat yang selalu membantunya sejak merintis bisnis—akan mencederai nilai loyalitas dalam prinsip hidupnya.

"Baik," putus Dean akhirnya. "Dania bisa mulai bekerja hari ini sebagai sekretaris junior. Tugas utamanya adalah menyaring jadwal harian saya dan berkoordinasi dengan sekretaris senior di meja depan. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, Dania..." Dean menatap lekat-lekat mata Dania, memberikan penekanan yang mutlak. "Di kantor ini, tidak ada hak istimewa meskipun kamu adalah adik Timoty. Jika kamu melakukan kesalahan fatal, saya tidak akan segan untuk memecatmu."

Dania meremas jemarinya di depan tubuh, mengangguk cepat dengan mata yang berbinar penuh rasa terima kasih. "Saya mengerti, Pak Dean. Saya sangat menghargai profesionalisme Anda. Terima kasih banyak atas kesempatannya."

Namun, di balik tundukan kepala dan ekspresi patuhnya yang tampak lemah, sepasang mata Dania berkilat dengan emosi yang berbeda. Dia melirik meja kerja Dean yang rapi, lalu beralih pada sosok Dean yang tampak begitu maskulin dan berkuasa. Dania tersenyum sangat tipis, sebuah senyuman yang tersembunyi dari pandangan Dean maupun kakaknya. Pria sesempurna ini... terlalu berharga jika hanya dimiliki oleh anak kuliah ingusan seperti Valerie, batin Dania dengan kelicikan yang mulai merayap di benaknya.

Siang harinya, suasana di koridor lantai atas perusahaan terasa lebih tenang. Dania sudah menempati meja kerjanya yang berada tepat di area koridor sebelum pintu masuk ruang kerja CEO. Dengan cepat, dia mempelajari sistem internal kantor. Otaknya bekerja dengan sangat taktis, bukan hanya untuk menguasai pekerjaan administrasi, melainkan untuk mencari celah dalam kehidupan pribadi bos barunya.

Pukul satu siang, lift di ujung koridor berdenting. Pintu lift terbuka, menampilkan sosok Valerie yang melangkah keluar dengan membawa sebuah tas kertas berisi kotak makan siang bermotif stroberi. Wajah Valerie tampak sedikit lelah karena kurang tidur setelah kejadian menangis di apartemennya semalam, namun dia tetap memaksakan senyum terbaiknya hari ini. Dia sengaja datang di sela-sela jeda kelas kuliahnya yang kosong untuk membawakan makanan sebagai bentuk permintaan maaf karena telah bersikap emosional di telepon semalam.

Langkah Valerie terhenti ketika melihat meja sekretaris yang biasanya diisi oleh seorang wanita paruh baya, kini telah digantikan oleh seorang wanita muda yang cantik dan tampak anggun.

Dania mendongak, matanya langsung mengenali Valerie dari foto-foto di media sosial yang sempat dia selidiki sebelumnya. Dengan gerakan cepat, Dania langsung berdiri dari kursinya dan memasang wajah ramah yang sangat manis namun terasa palsu.

"Ah... selamat siang. Ada yang bisa saya bantu? Apakah Anda sudah membuat janji temu dengan Pak Dean?" tanya Dania dengan nada suara yang sangat lembut, seolah-olah dia adalah pemilik otoritas penuh di ruangan tersebut.

Valerie mengernyitkan keningnya, insting wanitanya mendadak menangkap sinyal bahaya yang tidak nyaman dari tatapan Dania. "Saya Valerie. Kekasihnya Kak Dean. Saya tidak perlu membuat janji untuk mengantarkan makan siang." Valerie berucap dengan gaya bicaranya yang blak-blakan dan ekspresif, sengaja memberikan penekanan pada kata 'kekasih'.

Ekspresi Dania langsung berubah menjadi sedikit terkejut dan kikuk, sebuah akting yang sangat natural. "Oh! Maafkan saya, Kak Valerie! Saya benar-benar tidak tahu," ucap Dania dengan nada panik yang dibuat-buat, tangannya bergerak gelisah. "Saya Dania, sekretaris baru Pak Dean. Kak Timoty yang memasukkan saya ke sini hari ini. Maaf kalau kelancangan saya membuat Kakak tidak nyaman..."

Mendengar nama Timoty disebut, ketegangan di bahu Valerie sedikit mengendur, namun rasa tidak sukanya tidak hilang begitu saja. "Oh, adiknya Kak Timoty. Ya sudah, Kak Dean ada di dalam?"

"Pak Dean ada di dalam, tapi..." Dania menggantung kalimatnya, menatap pintu ruangan Dean dengan ekspresi penuh keraguan dan kecemasan yang mendalam. "Beliau baru saja menyelesaikan panggilan telepon yang sangat menegangkan terkait audit. Suasana hatinya sedang sangat buruk, Kak. Tadi saat saya mengantarkan berkas, beliau sempat menegur saya dengan sangat keras. Saya... saya takut kalau Kakak masuk sekarang, Kakak justru akan menjadi sasaran pelampiasan amarahnya."

Valerie terdiam. Kalimat Dania seolah menyiram bensin pada luka di hatinya yang terjadi semalam. Ingatan tentang bagaimana Dean memutus teleponnya dengan dingin membuat Valerie mendadak ragu. Apakah kehadirannya di sini sekarang benar-benar akan dianggap mengganggu logika dan pekerjaan Dean lagi?

Melihat keraguan di wajah Valerie, Dania tersenyum penuh kemenangan di dalam hatinya. Dia melangkah mendekati Valerie, lalu dengan lembut menyentuh tas kertas yang dipegang Valerie. "Bagaimana kalau kotak makannya saya titipkan saja di meja saya, Kak? Nanti begitu suasana hati Pak Dean sudah lebih tenang, saya berjanji akan langsung mengantarkannya ke dalam dan memberi tahu bahwa ini dari Kakak. Saya hanya tidak ingin Kak Valerie sakit hati kalau dibentak oleh Pak Dean di dalam."

Valerie menatap tas kertas di tangannya, lalu menatap Dania yang memasang wajah penuh kepedulian seolah dia sedang melindungi Valerie. Rasa lelah, rasa tidak aman dari penolakan semalam, serta harga dirinya sebagai kekasih membuat Valerie akhirnya mengalah. Dia melepaskan tas kertas itu ke tangan Dania.

"Baiklah. Tolong serahkan pada Kak Dean kalau dia sudah senggang," ucap Valerie, suaranya terdengar lebih pelan dan kehilangan binar cerianya.

"Tentu saja, Kak Valerie. Serahkan saja pada saya," jawab Dania dengan senyum manisnya yang paling menawan.

Valerie berbalik melangkah menuju lift dengan perasaan yang sangat mengganjal di dadanya. Lorong kantor itu terasa begitu dingin bagi anak kuliah seperti dirinya. Begitu pintu lift tertutup rapat dan sosok Valerie menghilang, senyum ramah di wajah Dania lenyap seketika. Dia menatap tas kertas bermotif stroberi di tangannya dengan pandangan menghina.

Dania berjalan menuju tempat sampah besar di sudut koridor dekat pantry, lalu tanpa keraguan sedikit pun, dia melempar kotak makan siang buatan tulus Valerie itu ke dalam tempat sampah hingga menimbulkan bunyi dentuman yang pelan.

Dania merapikan kembali pakaiannya, memoles lipstik tipis di bibirnya, lalu mengetuk pintu ruangan Dean. Saat dia masuk, wajahnya kembali berubah menjadi sosok sekretaris yang polos dan berdedikasi tinggi.

"Pak Dean, ini ada laporan berkas terbaru yang harus ditandatangani," ucap Dania lembut, meletakkan dokumen di meja tanpa menyebutkan sepatah kata pun tentang kedatangan Valerie barusan. Di balik kepatuhannya, Dania tahu bahwa batu pertama untuk menghancurkan hubungan sang CEO dengan gadis kuliah itu telah berhasil dia tanam dengan sangat rapi, dan dia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk memicu kesalahpahaman yang lebih besar berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!