Indonesia
NovelToon NovelToon
Terjerat Obsesi Sang CEO

Terjerat Obsesi Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:22.7k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

Kecelakaan tragis merenggut orang tua Hana, menyisakan utang menumpuk yang mengandaskan mimpinya.

Demi bertahan hidup, ia rela menjadi office girl tak terlihat di Adhitama Group.

Namun, satu malam kelam merobek takdirnya. Akibat sabotase racun pemicu gairah, Alvaro Adhitama, CEO dingin dan berkuasa kehilangan kendali dan merenggut kesucian Hana secara biadab.

Didera rasa bersalah, Alvaro menuntut pernikahan. Sadar akan jurang kasta di antara mereka, Hana memilih kabur meninggalkan ibu kota.

Sayang, kekuasaan Alvaro sanggup mencegat pelariannya. Ditekan dominasi mutlak sang CEO, Hana akhirnya pasrah diseret kembali dan tanpa menyadari ada benih baru yang mulai tumbuh di rahimnya.

Bagaimana Kelanjutannya???? Ada yang penasaran??

JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAA!!!

Follow IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Sentuh Saya!

Ketika malam semakin larut dan kilatan petir di luar jendela mulai mereda, tubuh Hana akhirnya menyerah pada rasa sakit dan kelelahan yang luar biasa.

Rontaannya melemah, jarinya yang kaku tak lagi sanggup mencengkeram, dan tangisannya berubah menjadi bisikan lirih yang memelas sebelum kesadarannya benar-benar padam dalam kegelapan yang pekat.

Lampu indikator kedaruratan di sudut ruangan berkedip perlahan, memancarkan cahaya remang kuning saat fajar mulai membayang di ufuk timur ibu kota. Suara hujan di luar telah berganti menjadi gerimis tipis yang dingin.

Alvaro perlahan membuka matanya. Headache yang luar biasa hebat menghantam kepalanya seperti hantaman palu besi. Tenggorokannya terasa kering seperti gurun pasir, dan seluruh otot tubuhnya terasa pegal dan kaku.

Pria itu mengerang pelan, memegangi pelipisnya sambil berusaha melepaskan diri dari sisa-sisa efek racun yang membuat otaknya terasa tumpul. Cahaya pagi yang menerobos masuk lewat kaca raksasa memaksa matanya berkedip berulang kali.

Namun, saat pandangannya mulai memperjelas keadaan di sekitarnya, rasa pening di kepalanya mendadak menguap, berganti dengan hawa dingin yang membekukan darahnya seketika.

Ruang kerjanya tampak seperti hancur berkeping-keping. Botol wiski kristal yang pecah berkeping-keping, bekas ceceran darah mengering di atas karpet Persia, dan berkas-berkas penting yang robek berserakan.

Dan tepat di atas sofa kulit hitam di hadapannya, tergeletak sosok seorang wanita.

Alvaro membeku. Jantungnya berdegup kencang seperti dipukul drum.

Gadis itu terbaring miring dengan posisi meringkuk seperti bayi, memeluk tubuhnya sendiri yang penuh dengan lebam dan goresan merah. Seragam kerja abu-abu murahnya telah hancur robek tak berbentuk.

Wajah gadis itu pucat pasi, pelipisnya basah oleh bekas keringat, dan jejak air mata kering membayang jelas di sepanjang pipinya. Bibirnya yang pecah dan berdarah tampak gemetar kecil meski gadis itu masih pingsan tak sadarkan diri.

Di atas sofa dan lantai, terhampar noda darah segar yang mengering yaitu bukti bisu dari sebuah tragedi dan kejamnya malam yang baru saja berlalu.

Alvaro menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan dengan napas tertahan. Di dekat pintu sofa, tergeletak sebuah tanda pengenal plastik murah yang rantainya telah putus.

Dengan tangan yang mendadak gemetar hebat, dimana tangan yang biasanya tak pernah gentar menghadapi ancaman bisnis bernilai triliunan, Alvaro membungkuk dan memungut tanda pengenal tersebut.

Tertera nama dan foto seorang gadis muda dengan senyum tipis yang polos HANA - HOUSEKEEPING.

"Tidak..." bisik Alvaro, suaranya parau dan dipenuhi rasa syok yang menghantam dadanya.

Ingatan-ingatan samar dari semalam mulai berkelebat di benaknya bagaikan pecahan kaca tajam yang menusuk otaknya. Ia ingat rasa panas yang membakar badannya, ia ingat erangan dan rasa sakitnya... tetapi yang paling mengerikan, ia mulai mengingat suara jeritan ketakutan, rontaan jemari kecil yang berusaha mendorong dadanya, dan permohonan ampun dari seorang wanita yang diabaikannya begitu saja.

Itu bukan jebakan musuh. Wanita ini bukan seorang pembunuh atau agen rahasia yang dikirim untuk menghancurkannya.

Dia hanya seorang pekerja kebersihan. Seorang wanita yang tak bersalah yang kebetulan berada di tempat dan waktu yang salah.

Alvaro melangkah mundur satu langkah, menatap tangannya sendiri yang memar dan bernoda darah mengering. Rasa bersalah yang begitu besar dan asing mendadak menghimpit dadanya hingga ia sulit bernapas.

Seorang Alvaro Adhitama, pria yang paling ditakuti di dunia bisnis, pria yang mengendalikan ribuan nyawa dan triliunan uang baru saja melakukan perbuatan paling biadab pada seorang wanita tak berdaya di lantai kerjanya sendiri.

Ia melangkah mendekati sofa, hendak menyentuh bahu Hana untuk memastikan apakah gadis itu masih bernapas, tetapi tangannya terhenti di udara. Ia merasa dirinya terlalu kotor dan menjijikkan untuk sekadar menyentuh kulit gadis yang telah dihancurkannya itu.

Tepat saat itu, kelopak mata Hana bergerak perlahan. Gadis itu mulai tersedar dari pingsannya.

Kelopak mata Hana bergetar samar sebelum akhirnya terbuka perlahan. Pandangannya kabur, tertutup lapisan bening air mata yang mengering dan rasa pusing luar biasa yang menghantam tempurung kepalanya.

Setiap inci tubuhnya terutama di bagian pinggul dan dada terasa nyeri bagai dihantam bongkahan batu besar.

Namun, rasa sakit fisik itu mendadak menguap, berganti dengan sengatan ketakutan murni saat mata sayunya menangkap siluet seorang pria yang berdiri hanya dua langkah dari tempatnya terbaring.

Alvaro.

Pria itu berdiri kaku, kemeja putihnya yang kusut bertabur noda darah kering dan kain seragamnya yang terkoyak.

"J-jangan... jangan mendekat..." bisik Hana, suaranya parau, pecah, dan nyaris tak terdengar.

Dengan sisa-sisa tenaga yang memilukan, ia menarik bagian sofa dan robekan kain seragamnya untuk menutupi dadanya, merayap mundur hingga punggungnya menempel keras pada sudut sofa kulit yang dingin.

"Hana..." Alvaro melangkah maju satu tindak, mengulurkan tangannya refleks.

Tangannya gemetar yaitu sebuah pemandangan yang tak akan pernah dipercayai oleh siapa pun yang mengenal sosok penguasa Adhitama Group itu.

"Jangan bergerak dulu. Tubuhmu..." serunya terpotong.

"Jangan sentuh saya!" jerit Hana. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menyilangkan kedua tangannya di depan dada, gemetar hebat seperti seekor burung kecil yang terluka di hadapan predator.

"Saya mohon... Pak Alvaro, saya mohon... ampuni saya... jangan sakiti saya lagi..." lirihnya dengan penuh permohonan.

Kata-kata itu menghantam dada Alvaro bagaikan telak pukulan martil. Suara gemetar, bisikan memelas, dan tatapan mata yang dipenuhi horor murni itu memperjelas betapa biadabnya perbuatan yang telah ia lakukan beberapa jam lalu.

Racun kimia itu mungkin telah melumpuhkan akalnya semalam, tetapi tidak ada alasan di dunia ini yang bisa membenarkan kejahatan yang telah merenggut kesucian gadis polos di hadapannya.

Alvaro menarik kembali tangannya perlahan. Pria itu menunduk, menatap telapak tangannya sendiri dengan tatapan jijik sebelum akhirnya menarik napas panjang, berusaha menekan getaran di suaranya.

"Hana, dengarkan aku baik-baik," kata Alvaro. Suaranya kini terdengar sangat dalam, dingin oleh rasa penyesalan, namun menyisakan ketegasan yang mutlak.

"Aku tahu apa yang terjadi semalam tidak akan pernah bisa dimaafkan. Aku sadar... aku telah menjadi bajingan paling biadab malam ini." ujarnya.

Hana hanya bisa terisak, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya yang ditarik mendekati dada. Air matanya kembali menetes deras, membasahi kain sofa.

"Aku ditipu malam ini. Seseorang mencampurkan racun ke dalam minumanku." lanjut Alvaro, mencoba menjelaskan meski ia tahu alasan itu tak mengurangi penderitaan Hana sedikit pun.

"Tapi itu bukan pembelaan. Aku yang melakukannya kepadamu. Aku yang merusakmu." tutur Alvaro, bagaimana pun apa yang dia lakukan kepada Hana adalah salah.

Alvaro berlutut di atas marmer dingin, merendahkan posisinya hingga mata mereka sejajar. Ia mengambil jas hitamnya yang tergeletak di lantai, lalu perlahan mengulurkannya pada Hana tanpa menyentuh kulit gadis itu.

"Pakai ini untuk menutupi tubuhmu," ujarnya pelan.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

Ceritanya gimana nihhhh??? Coment dongggg

1
+44
hamil kan?
Dewi Kasiani
kpn Hana tidak keras hatinya,biar sedikit romantis.semoga hana hamil. biar makin dekat
Meichah Hahahihi
Hana misal KLO ada cewek yg deketin alvaro perasaanmu gimana ... jual mahal sekali si hana ini
Meichah Hahahihi
ini ceweknya mau di sentuh alvaro takut tapi kalo cowok lain welcome... munafik si hans
irma hidayat
hadapi hana bukannya harus sembunyi dari jln hidup, alvaro aja mau menerima dan terbuka
Teh Fufah
gitu dong hana.... berani... kamu kan mahaiswa hukum....
irma hidayat
terima dgn ikhlas hana jalan takdirnya jangan keras kepala, meski tak diinginkan mungkin jln terbaik untuk hidupmu
Siti Solihah
ayooo hana buka lebar lebar hatimu, kuliah kembali agar kamu bisa meneruskan cita cita sekaligus jadi istri ceo bucin...😅🤭
Rarik Srihastuty
lanjut...
+44
jadi.. kamu sudah cinta 🌚
Siti Solihah
ayo varo nyatakan love yuo sekarang juga..🤣🤣🤣
Mia Camelia
ayo rehan terus deketin hana🤭🤭🤭, biar alvaro makin meledak🤭😂
irma hidayat
cemburu ya alvaro
Rarik Srihastuty
ada yang cemburu ternyata 🤭
Lilik24
hahhaaa cemburu dia, bagusalah
Siti Solihah
masih menahan bucin...🤭🤭
+44
aku mau bubur ayam 🌚
Rarik Srihastuty
ayo Alvaro semangat, buat Hama melupakan traumanya
+44
jadi penasaran.. hal apa yang nantinya membuat hana luluh?
Sastri Dalila
👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!