Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.
Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.
Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.
Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.
Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06
.
Tahun-tahun berlalu begitu cepat. Mereka tak lagi tinggal di rumah kontrakan kecil. Mereka berhasil memiliki rumah sendiri. Rumah yang sama sekali tak pernah sepi. Selalu terdengar suara kaki berlarian, tangisan, tawa, dan benda jatuh dari kamar anak-anak. Hampir setiap pagi, Aisyah harus berulang kali mengingatkan kedua buah hatinya agar tidak berebut mainan.
“Adek, jangan ambil mainanku!" seru anak pertama sambil menarik mainan itu.
"Aku duluan!" balas yang kedua tak mau kalah.
"Balikin!"
"Enggak mau!"
Aisyah yang sedang menyiapkan sarapan di dapur hanya bisa menghela napas panjang. "Ya ampun kalian ini…!"
Kedua anak yang sedang berebut mainan itu langsung terdiam mendengar suara ibunya. Beberapa detik kemudian, keduanya saling pandang lalu tertawa bersama. Aisyah menggeleng sambil tersenyum tipis. "Dasar."
Rumah itu memang tak besar, namun bagi Aisyah rasanya begitu luas. Sebab di dalamnya ada keluarganya. Ada Raka, dan dua anak yang setiap hari membuatnya lelah sekaligus bahagia.
Anak pertama lahir beberapa tahun setelah pernikahan. Tak lama kemudian, adiknya hadir melengkapi keluarga kecil mereka. Kehadiran keduanya mengubah hidup Aisyah sepenuhnya. Dulu ia hanya memikirkan dirinya dan Raka, kini hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk mengurus anak-anak. Namun ia tak pernah menganggapnya beban. Baginya, melihat mereka tumbuh sehat sudah kebahagiaan tersendiri.
Raka juga selalu berusaha hadir. Sesibuk apa pun, ia tetap menyempatkan waktu bermain bersama mereka. Seperti hari itu, meskipun pulang malam pun ia tetap mampir ke kamar anak-anak hanya untuk memastikan mereka sudah tidur, lalu duduk sebentar di tepi tempat tidur sambil membelai rambut mereka. Aisyah sering memperhatikannya dari pintu, dan pemandangan sederhana itu selalu membuat hatinya terasa hangat.
Setelah anak-anak terlelap, Raka keluar dari kamar mereka dan melihat Aisyah sedang membereskan mainan yang berserakan di ruang tengah. Ia langsung berjalan mendekat dan ikut membantu.
"Sudah, biar aku saja," ucapnya lembut sembari mengambil mainan dari tangan istrinya.
Aisyah menoleh kearahnya. "Mas juga pasti capek kan?” tanya Aisyah memperhatikan wajah suaminya. Mengingat pria itu yang baru pulang mengurus warung.
"Capek," jawab Raka jujur, lalu tersenyum hangat. "Tapi kalau lihat kamu dan mereka, rasanya capekku hilang."
Aisyah ikut tersenyum. “Mas Raka semakin pintar menggombal,” ucap Aisyah terkekeh pelan.
"Memangnya tidak boleh?" tanyanya sambil tersenyum jenaka. "Lagipula aku berkata jujur."
Aisyah menggeleng sambil tersenyum. "Sudah, sana mandi dulu."
Raka tertawa kecil, lalu berjalan menuju kamar mandi setelah mencuri ciuman sekilas yang selalu membuat Aisyah merona.
*
*
*
Dan begitulah kehidupan mereka berjalan. Tidak sempurna, namun terasa lengkap. Warung yang dulu hanya punya beberapa meja kini bukan lagi hanya warung kecil yang menjual makanan, tapi juga lengkap dengan toko yang menjual aneka belanjaan kebutuhan pokok.
Raka mempekerjakan dua orang untuk membantunya karena kini Aisyah harus mengurus kedua anaknya di rumah hingga tak selalu bisa menemani di warung. Kondisi keuangan mereka pun semakin baik, hingga akhirnya mereka mampu memiliki rumah yang lebih besar. Tak mewah, namun cukup untuk memberi kamar sendiri bagi anak-anak dan dapur yang lebih luas bagi Aisyah.
“Terima kasih, Mas,” ucap Aisyah saat mereka berdua sudah berbaring di atas tempat tidur.
Raka menoleh mengerutkan kening. "Untuk apa?"
"Untuk semuanya," jawab Aisyah tulus.
Raka menggenggam tangan istrinya erat. "Aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih karena kamu yang tak pernah menyerah mendampingi ku. Aku berjanji akan terus berusaha untuk bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untukmu.”
Aisyah memiringkan tubuhnya hingga bisa menatap wajah Raka yang juga berbaring miring menatap ke arahnya.
"Selama ada Mas dan anak-anak, aku sudah hidup dengan sangat baik."
Raka menarik Aisyah ke dalam pelukannya. Dan Aisyah membenamkan wajahnya ke dada sang suami.
*
*
*
Dua tahun kemudian warung toko mereka menjadi semakin besar. Kehidupan Aisyah dan Raka terasa semakin sibuk. Aisyah menikmati kesibukan itu meski terkadang tubuhnya terasa lelah. Ia merasa bahagia melihat usaha yang dahulu mereka mulai dari nol kini mulai bisa diandalkan. Bahkan mereka kini telah berhasil memiliki sebuah mobil.
Namun, Aisyah tetaplah dirinya yang dulu. Masak sendiri, urus anak-anak, lalu kembali ikut membantu di warung saat anak-anak mereka telah mulai sekolah. Dan yang utama, tetap menjadi perempuan sederhana yang pernah dipilih Raka.
*
*
*
Aisyah menggelengkan kepalanya, menyadari kenangan itu kini seakan tak ada artinya bagi Raka. Aisyah menarik nafas lalu meletakkan sendok yang nyaris masuk ke dalam mulutnya. Menyudahi makannya karena tiba-tiba kehilangan selera makan.
Raka yang melihat itu mengernyit. Buru-buru ia memegang tangan Aisyah. “Ada apa, Syah? Kamu cuma makan sedikit, kamu lagi gak enak badan?” tanyanya terlihat khawatir.
Aisyah memandangnya beberapa detik. Tidakkah pria ini tahu? Yang sakit bukan badannya, tapi hatinya. Dan penyebabnya adalah pria ini sendiri.
“Aku tidak apa-apa, Mas. Hanya sudah kenyang saja. Mas lanjutkan saja makannya,” ucap Aisyah lalu mengangkat piring yang masih menyisakan lebih dari separuh makanan dan membawanya ke dapur.
Raka menatap punggung Aisyah yang telah menjauh dengan tatapan sendu. “Apa aku salah, Sya? Aku hanya ingin menikah dengan wanita yang ku cintai. Dan aku juga tidak melakukan itu dengan sembunyi-sembunyi di belakangmu.”
“Ibu kenapa, Yah?” Pertanyaan putra sulung mereka yang sudah duduk di kelas empat SD membuat Raka menoleh. “Apa ibu sakit? Ayah antar ibu ke rumah sakit aja, Rangga sama Fatimah bisa ke sekolah dengan mobil sekolah.”
Raka tertegun melihat putranya yang tampak begitu khawatir. “Kamu selesaikan makannya. Ayah akan bawa ibu ke rumah sakit setelah mengantar kalian.”
“Baik, Yah.” Rangga mengangguk. Begitu juga Fatimah yang sudah duduk di kelas bangku TK. mereka makan tanpa rewel, tanpa protes, tanpa memanggil ibu mereka untuk mengambilkan ini dan itu.
Raka memperhatikan semua itu. Sungguh bagus didikan Aisyah pada putra putri mereka, dan itu semakin membuatnya merasa bangga. Namun, itu tak memudarkan keinginan untuk menikahi Nabila.
“Aisyah hanya belum terbiasa. Dia hanya masih kaget. Nabila kan temannya? Nanti juga lama-lama dia bisa menerimanya.” Begitu yang ada dalam pikiran pria itu.
demi kedua ank mu ,,
kalo msh ngandelin raka ,, tkut nenek kebayan d sebrang sana jd tantrum🤭🤭😒😒😒😒
Nabila belum tahu aja semua surat-surat berharga harta Raka selama perkawinan dengan Aisyah sudah di amankan Aisyah...